Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E73] Metode Ekstrim


__ADS_3

"Rasa kecewa dapat menjadi luka yang sulit untuk dipulihkan."


******************#####*****************


Asrama Akademi Lantai Tiga


Seruan panjang dan pelan senantiasa menemani malam panjang Senja. Seruan itu seakan menjadi melodi tidur yang bahkan tidak bisa ia hilangkan dalam mimpinya.


Meski Senja ingin menghentikan seruan itu tapi ia tidak bisa. Setiap kali Senja berusaha untuk menutup bibirnya, setiap itu juga suhu ruangan menjadi lebih dan lebih panas.


"Sudah cukup. Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena seruan napas mu itu. Sekarang...., mari berhenti selagi aku masih bersikap baik."


Senja diam sesaat sehingga terdapat jeda dalam kalimatnya. Ia sengaja melakukan itu seraya menajamkan matanya pada Khalid yang saat ini terlihat bingung.


"Jika tidak, maka aku akan mengirim mu pada Sera." lanjut Senja tegas.


"Maaf Lady, aku membuat mu khawatir."


"Tidak, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak khawatir pada mu, aku hanya merasa kasihan pada telinga ku ini." keluh Senja dengan kerutan tipis di dahinya.


"Awalnya aku membiarkan Khalid melakukan itu untuk mengurangi beban di pundaknya tapi ini sudah keterlaluan. Entah mengapa dia terlihat sangat menikmatinya dan itu membuat kesal."


"Lady, anda sungguh keterlaluan!" teriak Khalid dengan mata yang terpejam rapat.


"Ya ya ya, terserah kau saja. Aku tidak peduli, tapi..."


Senja dengan kasar menarik dagu Khalid dan langsung menatap iris emasnya. Senja terlihat sangat kesal sedangkan Khalid terlihat begitu gugup.


"Menangislah sepuas mu, jangan ditahan lagi. Selain itu aku juga tidak ingin melihat mu seperti ini." bisik Senja tepat di telinga Khalid.


"..."


"Aku akan pergi dan saat aku kembali nanti aku tidak ingin mendengar seruan napas panjang mu itu." lanjut Senja sebelum melepaskan tangannya dari wajah Khalid.


"Karena itu sangat menyebalkan untuk di dengar oleh telinga manis ku ini." lanjut Senja kembali dalam hatinya.


"Baik," lirih Khalid pelan.


Senja merasa puas dengan reaksi Khalid, ia kemudian mengambil tas ransel miliknya dan pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Khalid yang ditinggal sendirian hanya bisa menghela napas panjang untuk kesekian kalian.


"Aduh Lady, aku hanya khawatir padamu tapi reaksi mu itu sungguh mengecewakan." gerutu Khalid saat melihat Senja berlari menuju gedung sihir dari balik jendela kamar.


Jujur saja Khalid masih takut saat mengingat momen dimana ia bertemu dengan sosok itu. Namun bukan berarti ia akan terus berlarut dalam kesedihan.


Alasan mengapa Khalid terus menghela napas panjang adalah Senja. Khalid memiliki intuisi bahwa sosok itu suatu saat entah bagaimana akan terhubung dengan Senja.


Khalid tidak bisa menjelaskan alasan dibalik intuisinya itu hanya saja ia yakin bahwa dimasa depan nona nya akan terlibat dalam hal-hal yang sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa.


Khalid tidak ingin nona nya mati sia-sia, meski pun para elemental dapat membuat kontrak lain jika majikannya mati namun hal itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.


Keadaan para elemental sangat berbeda jauh dari hewan suci. Dimana para elemental hanya akan menjadi gila jika majikannya mati dan kegilaan itu akan berhenti apabila mereka menjalin kontrak dengan pihak lain.


Sayangnya jika elemental sudah menjadi gila mereka akan sangat sulit terikat dengan apa pun. Mereka bahkan lebih berbahaya dari pada monster, dan kemungkinan mereka sadar adalah nol.


"Aku mungkin akan mengalami hal tragis saat kegilaan itu terjadi, maka akan lebih baik jika aku mati sebelum majikan ku." gumam Khalid saat mengingat sosok elemental yang berubah menjadi monster sedetik kemudian saat majikannya tiada.


Jeda waktu elemental menjadi gila hanya satu detik setelah kematian majikan, kemungkinan untuk selamat dari situasi itu sangatlah sulit. Jika pun mereka bisa selamat itu pun dengan syarat bahwa sudah ada pengganti lain disisi mereka sebelum kontrak berakhir.


"Tapi kemungkinan hal itu terjadi sangatlah kecil. Aku mungkin saja akan menjadi gila sebelum kontrak lain terjalin. Dan menjadi gila sangat mengerikan dari pada mati."


Khalid marah sekaligus bingung, ia ingin mengatakan segalanya tapi anehnya tidak semua kata-kata itu bisa ia ungkapkan secara lantang.


Dengan kesal Khalid memilih untuk meninggalkan kamar. Ia tidak ingin terlarut dalam kegelisahan dan malah membuat nona nya menjadi kesal seperti tadi.


"Aku akan pergi mengunjunginya."


****


Suasana kelas menjadi begitu tegang saat Prof Deru mengumumkan metode ujian. Pasalnya metode yang ditawarkan Prof Deru adalah praktek lapangan. Dimana metode ini mengharuskan siswanya mempraktikkan langsung metode tersebut secara nyata.

__ADS_1


Biasanya para siswa yang mengikuti ujian akan menggunakan hologram untuk ujian praktek. Tapi kali ini mereka harus menggunakan benda fisik untuk dapat lulus ujian.


"Firasat ku tidak salah, memang ada yang aneh dengan Prof Deru." gumam Senja seraya mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


Saat itu ketika Senja baru saja tiba di kelas, ia melihat mengumumkan aneh dipapan tulis. Pengumuman untuk menyatakan bahwa tidak ada ujian teori dalam pelajaran teknik pertahanan dasar.


Para siswa yang berada di kelas diminta untuk segera pergi ke lapangan tempur untuk mengikuti ujian praktek. Tentu saja para siswa sangat senang, tapi sayangnya kesenangan itu tidak berlangsun lama.


Ketika mereka baru saja tiba dilapangan tempur, mereka sudah disajikan dengan mengumumkan baru yang begitu mencengangkan, bahkan Senja tidak dapat menutup kegelisahan di wajahnya saat melihat pengumuman itu.


Tentu saja seperti yang diprediksi Senja sebelumnya, ia melihat banyak siswa yang protes mengenai metode tersebut. Mereka lebih senang mengerjakan ujian teori dari pada harus kehilangan itu dan malah mendapatkan hal yang lebih buruk.


Namun bukan Prof Deru namanya jika dia tidak bisa membuat siswa tersebut jera. Dengan satu tarikan napas Prof Deru mendiskualifikasi para siswa yang memprotes kebijakannya tadi.


Ia dengan santai mencoret nama mereka dan menyuruh staff penjaga mengusir mereka dari lapangan tempur. Saat itu Senja dapat melihat dengan jelas senyum aneh di sudut bibir Prof Deru.


"Apa dia ingin balas dendam? Kekanakan sekali."


Senja tahu betapa kesalnya Prof Deru saat tidak ada seorang siswa pun yang peduli terhadap mata pelajarannya. Namun Senja tidak tahu jika rasa kecewa Prof Deru akan jauh lebih parah dari pada guru killer sekalipun.


Prof Deru dengan santainya mengeluarkan berbagai peraturan aneh untuk membuat para siswanya menyerah. Ia tidak ingin meluluskan siswa yang ia rasa tidak layak dan tentu saja tidak peduli dengan pelajarannya.


"Apa lagi yang kalian tunggu?" tanya Prof Deru pada siswa yang tersisa.


"Waktu kalian hanya lima menit untuk membuat perisai. Jika gagal maka kalian akan dikeluarkan tanpa bisa mengikuti sesi selanjutnya."


Mendengar perkataan tersebut membuat para siswa menegang. Mereka dengan terburu-buru mendekati meja yang dipenuhi oleh telur ayam.


"Ambillah satu." seru staff penjaga yang berdiri di samping meja.


Setelah semua siswa mendapatkan telur mereka, Prof Deru dengan santai menjelaskan peraturan selanjutnya. Jujur saja peraturan itu sangat simpel dimana para siswa harus membuat perisai pelindung pada telur agar telur itu tidak pecah.


"Simple sih simple tapi menyalurkan mana pada telur akan membuat telur itu pecah seketika." gerutu sebagian siswa melihat kegagalan siswa lain.


"Bahkan jika kita memberikan sedikit aliran mana, telur itu akan pecah sedetik kemudian saat mana memasuki cangkangnya."


"Ini sedikit aneh, cangkang telur ini sangatlah tipis sehingga tekanan kecil saja sudah membuatnya hancur."


Senja sedikit bingung harus bertindak seperti apa. Pasalnya sudah sebagian dari siswa yang mengikuti ujian ini gugur. Kebanyakan dari mereka langsung gagal saat pertama kali menyalurkan mana pada telur.


Sisanya sedang menunggu untuk melihat korban selanjutnya. Bagi Senja ini sama sekali tidak menghibur. Ia sangat kesal dan ingin memaki Prof Deru serta memukul keras kepalanya.


Untung saja Senja berhasil menahan hasratnya tersebut. Ia mencoba untuk rileks dan tenang sehingga dapat berpikir kritis akan masalah ini.


"Waktu kalian tinggal dua menit lagi," seru Prof Deru mengingatkan.


"Hah, sial. Jika terus begini aku akan gagal dalam ujian." gumam Senja kesal.


"Aku tidak bisa membuat perisai pada telur karena cangkangnya sangat rapuh." lanjut Senja sembari menimbang-nimbang berat telur tersebut.


"Cangkang..., uhm cangkang...!"


Senja terus saj bergumam tentang cangkang telur sampai akhirnya ia teringat tentang salah satu hewan di bumi yang memiliki cangkang yang begitu keras.


Fungsi utama dari cangkang adalah melindungi isinya atau bagian inti pada hewan tersebut. Jika cangkangnya lemah maka bagian inti akan mudah hancur dan pecah.


"Untuk bisa melindungi inti maka cangkang harus kuat tapi bagaimana jika cangkang bahkan tidak lebih kuat dari pada debu maka kita tinggal membuat yang baru saja." gumam Senja dengan mata yang berbinar.


"Inti dari ujian sesi ini adalah untuk membuat perisai pada telur tapi tidak pernah meminta untuk membuat perisai pada cangkang telur. Artinya yang harus dilindungi itu isinya bukan cangkangnya."


Dengan pemahaman baru itu Senja memutuskan untuk mengalirkan sedikit energi esnya pada telur. Ia mencoba untuk menemukan celah masuk agar bisa melindungi inti telur tersebut.


"Ini sama dengan metode yang diberikan Lucas untuk membuat bola mana, bedanya jika itu pakai bola kasti yang ini pakai telur."


Perlahan Senja mulai mengalirkan energi esnya saat celah sudah ia temukan. Dengan gesit Senja membuat inti telur menjadi beku dengan elemen esnya.


Setelah proses tersebut Senja beralih pada bagian cangkang dalam. Disana Senja dengan perlahan menyalurkan energi anginnya untuk menutupi celah agar udara tidak bisa masuk ke dalam inti telur.


Perlahan namun pasti perisai kecil mulai muncul di dalam cangkang bagian dalam. Setelah perisai angin diaktifkan, kini Senja tinggal membuat perisai luar dari pola rune yang telah ia pelajari di kelas.

__ADS_1


Dengan satu tarikan napas Senja mengukir pola rune pada cangkang telur bagian luar. Tentu saja Senja tidak memberikan tekanan khusus agar teman sekelasnya tidak menemukan jejak yang ia tinggalkan.


"Butuh waktu 30 detik untuk membuat ukiran rune pada cangkang, tapi ini sudah cukup." gumam Senja saat melihat Prof Deru hendak mengangkat tangan kanannya.


"Hentikan," seru Prof Deru yang membuat wajah sebagian siswa pucat.


"Waktunya sudah habis, sekarang tunjukkan perisai kalian." lanjutnya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat keatas.


Satu-persatu siswa mulai menunjukkan perisai sihir milik mereka. Dari 20 siswa yang tersisa hanya 10 diantara mereka yang berhasil membuat perisai sedangkan sisanya gagal karena telur yang pecah.


"Bagus, cukup unik." seru Prof Deru saat melihat perisai unik milik Ronald.


Sebagian siswa yang gagal merasa iri dengki saat melihat Prof Deru memuji perisai unik milik Ronald. Sedangkan sebagian lagi terlihat acuh tak acuh dengan hal itu.


"Sangat bagus tapi sayang sekali ia begitu tertutup." lirih Amir yang berada disamping Senja.


"Kau kenal dia?" tanya Senja penasaran.


Jujur saja Senja sudah mengenal Ronald sejak ia mengajaknya berbicara pada saat kelas praktek waktu itu. Sama seperti Amir, Ronald juga memiliki sifat yang pemalu dan pendiam.


"Kami dulunnya teman tapi sekarang sudah tidak lagi."


"Kenapa?"


"Ah itu rahasia, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Maaf."


"Kau tidak perlu minta maaf, tidak ada yang salah dengan itu."


"Baiklah, kau benar juga."


"Tapi Senja," panggil Amir saat Senja hendak pergi melihat peraturan sesi kedua.


"Ada apa?" tanya Senja saat melihat perilaku aneh Amir.


"Aku, aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak tahu harus menceritakan ini pada siapa tapi aku yakin kau dapat menyimpannya dengan rapat." lirih Amir seraya menyeka air mata di pipinya.


"Ada apa dengannya?" batin Senja bingung.


jujur saja Senja ingin mengakhiri percakapan ini dengan cepat. Hal itu bukan karena ia membenci Amir, namun karena waktu istirahat tinggal 10 menit lagi.


Tidak hanya itu saja tapi saat ini peraturan sesi kedua sudah diumumkan di papan pengumuman. Senja harus melihat peraturan tersebut jika tidak ingin gagal di sesi kedua.


"Coba aku dengar dulu," gumam Senja ketika melihat mata Amir mulai berkaca-kaca.


"Aku, aku sebenarnya takut jika kedekatan kita akan membuat mu di bully. Aku takut mereka akan melakukan hal yang sama padaku untuk mu." lanjut Amir dengan isakan yang ditahan.


"Tunggu Amir, sebenarnya kau ingin mengatakan apa? Aku sama sekali tidak paham."


"Itu, itu... Sejujurnya begini..."


Amir dengan lembut berbisik di telinga Senja, ia terlihat begitu gugup. Senja yang menyadari hal tersebut hanya bisa menepuk ringan pundak Amir untuk menenangkannya.


"Aku dan Ronald sejujurnya kami adalah sahabat dekat, tapi semua itu berubah saat Alisa datang. Alisa begitu jahat, ia adalah tunangan Ronald tapi dia tidak mencintainya." seru Amir pelan seakan ia takut ada yang mendengar perkataannya.


"Alisa dengan kejam menyukai ku, ia bahkan tidak segan-segan menggiring opini jahat untuk membuat para wanita yang mendekati ku kabur. Ia begitu obsesi dan gila." lanjut Amir dengan wajah sedih yang sulit untuk didefinisikan.


"Ronald, hik... Ronald yang mengetahui perbuatan Alisa hanya diam. Ia bahkan tidak peduli pada ku dan memilih untuk pergi meninggalkan aku." lirih Amir ditengah-tengah tangisannya.


Senja sedikit bingung, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jujur saja ia tidak menyangka jika Amir akan mengatakan itu semua.


Awalnya Senja berpikir jika Amir akan merahasiakan ini dan akan membicarakkanya sampai hubungan mereka bisa dikatakan cukup dekat untuk saling terbuka satu sama lain.


"Amir itu..., uhm kita bicarakan lagi saja nanti." seru Senja sebelum pergi menuju papan pengumuman.


Senja sengaja menjauh dari Amir karena teman sekelasnya mulai membicarakan mereka saat melihat wajah Amir yang memerah karena menangis.


Senja tidak ingin memiliki gosip tambahan tentang dirinya dan Amir. Ia juga cukup pusing mengenai masalah Khalid dan kini ia harus berurusan dengan masalah Amir, memikirkan itu saja sudah cukup membuatnya gila.


"Aku tidak ingin tahu tentang itu, tidak sejujurnya aku sama sekali tidak peduli. Itu bukan urusan ku dan aku sama sekali tidak suka ikut campur dengan kisah asmara orang lain."

__ADS_1


__ADS_2