
"Semua itu hanyalah kamuflase, tidak nyata namun juga tidak palsu."
******************#####****************
"Dimana dia?" tanya Zakila dalam hatinya. Ia sudah setengah jam mencari Kian namun tidak satu pun jejaknya yang ia temukan.
"Kian!" teriak Zakila keras.
"Ayolah Kian!"
Zakila terus mencari entah itu di restauran, bar, ataupun gang-gang sempit namun hasilnya tetap sama.
"Hah, aku lelah."
Zakila mulai melemahkan langkahnya, ia terlihat frustasi dengan keadaan yang semakin kacau.
"Apa itu?" tanya Zakila kaget saat merasakan energi besar yang sedang mengamuk di belakangnya.
"Sial."
Zakila terlihat lebih gelisah dari sebelumnya. Ia tahu betul bahwa tekanan itu berasal dari Kaira namun ini lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Aku harus menemukannya segera," gumam Zakila sambil mempercepat larinya.
Beberapa saat setelah mencari akhirnya Zakila sampai pada tujuan akhirnya. Disana ia melihat sebuah restauran lama yang dulunya pernah direkomendasikan oleh Kaira. Segera Zakila masuk ke dalam untuk memeriksa apakah kian ada disana atau tidak. Sayangnya, Zakila sama sekali tidak menemukan Kian disana. Ia juga tidak menemukan Kian dimana pun di kota ini.
"Kemana Kian pergi? Aku ingat sebelum wanita itu datang ia masih ada di daerah sini."
Zakila mencoba mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika Kian masih membantunya dalam menghias kedai.
"Sekarang dimana dia?" tanya Zakila bingung.
Dalam kebingungannya Zakila tanpa sadar berjalan keluar dari kafe dan menuju kembali ke pusat kota. Keadaannya sangat kalut, ia bingung harus berbuat apa sementara aura intimidasi Kaira yang ia rasakan sekarang sedang pecah. Wajahnya tampak lelah dengan napas yang ditarik panjang.
"Aku, aku tidak boleh menyerah. Aku harus mencarinya lagi."
Zakila lalu berlari menuju lorong-lorong kota yang tanpa sadar membawanya jauh dari pusat. Lama Zakila mencari sampai ia tidak sadar bahwa sekarang ia sudah tersesat.
"Sial,"
Tempat Zakila berada kali ini adalah perkampungan lusuh dengan banyaknya gedung yang rusak dan gubuk-gubuk reot. Wajah Zakila yang panik kini berubah menjadi bingung sekaligus penasaran. Ia sama sekali belum pernah melihat perkampungan yang sekacau ini selama hidupnya sebagai seorang Putri Raja.
"Apa ini semua?" tanya Zakila pada dirinya sendiri.
"Tempat apa ini sebenarnya?" tanyanya lagi dengan bingung.
"Ah tidak sebelum itu, aku harus mencari Kian untuk menghentikan amukan Kiara."
Zakila lalu kembali ke keadaan semulanya. Ia kemudian berjalan mengelilingi kampung tersebut untuk mencari jalan keluarnya.
"Berhenti disana!" teriak sebuah suara pria.
Zakila yang kaget mulai merapalkan mantra pertahanan jikalau pria itu hendak menyerangnya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya suara itu lebih dekat. Perlahan Zakila membalikan tubuhnya dan melihat siapa sosok di balik suara itu.
"Astaga!" pekik Zakila lega. Ia kemudian berjalan mendekati sosok itu, ah tidak lebih tepatnya berlari kegirangan menuju sosok itu.
"Akhirnya," seru Zakila sambil memeluknya. Pria itu tampak kaget saat Zakila memeluknya dengan erat.
"Akhirnya, akhirnya aku menemukan mu juga!" seru Zakila senang.
"Aku butuh bant..."
Perkataan Zakila terhenti saat pria tersebut mendorongnya menjauh.
"Tunggu sebentar," balasnya bingung dengan ekspresi wajah yang sedikit memerah.
"Bantuan apa yang tengah kau maksud sekarang?"
"Itu, ah sial. Sudah tidak ada waktunya lagi."
Zakila lalu menarik pergelangan tangan Kian dan berlari menjauh dari perkampungan.
"Kakak mu dalam masalah besar," jelas Zakila dalam larinya.
"Ia diganggu oleh wanita..., Hmm... Siapa ya namanya?"
Zakila mencoba berpikir keras tentang siapa wanita yang tengah menggangu Kaira.
"Ah entahlah, aku sudah lupa. Tapi yang pasti sekarang kakak mu dalam masalah besar."
Perkataan Zakila sontak membuat Kian kaget, ia dengan segera menggenggam telapak tangan Zakila dan berlari bersamanya. Kini bukan Zakila yang memimpin pelarian namun Kian yang tampak sangat tergesa-gesa.
"HAH...!"
Terdengar dengan jelas suara tarikan napas Zakila dan juga Kian. Mereka berlari tanpa henti sampai menuju ke tengah plaza kota, terlebih lagi Zakila yang sejak awal sudah berlari tanpa istirahat.
__ADS_1
"Kian!" panggil Zakila lelah.
"Pergilah dulu, aku sudah lelah."
Kian perlahan mengentikan larinya, ia kemudian melihat Zakila yang terengah-engah dalam istirahatnya.
"Sudah tidak ada wa..."
Perkataan Zakila terhenti ketika Kian mengangkat tubuhnya.
"Kya!" teriak Zakila kaget.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Zakila saat Kian menggendongnya.
"Kita sudah tidak punya waktu lagi," jawab Kian saat merasakan aura kakaknya pecah.
"Ini gawat!"
Zakila juga merasakan hal yang sama, tanpa ragu ia mengencangkan pegangannya pada tubuh Kian dan mereka pun mulai bergerak kembali.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil sampai di plaza. Di sana mereka bisa melihat pangeran kedua yang tengah menarik kerah baju seorang pria yang berpakaian seperti abdi dari bangsawan terkemuka.
"Ada apa ini?" tanya Zakila bingung.
"Dimana Marques?" sambung Zakila dalam hatinya.
"Entahlah," balas Kian sambil menurunkan tubuh Zakila.
"Sial, aku terlambat," batin Kian gusar.
"Kita harus bergegas."
Kian kembali menggenggam tangan Zakila dan menariknya masuk ke dalam kerumunan warga.
"Kakak!" panggil Kian keras. Ia sengaja melakukan itu agar mereka tahu kedatangannya.
"Yang Mulia," seru Pangeran Kedua sambil membungkuk kearah Kian.
"Astaga Yang Mulia."
Kini giliran para bawahan dan juga warga yang membungkuk kearahnya.
Zakila tampak bingung namun mencoba acuh karena ia lebih penasaran dengan apa yang sedang terjadi disana.
"Kian," bisik Zakila sambil menunjuk ke area yang terdapat noda darahnya.
"Ada apa ini?" tanya Kian dengan raut wajah menghitam. Ia tampak kesal sekaligus gelisah.
"Ia berani melukai seorang Marques," lanjutnya dengan air mata yang berjatuhan.
"Hah."
Kian terlihat frustasi, ia tahu benar siapa kakaknya dan tentu saja hal itu pasti dilakukan oleh kakaknya seorang.
Disisi lain Kaira tampak santai dan juga acuh, ia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Ia hanya menatap malas ke arah Dera dengan pandangan mencibir.
"Saya tidak tahu siapa yang menyuruhnya untuk berada disini, bahkan ia sampai membuat kedai segala."
Air mata terus membanjiri Dera setiap kali ia meluncurkan omong kosong di mulutnya.
"Siapa orang kejam yang membiarkan monster sepertinya berada disini?" tanya Dera sekali lagi.
"AKU"
Semua mata yang awalnya melihat Kian dengan tenang kini malah memelototinya karena terkejut.
"Aku yang melakukannya," lanjut Kian yang sontak membuat kebisingan di area itu mereda.
"Yang Mulia sendiri," gumam Dera pelan. Wajahnya tampak bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tapi mengapa?" tanya Dera yang sama sekali tidak mempercayainya.
"Mengapa anda mela..."
"Karena dia kakak ku."
Kian dengan tegas memotong perkataan Dera. Ia tampak sangat dingin saat memandang wajah wanita yang saat ini sedang menangis dengan kencangnya.
"Aku ingin bertanya. Ada urusan apa kau dan tunangan mu disini?"
Kian dengan dingin menatap Pangeran Kedua yang masih diam di tempatnya.
"Sepertinya kalian punya hutang penjelasan pada ku," lanjut Kian apatis.
"Apa pun yang terjadi disini, mari kita selidiki dengan tenang di istana ku."
Kian lalu menatap Kaira.
__ADS_1
"Ah sepertinya kau lupa satu hal." seru Kian sambil melirik tajam ke arah dera.
"Kakak ku adalah seorang putri Raja dan siapa pun yang menyakitinya, itu sama saja telah menyakiti sang Raja."
Dera yang mendengar perkataan Kian sontak bergetar. Tubuhnya menjadi kaku dan wajahnya memucat. Kulitnya dingin dengan suam-suam keringat di sekujur tengkuknya.
Dera tampak kacau sedangkan Pangeran Kedua tampak acuh tak acuh dengan itu semua. Ia kini lebih penasaran dengan sosok yang mengirimi hadiah untuk Kaira.
"Dan Kakak..."
Perkataan Kian berhenti saat ia melihat setumpuk hadiah yang tengah membelakangi Kaira.
"...Apa itu?"
Kian bertanya setelah diam beberapa saat.
"Ah, ini..."
"Salam Yang Mulia."
Pria itu dengan hormat memberi salam pada Kian yang sedang menatap ke arahnya.
"Salam Putri Mahkota," lanjutnya sambil melirik sekilas pada Zakila yang masih berpegangan tangan dengan Kian.
"Putri Mahkota?"
Perhatian semua warga kini tertuju pada Zakila yang tengah bergandengan tangan dengan Kian.
"Siapa dia?" tanya mereka sekali lagi.
Zakila yang merasa terganggu dengan hal itu, perlahan melepaskan tangannya dari Kian. ia lalu pergi menjauh dari Kian menuju ke arah Luna yang saat ini tengah berada di samping Kaira. Ia pergi dengan wajah memerah seperti tomat masak, bukan karena ia senang melainkan malu.
"Ehem!"
Kian batuk palsu untuk menghentikan para warga membicarakan Zakila. Ia lalu kembali lagi menatap ke arah pria tersebut yang sudah berhasil mengacaukan keadaan saat ini.
"Siapa kau?" tanya Kian yang mengacuhkan salam pria tersebut.
"Maaf karena telah membuat Yang Mulia bertanya terlebih dahulu. Nama saya Sam dan saya datang kesini atas perintah Tuan Muda rumah tangga kami untuk mengantarkan hadiah pada Nona Kaira sekaligus meminta maaf pada nya karena tidak bisa hadir dalam acara festival kali ini."
Sam menjelaskan situasinya pada Kian dengan sangat tepat sehingga sulit bagi Kian untuk mencurigainya.
"Benar itu Kakak?" tanya Kian memastikan.
"Itu benar. Dia tamu ku sekarang," balas Kaira dengan senyum ramah seperti biasanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkan mu kembali."
Kian lalu memanggil bawahannya untuk segera mempersiapkan kereta kuda. Meski begitu tatapannya tidak sedikit pun berpaling dari Sam. Ia merasa bahwa pria di hadapannya itu tengah menyembunyikan rahasia besar yang harus ia selidiki segera.
Disisi lain, Pangeran Kedua tampak kesal dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaira. Selain itu, tunangannya yang menangis dengan pilu juga membuatnya pusing tidak karuan.
"Bawa dia kembali."
Allen memerintahkan bawahannya untuk membawa Dera pergi. Untung saja Dera menurut tanpa adanya perlawanan berlebihan, selain itu tatapan matanya masih mengarah pada Kaira yang saat ini sedang berbicara dengan Luna dan Zakila.
"Huff. Aku juga harus pergi sepertinya," seru Allen sebelum pergi meninggalkan area tersebut.
"Tapi aku tidak bisa tinggal diam dalam hal ini," lanjutnya sambil melirik sekilas pada Sam yang tengah mengatur kereta kudanya.
"Aku akan menyelidiki lebih lanjut mengenainya dan juga siapa Tuan Muda yang selalu ia bicarakan itu."
Allen lalu naik ke dalam kereta kudanya yang segera membawa ia pergi menjauh.
"Kalian bisa pergi sekarang, jangan khawatir karena tempat ini akan di urus oleh bawahan ku segera," seru Kian pada mereka.
"Sial," lirih Kaira kesal sambil menaiki kereta kudanya.
"Jangan buang hiasan yang sudah susah payah aku buat. Pokoknya jangan," seru Zakila tegas sebelum pergi mengikuti Kaira di belakangnya.
"Baiklah, aku akan memperingati mereka nanti."
"Aku sepertinya melupakan sesuatu," batin Luna bingung.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kian saat Luna hanya berdiri diam di tempatnya.
"Ah, tidak ada."
"Kalau begitu, naiklah."
"Mungkin hanya perasaan ku saja," lirih Luna sambil menyambut pergelangan tangan Kian.
"Terima kasih."
Kian hanya tersenyum manis pada ucapan 'terima kasih' dari Luna sebelum menutup pintu gerbong kereta kuda tersebut. Ia lalu menyuruh Kusir untuk segera membawa mereka menuju Mansion Kaira, sedangkan ia akan menyusul mereka dari belakang.
"Aku merasa ada yang memperhatikan kami sedari awal," batin Kian dingin saat menyentuh punggung belakangnya.
__ADS_1
"Mungkin hanya imajinasi ku saja," gumamnya pelan sebelum memasuki gerbong kereta kuda miliknya.
"Ayo pergi."