
"salah paham terkadang akan membuat mu buta akan kenyataan yang sebenarnya."
*****************#####*****************
"Vanilla suka makan ini," lirih Vanilla saat sedang memakan kue coklat favoritnya.
"memang enak, tapi sejak kapan ada kue di tempat ini?"
Ristia tampak bingung karena sepanjang mata memandang hanya ada tumpukan rumput saja.
"Saat Vanilla sedang mengikuti kelinci itu, tiba-tiba saja Vanilla sudah berada di tempat yang isinya penuh dengan coklat." jelas Vanilla dengan wajah polosnya.
"Dimana itu?"
"Vanilla tidak tahu nama tempatnya apa karena tempat ini semuanya terlihat sama, tapi Vanilla tahu dimana lokasinya."
Vanilla lalu membimbing Ristia menuju tempat dimana ia menemukan coklat tersebut. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi awal mereka namun juga tidak bisa dikatakan dekat.
"disana," tunjuk Vanilla ke sebuah gua yang ada di hadapan mereka.
"Gua itu?"
"iya, disana ada banyak coklat."
Tanpa menunggu konfirmasi, Ristia segera masuk ke dalam gua. Ia begitu penasaran dengan tempat ini apalagi semenjak keanehan yang ia alami secara nyata disini.
Mungkin Vanilla tidak akan bertanya banyak hal mengenai tempat ini karena ia masih kecil, namun itu tidak berlaku untuknya. Hanya dengan pertama kali memasuki tempat ini, ia sudah sadar bahwa tempat ini bukan hal yang mampu di buat oleh manusia pada umumnya.
Sekuat apa pun manusia itu, ia tidak akan bisa atau bahkan tidak akan mampu membuat tempat yang seluarbiasa ini. Tempat ini penuh dengan mana, bahkan hanya berada disini, mereka bisa menaikkan kekuatan sebanyak 1% saja.
Meski jumlahnya terbilang sedikit, namun itu sudah termasuk peningkatan pesat. Jelas jika mereka lama berada di tempat ini, mungkin hanya dalam waktu beberapa bulan saja mereka sudah bisa naik ke tingkat berikutnya.
"Wah, enak..!" teriak Vanilla sambil melemparkan dirinya ke atas tumpukan coklat.
"Luarbiasa," cicit Ristia kagum saat melihat keseluruhan isi gua.
"Tidak hanya coklat, disini juga terdapat manisan lainnya. Jelas sekali ini dibuat untuk anak-anak sepertinya." batin Ristia kemudian.
"Enak sekali!" seru Vanilla tidak hentinya.
"Pantas saja kau betah berada di tempat ini."
"Hehehe, tidak juga."
Vanilla terlihat malu dengan perkataan jujur Ristia. Bukannya ia betah di tempat ini, hanya saja keadaan di luar begitu tegang saat ini. Ia juga tidak bisa berkata jika Lily dan Dian sedang perang dingin saat ini.
Ia juga takut dengan Kun yang selalu diam dan memperhatikan keduanya. Ia takut jika kemarahan Kun yang memuncak akan lebih berbahaya dari pada perang dingin tersebut.
"Lumayan," gumam Ristia saat mencicipi sedikit bagian coklat tersebut.
"Benarkan, ini memang enak." sahut Vanilla penuh semangat.
Beberapa saat kemudian, sudah hampir setengah dari tumpukan coklat dimakan oleh keduanya. Saat pangkal coklat hendak terlihat, Ristia tampak kaget.
"Apa ini?" tanya Ristia bingung.
__ADS_1
"Oh itu Vanilla tidak tahu, tapi setelah memakan semua coklat, benda itu akan terlihat."
"Begitu."
"Benar. Memangnya ada apa Ristia tanya hal itu? Ada yang aneh dengan benda ini ya?"
"Tidak ada, kau makan saja dulu," Jawab Ristia sambil mengelus pelan bulu keriting Vanilla.
"Sial, aku harus membicarakan ini dengan Nona," batin Ristia khawatir.
Ristia kemudian berdiri dari duduknya sambil melihat ke sekelilingnya. Ia merasa gua ini bukanlah gua yang penuh dengan coklat biasa, ia juga merasa lebih baikan setelah memakan coklat tersebut.
"Tempat aneh ini penuh dengan kejutan," lirihnya sambil melangkah pergi.
"Ristia mau kemana?" tanya Vanilla ketika melihat Ristia yang hendak meninggalkan gua.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Nona."
Tanpa menjelaskan detailnya, Ristia kemudian pergi meninggalkan Vanilla yang masih asyik memakan coklat di hadapannya.
***
Tubuh Senja terlihat lesu, kulitnya yang pucat kini terlihat makin pucat dari pada sebelumnya. Kelopak matanya yang terpejam erat terlihat seperti dewi tidur yang tampak rapuh.
"Ugh..." lirih Senja lemah saat hendak membuka matanya.
"Apa aku sudah mati? Atau...!!"
Senja terlihat bingung, ia memandang sekitarnya dengan seksama memastikan bahwa tempat ini surga atau bukan.
Senja tertawa kecut saat mengetahui bahwa tempat ini adalah padang rumput yang sama sebelum ia tertidur tadi. Tempat dimana ia merasa nyaman sebelum masuk ke dalam kandang monster itu.
"Monster sialan itu membuat ku merasakan kematian yang bahkan orang lain tidak ingin membayangkannya."
Senja perlahan berdiri dari duduknya, ia kemudian melangkah pergi dari tempat itu bersamaan dengan cengiran nakal yang terukir di wajahnya sepanjang jalan.
Ia tampak berbahaya untuk sekedar di dekati, sehingga semua hewan yang berpapasan dengannya selalu memasang wajah takut dan kemudian kabur melarikan diri.
"Ada apa dengan hewan-hewan aneh itu?" batin Senja bingung sambil terus melangkah pergi menuju sungai yang ada di hadapannya.
Sesampainya di sungai, Senja terlihat terkejut dengan penampakan dirinya sendiri. Ia terlihat seperti mayat hidup yang berjalan, ditambah lagi dengan senyum nakal yang membuat penampilannya terlihat lebih menyeramkan.
"Pantas saja mereka kabur, aku sendiri pun merasa takut melihat ini." gumam Senja sambil menyentuh pipinya yang pucat.
"Hah," Senja hanya bisa menghela napas panjang dengan kondisinya saat ini. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya tersebut untuk mengambil air sungai dan membasuh wajahnya.
"Segar," batin Senja saat air sungai perlahan menyentuh kulit wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Ristia datang menemui Senja. Namun betapa kagetnya ia saat mengetahui bahwa kondisi nona nya sedang tidak baik-baik saja.
"Astaga, ada apa dengan Nona saat aku tidak ada?" tanya Ristia khawatir.
"..."
Senja hanya diam sambil terus membasuh wajahnya dengan air sungai.
__ADS_1
"Nona..!" teriak Ristia kesal saat Senja bahkan tidak merespon dirinya.
"..."
"Nona, ada apa dengan mu? Apa terjadi sesuatu yang aneh di tempat ini?" tanya Ristia tanpa henti, namun lagi-lagi Senja hanya diam sambil terus membasuh wajahnya.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Senja pun berbicara. Ia mengatakan "Aku baik," setelah itu pergi meninggalkan Ristia yang kebingungan.
"Astaga, Nona saat ini sedang tidak baik-baik saja."
Itulah kesimpulan yang dapat diambil oleh Ristia saat melihat kondisi Senja yang bahkan jauh lebih buruk dari pada saat ia bergadang semalaman.
"Nona, aku punya informasi penting untuk mu."
Ristia berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh lagi mengenai kondisi nona nya itu. Ia tahu, sejauh apa pun ia bertanya, nona nya tidak akan pernah mau menjawab.
"Lebih baik aku menceritakan tentang gua itu dari pada bertanya tentang kondisi Nona lagi," gumam Ristia sambil mengikuti Senja dari belakang.
"Ada gua yang penuh dengan coklat di tempat ini," lanjut Ristia menjelaskan.
"Lalu?" Senja tampak tidak tertarik dengan pembahasan itu, namun Ristia tetap menceritakannya.
"Setelah gumpalan coklat itu di makan, maka munculah batu yang memiliki mana yang jauh lebih kuat daripada batu mana pada umumnya."
Ristia tersenyum bangga dengan apa yang ia temukan barusan. Ia percaya jika nona nya akan tertarik dan kemudian pergi mengikuti.
"Lalu?" tanya Senja sekali lagi dengan acuh tak acuh.
Wajah Ristia langsung pucat, ia tidak percaya dengan reaksi nona nya itu. Biasanya penyihir yang menemukan batu mana akan menggila terlebih lagi batu mana itu jauh berbeda dari pada biasanya.
"Nona, apa kau sehat?" tanya Ristia memastikan.
"Dimana Vanilla?" tanya Senja yang mengabaikan pertanyaan Ristia sebelumnya.
"Vanilla sedang berada di gua itu," jawab Ristia bingung.
"Nona semakin aneh saja," batin Ristia sama bingung.
"Begitu," balas Senja sama acuhnya.
"Nona, kau..."
"Mari kita pergi dari tempat ini, kita harus segera kembali ke akademi secepatnya." potong Senja sambil membuat portal teleportasi.
Meski Ristia ahlinya dalam portal sihir, namun Senja juga tidak kalah hebatnya. Hanya dengan satu gerakan tangan, ia sudah bisa membuat portal sesuka hatinya.
"Baiklah," jawab Ristia lemah sambil membuka portal menuju pergelangan tangan Senja.
"Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Dian nantinya," lanjut Ristia dalam hatinya sambil melirik sekilas pada wajah Senja yang terlihat acuh tak acuh.
Beberapa detik kemudian, portal sihir menghilang dan segera membawa Senja dan Ristia pergi meninggalkan tempat itu.
"Gadis sombong itu sudah pergi rupanya," gumam suara bariton yang melihat kepergian Senja dari kejauhan.
"Perlahan kau akan mengerti tentang kehidupan ini dan kau akan tahu makna dibaliknya kelak," lanjut suara itu sambil menghilang seperti awan.
__ADS_1