Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pertemuan pt 2


__ADS_3

"Dunia sangatlah luas, meski pun kau sering bertemu dengan orang yang sama setiap harinya."


******************#####****************


Senja yang bosan karena harus menunggu sampai malam tiba memutuskan untuk berjalan - jalan ria di pasar yang ada di area tersebut. Pasar ini tidak seluas pasar pada umunya namun pembelinya sangatlah ramai.


"Nona, aku ingin makan itu," seru Ristia sambil menunjuk kearah permen kapas dengan ekornya.


"Seperti anak kecil saja."


"Hehehe, ini enak." tawa Ristia sambil mengelilingi permen kapas tersebut.


"Tenanglah sedikit, mereka bisa melihat mu disana," bisik Senja saat Ristia berputar dengan ria di dalam permen kapas itu.


Senja kemudian pergi berkeliling diantara para pedagang sambil melihat - lihat apa saya yang sedang mereka jual.


"Tempat ini mirip sekali dengan pasar malam di kota ku,"


"Permisi Nona, silahkan dilihat dulu. Jika cocok, harga bisa ditawar," seru seorang Kakek Tua yang sedang menjual dagangannya.


Senja lantas melirik sekilas pada apa yang dijual oleh kakek tersebut. Ia terlihat sedikit tertarik dengan hiasan pakaian yang dijual oleh kakek tersebut.


"Silahkan dilihat - lihat Nona."


Kakek itu kemudian sedikit menyingkir dari posisinya agar Senja dapat dengan mudah melihat apa yang sedang ia jual.


Senja yang tertarik akan benda tersebut, lantas berjalan mendekati toko si kakek. Di sana Senja dapat dengan jelas melihat benda tersebut, tanpa sadar ia memegangi bros yang berbentuk bulan sabit yang ada dihadapannya itu.


"Ini namanya Light the Moon. Bros ini di buat oleh pemahat profesional dengan sangat bagus dan rapi, ia bahkan membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan bros tersebut, Nona."


Kakek pedagang itu menjelaskan dengan singkat sejarah bros tersebut saat Senja menyentuhnya.


"Ini indah,"


"Bros ini sepaket dengan perhiasan..."


Kakek itu menjeda perkataannya sambil mencari sesuatu dari balik laci mejanya.


"Ah, ini dia. Lihatlah Nona."


Kakek itu kemudian memberikan sekotak perhiasan yang di dalamnya berisi sebuah kalung berbentuk bulan sabit perak dan juga sebuah gelang kaki yang setiap rantainya di isi oleh hiasan bulan sabit berwarna sama.


"Perhiasan ini pada awalnya hendak dibeli oleh seorang bangsawan kelas atas 18 tahun yang lalu. Pria bangsawan itu mengatakan jika ia ingin memberikan ini sebagai hadiah kelahiran putrinya."


Kakek itu terus bercerita ketika ia melihat Senja begitu tertarik dengan perhiasan ini.


"Lalu, mengapa ini masih ada disini?"


"Saya kurang tahu mengapa perhiasan ini ada disini. Awalnya seorang sahabat memberikan saya perhiasan ini karena pria bangsawan tersebut tidak kunjung mengambilnya."


" ... "


"Sahabat saya sempat hendak melelangnya namun ia merasa sayang melakukannya sehingga memberikannya kepada saya."


"Mengapa begitu?"


"Saya juga kurang tahu Nona. Ia mengatakan jika perhiasan ini menyuruhnya untuk diberikan kepada saya."


" ... "


Si kakek penjual terlihat bingung saat menceritakan kisah tersebut pada Senja. Tampak jika ia juga tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa sahabatnya itu memberikan perhiasan ini padanya.


"Awalnya saya hendak menjual perhiasan ini namun anehnya, tidak ada seorang pun yang mau membeli perhiasan ini sampai Nona sendiri yang terlihat begitu tertarik padanya."


"Mengapa begitu? Apakah ada alasan khusus hingga tidak ada yang membelinya?"


"Saya juga kurang tahu Nona. Setiap kali ada pembeli yang ingin membelinya pasti ada saja masalah sehingga saya memutuskan untuk tidak menjual perhiasan ini."


Kakek penjual terlihat sangat sedih setiap kali menceritakan nasib pelanggannya yang tiba - tiba saja terkena sial setiap kali hendak membeli perhiasan tersebut.


"Cukup menarik," batin Senja yang penasaran dengan kesialan apa yang akan ia dapat jika membeli perhiasan ini.

__ADS_1


"Kalau begitu saya ingin membelinya."


"Nona, apa anda yakin?"


"Tentu saja."


"Sebenarnya saya hanya memajangnya saja disana agar memenuhi etalase namun saya tidak tahu jika anda menjadi begitu tertarik dengannya."


"Apa Kakek tidak mau menjualnya?"


Senja bertanya seolah ia tidak punya waktu banyak untuk mendengar omong kosong si kakek kali ini.


"Saya malah merasa sangat senang bila ada yang membeli perhiasan itu Nona," balas si kakek penuh keyakinan.


"Kalau begitu, bungkus lah."


" ... "


"Apa lagi?"


"Nona, jika terjadi sesuatu dengan anda..."


"Tidak perlu khawatir, saya bisa mengurus diri saya sendiri."


Senja mencoba untuk menjelaskan betapa hebatnya dia saat ini.


"Baiklah Nona."


Kakek tersebut lalu membungkus perhiasan itu dengan rapi.


"Tunggu dulu."


Tangan sang kakek berhenti ketika Senja mengambil Bros yang sebelumnya ia genggam.


"Lanjutkan," lirih Senja sebelum memasangkan bros tersebut di dadanya.


"Sangat cocok," gumam kakek penjual pada dirinya sendiri.


"Apa ini? Bukannya saya hanya memesan satu kotak saja?"


Senja masih mengerutkan keningnya dengan tajam saat memegangi dua kotak perhiasan yang ada di dalam tas tersebut.


"Ini hadiah," jawab kakek penjual ramah sambil memasang senyum lembutnya.


"Karena perhiasan ini sangat identik dan saya juga mendapatkan keduanya dari sahabatnya saya, maka dari itu saya memberikan yang satunya lagi sebagai hadiah," jelas sang kakek penjual sopan.


"Ah, begitu, terima kasih," seru Senja kemudian menyerahkan uangnya untuk membayar si kakek.


"Nona, keduanya sama," lirih Ristia saat kembali merayap masuk ke dalam pergelangan tangan Senja setelah permen kapasnya habis.


"Aku tahu,"


"Apakah anda akan menggunakan mereka semuanya?"


"Apa kau gila? Bagaimana bisa aku menggunakan seluruh perhiasan tersebut."


"Menurut saya itu lebih bagus jika digunakan sepaket karena kekuatannya akan semakin stabil,"


Senja yang mendengar perkataan terakhir Ristia, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kesal.


"Aku tahu itu."


Dengan kesalnya Senja bergumam bahwa dia mengetahui kekuatan dari perhiasan tersebut.


"Apa yang anda tahu?" tanya sebuah suara datar tepat ditelinga Senja.


"Astaga!" teriak Senja kaget saat melihat Dian yang sedang berdiri disampingnya dengan pandangan acuh tak acuhnya.


"Sedang apa..., ah tidak. Sejak kapan kau ada disana?"


Wajah Senja sedikit memucat dengan detak jantung yang berdetak dengan irama kematian.

__ADS_1


"Sejak tadi."


Dian menjawab dengan acuh sambil melirik kearah bros yang dikenakan oleh Senja.


"Lain kali jangan muncul secara tiba - tiba seperti itu."


"Baik Nona."


"Hah, sial. Kau membuat ku takut saja," gerutu Senja ketika ia mendengar jawaban acuh dari Dian.


"Apa Nona membelinya?"


Dian memegang bros tersebut dengan pandangan curiga.


"Apa kau pikir aku mencurinya?"


"Siapa tahu," jawab Dian yang sontak membuat wajah Senja menjadi kesal.


"Kau pikir siapa Nona mu ini, hah?"


"Kau adalah Nona ku yang licik dan aneh."


Lagi - lagi jawaban dari Dian membuat rahang Senja terjatuh karena kaget sekaligus kesal.


"Hah, astaga. Kepala ku," teriak Senja dalam hatinya sambil memegangi kepalanya yang sakit karena penuturan Dian.


"Apa Nona sakit? Kita bisa menunda pertemuan ini jika Nona merasa kurang sehat," seru Dian yang membuat wajah Senja semakin merah karena kesal.


"Nona, wajah anda memerah. Saya rasa kita harus memeriksanya."


"Astaga!" teriak Senja yang membuat wajah Dian terlihat lebih khawatir.


"Aku bisa mati kesal jika begini terus."


Senja mencoba untuk menahan emosinya saat Dian mencoba untuk membawanya pergi menemui dokter.


"Dian."


"Iya Nona."


"Bawakan aku teh hijau seperti biasa."


Senja mencoba menahan dirinya saat mereka sudah hendak menaiki kereta kuda.


"Nona..."


"Bawakan saja sekarang."


Dian hanya diam sambil melihat Senja dan kereta kuda yang ada dihadapannya itu.


"Baik Nona."


Dian kemudian pergi menuju kafe tempat dimana mereka berada sebelumnya.


"Pak, anda bisa istriarahat sekarang," seru Senja sebelum melangkah masuk menuju kafe tersebut.


"Sepertinya aku harus mendidik mereka dengan benar,"


"Nona, aku merasakan energi wanita itu disini," link Ristia saat senja sudah berada di ruangannya dengan teh hijau hangat yang dibawakan oleh Dian.


"Manusia, wanita itu ada disini."


Kini giliran Kun yang melakukan kontak link dengan Senja.


"Ah, aku lelah," teriak Senja tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh Kun dan Ristia padanya.


"Aku ingin tidur sebelum pertemuan dilakukan. Dian, bangunkan aku ketika waktunya sudah tiba."


Senja kemudian melepaskan sepatu botnya sebelum melemparkan dirinya keatas sofa untuk melepas lelah.


"Aku akan memikirkannya nanti, karena sekarang waktunya tidur,"

__ADS_1


__ADS_2