Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E72] Penghuni Akademi


__ADS_3

"Semakin kuat seseorang maka akan semakin sulit untuk menemukannya."


******************#####*****************


Hening sesaat ketika Khalid tidak dapat mendeskripsikan perasaannya. Khalid tidak tahu alasan mengapa ia begitu takut, sejujurnya Khalid hanya kaget saat melihat sosok itu.


"Khalid?"


"Aku, aku..."


"Sudahlah tenangkan saja diri mu terlebih dahulu." potong Senja.


Khalid mencoba untuk mengatur napasnya, ia mencoba untuk rileks. Senja yang menyadari hal itu hanya bisa diam. Ia tidak ingin memaksakan keingintahuannya sehingga membuat Khalid terluka.


"Shampo ini harum juga," batin Senja sebelum merendam tubuhnya ke dalam air. Senja tidak ingin menambah beban pikirannya. Ia hanya ingin menikmati waktu santainya setelah kejadian tadi.


Dua puluh menit telah berlalu tapi baik Senja mau pun Khalid tetap diam. Mereka seakan melupakan pembicaraan sebelumnya. Senja yang sudah lelah memutuskan untuk segera tidur.


Namun tepat saat Senja hendak memejamkan matanya, Khalid dengan lirih berkata, "Saat itu aku melihat wanita berwajah pucat."


"Wanita itu sangat kuat, ia memiliki energi mana yang besar. Aku sempat mengira dia monster tapi..."


Khalid kembali diam, Senja yang sebelumnya ingin tidur kini merubah posisi tidurnya menghadap kearah Khalid.


"Kenapa?"


"..."


"Kenapa seorang elemental seperti mu takut padanya?"


Khalid tidak berkata apa pun, ia terlihat seperti sedang menerawang sesuatu yang membuat Senja semakin penasaran.


"Dia bukan sosok wanita biasa." balas Khalid setelah dua menit diam.


"Dia sangat kuat bahkan lebih kuat dari pada profesor yang ada di akademi ini."


Pengakuan Khalid membuat Senja menegang, ia tanpa sadar berdiri dari tidurnya dan segera mendekati Khalid.


"Seperti apa dia? Apa dia memang sosok hantu yang kuat?"


"Tidak. Setelah aku pikir-pikir lagi ternyata dia sama sekali tidak terlihat seperti hantu, dia lebih mirip monster."


Khalid mencoba menjabarkan sosok wanita itu. Ia mengatakan jika wanita itu memiliki rambut hijau panjang dengan mata merah yang melengkung aneh. Bibirnya tipis dan pucat, tubuhnya ramping dengan gaun sutra panjang menutupi kakinya.


"Gaun sutra panjang, pucat dan ramping. Apa dia benar-benar melihat sosok hantu?" gumam Senja disela-sela penjelasan panjang Khalid.


"Tapi hantu mana yang menggunakan sutra sebagai pakaian? Apa dia hantu kaya raya atau hantu seorang bangsawan ternama?"


Senja semakin bingung setelah mendengar penjelasan Khalid mengenai sosok wanita itu. Ia tidak tahu jika ada hantu yang memiliki kemewahan seperti itu.


"Tapi ada yang aneh," seru Khalid sembari memegang pelan pundak Senja.


"Apa itu?" tanya Senja penasaran.


"Pada waktu itu aku yakin jika sosok itu adalah hantu tapi semua itu berubah ketika ia tersenyum dan memperlihatkan taringnya. Entah mengapa ia terlihat seperti iblis dari pada hantu." seru Khalid dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Senyumnya sangat misterius dan menakutkan. Disaat itulah aku sadar bahwa dia bukanlah hantu melainkan monster. Lagi pula tidak ada sosok hantu yang memiliki energi mana sekuat itu."


Khalid menjelaskan jika mahkluk yang sudah mati tidak mungkin memiliki kekuatan besar. Jika pun dia adalah hantu, kekuatan terbesarnya paling hanya bisa menggerakkan satu atau dua benda mati saja.


Menurut Khalid hantu adalah makhluk terlemah di benua ini. Mereka tidak lagi memiliki wujud fisik yang dapat mengancam manusia dan organisme lain.


"Jadi kemungkinan besar wanita itu adalah hantu sangat sedikit. Namun kemungkinan besar dia adalah monster sangatlah tinggi."

__ADS_1


"Tidak mungkin, bagaimana bisa sosok mengerikan seperti itu ada di akademi ini." seru Senja khawatir.


"Mereka hanya tidak menyadarinya saja." balas Khalid dengan wajah bernostalgia.


"Kenapa bisa begitu?"


"Hah, itu karena tenaga pengajar disana bukanlah seorang Sage." jawab Khalid sembari menghela napas panjangnya.


Senja diam, ia tahu jika Sage adalah sosok kuat yang langka, bahkan di benua ini hanya ada 35 Sage dan lima diantara mereka berada di akademi Adeline.


Kebanyakan dari para Sage berada di menara sihir. Tempat dimana banyak penyihir melakukan riset dan pengembangan ilmu sihir baru untuk kemajuan benua.


Menara sihir berada di lokasi yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Jika seseorang tidak memiliki izin maka akan sangat sulit bagi mereka untuk memasuki wilayah itu.


Hal itu karena menara sihir terletak di salah satu pulau kecil di ujung benua. Pulau ini dikelilingi oleh hutan lebat yang memiliki banyak tumbuhan langka. Oleh karena itu para Sage adalah sosok yang sangat sulit dijumpai.


"Aku hanya mengetahui dua Sage di akademi ini dari lima yang ada. Pertama adalah Prof Xei selaku kepala sekolah dan satunya lagi ada Prof Edward yang telah melatih ku satu tahun ini."


"Sedangkan tiga lainnya berada di area dalam akademi." gumam Senja yang berhasil di dengar oleh Khalid.


"Area dalam?"


"Hah,"


Helaan napas panjang keluar dari bibir Senja saat melihat wajah kebingungan Khalid. Senja kemudian dengan malas menjelaskan tentang struktur wilayah Akademi Adeline.


"Akademi memiliki tiga struktur wilayah, pertama adalah wilayah luar yang dihuni oleh siswa kelas pertama dan kedua." seru Senja perlahan.


"Yang kedua adalah wilayah tengah yang dihuni oleh kelas tiga, empat, dan lima. Sedangkan yang terakhir adalah wilayah dalam yang dihuni oleh kelas enam dan tujuh." lanjut Senja setelah diam beberapa saat.


Akademi Adeline memiliki lebih dari 20 guru sihir dan itu sudah termasuk guru magang. Delapan diantara guru tersebut adalah Elite Mage dan tujuh lainnya adalah guru magang bergelar Mage, sedangkan sisa lima lainnya adalah Sage.


Untuk ksatria, mereka memiliki 15 guru pengajar dengan tiga diantaranya adalah Master Swordsman. Delapan lainnya adalah Elite Swordsman dan sisanya adalah guru magang bergelar Swordsman.


Khalid mendengar penjelasan Senja dengan mata berbinar. Ia terlihat begitu antusias dan berharap Senja dapat menjelaskan lebih. Dengan satu tarikan napas Senja pun mencoba sebaik mungkin untuk menjelaskan struktur akademi.


"Tidak hanya siswa, guru pengajar pun dibedakan berdasarkan struktur ini. Biasanya para Sage, Master Swordsman dan Master Guardian berada di wilayah dalam sedangkan wilayah tengah dan luar kebanyakan diisi oleh para Elite dan guru magang."


"Tapi dia bukan Sage," lirih Khalid pelan.


"Siapa? Wanita itu?"


"Iya Lady, aku sangat yakin jika level yang dimiliki oleh sosok itu jauh melebihi seorang Sage."


"Kenapa kau bisa seyakin itu?"


"Itu karena hanya seorang Sage saja yang bisa melihat sosoknya." batin Khalid yang tidak bisa ia ungkapkan pada Senja.


"Karena warna auranya berbeda, ia juga memiliki tekanan energi yang sangat kuat jadi tidak mungkin jika dia adalah seorang Sage." seru Khalid setelah diam beberapa saat.


"Tidak mungkin, tidak ada di benua ini yang lebih kuat dari Sage bahkan..."


Senja seketika diam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga beberapa detik kemudian mata Senja berbinar dengan rasa takut yang kentara.


"Tidak mungkin, jangan bilang jika sosok itu setara Archsage?"


"Tidak, dia memang Archsage."


"Ini gila," teriak Senja tidak percaya.


****


Gedung sihir

__ADS_1


Senja terlihat begitu lesu, ia tidak dapat tidur dengan tenang tadi malam. Bahkan sampai pagi pun Senja masih memikirkan percakapannya dengan Khalid.


Sangat aneh bagi seorang Archsage berada di akademi Adeline. Meski akademi Adeline merupakan salah satu akademi terbaik di benua ini tapi hal itu tidak cukup untuk membuat seorang Archsage sampai harus datang ke tempat ini.


"Di benua ini hanya terdapat 10 Archsage dan mereka biasanya berada di menara sihir ataupun berkelana ke seluruh dunia. Sehingga saat tidak mungkin jika sosok wanita itu merupakan Archsage."


Senja mencoba untuk menolak tapi ia juga takut jika itu adalah kebenarannya. Ia tidak berani untuk menceritakan hal ini kepada siapa pun, ia takut jika sosok itu sedang bersembunyi di sekitarnya dan terus memperhatikan perilaku aneh Senja.


Dengan napas panjang Senja mencoba untuk rileks dan fokus pada ujian keduanya ini. Ia tidak ingin gagal karena terus memikirkan sosok wanita itu.


Meski butuh waktu setengah jam bagi Senja untuk bisa fokus kembali namun akhirnya ia berhasil menyelesaikan ujian teori analisa sihir dan pertempuran dengan baik.


"Kelas analisa tempur dasar sangatlah mudah, aku bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat menyelesaikan seluruh soal." gumam Senja sebelum berdiri dari duduknya.


Senja kemudian pergi meninggalkan kelas menuju lapangan tempur. Berbeda dengan hari pertama ujian, kali ini ujian praktek hanya ada satu.


Dimana Senja diminta untuk mengatur strategi terbaik untuk menghalau monster agar tidak dapat menembus benteng pertahanannya.


Benteng pertahanan akan dibuat secara pribadi oleh siswa menggunakan hologram. Setelahnya benteng tersebut akan dianalisa dan dilihat efektivitasnya dalam menahan serangan.


Jika terdapat banyak titik tumpul maka siswa tersebut akan langsung digagalkan sebelum ujian praktek dimulai. Ujian praktek kali ini menggunakan monster serangga kecil yang akan menyusup ke dalam benteng untuk menghancurkan inti mana.


Peraturannya sangat sederhana dimana siswa harus bisa melindungi inti mana tersebut dari serangan monster selama 20 menit.


"Ini sangat mudah, strategi adalah keahlian ku." gumam Senja saat melihat siswa pertama menaiki podium.


Butuh waktu tiga jam lebih sampai akhirnya giliran Senja untuk tampil. Kali ini Senja tidak membuang waktu dan segera membuat benteng pertahanan yang menurutnya paling efektif.


Senja dengan terampil membuat jebakan demi jebakan, lalu jebakan itu akan ia sebar di beberapa titik penting bentengnya. Tidak hanya jebakan, Senja juga membuat parit untuk mengelabui para monster.


"Tentu saja parit itu harus diisi dengan berbagai macam jebakan untuk menghabisi monster yang terjatuh ke dalamnya."


Dengan semua strategi yang sempurna, Senja berhasil menjebak para monster. Ia juga membuat para monster itu kebingungan dengan struktur benteng yang rumit.


"Puzzle ini dapat membuat struktur benteng berubah bentuk setiap kali pola rune diaktifkan. Namun sayangnya benteng ini sangat tidak cocok untuk ditempati." gumam Prof Xavier yang khawatir dengan jebakan rune milik Senja.


Menurut Prof Xavier para prajurit penjaga benteng akan kesusahan jika mereka tidak berhati-hati dalam mempelajari sihir rune yang terpasang.


Prof Xavier sadar jika jebakan itu akan menyerang para prajurit jika mereka lengah sedikit saja dan itulah kelemahan fatal dari benteng pertahanan Senja.


Namun faktanya Senja membuat benteng itu untuk bertahan dari serangan musuh bukan untuk di tempati. Jadi ia sama sekali tidak melanggar peraturan ujian.


"Aku tahu apa yang mereka pikirkan, tapi tujuan dari ujian ini adalah pertahanan untuk melindungi inti mana bukan manusia jadi tidak masalah jika benteng memiliki berbagai macam jebakan yang aneh."


"Selesai," seru Senja saat seluruh monster itu mati sebelum sempat menyentuh bagian dalam bangunan bentengnya.


Prof Xavier hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum kembali fokus pada catatan penilaiannya.


"Tentu aku sengaja melakukan ini semua agar mereka tidak dapat meniru ku," lirih Senja pelan saat melihat wajah teman sekelasnya yang kaku seperti batu.


Sebelum Senja memulai ujiannya, ia sempat mendengar beberapa teman sekelasnya kompak untuk mengcopy benteng pertahanan mana yang nantinya berhasil melindungi inti mana.


Tentu saja Senja tidak senang dan akhirnya memilih metode ekstrim untuk melindungi karyanya agar tidak dicuri. Dan hasilnya sempurna, tidak ada seorang siswa pun yang dapat meniru karyanya.


"Silahkan lewat sini," bimbing salah satu staff yang membawa Senja keluar dari lapangan.


"Sayangnya aku tidak bisa melihat strategi pertahanan Amir." gumam Senja saat melihat kursi tunggu dimana Amir berada.


Kali ini Senja tampil lebih dulu dari Amir sehingga ia tidak bisa tahu seberapa baik Amir dalam membuat strategi pertempuran. Meski begitu Senja juga senang karena ia dapat beristirahat lebih cepat.


Senja kemudian pergi meninggalkan lapangan tempur dan kembali menuju kamar asramanya. Disana Senja dapat melihat Khalid yang tengah duduk termenung di samping jendela dengan segelas coklat hangat di tangannya.


"Hah, aku rasa butuh waktu bagi Khalid untuk kembali normal." batin Senja sembari menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran seperti apa wajah Archsage itu," lanjutnya pelan.


__ADS_2