Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E46] Meridian


__ADS_3

"Tetap tenang dalam menghadapi masalah adalah jalan keluar terbaik."


*****************#####*****************


"Meridian, meridian." gumam Senja sepanjang jalan menuju sungai.


Ia terus saja memikirkan apa yang dikatakan Sera padanya saat itu.


"Energi dalam tubuh mu sangatlah besar namun karena tubuh mu tidak terbiasa dengan lingkungan, maka Meridian mu menjadi rusak."


Sera tidak tahu Senja berasal dari dunia mana atau lebih tepatnya ia dibesarkan di dunia antah berantah yang bahkan Sera sama sekali tidak mengetahuinya.


Akan sangat berisiko bagi tubuh Senja yang belum terbiasa dengan mana dan segala hal perubahan yang ada di dunia ini. Bukan hanya itu, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba akan membuat tubuhnya terguncang dan akhirnya kehilangan pijakan untuk bertahan.


"Kau harus bisa beradaptasi dengan dunia ini," lanjut Sera penuh penekanan.


"Tapi bukankah aku sudah beradaptasi dengan baik di tempat ini?"


Senja bingung, jika ia tidak beradaptasi dengan baik di tempat ini mengapa ia bisa dengan mudah menggunakan mana dan bahkan mampu mengendalikan elemennya.


"Bukan itu, semua orang yang datang ke tempat ini pun bisa mengunakan mana hanya saja itu tergantung seberapa baik mana di dalam tubuh mereka."


"Lalu?"


"Masalah mu adalah tubuh mu itu tidak bisa sepenuhnya menerima perubahan ini. Mereka butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda."


"..."


"Meridian mu seperti gelas kaca, terlalu panas akan membuatnya leleh dan terlalu dingin akan membuatnya pecah."


"Jadi maksud mu aku sebenarnya sudah benar-benar beradaptasi di tempat ini tapi hanya saja resiko dari itu semua adalah tubuh ku yang rusak, begitu?"


"Bisa di bilang begitu. Tubuh mu itu mengalami kejutan hebat saat kau berpindah ke tempat ini."


"Apakah tidak ada cara untuk memperbaikinya?"


"Tentu saja ada, kau hanya perlu menjahitnya kembali?"


"Menjahit?"


Mendengar kata menjahit membuat bulu kuduk Senja berdiri. Bagaimana bisa ia menjahit tubuhnya yang bahkan tidak memiliki luka sama sekali, dan bagaimana juga ia melakukan hal itu.

__ADS_1


"Apa kau gila?" gerutu Senja kesal. Ia ingin memperbaiki tubuhnya bukan merusaknya dengan jahitan.


"Dasar bodoh."


"Kau..."


"Manusia selalu saja begitu, mereka selalu memotong perkataan orang lain tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu."


"..."


Melihat Senja diam membuat Sera menjadi tambah kesal. Ia tahu bahwa salah satu sifat manusia yang tidak bisa di buang adalah ketidaksabaran mereka. Andai saja sifat itu bisa hilang maka akan sangat mudah mengatur dunia ini.


"Menjahit yang aku maksudkan adalah kau harus bermeditasi dan membuat benang mu sendiri dari mana yang ada di alam. Kemudian, setelahnya kau berhasil menyatukannya kembali bagian tersebut maka vitalitas mu akan kembali seperti semula."


"Mana alam," gumam Senja tidak mengerti.


"Mana alam akan membantu mu dalam memperbaiki Meridian yang pecah. Kau tinggal menyusunya seperti benang lalu menariknya kembali dan selesai. Kau bisa kembali seperti dulu lagi."


"Tunggu dulu, apa maksud mu dari mana alam?"


"..."


Sera menatap Senja dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Jangan bilang pada ku bahwa kau sama sekali tidak tahu mengenai hal itu'.


"Hah, dasar manusia bodoh. Aku bahkan harus menjelaskan hal mendasar seperti ini lagi pada mu. Sejujurnya kau berasal dari mana hah?"


"..."


"Sial, kau membuat ku tambah kesal dengan diam begitu. Aku merasa aneh dengan keberadaan mu. Kau terlihat sama dengannya, dari wajah warna rambut dan seluruh bagian luar mu terlihat seperti dirinya. Bahkan aku sempat mengira bahwa kau adalah dia."


"Aku tidak," lirih Senja pelan.


"Astaga, sekarang kau membuat ku benar-benar sadar jika kau bukan dia."


"Aku memang bukan dia!" teriak Senja kesal karena terus di bandingkan dengan dia yang ia tidak kenal.


"Wanita itu terlihat manis dan lucu, ia baik dan lembut. Sedangkan kau, huh."


Sera mendengus kesal, ia kembali teringat dengan wanita muda yang dulu pernah masuk ke rumahnya. Wanita manis yang selalu tersenyum hangat padanya, berbeda sekali dengan bocah ingusan yang saat ini duduk di hadapannya itu.


"Hah, sudahlah."

__ADS_1


Sera hanya menghela napas lelah. Ia malas untuk terus berdebat dengan Senja mengenai sifatnya yang arogan dan sombong itu.


"Mana alam adalah mana yang ada di seluruh dunia ini. Ia berasal dari alam dan terasa begitu murni berbeda dari mana yang di hasilkan oleh tubuh manusia."


Senja kembali melihat ke arah Sera yang kini terlihat kesal. Meski begitu ia tetap menjelaskan mengenai mana alam pada Senja dengan baik dan benar.


"Kau pasti merasakan perbedaan mana di tempat ini dan di luar bukan. Jika kau peka, mana di dalam tempat ini jauh lebih besar dan murni."


"Ini sama seperti yang dikatakan Kun dan Ristia saat pertama kali mereka datang ke tempat ini," gumam Senja pelan sambil memikirkan hewan magic nya itu.


"Mana alam di setiap tempat itu berbeda-beda. Ada yang sangat alami seperti tempat ini ada juga yang kotor. Mana kotor itu disebut sebagai mana mati. Tempatnya bahkan tidak bisa dihuni oleh makhluk apa pun, kecuali peri gelap."


"Aku mengerti," lirih Senja sambil memikirkan kota bawah tanah tempat tinggal Nindia."


"Jika kau sudah mengerti maka baguslah. Sekarang tugas mu hanya satu, kau harus merajut mana alam di tempat ini dan kemudian menyatukan kembali Meridian mu."


"Tunggu dulu, bagaimana cara ku melakukan itu?"


"Ya seperti yang aku katakan tadi. Kau hanya perlu bermeditasi dan mengikuti langkah-langkah yang aku katakan tadi."


"Langkah-langkah macam apa itu? Mana ada orang yang paham dengan langkah-langkah seperti itu."


"Itu urusan mu bukan urusan ku."


"Kau..., sebenarnya niat tidak menolong ku, hah?"


"Memang aku pernah bilang mau menolong mu? Aku hanya mengatakan untuk menjelaskan tentang situasi mu bukan membantu mu, jadi pahami itu."


"Sial," maki Senja kesal.


"Jadi sekarang pergilah dari rumah ku dan segera perbaiki Meridian mu itu."


"Kau...,"


Senja ingin marah namun sebelum ia bisa mengeluarkan emosinya tiba-tiba saja penglihatannya menjadi kabur. Ia merasa bahwa tubuhnya telah di pindahkan keluar dari tempat ini.


"Sialan," maki Senja setelah mengingat kembali kejadian yang menyebalkan itu.


Jika ia bertemu kembali dengan Sera maka bisa dipastikan bahwa Senja akan mengatai Sera dengan berbagai macam kata kasar yang bahkan orang lain belum pernah mendengarnya.


"Merajutnya lalu menyatukannya kembali. Dia pikir aku ini dewa." gerutu Senja sambil mengikuti nada suara Sera yang mengejek.

__ADS_1


"Bahkan penjelasannya lebih buruk dari pada Lucas." lanjut Senja sambil memikirkan pelatihan pertamanya.


"Apa semua orang pintar itu memiliki penjelasan yang tidak waras atau hanya aku sendiri yang tidak beruntung karena bertemu dengan orang seperti mereka?" tanya Senja yang kasihan pada keberuntungannya.


__ADS_2