
"Tingginya tekanan yang diberikan akan mengetahui seberapa kuatnya kamu."
******************#####****************
Setelah keluar dari kafe, Senja kembali bertemu dengan Kun dan Nindia di persimpangan jalan menuju hotel. Disana ia melihat Kun dengan wajah kesalnya sedangkan Nindia hanya mengikuti Kun dari belakang dengan tenang.
"Sungguh pemandangan yang aneh," gumam Senja pelan sebelum mendekati mereka.
"Ada yang mengawasi mu," tanya Kun kesal sambil melompat ke dalam pelukan Senja.
"Siapa dia? Berani sekali dia melakukan itu."
Lanjut Kun ketika sudah berada di dalam pelukan Senja.
"Jika kau ingin aku dipenjara silahkan saja bertingkah sesuka mu," gerutu Senja kesal saat menjewer kuping Kun.
"Sialan," erang Kun geli dengan jeweran nona nya.
" Nona, apa yang harus saya lakukan?" tanya Nindia ketika mereka hendak memasuki hotel.
"Kembalilah ke wilayah timur segera dan suruh Eza menggantikan mu disini. Selain itu, bantulah Dian dalam tugasnya. " jawab Senja datar setelah mereka memasuki hotel.
"Baik Nona,"
"Dia menekan mereka untuk mengetahui seberapa kuat musuh yang berada disekitarnya, ini sama dengan aura dominasi namun berbeda karena aura dominasi hanya menekan musuh tapi tidak membuat mereka menjadi gila." batin Senja saat memasuki kamarnya.
"Dia seolah membuat mereka tertekan sehingga keberadaannya dibenci namun itu hanya sesaat karena setelah tekanan itu hilang, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang baru saja mereka katakan."
"Nona, lebih baik anda tidak perlu berurusan dengannya."
"Itu juga yang aku inginkan,"
"Hei, kucing sialan. Aku membiarkan Nindia pergi bukan berarti kau bisa tidur dengan santai disini," seru Senja saat melihat Kun yang berbaring santai di atas sofa.
"Aku tidak peduli,"
"Aku akan memberi mu pelajaran setelah ini," seru Senja sebelum mengembalikan penampilan seperti semula.
****
Siang hari di Kerajaan El-Aufi terasa sangat panas. Hal ini membuat Senja hanya melakukan aktifitas dasar di dalam kamarnya saja.
"Aku akan fokus memantau kali ini,"
"Nona, apakah kita akan menunggu Eza disini sebelum bergerak nanti malam?" tanya Ristia ketika melihat Senja yang sedang termenung.
"Tentu saja,"
"Selain itu Ristia, karena tidak ada Lily disini maka kau yang akan menggantikannya untuk mencari tahu informasi detail tentang Kaira."
"Kau sangat ahli dalam mendeteksi musuh sehingga tugas ini sangat cocok untuk mu."
seru Senja sambil melihat Ristia yang saat ini sedang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik Nona,"
"Ristia, kendalikan kekuatan mu saat bertemu mereka nanti," lirih Senja saat melihat Ristia yang sedang berjalan menuju plaza kota.
"Baik Nona, saya pastikan itu," jawab Ristia sebelum dirinya menghilang dari kerumunan.
"Mari kita lihat apa yang bisa kau dapat kali ini,"
****
__ADS_1
Setelah Nindia mendapatkan perintah dari Senja, ia segera kembali ke wilayah timur. Meski begitu hal ini sedikit membuatnya sedikit Nindia khawatir namun perasaan itu hilang ketika Eza menjelaskan maksud dari nona nya tersebut.
"Jika identitas mu sebagai peri hitam diketahui, maka bukan hanya kau yang akan mendapatkan masalah tapi Nona juga," seru Eza saat Nindia mendatanginya secara tiba - tiba.
"Maka dari itu, turuti saja perintah Nona dan jangan banyak bertanya." lanjut Eza sebelum pergi menuju portal.
"Aku mengerti,"
Eza tentu saja mengetahui bahwa keputusan nona nya sudah tepat. Ia juga tahu jika keberadaan Nindia sangat dibenci oleh lingkungan sekitar, sehingga resiko lebih besar akan mendatangi mereka jika ia sampai ketahuan bersama Senja.
"Kali ini Nona harus lebih waspada"
"Aku sempat terkejut dengan kedatangan Nindia yang tiba-tiba namun setelah mendengar penjelasan darinya, aku jadi paham," gumam Eza pada dirinya sendiri saat cahaya terang mulai memasuki penglihatannya.
Beberapa saat setelahnya, Eza sudah berada di kerajaan El-Aufi. Eza tampak takjub dengan pemandangan indah yang ada dihadapannya tersebut.
"Benar kata Nona, tempat ini sangat indah,"
"Aku harus segera menemui Nona," seru Eza kemudian bergerak pergi menuju hotel yang sudah dijelaskan oleh Nindia sebelumnya.
Pada saat Eza sampai di plaza, ia bisa melihat Senja yang sedang duduk termenung di atas balkon kamar hotelnya. Disana nona nya terlihat sangat lelah dengan wajah pucat nya.
"Apa Nona belum makan siang?"
Eza berinisiatif untuk pergi ke salah satu toko makanan yang menjual berbagai macam kue kering. Di toko itu, Eza membeli sekotak macaron dan juga beberapa pie apel. Segera setelah itu Eza pergi menuju gedung hotel untuk menemui Senja.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada, aku datang kesini untuk menemui majikan ku." jawab Eza datar sebelum pergi meninggalkan pelayan hotel tersebut.
"Ah iya, baiklah tuan," balas pelayan itu sopan saat Eza pergi meninggalkannya.
Beberapa saat kemudian, Eza sudah sampai di lantai tiga tepat di depan pintu kamar Senja. Ia segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.
Setelah semua persiapan selesai, ia pun pergi menghadap Senja sambil membawa nampan yang berisi macaron serta teh hijau hangat.
"Selamat sore Nona." sapa Eza sopan sambil menaruh nampan berisi cemilan keatas meja.
"Eza," lirih Senja kaget saat menyadari kedatangan Eza disampingnya.
"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Senja yang hanya mendapatkan senyum hangat dari Eza.
"Makanlah Nona, Anda terlihat sangat pucat."
"Ah," gumam Senja singkat saat melihat nampan yang berisi teh dan macaron.
"Biasanya ini tugas Dian, tapi karena saat ini Dian sedang bertugas maka aku pun melupakannya," batin Senja sambil mengingat wajah Dian yang setiap hari memberikannya cemilan disaat santai.
"Apa kau yang menyiapkan ini semua?"
"Tentu saja Nona,"
"Baiklah, terima kasih,"
Malam harinya, Senja kembali menjadi Zain untuk melihat suasana kota dengan tenang. Plaza kota yang tepat berada di hadapannya terlihat cukup ramai di malam hari. Banyak dari mereka yang berlalu lalang dengan pasangannya, ada juga yang sedang berjalan santai dengan hewan peliharaan mereka.
"Hei, kucing pemalas. Berjalanlah dengan benar," gerutu Senja saat Kun menjatuhkan diri di kakinya.
"Aku tidak mau,"
Senja yang kesal kemudian membangunkan Kun kembali, namun setiap kali dibangunkan Kun selalu saja menjatuhkan dirinya kembali.
"Kucing sialan ini." bentak Senja kesal ketika Kun kembali menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
Eza yang melihat hal tersebut hanya bisa tertawa simpul karena sikap nona nya yang terlihat lucu, ia kemudian memberikan tali ikat khusus untuk Senja agar Kun mau diajak jalan.
"Nona, ambilah ini,"
"Kau pintar sekali,"
"Kali ini, kau tidak akan bisa lolos dari ku." lanjut Senja saat mengingat tubuh Kun dengan tali tersebut.
"Baiklah, mari kita jalan-jalan,"
Senja kemudian menarik Kun yang sedang tertidur dengan santainya, warga sekitar yang melihat adegan tersebut hanya tertawa geli karena Kun bukannya berjalan namun tertidur sepanjang jalan saat Senja menariknya.
Eza yang mengawal Senja dari samping hanya bisa diam dan mengamati hal tersebut sambil menahan tawa agar nona nya tidak kesal.
Lama Senja berkeliling disana sampai ia memutuskan untuk berhenti di depan sebuah gedung teater yang dipenuhi oleh banyak penonton. Gedung itu tidak terlalu besar namun masih muat menampung banyak warga yang berdatangan
Film yang ditayangkan pun sangat bervariasi. Salah satunya adalah genre kesukaan Senja yaitu komedi-romantis.
"Tempat ini sangat menarik," lirih Senja saat melihat antrian panjang di depannya.
"Itu benar, tempat ini memang menarik," balas suara wanita muda yang tiba - tiba saja mendekati Senja.
"Ah, astaga." pekik Senja kaget ketika melihat Kaira yang muncul seketika dari sampingnya.
"Dari mana wanita aneh ini datang?"
"Nona, siapa dia?" bisik Eza pelan yang hanya bisa didengar oleh Senja.
"Itu orangnya," jawab Senja singkat yang malah membuat Eza siap menarik pedang dari sarungnya.
"Oho, astaga. Aku tidak menyangka jika ksatria anda begitu pemalu," seru Kaira ketika Eza siap menarik pedangnya.
"Eza." panggil Senja datar sambil melirik kearah tangan Eza berada.
"Maafkan saya Nona, ini terlalu mendadak sehingga ksatria saya jadi salah paham."
lanjut Senja sembari memegang lengan Eza yang bergetar menahan kesal.
"Ah, tidak masalah. Ini juga salah ku karena tidak menyapa mu terlebih dahulu," balas Kaira masih dengan senyum ramah diwajahnya.
"Anda sedang apa berada disini?"
"Aku sedang berjalan santai kemudian tidak sengaja melihat mu disini. Jadi aku memutuskan untuk menyapa,"
"Sialan," batin Senja masih tetap memasang senyum ramah pada Kaira.
"Kebetulan sekali,"
"Benar, ini sangat kebetulan," lirih Kaira penuh semangat yang anehnya membuat punggung belakang Senja merinding.
"Aku harus segera kabur,"
"Aku..."
"Mumpung disini, bagaimana jika kita masuk ke dalam dan menonton?" tanya Kaira memotong perkataan Senja yang belum selesai.
"Ah, iya?"
"Ayo," seru Kaira sambil menarik pergelangan tangan Senja menuju gedung teater tersebut.
"Ada apa ini? Apa yang baru saja terjadi?"
"Hehehe" gumam Kaira senang ketika berhasil menarik Senja menuju gedung teater.
__ADS_1
"Lucu sekali," batin Kaira saat melihat wajah penuh tanda tanya dari Senja.