
"Bukan keajaiban jika seseorang berhasil selamat dari maut. Ia hanya beruntung, beruntung."
*****************#####*****************
Setelah meminum ramuan obat yang di berikan Eza, tubuh Senja mulai kembali pulih seperti biasanya. Namun mana yang ia miliki masih terus beradu satu sama lain, sehingga Dian memutuskan untuk memanggil Vanilla datang ke Hutan Kegelapan.
Vanilla yang masih melatih diri di Guild segera berteleportasi menuju Hutan Kegelapan setelah mengetahui kondisi kritis nona nya. Disana Vanilla tampak begitu kacau, ia melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak kecil seperti dirinya.
"Kau tidak seharusnya memanggil Vanilla kesini," bisik Eza pada Dian yang malah dijawab dengan gelengan kepala.
"Ini lebih baik daripada dia menyesal untuk selamanya."
Perkataan Dian ada benarnya, jika hal ini terjadi lebih lama lagi, maka ada kemungkinan jika Vanilla akan mengamuk dengan gila.
"Selain itu, Vanilla memiliki kekuatan yang bagus untuk menetralisir kan mana api milik Nona."
"Apa kau yakin mengenai hal itu?"
"Hah, kau akan mengetahuinya nanti," balas Dian sambil pergi meninggalkan kamar.
Dua jam telah berlalu sejak kedatangan Vanilla. Saat ini, Eza dan Dian sedang berdiskusi di ruangan sebelah kamar Senja. Ruangan itu terhubung langsung dengan kamar Senja. Hal ini dilakukan agar saat Nona mereka terbangun, salah satu di antara mereka bisa dengan sigap menolong.
Nindia yang awalnya menjaga area luar, kini merasa sedikit lelah dan memutuskan untuk beristirahat di ruangan tersebut. Disana mereka berbicara banyak hal, yang awalnya hanya pembicaraan santai namun entah mengapa lama-kelamaan arah pembicaraan mereka menjadi lebih berat.
Nindia yang baru saja sampai hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat pertarungan mulut antara Dian dan Eza. Ia mencoba untuk menengahi mereka namun yang terjadi malah sebaliknya. Nindia pun ikut terseret dalam pertarungan mulut tersebut.
"Tidak bisakah kalian diam? Kita semua juga lelah dengan hal ini, jadi kumohon untuk saling pengertian."
Nindia berteriak dengan kesal saat tidak seorang pun mendengarkan perkataannya. Baik Dian maupun Eza, keduanya tetap saja dalam pendirian masing-masing.
"Jika kau hanya bisa menggerutu setiap saat, sebaiknya kau pulang saja!" bentak Dian kesal.
"Hah, apa kau bilang? Pulang? Kau ingin aku kembali disaat seperti ini? Apa kau sudah gila, hah?"
Eza jelas tidak mau kalah dengan hal itu. Ia terus saja membantah omongan Dian dengan wajah dinginnya.
"Kau pikir dengan mendatangi mereka, semua ini akan selesai begitu saja hah?"
"Setidaknya mereka akan mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan!"
Kedua saling berteriak dengan kencang sampai Nindia sendiri kewalahan dalam meredam suara mereka.
"Aku tidak ingin berbuat kasar pada mereka, terlebih lagi mereka berdua adalah orang pertama yang melayani nona," batin Nindia bingung.
Disaat ia hendak mengeluarkan pedangnya untuk menghentikan keributan itu, Vanilla dengan cepat muncul di tengah-tengah mereka.
"Hik..., Nona, Nona menyuruh kalian untuk...."
Belum sempat Vanilla menyelesaikan kalimatnya, mereka dengan sigap berlari menuju kamar Senja. Di sana mereka bisa melihat wajah pucat nona nya yang seperti sedang menahan sakit.
Semuanya diam, mereka bingung harus bereaksi seperti apa. Namun hal yang tidak terduga pun terjadi. Saat Senja hendak melirik ke arah mereka, darah mulai mengalir keluar dari hidungnya.
Dian dengan cepat berpindah menopang tubuh lemah nona nya itu. Ia memegangi pundak Senja dan kemudian mengelap hidungnya.
Eza yang melihat hal itu memutuskan untuk keluar dan mengambil obat pemberian Arthur sedangkan Nindia memutuskan untuk melanjutkan kembali tugasnya. Senja sendiri hanya bisa tertawa lucu melihat reaksi bawahannya yang menurutnya menggemaskan.
Dian yang merasa bahwa saat ini nona nya benar-benar sudah kembali, merasa cukup bahagia. Ia dengan erat memeluk Senja dengan ekspresi wajah sedih sekaligus bahagia. Senja yang sadar jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk terus duduk diam, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rencana awalnya.
"Panggil Nindia kesini, aku ingin berbicara dengannya."
Itu adalah kalimat pertama yang Dian dan Eza dengar setelah nona mereka selesai meminum ramuan obat.
__ADS_1
"Nona, sebaiknya anda istirahat saja dulu, kita bisa membicarakan ini saat kondisi anda sudah membaik," protes Dian tidak senang.
"Aku tidak bisa membuang waktu ku untuk saat ini, karena pesta kedewasaan akan di mulai nanti malam dan tentu saja aku harus hadir disana."
Mendengar perkataan Senja membuat mereka berdua hanya bisa diam dan menurut. Jelas mereka tahu jika nona mereka sangatlah keras kepala sehingga apapun yang mereka katakan, hanya akan menjadi angin lalu bagi Senja.
Beberapa saat kemudian, Nindia memasuki kamar Senja. Setelah Nindia masuk, kamar tersebut terkunci oleh sihir perlindungan Ristia. Sihir itu membuat siapa pun yang berada di luar kamar tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Jelaskan dengan singkat padaku informasi apa yang kau dapat dari sana."
Senja tanpa basa-basi langsung bertanya to the point pada Nindia.
"Baik Nona."
Nindia segera menceritakan segalanya yang ia ketahui tentang mereka. Awalnya Nindia sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Baron Vigui.
Nindia sempat bingung dengan keadaan Baron yang hanya diam seperti mayat hidup itu. Matanya hitam dengan pandangan yang selalu mengarah ke depan. Wajahnya datar dan sepertinya ia juga tidak bisa merasakan rangsangan.
Sudah beberapa kali Nindia mencoba untuk membangkitkan rangsangan Baron Vigui, namun sayangnya reaksi Baron masih datar seperti patung. Tidak ada perubahan sama sekali sehingga membuat Nindia sedikit kesal.
Nindia sudah berada di Kerajaan Guira terlalu lama dan sampai saat ini, ia masih belum menemukan titik terang mengenai perubahan Baron.
"Aku tidak bisa kembali seperti ini. Nona pasti akan sangat kecewa dengan ku," gumam Nindia kesal.
Nindia merasa begitu frustrasi dengan keadaannya sekarang. Aslan sudah kembali ke Guild bersama Sean karena urusan pekerjaan sehingga.disana hanya menyisakan Nindia dan beberapa bawahan Aslan yang menjaganya.
"Apa yang telah count berikan padamu sehingga kau menjadi gila seperti ini? Aku sama sekali tidak bisa menemukan kesalahan apa pun di tubuh mu. Semuanya berjalan dengan baik, hanya saja..."
Nindia sedikit menjeda kalimatnya, ia kini dengan seksama sedang memperhatikan Baron yang tengah menatapnya datar.
"Kau terlihat hidup namun sama sekali tidak bisa bergerak seperti orang mati, namun jika dibilang mati, kau masih hidup," lanjutnya bingung. Nindia dengan kesal menjambak rambutnya asal. Ia tampak stress dengan semua ini.
Dengan kesal, Nindia menarik kerah baju Baron Vigui dan memakinya dengan kasar. Ia memaki Baron sambil memukul-mukul kasar kedua pipinya, berharap dengan tindakannya ini, Baron bisa sadar sepenuhnya.
Sayang sekali, apa yang dilakukan Nindia sama sekali tidak membuahkan hasil. Bukannya mendapatkan jawaban ia malah membuat wajah Baron menjadi hancur dengan beberapa bercak darah yang masih mengalir keluar dari hidungnya.
"Sial," maki Nindia yang sudah kehilangan kesabarannya.
Nindia ingin sekali menggunakan benda suci untuk menyadarkan Baron Vigui, namun sayangnya, karena Nindia adalah seorang peri kegelapan sehingga hal itu menjadi sangat mustahil baginya.
Peri kegelapan sama sekali tidak bisa menyentuh kesucian karena para dewa sangat membenci mereka. Selain itu, mereka juga merupakan kutukan bagi para peri yang menggunakan mana mati sebagai sumber kekuatannya.
"Dasar brengsek!"
Nindia yang kesal mulai mengacak-acak seisi ruangan. Ia sudah tidak tahu harus berperilaku seperti apa kali ini. Ia bingung untuk meminta bantuan dengan siapa.
Pasalnya, ia selama ini hanya berhubungan dengan Agra dan juga keluarganya. Selain mereka, Nindia sama sekali belum pernah berhubungan dengan siapa pun selama masa hidupnya.
"Tidak ada pilihan lain," lirih Nindia sambil melirik ke arah Baron yang masih duduk diam di tempatnya.
"Hanya satu hal yang belum aku lakukan sampai sekarang," lanjutnya dalam hati sambil merobek seluruh pakaian yang di kenakan oleh Baron Vigui.
"Jika aku tidak bisa menemukannya di luar, maka aku akan mencari nya di dalam."
Nindia dengan kasar merobek seluruh pakaian Baron. Mulai dari baju hingga celananya. Hingga seluruh pakaian di tubuh Baron menghilang dan hanya meninggalkan kulitnya saja.
"Dengan ini aku bisa melihatnya dengan jelas."
Nindia tersenyum nakal saat melihat tubuh Baron yang sudah tidak berpakaian. Jujur saja sebagai seorang peri hitam, Nindia sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk manusia.
Ia hanya mengganggap manusia sebagai hama yang selalu menyusahkan kaumnya saja. Ya tentu saja, hal itu tidak berlaku bagi nona nya yang sangat ia hormati itu.
__ADS_1
Baginya.Senja adalah manusia pertama yang ia sukai sejauh ini, selain Agra. Meski begitu, Nindia sudah menganggap Senja sebagai tuannya, sehingga apapun yang dilakukan oleh Senja, baginya itu bukanlah suatu masalah yang besar.
"Mari kita lihat, apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan."
Nindia lalu mendekati tubuh Baron Vigui. Ia dengan santainya memegang tubuh Baron, seolah-olah itu hanyalah dinding baja baginya.
"Arg...!"
Seketika tubuh Baron bereaksi dengan sentuhan Nindia. Namun anehnya, suara yang di keluarkan oleh Baron adalah suara teriakan yang menyedihkan padahal Nindia hanya menyentuhnya saja bukan menekannya.
"Apa ini... Glup..."
Baron yang bingung dengan keadaannya malah memuntahkan darah segar. Darah itu keluar tidak hanya dari mulutnya, melainkan dari hidung dan juga kedua telinganya.
"Ini gila," gumam Nindia pelan. Ia sama sekali tidak tahu apa yang saat ini sedang terjadi dengan Baron.
"Ada apa ini? Ada apa dengan ku?" tanya Baron saat mendapati tubuhnya yang sudah tidak berbusana serta wajah yang sepertinya habis dihajar.
"Uh, itu... Entahlah," jawab Nindia kaku. Ia lalu melemparkan selembar kain panjang ke hadapan Baron untuk menutupi tubuhnya.
Baron dengan cepat mengambil kain tersebut dan langsung membungkus dirinya. Ia yang bingung dengan keadaannya saat ini hanya bisa melihat ke sekeliling dengan pandangan aneh.
"Dimana Count Pilgub?" tanya Baron dengan suara yang bergetar.
"Kenapa kau bertanya tentang orang yang bersedia mengorbankan dirimu demi nyawanya."
Perkataan Nindia sontak membuat tubuh Baron merinding ketakutan. Ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan wanita aneh di hadapannya itu.
"Kau, apa kau sedang menipuku?"
"Apa aku terlihat seperti penipu di mata mu?"
Baron Vigui hanya bisa diam dengan pertanyaan balik dari Nindia.
"Sudahlah, sekarang jawab aku. Hal apa yang terkahir kali kau lakukan?"
Baron tampak bingung dengan pertanyaan Nindia. Pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah, ia sedang berbicara dengan Count Pilgub mengenai rencana untuk melarikan diri dari tempat ini.
"Apa kau tuli hah? Apa setelah di hajar kau baru mau jawab?" tanya Nindia dengan kepalan tangan yang melambai di udara.
"Tidak, tidak. Aku akan menjawab," seru Baron panik.
"Hal terakhir yang aku ingat adalah Count Pilgub berencana untuk melarikan diri dari tempat ini. Ia menyuruhku untuk memakai lencana yang sebelumnya di titipkan oleh penyihir istana untuk kami berdua," jelasnya gugup.
"Lencana?"
Nindia bertanya dengan bingung. Ia kemudian mengacak-acak pakaian Baron yang sebelumnya sudah ia sobek.
"Maksudmu ini?" tunjuk Nindia pada lencana yang terlihat mirip dengan simbol kelinci itu.
"Iya itu benar. Anehnya setelah aku memakai lencana itu, aku sama sekali tidak mengingat apa pun lagi."
Baron menjelaskan dengan jujur, ia sama sekali tidak menyadari apa pun yang terjadi setelah memakai lencana itu. Hal pertama yang ia lihat setelah sadar kembali adalah, tubuhnya yang sedang telanjang dengan seorang wanita di hadapannya yang tengah menatapnya sinis.
"Hah, sial."
Nindia tampak kesal dengan apa yang baru saja ia temukan. Ia mencoba mencari tahu mengenai lencana itu, namun hasilnya nol. Ia sama sekali tidak tahu apapun tentang lencana di tangannya itu.
Dengan perasaan kesal, ia keluar dari ruangan tersebut. Ruangan itu lalu dijaga kembali oleh bawahan Aslan sedangkan Nindia memutuskan untuk kembali ke kota asalnya.
"Mungkin saja ayah tahu mengenai ini,"
__ADS_1