Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Takut


__ADS_3

"Identitas itu bisa dipalsukan, namun karakter akan selalu memiliki ciri khasnya sendiri."


******************#####****************


Disisi lain, Dian yang saat ini sedang duduk bersama keempat sahabat Senja, hanya bisa memasang wajah gelisah. Ia khawatir jika salah satu dari mereka menyadari bahwa dirinya bukan Senja.


Dian hanya bisa diam dalam menikmati percakapan yang sedang berlangsung disana, ia takut jika sepatah kata darinya dapat mengungkapkan siapa dia sesungguhnya.


Pada dasarnya, Senja memang tidak terlalu aktif saat bersama sahabatnya itu. Ia cenderung diam dan hanya mendengarkan saja. Oleh sebab itu saat ini Dian juga tengah melakukan hal yang sama.


"Hah, ini menegangkan sekali,"


Wajahnya masih menampakan senyum polos sama seperti wajah Senja pada umunya.


"Kapan ini akan berakhir?"


"Senja, kenapa kau diam saja?" tanya Maya penasaran.


"Apa terjadi sesuatu? Dimana Dian?" tanya Muna mulai menyelidiki.


"Astaga, kepala ku," batin Dian meronta-ronta.


"Aku baik, hanya saja aku sedikit lelah," jawab Dian jujur.


"Sedangkan Dian, aku menyuruhnya untuk pergi membeli sesuatu." lanjut Dian dengan senyum ramahnya.


"Tidak, sebenarnya aku dihadapan kalian. Nona ku saja yang saat ini sedang menghilang," batin Dian kesal.


"Ah sayang sekali, padahal kami ingin mengajak mu untuk menonton film," seru Luna sedih.


"Jika kau lelah, kembali saja dulu. Aku akan mengantar mu."


Muna sudah bersiap untuk mengantarkan Dian namun dihentikan oleh Luna.


"Tidak, biar aku saja yang mengantarnya," lirih Luna sambil mencegat pergelangan tangan Muna.


"Tidak, biar aku saja."


Muna lalu menghempaskan tangan Luna dengan kasar.


"Biar aku saja."


Luna yang tidak mau kalah terus beradu mulut dengan Muna. Mereka terlihat saling cek-cok satu sama lain, tidak ada diantara mereka yang mau mengalah.


"Astaga, sekarang aku tahu alasan mengapa Nona selalu diam," batin Dian frustasi.


Wajah Dian tampak sangat lelah dan acuh dengan perkelahian diantara keduanya, ia merasa ingin sekali pergi meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Bagi Dian, ini adalah neraka yang sesungguhnya.


"Aku mau pulang," gumam Dian sedih.


Maya yang melihat kelakuan kedua sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Ia kemudian menatap Senja yang masih setia melihat keributan di depannya.


Maya kemudian memberikan kode mata kepada Senja aka Dian agar ia mengerti. Sayangnya, Dian sama sekali tidak melirik ke arah Maya sama sekali.


"Sudahlah, biar aku saja," seru Zakila kesal.


"Dari pada kalian ribut, mending aku saja yang mengantar..."


"Tidak!" teriak keduanya sambil menatap Zakila yang belum selesai berbicara.


"Sekarang tambah lagi," batin Dian semakin gila.


"Ya Tuhan, siapa pun itu. Tolong aku." lanjut Dian lelah dalam menyikapi sikap ketiga sahabat nona nya itu.


"Apa ini?" tanya Dian dalam hatinya saat ia merasakan ada yang menepuk kakinya.


Perlahan, Dian melirik ke area bawah meja dan melihat kaki Maya yang sedang menendangnya. Dian yang bingung perlahan melirik ke arah Maya yang sedang menunjuk ke arah pintu keluar.


"Ayo kabur," gumam Maya pelan dengan bibirnya yang terbuka secara perlahan.


Dian langsung mengerti maksud Maya dan segera menganggukkan kepalanya.


"Ayo."


Dian dengan perlahan berdiri dari duduknya, ia kemudian berjalan membungkukkan badan agar kepergiannya tidak di sadari oleh ketiga sahabat Senja yang lainnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Maya, ia dengan santainya berdiri dari duduknya dan menyelimuti Dian saat hendak keluar.


"Ah, leganya."


Dian terlihat bebas ketika sudah berhasil keluar dari restauran tersebut.


"Aku akan mengantarmu ke hotel."


"Terima kasih."


"Tak apa, mereka memang sering gila seperti itu."


"Ah iya, aku tahu,"

__ADS_1


"Kau juga sama gilanya seperti mereka." lanjut Dian dalam hatinya namun masih mempertahankan senyum ramahnya.


Beberapa menit kemudian setelah Maya dan Dian keluar dari restauran, pelayan restauran tersebut mendapatkan komplain dari beberapa tamu yang merasa terganggu dengan keributan yang di timbulkan oleh mereka.


"Maaf Nona-Nona, jika anda ingin bertengkar, tolong jangan disini," seru pelayan tersebut dengan sopan.


"Para tamu lainnya merasa terganggu dengan pertengkaran kalian." lanjutnya sambil melirik ke arah para tamu.


Mereka yang awalnya masih beradu mulut, kini mulai diam sesaat sambil melirik ke arah para tamu tersebut. Mereka merasa malu dengan apa yang sudah mereka lakukan saat ini.


"Maaf, kami akan segera keluar," seru Luna yang mendapatkan anggukan kepala dari yang lain.


"Ayo Senja kita..."


Perkataan Luna terhenti saat ia tidak melihat Senja berada di kursinya.


"Dimana Senja?" tanya Zakila kaget.


"Tunggu dulu, dimana Maya sekarang?" tanya Muna yang juga tidak melihat Maya di kursinya.


"Astaga!" teriak Luna dan Zakila yang membuat seluruh tamu kini memelototi mereka.


"Ah, maaf. Maafkan kami."


Muna meminta maaf karena teriakan memalukan dari kedua sahabatnya itu.


"Ayo kita segera pergi," lirih Luna kesal dengan langkah kaki lebarnya.


"Kita kecurian," timpal Zakila sebelum mereka meninggalkan restauran tersebut.


Terlihat bahwa ketiganya sangat kesal, mereka dengan cepat melangkah keluar dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan


"Awas saja pencuri nakal itu," gerutu Luna kesal.


"Awas saja," timpal Zakila yang sama kesalnya.


Muna sendiri hanya diam sepanjang jalan, bukannya ia tidak kesal, hanya saja rasa kesal Muna sudah terlalu besar pada Maya hingga tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata saja.


"Aku akan memberinya pelajaran berharga nanti," batin Muna sambil mengingat latihan ekstra mereka sebelum ujian akademik di mulai.


Lama mereka berjalan sampai hanya tinggal melewati sebuah gedung untuk bisa tiba di hotel. Mereka kemudian di hentikan oleh sebuah panggilan yang datang tiba-tiba. Perlahan mereka berbalik arah untuk melihat asal suara tersebut.


"Kaira," seru Luna kaget.


"Sedang apa kau disini?" tanya Muna ketika jarak diantara mereka tinggal beberapa langkah saja.


"Kau tahu kami sedang terburu-buru, lalu apa alasan mu memanggil? Apa ada hal yang penting?" tanya Muna sekali lagi.


"Tidak ada," jawab Kaira dengan senyum diwajahnya.


"Apa?"


Muna terlihat sangat kesal dengan jawaban santai Kaira. ia kemudian menatap ke arah Luna yang juga sama kesalnya.


"Tidak bisakah kau tidak mengganggu kami, hah?" tanya Luna kesal.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Aku sebenarnya penasaran, dimana teman kalian yang imut itu?"


Kaira bertanya dengan rasa penasaran yang terlihat sangat jelas diwajahnya.


"Senja dibawa kabur oleh kakak ku dan sekarang kami sedang mengejarnya," seru Zakila kesal.


"Astaga, bagaimana bisa?"


Zakila lalu menceritakan inti dari permasalahan mereka. Terlihat wajah Kaira yang sedang menahan bibirnya untuk tidak tertawa.


"Hahaha, aku tahu dia lucu tapi aku tidak tahu jika mereka sampai memperebutkannya." batin Kaira sambil menahan tawa geli.


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantu kalian."


"Tidak perlu, kami bisa sendiri," balas Muna datar.


"Ayolah..."


Perkataan Kaira terhenti ketika Maya tiba-tiba saja mendatangi mereka sambil berkata,


"Kalian sedang apa disini."


Mereka semua lalu memandang ke arah Maya dengan pandangan tajam yang menusuk.


"Ah, ayolah. Apa kalian kesal padaku?" tanya Maya malas dengan tatapan temannya.


"Iya," jawab mereka bersamaan.


"Astaga, aku hanya tidak tega saja melihat Senja yang sedang lelah. Ia terpaksa harus melihat kalian yang bertengkar tidak henti-hentinya, jadi..."


"Jadi kau membawanya kabur, begitu?"

__ADS_1


"Bukan kabur, tapi menyelamatkannya."


Mata seluruh temannya kini semakin menusuk. Jika di mata itu ada laser, mungkin saja saat ini wajah Maya sudah berlubang.


"Oh, hai. Apa kabar?" tanya Maya mengalihkan perhatiannya pada Kaira.


" ... "


Kaira hanya diam sambil memalingkan wajahnya dari Maya.


"Apa aku melakukan kesalahan juga pada mu?" tanya Maya bingung.


"Tidak," jawab Kaira datar.


Maya yang bingung hanya bisa menatap aneh ke arah Kaira, ia dengan keras menghela napasnya sambil menatap ke arah sahabatnya itu.


"Apa kalian senang melihat wajah lelah Senja, hah?" tanya Maya kesal.


"Aku mengantarnya karena ia terlihat sangat lelah, jadi kumohon mengertilah," jelas Maya dengan frustasinya.


"Hahaha, kau lucu jika panik seperti itu," seru Kaira sambil memukul ringan pundak Maya.


"Aku hanya bercanda, tidak tahu dengan mereka. Ah iya, aku baik-baik saja, bye the way." lanjut Kaira dengan senyum ramahnya.


"Sekarang dimana Senja?" tanya Muna dingin.


"Senja sekarang sedang beristirahat di hotel."


Maya lalu menunjukan gedung hotel pada Muna.


"Senja bilang padaku bahwa ia sangat lelah, dan saat ini sedang tidak ingin diganggu."


Maya kemudian menjelaskan tentang obrolan terakhirnya dengan Senja.


"Hah, mungkin saja Senja lelah karena urusannya di wilayah timur," gumam Luna mencoba memahami.


"Aku rasa begitu," timpal Muna yang mendapatkan anggukan dari Zakila.


Melihat keempat gadis muda di depannya yang sedang galau, Kaira memutuskan untuk membawa mereka berjalan-jalan mengelilingi plaza. Sayangnya keempat gadis itu menolak, mereka lebih memilih untuk kembali ke hotel dan beristirahat.


"Ayolah," seru Kaira saat melihat mereka pergi dari hadapannya.


"Film teater disini sangatlah bagus. Aku jamin kalian bakalan suka." lanjut Kaira sambil mengejar langkah mereka.


Luna yang mendengar kata teater kemudian berhenti, hal yang sama juga dilakukan oleh yang lainnya.


"Berhasil," batin Kaira senang.


"Teater?" tanya Luna memastikan pendengarannya.


"Iya Luna sayang, teater. Apa kau suka? Aku dengar dari Lucas jika kau sangat menyukai berbagai macam film di teater." lanjut Kaira dengan senyum lebar di wajahnya.


"Jangan senang dulu," lirih Muna ketus.


"Anak ini dari dulu tidak pernah berubah," batin Kaira sambil memikirkan masa lalunya saat masih bersekolah di akademik Adeline.


"Kaira, ada cerita apa di teater itu?" tanya Zakila penasaran.


"Kau bisa melihat apa pun yang kau suka nak," jawab Kaira jujur.


"Aku suka komedi," gumam Maya pelan namun masih bisa di dengar oleh Kaira.


Luna yang melihat reaksi sahabatnya menjadi sangat bingung, ia ingin sekali menonton teater tapi ia juga ingin bertemu dengan Senja. Dilema panjang terus menghampiri Luna, ia tanpa sadar melirik bolak-balik antara Kaira dan gedung hotel.


"Aku ingin menonton drama-komedi," seru Zakila bersemangat.


"Aku sudah tidak sabar untuk menontonnya."


lanjut Zakila sambil memikirkan film tersebut.


"Baiklah, kau bisa menonton apapun yang kau mau," balas Kaira senang.


Kebimbangan Luna dan keseruan para sahabatnya membuat Kaira terlihat bersemangat dan pada akhirnya hal tersebut membuat Luna merasa tertarik. Ia juga tahu jika saat ini, Senja aka Dian membutuhkan waktu untuk beristirahat.


"Baiklah, mari kita pergi," seru Luna tiba-tiba.


"Tapi hanya satu film saja." lanjutnya sambil melirik ke arah hotel.


"Baiklah, hanya satu film saja," balas Kaira ramah.


Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, sebelum pergi Luna sempat melirik sekilas pada area jendela kamar Senja. Ia merasa sedih karena hanya dirinya dan ketiga sahabatnya yang bisa menonton teater tersebut.


"Aku harus membawa Senja melihat teater ini juga," seru Luna sedih.


"Kau benar, Senja juga harus melihatnya," timpal Muna yang mendapatkan anggukan kepala dari si kembar.


"Mereka sangat menyayangi gadis itu. Aku juga sempat merasakan hal yang sama ketika melihatnya. Ia cantik namun lemah, bahkan kepolosannya itu mengingatkan aku pada Zain," batin Kaira sambil melihat ke arah yang sama yang dilihat oleh Luna sebelum mereka benar-benar meninggalkan area tersebut.

__ADS_1


Sayangnya, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa gadis lemah yang ingin mereka lindungi adalah sosok gadis licik yang menyimpan banyak rahasia.


__ADS_2