Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pertemuan pt 4


__ADS_3

"Kesepakatan yang dibuat akan selalu ada selama semua pihak menjaganya."


*****************#####*****************


Semua mata kini tertuju pada Senja, mereka melihatnya dengan tatapan tajam sekaligus kagum. Aura dominasi yang dikelurkan oleh Senja sejak pertama kali ia memasuki ruangan telah membuat kelima pria di dalam ruangan tersebut menjadi tegang dan tanpa mereka sadari, mereka sudah memperbaiki postur duduknya.


"Nona, kendalikan kekuatan mu."


Kun terlihat panik saat Senja memancarkan aura dominasinya dengan liar.


"Wanita itu bisa mengetahui posisi anda saat ini juga." lanjut Kun kemudian naik keatas pangkuan Senja.


"Jangan khawatir, ini masih dalam tahap normal," balas Senja sebelum memutuskan link diantara mereka.


"Apanya yang normal, dia bahkan tidak sadar jika mereka sangat tertekan dengan kekuatannya."


Kun terlihat kesal sambil menggaruk paha Senja dengan tangannya.


"Mungkin hal ini diperlukan agar sekutu tahu betapa hebatnya diri mu, sehingga mereka tidak akan meremehkan mu karena telah menjadi pemimpin dari kumpulan orang hebat." lanjut Kun yang kini semakin kuat menggaruk paha Senja.


Senja yang merasa terganggu dengan sikap Kun, kemudian menariknya dari pangkuan untuk diberikan pada Dian.


"Tenangkan dirinya," seru Senja saat Dian mengambil Kun dari tangannya.


"Baik Nona," jawab Dian kemudian menaruh Kun di dalam keranjangnya.


"Kun, jangan mengacau," bisik Dian pelan saat Kun sudah berada di dalam keranjangnya.


"Hah, aku lelah," batin Kun memikirkan wanita liar yang saat ini berada dibawah mereka.


"Aku sudah memperingatinya untuk menurunkan dua tingkat kekuatannya, tapi apa ini." lanjut Kun kesal saat melihat aura dominasi Senja yang masih berkibar di dalam ruangan tersebut.


Disisi lain, pria yang kini berhadapan dengan Senja hanya bisa menelan saliva nya yang terasa pahit. Ia mencoba untuk tetap terlihat tenang meski kedua tangannya sedang bergetar di bawah meja.


"Kekuatan yang hebat," batin pria tersebut sambil mencoba untuk terlihat acuh dengan aura yang ia rasakan.


"Dia bukanlah gadis biasa." anjutnya sambil melirik sekilas kearah teman - temannya yang saat ini sedang menatap Senja.


"Ehem."


Pria tersebut pura - pura batuk ringan untuk menyadarkan temannya agar berhenti menatap Senja.


"Senang bertemu dengan..."


"Bee"


perkataan pria tersebut terputus saat mendengar suara Senja yang dingin.


"Panggil aku Bee." lanjut Senja saat ia melihat pria dihadapannya termenung sesaat.


"Ah, iya. Nona Bee, nama saya Uriq, dan mereka adalah bawahan saya."


"..."


Uriq yang tidak mendapatkan respon apa pun dari Senja hanya bisa berdiri kaku dengan tangan yang masih mengarah pada bawahannya tersebut.


"Bisa kita mulai diskusinya," seru Senja saat Uriq masih terdiam kaku ditempatnya.


"Ah, baik."


Uriq kemudian kembali menatap bawahannya sambil memberikan kode mata agar mereka keluar dari ruangan tersebut.


Senja juga melakukan hal yang sama, ia menatap kearah Dian sambil mengangkat tangannya agar Dian ikut keluar bersama bawahan Uriq.


"Pergilah,"


"Jaga punggung ku dengan aman."


"Baik, Nona,"


Setelah ruangan dirasa kosong, Uriq kemudian mengeluarkan beberapa dokumen penting keatas meja. Ia lalu mengarahkan dokumen tersebut pada Senja.


"Nona Bee, senang bertemu dengan anda,"


"Saya disini sebagai perwakilan dari Tuan V, yang merupakan memilik utama perdagangan Weru. Seperti yang anda ketahui, nama saya adalah Uriq dan saya merupakan sekretaris utama Tuan V."


"Jadi Tuan Uriq, apa tujuan kalian bekerja sama dengan Guild milik ku?"

__ADS_1


Senja bertanya terus terang saat melihat Uriq yang semakin tertekan dengan aura miliknya.


"Tuan V sangat menyukai kinerja Guild anda sehingga ia memutuskan untuk melakukan kerja sama."


"Apa keuntungan yang akan aku dapat darinya?"


"Ah, mengenai hal itu."


Uriq menjeda perkataannya sambil melirik kearah dokumen yang ada di atas meja.


"Mengenai hal itu, anda bisa melihatnya disini."


Uriq lalu menyerahkan sebuah dokumen dengan balutan kertas kuno yang mengering.


"..."


Senja hanya diam saat mengambil dokumen tersebut. Ia kemudian tanpa ragu membuka bungkus dokumen itu lalu membacanya.


"Hehehe, ini sangat bagus, tapi juga mencurigakan." lanjut Senja sambil membalik halaman demi halaman yang ada di dokumen tersebut.


"Manusia hentikan senyum aneh itu," seru Kun yang sudah berada di luar keranjangnya.


"..."


Senja hanya diam menatap Kun yang saat ini berada dibawah kakinya.


"Nona, kau terlihat jahat jika terus tersenyum begitu." lanjut Kun yang kini mulai naik keatas meja dimana semua dokumen berada.


"Apakah kalian membutuhkan Guild ku agar tidak diganggu ketika melakukan transaksi di pasar gelap?"


"Bagaimana bisa bocah ini mengetahuinya."


"Tidak perlu sekaget itu. Bukankah ini sangat wajar bagi kumpulan pedagang menyewa tentara bayaran agar mereka bisa berbisnis dengan bebas."


Uriq yang mendengar pernyataan Senja barusan hanya bisa menahan napasnya sebelum kembali normal seperti semula.


"Nona benar, saya jadi tidak bisa menyembunyikan apa pun dari anda."


"Apa kau yakin? Aku rasa masih ada banyak rahasia yang tersembunyi dari mu."


"..."


"Nona sangat pintar."


"Terima kasih."


Jawaban Senja yang acuh tak acuh sontak membuat Uriq menjadi lebih santai terhadapnya. Ia merasa bahwa gadis muda didepannya ini tidak bisa dianggap remeh, meski ia hanyalah seorang bocah namun kemampuannya dalam menilai tidak kalah hebatnya dengan seorang ahli yang sudah hidup lama.


"Nona, bagaimana dengan kesepakatannya? Apa anda suka?"


"Tidak buruk, namun aku butuh jaminan untuk Guild ku."


"Nona tenang saja, keuntungannya akan dibagi yaitu 20 : 80."


"40 : 60."


Wajah senang Uriq kini menjadi penuh kerutan saat Senja memutuskan tarif harganya.


"Itu terlalu..."


"45 : 55."


Wajah Uriq semakin pucat saat Senja memotong perkataannya dengan menaikan harga kesepakatan.


"Nona..."


"50 : 50."


Kini wajah Uriq sudah berubah menjadi seputih mayat hidup. Matanya terbelalak kaget saat harga tarif semakin tinggi.


"Sial, aku memang harus waspada terhadapnya," batin Uriq saat melihat gadis muda didepannya sedang bermain tangan dengan kucing yang ia bawa.


"Jika begini terus maka kami bisa rugi."


"Nona..."


"55 : 45."

__ADS_1


"Hah, astaga...!" teriak Uriq yang membuat bawahannya dengan sigap membuka pintu ruangan tersebut.


"Ada apa Tuan?" tanya bawahan Uriq panik saat melihat wajah Uriq yang memucat.


"Keluar kalian!" teriak Uriq kesal saat bawahannya mencoba untuk memasuki ruangan itu.


"Baik Tuan," lirih bawahan tersebut sebelum menutup kembali pintu masuknya.


"Ulah apa lagi yang kali ini dibuat oleh Nona," batin Dian saat melihat wajah Uriq yang sepucat mayat.


"Yah, aku yakin. Apa pun itu yang pasti Tuan Uriq kali ini dalam masalah besar." lanjut Dian acuh tak acuh ketika pintu ruangan tersebut ditutup.


"Nona, kumohon."


Uriq mencoba memasang wajah sedihnya, agar Senja menjadi lebih kasihan terhadapnya.


"60 : 40."


Senja tidak peduli dengan tatapan memohon Uriq dan malah terus menambah tarifnya.


"Baiklah, cukup. Hentikan sampai disitu."


Senja tersenyum nakal dibalik topengnya saat Uriq sudah tidak tahan lagi dengan tarif yang terus bertambah.


"Saya setuju dengan 50..."


Perkataan Uriq terputus saat ia merasakan aura dingin di sekitarnya.


"60 : 40," ulang Senja datar dengan tatapan mata yang dingin.


Tubuh Uriq mulai bergetar saat melihat tatapan mata Senja yang tertuju padanya. Tatapan itu sangat dingin bahkan rasa dinginnya bisa menembus sampai ke tulang belakang Uriq.


"Sial, aku harus menjelaskan apa nantinya pada mereka," batin Uriq yang sedang mencoba untuk melawan rasa dingin tersebut.


"Jika aku tahu hal ini sesulit itu, maka sejak awal aku tidak akan mengambilnya." lanjut Uriq saat dirasakan tubuhnya mulai menggigil dengan pelan.


"Baiklah, Nona. Saya setuju dengan anda," seru Uriq saat tubuhnya sudah tidak bisa lagi menahan rasa dingin tersebut.


"Itu bagus."


Senja kemudian menurunkan auranya agar Uriq bisa kembali normal.


"Kau sangat hebat dalam memeras orang lain," sindir Kun yang masih setia dengan tumpukan dokumen dibawah tubuhnya.


"Senang berbisnis dengan anda." lanjut Senja ketika ia melihat wajah masam dari Uriq.


Uriq yang mendengar perkataan tersebut mencoba untuk tersenyum hangat pada Senja namun yang ia hasilkan hanyalah senyum canggung yang tampak dipaksakan.


"Hahaha, lucu sekali wajahnya,"


"Saya juga senang berbisnis dengan Nona," balas Uriq lemas seolah - olah tenaganya sudah habis terkuras entah kemana.


"Jika tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, mari kita akhiri ini," seru Senja sambil membereskan dokumen yang ditiduri oleh Kun.


"Akhirnya ini selesai juga," batin Uriq lega dengan senyum damai diwajahnya.


"Dia terlihat bahagia seperti telah melewati neraka yang panjang," lirih Kun melalui link batin dengan Senja.


"Kau telah berhasil membuatnya tersiksa dan sekarang dia begitu bahagia bisa bebas dari mu." lanjut Kun kemudian naik keatas pundak Senja.


"Diam kau, kucing pemalas," gerutu Senja sebelum memutuskan link diantara mereka.


"Lagi pula siapa yang peduli." lanjut Senja kemudian menaruh dokumen perjanjian kedalam tas sihirnya.


Meski diakhiri dengan kecanggungan, diskusi tersebut pun berakhir dengan lancar. Senja yang mendapatkan keutungan 60% dari kerja samanya hanya bisa menahan senyum bahagia dari balik topengnya tersebut, sedangkan Uriq hanya bisa diam menatap wajahnya yang pucat pasi.


Para bawahan Uriq tampak sangat kaget ketika melihat wajah tuannya yang sepucat mayat namun Uriq enggan mengatakan apa pun yang sudah terjadi padanya, sehingga para bawahannya tersebut hanya bisa diam menerima keadaan tersebut.


Dian sendiri sadar bahwa apa yang telah dilakukan nona nya adalah sumber utama mengapa Uriq menjadi seperti itu, namun Dian hanya acuh tak acuh mengenai hal tersebut. Ia berpikir selama nona nya merasa bahagia maka itu bukankah masalah baginya.


"Tuan Uriq, sampai bertemu lagi," seru Senja sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Terima kasih Nona, dan sampai jumpa kembali," balas Uriq kaku sebelum menjadi tenang setelah Senja benar - benar keluar.


"Awalnya aku ingin mengajak gadis itu untuk bermain, namun setelah aku melihatnya. Aku memutuskan untuk berhenti," batin Uriq saat Senja sudah meninggalkan tempat tersebut.


"Aku tidak ingin uang ku menghilang untuk kedua kalinya."

__ADS_1


__ADS_2