Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pertukaran Takdir


__ADS_3

"Takdir begitu aneh dan kejam, selalu membuat kejutan yang tak terduga bahkan pertukaran ini adalah salah satu mainannya."


*****************#####***************


Langit begitu cerah dengan kicauan burung yang saling sahut - sahutan. Udara dingin tampak sejuk dengan suasana pagi yang indah di selimuti dengan embun yang segar.


Kesegaran itu membawa nuansa hangat di villa tua yang berada ditengah hutan. Meski terlihat tua, namun villa itu terawat dengan baik. Dindingnya masih kokoh dan kuat, area disekitarnya pun ditanami oleh berbagai bunga indah.


Duduk manis di ruang santai villa itu, ada seorang remaja yang dengan asyiknya makan camilan ditemani seekor kucing Persia.


"Juan, jangan dimakan. Kamu bisa sakit nanti," remaja itu mengangkat si kucing Persia yang bernama Juan dengan susah payah.


"Kamu dilarang makan coklat, paham tidak."


Juan yang tidak paham apa yang dikatakan majikannya itu, hanya bisa bergelayut kesal sambil mengibas - ngibaskan ekornya.


"Meong...!"


"Juan...!" teriak remaja itu, kesal.


"Sudahlah Bulan, biarkan saja Juan makan coklatnya."


Remaja yang dipanggil Bulan itu pun mendelik kesal kearah sumber suara sambil melemparkan snacks kesukaannya.


"Aduh," pekik Anton yang sudah siap dengan serangan mendadak Bulan.


"Kata dokter, Juan dilarang makan coklat karena beracun bagi tubuhnya."


"Mana aku tahu, Lan. Aku kan..."


Belum selesai Anton berbicara, Bulan sudah mencercanya dengan seribu pukulan.


"Ya ampun, ada apa ini? Pagi - pagi sudah ribut!" seru Farel heran.


"Biasa kak, Anton ngerjain Bulan." balas Tania malas.


"Eh kak, aku tidak melakukan apa pun loh." Anton berlari ke arah Farel sambil menghindari amukan Bulan.


"Anak ini aja yang sensitif parah," lanjut Anton sambil menendang kaki Tania.


"Anton...! Kamu ya tid..."


"Sudah - sudah, mari kita keluar saja. Udara pagi disini bagus untuk nenangin pikiran." potong Farel sebelum amukan Tania meledak seperti Bulan.


"Kak, aku..."


Belum selesai berbicara, Farel langsung menarik tangan Bulan dan Tania menuju pintu.


***


"Kak Farel, Villa ini punya siapa?" tanya Tania sambil berjalan menelusuri taman bunga Lily.


Baru kali ini Tania dan Anton melihat taman bunga yang hampir semuanya di penuhi oleh bunga Lily. Meski dirinya dan Anton sudah berteman lama dengan Bulan, namun baru kali ini mereka bisa berlibur bersama ke villa itu.


"Tentu saja punya keluarga De Latri, memang kamu pikir ini punya... Blum... ummpp."


Anton yang malang belum sempat ia menggoda Tania, mulutnya langsung disumpal keripik kentang.


"Ya ampun, Anton kamu baik - baik saja?"


"Uhm... uhuk. Baik kak!" seru Anton dengan air mata yang sedikit membasahi pipinya.


Bulan dan Tania hanya tertawa riang melihat Anton yang kesusahan menelan keripik kentangnya.


"Bwah... Ah..ah..ah!"


"Astaga, kalian nggak boleh gitu. Kasian Anton."


"Kak, yang lebih kasian itu kami bukannya Anton. Iya kan Tania?"


Tania hanya mengangguk setuju, tanpa memperdulikan Anton yang terlihat kesakitan.


"Hah, ada - ada aja kalian ini."


"Oh iya kak, yang tadi Tania tanya itu serius loh."


"Hmm, kakak juga kurang tahu Tania. Villa ini dibeli oleh keluarga Latri sudah lama sekali, mungkin sebelum kakak lahir bahkan."


Tania merenung sejenak sebelum melirik ke arah danau yang tepat berada di ujung jalan taman.


"Uhm, bisa dipahami." lirih Tania sambil menarik tangan Bulan menuju danau.


"Tania...!"

__ADS_1


"Hahaha, aku gerah banget Lan. Lagian sudah lama kita nggak mandi kan."


Bulan yang belum siap apa-apa langsung diseret ke arah danau, ia bahkan tidak sempat melepaskan sepatunya terlebih dahulu.


"BLUR..."


Anton dan Farel yang telat beraksi tidak bisa menahan tawa saat melihat Bulan dan Tania yang melompat ke dalam danau.


"Gimana Lan, seger kan?"


"Setidaknya biarin aku lepasin sepatu dulu Tan. Lihat nih, cuman ada sebelah doang." gerutu Bulan sambil menunjuk ke arah kakinya yang hanya tersisa satu sepatu saja.


"Aku juga mau" Anton yang sedari tadi menahan kesalnya pun langsung terjun ke danau tanpa aba-aba. Hal hasil, Bulan yang hendak melepaskan sepatunya itu pun itu terhempas jauh.


"Anton!" teriak Bulan kesal.


"Liat ini," Bulan mengangkat kakinya dan seperti yang dilihat tidak ada sepatu sama sekali di sana.


"Hahaha"


Anton hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Bulan yang kesal pun melepaskan kaus kakinya kepada Anton.


"Sialan," lirihnya sambil menyelam ke dalam danau untuk mengambil sepatunya itu.


***


Mansion Duke Ari


Langit begitu cerah dengan cahaya pagi yang merambat masuk ke dalam rumah besar keluarga Duke Ari. Di lantai atas tepatnya di sebuah perpustakaan seorang gadis tengah duduk santai membaca sebuah buku. Gadis itu lalu melihat keluar jendela ketika sebuah kereta kuda mewah memasuki pekarangan rumah.


Kereta mewah itu berlambangkan keluarga kerajaan. Seketika gadis itu tersengat, napasnya menjadi pendek dan terputus - putus. Kereta kuda itu merupakan milik pangeran kelima dan kedatangannya kemari hanya untuk menjemput Arina, putri kedua Duke Ari.


Senja yang semula tenang kini mulai terlihat sedih, kristal bening pun berhasil lolos dari kelopak matanya. Hatinya begitu sakit mengingat bahwa pangeran kelima sengaja memutuskan pertunangan mereka karena telah jatuh hati pada Arina.


Senja pun memendamkan wajahnya di balik buku agar tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya begitu menyedihkan, meskipun Senja adalah putri utama duke ari tapi Senja tidak pernah mendapatkan kasih sayang Duke sehingga semua orang di kediaman ini selalu mengintimidasi dirinya.


Disisi lain ruangan ada seorang remaja yang tengah memegang sebuah bunga beracun. remaja itu tampak senang dengan senyum sinis mengembang di wajahnya, di hadapan remaja tersebut ada seorang pelayan yang tengah memegang nampan berisi teh.


"Semuanya sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya saja," gumam remaja itu sambil menyuruh pelayan tersebut keluar.


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan yang sama membawa nampan berisi teh masuk ke dalam perpustakaan. Pelayan itu tersenyum manis sambil meletakkan teh ke dalam cangkir.


"Nona silahkan diminum tehnya."


"Maafkan saya Nona, saya baru saja menyelesaikan pekerjaan dapur." Amel memasang wajah berdosa dan memegang tangan Senja berharap diampuni.


"Ya ampun Amel, sudahlah tak apa." Senja memegang bahu Amel dan menyuruhnya berdiri.


" Nona langit begitu cerah. Apakah Nona ingin berjalan-jalan keluar?" tanya Amel sambil menaruh nampan kue di atas meja. Senja lalu melihat keluar jendela untuk sesaat, sejenak ia berfikir.


"Mungkin udara segar dapat menenangkan hati ku."


Senja kemudian setuju dengan tawaran Amel dan segera mereka pergi keluar dari kediaman Duke Ari.


***


Diperjalanan Senja mulai merasa baikan, ia melihat begitu banyak orang yang lalu lalang di pinggiran jalan menuju kota. Kereta kuda yang ditunggangi Senja pun berhenti di depan sebuah taman yang besar. Di sana begitu banyak orang yang melihatnya, mereka semua memasang wajah tidak senang terhadapnya.


Senja tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi dilihat dari ekspresi wajah, ia tahu bahwa itu pasti bukan hal yang baik. Bukan rahasia umum lagi bahwa pertunangannya dengan pangeran kelima sudah dibatalkan.


Namun jika dilihat dari berbagai sisi itu bukanlah kesalahannya. Mengingat bahwa dua hari lagi Senja akan merayakan hari ulang tahunnya dan tidak lama lagi akan diadakan ujian masuk akademik membuat Senja tetap bertahan meskipun itu sulit.


"Amel bisakah kita pergi ke tempat yang lebih tenang?" Segera Amel menyuruh pak kusir untuk memutar arah kereta kuda dan membawa mereka menuju tempat yang lebih sepi.


"Ini dimana?" Senja bertanya bingung. pasalnya ia tidak pernah datang ke tempat ini dan anehnya ini terlalu sepi.


"Bukannya tempat ini yang nona butuhkan?" jawab Amel dengan sudut bibir yang mengejek.


"Tapi... Ini terlalu sepi Amel." Senja tidak masalah dengan tempat sepi karena memang dia sangat menyukainya, namun ini terlalu aneh.


Instingnya mengatakan bahwa ada hal buruk yang akan terjadi jika ia terus berlama - lama di tempat tersebut.


"ayo kita putar kem... Argh!" Senja berteriak keras saat ia merasa sakit diperutnya, sakit itu begitu hebat layaknya di tusuk - tusuk oleh pisau.


"Ugh, sakit. Amel tolong bawa aku pergi, ini menyakitkan."


Bukannya panik melihat nona mudanya terluka, Amel malah tertawa nyaring sambil menunjuk - nunjuk ke arah Senja.


"Ya ampun Nona kamu naif sekali, kamu pikir selama ini Aku menjadi pelayanmu dengan senang hati?"


Senja bingung, ia terus memegang perutnya hingga tak terasa darah pun mulai mengalir keluar dari ujung bibirnya.


"Aku ini bukan pelayan pribadimu, aku adalah milik Nona Sarah. Aku diutus olehnya untuk membuat mu dibenci oleh banyak orang dan menjadikanmu sebagai wanita jahat."

__ADS_1


Senja mulai menangis tersedu - sedu, rasa sakit yang diakibatkan oleh pengkhianatan membuatnya lupa akan rasa sakit yang sedang ia alami sekarang.


"Dasar j*l*ng." Senja kesal, ia menarik rambut Amel dengan kasar, dan membuatnya penuh dengan luka.


"Lepaskan aku, kau adalah putri buangan yang bahkan ayahmu sendiri saja tidak peduli padamu dan jika kau mati tidak akan ada satu orang pun yang akan menangisi mayat mu."


Amel mendorong Senja, membuatnya jatuh tersungkur dari gerbong kereta kuda. Ia lalu menunjuk ke arah kusir dan menyuruhnya untuk membuang Senja ke danau mati.


Senja yang tak berdaya dengan kondisinya mulai rapuh saat melihat pak kusir yang dengan acuh tak acuh membawa tubuh lemah Senja dan membuangnya ke kedalaman danau mati.


Senja mulai mengingat satu - persatu kejadian yang menimpanya karena hasutan Amel. Dimulai dari memukul Sarah di depan ayahnya dan membuat Arina jatuh dari kereta ketika pangeran kelima datang berkunjung ke kediaman Duke atau membakar baju pesanan Sarah di depan para bangsawan lainnya.


Ada juga ketika Amel menyuruh Senja berpakaian aneh untuk datang ke pesta teh dan mempermalukan Senja di hadapan banyak wanita bangsawan, mengingat itu semua membuat air mata Senja mulai jatuh tak terbendung.


"Aku begitu bodoh, dengan polosnya percaya kepada siapa pun yang hanya memberikan sedikit kasih sayang."


Senja menangis sedih, ia merasa jijik dan benci terhadap dirinya sendiri.


"Aku hanya menginginkan cinta, namun yang ku dapat hanyalah rasa sakit dan pengkhianatan."


Senja teringat akan wajah kesal dan marah Duke Ari. Ayah yang sangat ia inginkan, untuk cinta dan kasih sayang. Namun yang ia dapat hanyalah penolakan dan makian.


Cahaya kehidupan dari kedua mata indah Senja mulai redup. Ia terlihat mati rasa dan mulai kehilangan penglihatannya. Lambat laun tubuh Senja mulai pucat dan jatuh lebih dalam lagi ke kedalaman danau mati.


***


"Akhirnya jumpa Juga," lirih Bulan sambil memegang kedua sepatunya.


Ia segera naik keatas untuk menghirup udara dan memenuhi paru - parunya yang kering karena terlalu lama berada di bawah air.


"Sudah jumpa?" tanya Farel sambil mengulurkan tangannya pada tubuh Bulan.


"Sudah kak,"


"Kamu gigih banget, padahal itu bukan edisi terbatas. Masih banyak tuh di..."


Sekali lagi kesialan menimpa Anton, belum selesai ia mengatakan keinginannya. Bulan dengan kesal melemparkan salah satu sepatunya ke kepala Anton.


"Aduh... Kali ini sakitnya parah loh!" teriak Anton sambil mengusap lembut benjolan di timbul di jidatnya.


"Hahaha, kasihan." tawa Tania membuat mereka lupa bahwa yang dilemparkan Bulan adalah sepatu yang sedang ia cari sedari tadi.


"Hahaha, Anton kamu sial banget hari ini." Farel pun ikut tertawa, ia merasa lucu dengan teman adiknya itu.


"Nah Bulan, ayo naik. Sudah waktunya hampir makan siang."


"Tunggu kak, aku mau cari sepatunya yang tadi."


Bulan menunjuk ke arah tempat jatuhnya sepatu. Ia merasa kesal sekaligus senang dengan apa yang terjadi pada Anton.


"Sudah, kita beli baru saja nanti."


"Aduh kak, itu hadiah dari ibu. Jika ibu tahu sepatunya hilang, nanti aku disuruh kerja rodi."


"Jangan dilebih - lebihkan."


Bulan mencoba meyakinkan kakaknya itu, ia lalu menyuruh Tania untuk menyeret farel ke villa.


"Akhirnya," lirih Bulan lega.


"Sini, biar aku saja yang cari," tawar Anton, dan tanpa menunggu jawaban Bulan, Anton segera menyelam dan mencari sepatu Bulan.


Saat menunggu Anton, Bulan merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah kakinya. Ia pikir itu ulah Anton yang sengaja bermain dengannya.


"Anton, jangan jahil deh." gerutu Bulan sambil menggoyangkan kakinya.


Namun anehnya, aliran hangat itu tetap terasa dan makin menggangu dirinya. Akhirnya Bulan memutuskan untuk menyelam dan melihat apa benda itu.


Saat ia mencoba mencari, Bulan tanpa sengaja melihat seutas cahaya bening yang berasal dari bawah danau. Ia pun mendekati cahaya itu dan mencoba untuk menyentuhnya.


Sayangnya bukan hewan aneh yang di dapatkan Bulan, melainkan pusaran air yang menyeret Bulan terus masuk ke dalam danau.


"Sial, apa ini?"


Bulan berusaha untuk lepas, namun semakin ia bergerak maka pusaran air itu akan membawanya lebih cepat ke kedalam danau. Di ujung kegelisahan, Bulan melihat seorang wanita berpakaian aneh dengan mulut yang mengeluarkan noda merah.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa ada di dalam danau ini?"


Bulan yang ragu pun mencoba untuk menarik wanita tersebut. Ia mencoba sekuat tenaga sebisa mungkin menghemat oksigen di paru-parunya. Meski bukan penyelam profesional, setidaknya Bulan tahu cara mengendalikan napasnya di dalam air.


Bulan lalu memegang lembut tangan wanita itu dan hendak mencoba untuk menariknya namun seketika hal aneh pun terjadi. Bulan merasa dirinya tersedot ke tempat lain begitu pula dengan wanita aneh itu.


"Senja. Aku Senja. Semua orang membenciku, semua nya mengkhianati ku. Ayah, dia telah membuang ku. Aku hanya ingin di cintai, aku hanya ingin kasih sayang."

__ADS_1


Wanita itu terus menangis dan berteriak hal yang sama berulang kali. Bulan yang merasa pusing dengan teriakan wanita itu pun mulai kehilangan kesadarannya.


__ADS_2