
"Bertahan demi berubah atau bertahan demi hidup adalah dua hal yang berbeda. Namun yang pasti kedua nya tetap sama dalam satu pandangan."
*****************#####*****************
Senja yang masih kesal dengan Sera memilih untuk keluar dari ruang bawah tanah. Ia tidak kembali ke akademi ataupun Hutan Kegelapan. Ia memilih untuk beristirahat di kediamannya sendiri.
"Kediaman Permaisuri Mawar tidak pernah berubah, tetap sama seperti dulu." lirih Senja saat menyentuh bunga mawar yang ada di hadapannya.
Simbol dari kediaman Permaisuri Mawar ialah bunga mawar yang mekar setiap saat. Bunga itu seperti melambangkan pemilik dari tempat ini. Seluruh area hampir ditutupi oleh tanaman mawar, baik dari pagar sampai bangunannya.
"Cantik, namun terkesan kejam." lanjut Senja sambil memperhatikan sekelilingnya.
Bunga mawar melambangkan rasa cinta, kuat, dan mewah, bukan itu saja bunga mawar juga melambangkan keseksian bagi mereka yang memakainya. Mereka yang memakainya juga akan terlihat anggun dan berwibawa, seakan memperlihatkan sosok seorang aristokrat yang agung.
"Tapi jika dilihat dari sosoknya, ia bukanlah orang yang terlihat seperti itu."
Senja mulai membayangkan sosok permaisuri mawar yang ia lihat melalui potret lukisan. Sosok seorang wanita anggun dengan senyum hangat dan ramahnya. Hanya dengan melihat wajahnya saja sudah cukup membuat orang merasa damai.
"Sungguh wanita yang jauh dari kata sombong dan arogan." lanjut Senja sebelum melewati bangunan klasik itu.
Ia kemudian berjalan menuju halamannya. Di sana ia sudah disambut oleh beberapa pelayan yang sedang membersihkan halaman depan. Mereka terlihat bingung karena sebelumnya tidak ada pesan bahwa tuannya akan datang namun demikian mereka segera melayani Senja dengan baik.
"Selamat siang Nona," sapa salah satu pelayan dengan hormat.
"Nona silahkan," lanjut yang lain sambil menunjuk ke arah sofa.
Senja hanya melewati mereka semua dengan wajah datarnya. Jujur saja Senja sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka karena ia masih kepikiran tentang meridiannya.
"Argh..." gerutu Senja saat ia sudah berada di dalam kamarnya.
"Kenapa sampai sekarang aku sama sekali tidak menemukan jawaban dari penjelasannya itu."
Senja membanting dirinya ke atas kasur. Ia memilih menggulung dirinya dibawah selimut dan berbaring seperti ulat di dalamnya.
"Rasanya sangat kesal," gumam Senja yang membuat para pelayannya bingung.
Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa nona nya datang secara tiba-tiba dengan penampilan seperti itu.
Meski tubuh Senja tidak seburuk sebelumnya, namun ia masih terlihat kurang sehat. Untung saja minuman herbal yang diberikan oleh Sera mampu membuat penampilannya kembali normal, setidaknya tidak sampai terlihat mengerikan seperti sebelumnya.
Pada faktanya Senja mampu kembali ke keadaan normalnya apabila Sera memberikannya ramuan kesehatan. Namun sayangnya Sera sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal itu.
Ia ingin Senja mempelajari sendiri bagaimana cara memperbaiki tubuhnya. Hal itu di dasarkan karena keberadaan Sera yang tidak selamanya akan bersama dengan Senja.
Jika suatu saat Senja mengalami hal yang lebih parah dari pada meridiannya yang rusak, mungkin saja saat itu Sera tidak akan mampu menolongnya dan hasilnya akan sama saja dengan dulu.
Ia akan kehilangan penerus dan harus menunggu lama sampai penerus berikutnya datang. Meski Senja tidak memiliki potensi yang besar untuk menjadi penerus yang mulia, namun di dalam darahnya mengalir darah seorang penerus dan Sera harus menjaganya dengan baik agar ia tidak harus menunggu untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
****
Dua jam telah berlalu sejak Senja memasuki kediamannya. Sejak awal masuk sampai sekarang Senja tidak pernah keluar dari kamarnya, ia juga tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk dan mengganggunya.
"Dimana Nona?" tanya seorang pria yang baru saja turun dari kudanya.
"..."
Pelayan itu diam, ia bahkan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan pria itu.
"Dimana?" tanya pria itu lagi dengan kesal.
Pasalnya ia sudah beberapa jam yang lalu mencari Nona nya. Ia mencari Senja dari hutan kegelapan sampai guild, namun sama sekali tidak menemukan apa pun.
Terakhir ia dengar nona nya kembali ke akademi namun saat ia sampai ke sana nona nya sudah menghilang lagi.
"Aku tahu Nona sangat pandai dalam berteleportasi, tapi aku tidak tahu jika sesulit ini untuk menemukannya." batin pria itu dengan napas yang tersengal-sengal.
"Hanya ini tempat yang belum aku datangi," lanjut pria itu sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
"Nona sedang beristirahat, jadi berhentilah untuk membuat kegaduhan." keluh seorang pelayan yang tidak tahan saat melihat Eza mengobrak-abrik ruangan tersebut.
Ia sudah susah payah membersihkannya dan hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk membuatnya berantakan kembali. Pelayan itu menatapnya dengan pandangan kesal.
"..."
"Berhenti disana. Kau punya kebutuhan apa dengan Nona? Biar kami saja yang menyampaikannya."
Pria itu kesal, ia memukul dua penjaga itu dan membuat mereka jatuh dari tangga. Meski tidak membuat keduanya cidera fatal namun itu berhasil membuat si pria mampu untuk masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar ia bisa melihat seorang wanita yang sedang di bungkus oleh selimut. Wanita itu tidak terlihat namun siapa pun akan tahu jika ia sedang berada di dalam selimut seperti seekor ulat.
"Hah," pria itu lalu duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah kasur. Ia melihat nona nya tidur dengan nyenyak dan memilih untuk menunggunya bangun.
"Jika tidak seperti ini maka Nona akan menghilang lagi," lirih pria itu dengan raut wajah lelah.
Kedua penjaga yang sebelumnya di lempar keluar, kini hanya bisa diam sambil memelototi pria itu. Mereka diam karena sudah terlambat untuk mengusir pria itu dari kamar. Mereka memilih untuk menjaga keduanya dari balik pintu.
Beberapa jam telah berlalu dan kini hari sudah berganti malam. Pria itu masih tetap duduk di sofa sambil memperhatikan wanita yang sejak tadi terlelap dalam tidurnya.
"Nona terlihat seperti bayi jika seperti ini terus." pria itu melihat nona nya yang sama sekali tidak bergerak sejak ia datang.
Nona Nya hanya tidur dengan posisi yang sama sejak awal. Tidak ada pergerakan lebih, hanya bergoyang ke kanan dan kiri lalu kembali lurus lagi.
Seperti seorang bayi yang tengah di bedong dan hanya bisa tidur terlentang tanpa bisa bergerak, begitulah pria itu melihat nona nya saat ini.
"Ugh..." lirih Senja setelah tidur dengan posisi yang sama selama berjam-jam.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" gumam Senja saat melihat ke arah jendela.
"Jam 8 malam," jawab pria itu tenang.
"Oh, jam 8 malam ru..." Senja diam, ia baru sadar jika ada orang lain di dalam kamarnya.
"Sial, siapa itu?" batin Senja kaget, pasalnya ia sudah mengatakan kepada para pelayan untuk tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalam kamarnya apa pun yang terjadi.
"Siapa itu?" bentak Senja sambil mencoba untuk melepaskan diri dari selimut yang melilitnya.
"Ini saya Nona," balas pria itu masih dengan nada suara yang sama.
Senja yang sudah berhasil bebas dari selimut pun segera melihat ke arah datangnya suara itu. Ia melihat seorang pria yang familiar yang tengah bersujud di lantai kamarnya.
"Eza," seru Senja saat menyadari siapa pria itu.
"Saya, Nona." balas Eza masih dengan posisi sujudnya.
Ia tahu ia salah, maka dari itu ia tidak berniat untuk berdiri dari sujudnya sebelum nona nya mengatakan untuk berdiri.
"Astaga, aku kira siapa." gumam Senja pelan.
"Berdirilah, ada perlu apa kau kesini?" tanya Senja saat melangkah pergi menuju sofa.
"Terima kasih Nona."
Eza diam untuk beberapa saat sebelum kembali berbicara lagi.
"Tujuan saya datang kesini karena ada informasi penting yang harus saya sampaikan pada anda."
Setelah mengatakan itu, Senja kemudian mempersilahkan Eza untuk duduk di sampingnya. Tidak lupa ia juga membuat penghalang kedap suara agar orang lain tidak bisa mendengar percakapan mereka.
"Informasi apa itu?" tanya Senja setelahnya.
"Begini Nona," Eza mengeluarkan sebuah surat dari saku bajunya.
Surat itu terlihat lusuh dan kotor, seperti baru keluar dari badai saja. Meski begitu Senja tetap mengambilnya, ia lalu membuka surat itu dan membacanya.
Awalnya ia terlihat tenang sampai pada halaman berikutnya wajah Senja terlihat berkerut dengan ekspresi wajah kesal. Ia terlihat begitu marah setiap kali membalik lembar surat itu.
"Apa ini?" Senja bertanya dengan kesal. Matanya memerah dan kulit wajahnya menegang dengan keras.
Ia meremas surat itu begitu ia selesai membacanya. Bahkan Eza yang berada di sampingnya pun merasakan amukan amarah dari nona nya itu.
Aura kemarahan Senja sangat kuat, aura itu bahkan membuat para pelayan di dalam rumah merasakan tekanan yang hebat, bahkan beberapa diantaranya ada yang pingsan.
"Jelaskan pada ku, apa ini?" bentak Senja kesal.
__ADS_1