
"Tempat yang sering diabaikan merupakan tempat teraman untuk bersembunyi."
******************#####***************
Wilayah Marques of Winter memiliki lebih banyak hutan dari pada wilayah bangsawan lain. Hutan yang dimiliki Marques kebanyakan dihuni oleh monster ganas dan hewan suci langka.
Banyak dari ksatria hebat lahir dari keluarga Winter, bahkan pelayan rendahan pun setidaknya berlevel 3. Mereka sering melakukan ekspedisi sebulan sekali untuk mengurangi jumlah monster yang ada di hutan itu.
Karena tugas penting itulah mengapa kedudukan Marques winter di kerajaan setara dengan seorang Duke. Ada kalanya posisi Marques Winter hendak diambil alih bangsawan lain.
Namun melihat betapa banyaknya monster di wilayah itu membuat banyak bangsawan gusar dan akhirnya berpikir dua kali sebelum mencoba untuk memprovokasi mereka.
Senja tahu jelas mengenai hal tersebut berkat tulisan tangan Senja asli. Karena alasan itulah Senja berusaha untuk tetap dekat dengan Muna agar tujuannya cepat tercapai.
"Nona, ada sosok hitam dibalik pohon besar itu," bisik Eza pelan namun masih bisa didengar Senja dan Dian.
"Nona, tetap di belakang saya."
Dian berdiri selangkah di depan Senja dengan tangan kanan memegang belati yang ada di samping jubahnya dan bersiap menyerang kapan saja.
"Tenang, aku kenal sosok itu." seru Senja acuh tak acuh pada Dian yang masih menatap aneh pada sosok tersebut.
Senja lalu menarik pelan pergelangan tangan Dian untuk membuatnya tetap berada di sampingnya, hal yang sama juga Senja lakukan pada Eza yang sudah bersiap dengan pedangnya.
"Tenangkan diri kalian," seru Senja sebelum mereka sampai di depan sosok misterius itu.
"Senja?" tanya sosok itu dengan suara kakunya.
"Apa kau benar dirinya?" tanyanya kembali ketika melihat Senja tersenyum hangat.
"Aku tahu kau pasti memiliki begitu banyak pertanyaan terhadap ku tapi sayangnya aku tidak akan mengatakan apa pun. Karena kau adalah orang pertama yang aku lihat ketika pertama kali membuka mata, setidaknya kau harus bertanggung jawab hingga akhir."
"Bagaimana kabar mu?" tanya Senja ketika sosok itu masih terdiam kaku di hadapannya.
"Apa-apaan ini?"
"Apa kau tidak senang melihat ku?"
"Bukan, bukan itu. Aku hanya..."
"Maaf telah mengirim surat secara tiba-tiba, aku tidak ingin musuh mengetahui keberadaan saat ini. Selain itu hanya kau satu-satunya orang yang bisa aku percayai."
"Percaya? Omong kosong macam apa ini?"
"Aku sedang tidak bercanda, Muna."
"Hah, kau membuat ku gila."
Erang Muna frustasi ketika melihat Senja yang masih terus tersenyum hangat di depannya. Jujur saja Muna marah dengan sikap acuh tak acuh nya Senja.
"Tidak bisakah kita berbicara ditempat yang lebih baik?" tanya Senja sambil melirik ke sekelilingnya.
"Hah, sialan. Ikuti aku."
Meski kesal namun Muna tetap membawa Senja kesebuah tempat yang tidak jauh dari posisi mereka sekarang.
Tempat itu sangat tenang, meski berada di dalam hutan namun suasana disana tampak sangat aman dan nyaman. Di sana juga terdapat sebuah kastil sederhana dengan bangunan besar di sekelilingnya.
"Tempat apa ini?" tanya Senja penasaran dengan bangunan yang baru saja ia lihat.
"Ini adalah tempat dimana aku sering latihan sebelum memasuki Akademik," jawab Muna acuh saat memasuki bangunan yang ada di hadapannya itu.
"Mengapa ada danau disini?"
Senja terlihat kaget ketika ia pertama kali memasuki bangunan yang terlihat cukup besar itu. Di belakang bangunan tersebut terdapat sebuah danau yang ukurannya sangat besar. Danau itu bahkan memiliki tebing di ujungnya.
"Ini adalah danau dimana aku pertama kali menemukan mu saat itu."
"Hah, apa?"
Senja terlihat kaget dengan apa yang baru saja ia dengar, kata 'menemukan mu' membuat Senja memikirkan kejadian dimana ia tanpa sengaja terseret ke dalam dunia ini.
"Bagaimana bisa?" tanya Senja kembali sambil menatap tajam ke arah danau.
"Aku juga tidak tahu, lagi pula secara kasat mata bangunan ini tidak bisa dilihat begitu saja dan kemungkinan besar kau telah di buang dari tebing yang ada di depan sana."
Muna menunjukkan sebuah tebing yang ada di hadapan mereka, meski gelap namun cahaya bulan sangat membantu penerangan ditempat tersebut.
"Duduklah."
Muna mengisyaratkan agar Senja duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Terima kasih," seru Senja yang masih memandang ke arah danau.
"Nona, saya akan mencoba untuk mengecek tempat ini," bisik Eza pelan yang hanya bisa didengar Senja.
"Terserah kau saja," lirih Senja sebelum mengambil langkah besar menuju kursi yang ada di depannya itu.
Eza yang melihat jawaban acuh dari nona nya itu segera pergi keluar gedung untuk melihat sekeliling danau sedangkan Dian masih berada di samping Senja yang kini mulai berbincang ringan dengan Muna.
"Kemana saja kau selama ini? Ah tidak, apa kau baik-baik saja setelah hari itu?" tanya Muna sambil mengingat kejadian dimana Senja menghilang bersamaan dengan Dian dan Kun.
__ADS_1
"Aku butuh banyak waktu untuk sembuh, namun ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu saat ini."
Mata Muna mulai fokus ketika mendengar ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh sahabatnya itu.
Muna bukan sama sekali tidak tahu jika Senja selalu saja menutup dirinya dari mereka semua, ia terlihat begitu rapuh namun juga kuat. Muna tahu jika Senja memiliki banyak rahasia dibelakangnya namun ia tetap diam untuk terus menjaga privasi sahabatnya itu.
"Apa itu?" tanya Muna masih dengan tatapan penasaran.
"Kau pasti sudah tahu, setelah kejadian itu pasti banyak sekali para bangsawan yang akan mencari ku. Aku juga tidak bisa mengatakan dimana aku berada saat aku sedang tidak sadarkan diri."
Muna dengan tenang mendengar penjelasan Senja.
"Aku hanya ingin kau mengatakan kepada mereka jika selama ini aku berada di kediaman mu."
"Senja, aku tidak akan bertanya apa alasan mu untuk melakukan ini tapi kau harus tahu jika itu akan membuat Luna dan si kembar terluka. Mereka juga mencari mu."
"Karena itulah aku butuh bantuan mu."
"Mengapa aku?"
"Karena kau adalah orang pertama yang aku temui ketika membuka mata pada saat itu. Kau juga sangat bisa dipercaya meski mereka juga bisa namun berbeda dengan mu, kau sangat mengedepankan perasaan orang lain dari pada diri sendiri."
"Apa kau ingin memanfaatkan diri ku?"
"Tidak seperti itu, mengertilah jika aku belum bisa menceritakan segalanya sekarang."
" ... "
"Aku butuh waktu untuk itu, lagi pula bukankah memiliki satu atau lebih rahasia itu tidak masalah."
Senja tahu jika Muna sangat tidak suka masuk ke dalam privasi orang lain karena itulah Senja menyinggung soal itu saat ini.
"Kau tahu betul tentang diri ku rupanya."
" ... "
"Senja, tidak masalah memang memiliki satu atau lebih rahasia tapi jika hal itu mengganggu mu maka orang-orang yang berada disekitar mu akan terluka nantinya."
"Maaf."
"Hah, kau benar-benar membuat ku gila."
" ... "
"Apa kau tahu, kami telah mencari diri mu kemana-mana namun sama sekali tidak ada hasilnya."
"Maafkan aku."
Muna terlihat sangat kesal bahkan ia terlihat siap untuk meledak kapan saja.
"Kurasa tidak masalah untuk mengatakannya pada Muna."
"Muna ini hanyalah rahasia diantara kau dan aku." Senja diam beberapa saat sebelum memulai kembali perkataannya.
"Aku mohon jangan katakan ini bahkan kepada Luna atau pun si kembar. Aku hanya tidak ingin menyeret mereka dalam masalah."
"Apa maksud mu? Apa yang sebenarnya sedang kau tutupi dari kami?"
"Sebenarnya aku memiliki tiga elemen dasar."
Muna terlihat kaget mendengar perkataan Senja, matanya mulai bergetar tidak karuan sambil menahan napas untuk tidak meledak kapan pun.
"Sayangnya tubuh ku tidak sanggup menahan energi kuat dari ketiga elemen itu dan ketika salah satu diantara mereka terlalu kuat maka mana di dalam tubuh ku akan meledak." jelas Senja dengan suara sedih yang ditahan.
"Kau pasti sudah tahu jika seseorang yang lahir dengan dua elemen akan sangat di incar, apalagi aku yang terlahir dengan tiga elemen dasar. Tidak hanya itu, tubuh ku juga tidak kuat menahan ketiga elemen itu."
"Aku tidak ingin berada dalam masalah, jika para bangsawan tahu bahwa aku sedang sekarat. Apa yang nantinya akan mereka lakukan? Aku juga tidak menginginkan adanya rumor berbahaya seperti itu atau lainnya."
Muna hanya mendengar penuturan Senja dengan kaget tanpa bisa mengubah ekspresi serius di wajahnya.
"Dan karena hal itulah aku sering terlihat gelisah. Prof Edward juga membantu dalam melatih kekuatan ini namun karena elemen api dan es saling tidak cocok maka saat aku sering mengeluarkan sihir api maka mana es ku akan pecah dan hancur hal itu juga yang membuat ku terluka saat ujian."
"Hah, apa? Bagaimana bisa? Terlebih lagi Prof Edward membantu mu? Dan itu juga pecah?"
"Iya Prof Edward memang membantu ku, tapi karena tidak adanya keseimbangan antar elemen, maka tubuh ku akan mudah hancur jika salah satu diantara kedua energi secara berlebihan digunakan."
"Hah, kau benar-benar membuat ku gila, Senja" erang Muna sekali lagi sambil menjambak erat rambutnya.
"Mengapa kau tidak berhenti saja saat itu jika sudah mengetahuinya?"
"Aku sama sekali tidak sadar akan hal itu sampai pada akhirnya mana di dalam tubuh ku hancur," seru Senja jujur dengan apa yang ia katakan pada Muna.
"Aku tidak akan bertanya dimana kau selama ini berada tapi ingatlah satu hal untuk tidak pernah mengabaikan kesehatan mu, apa pun yang terjadi."
"Muna."
"Diam dan dengarkan aku," bentak Muna yang membuat Senja sedikit kaget dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
Senja sama sekali tidak mengetahui apa yang dipikirkan Muna saat ini atau bagaimana cara ia berpikir.
"Aku akan membantu mu untuk lolos dari pandangan mereka, namun kau juga harus berjanji padaku untuk melatih kekuatan mu agar tidak terulang kembali."
__ADS_1
Senja diam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.
"Kau bisa menggunakan tempat ini sebagai arena latihan. Disini tidak ada seorang pun bahkan mereka yang memiliki kekuatan tingkat tinggi tidak akan bisa melihat bangunan ini karena tempat ini sengaja dibuat oleh ayah untuk ibu ku yang sakit-sakitan dulu."
"Apa kau yakin?"
Tentu saja Senja sangat senang akan hal itu. Tempat ini sangat sempurna untuk latihannya selain ada danau penghubung tempat ini juga tersembunyi.
"Tentu saja, mereka yang datang kesini hanya bisa melihat danau tanpa bisa melihat bangunan yang ada di depannya."
"Begitukah."
Senja sangat bahagia dengan apa yang ia dapat kali ini. Selain perlindungan, ia juga mendapatkan tempat baru untuk bersembunyi.
"Aku akan memanfaatkan ini sebaik mungkin,"
Muna yang melihat Senja hanya bisa merasa tenang. Hal ini lebih baik dari pada tidak tahu sama sekali dan jika keadaan Senja memburuk, maka ia tidak akan pergi jauh. Ia masih berada dalam pengawasan Muna di tempat ini.
Keduanya saling melihat keuntungan masing-masing. Muna masih belum bisa mempercayai Senja seutuhnya namun ia juga tidak bisa membuat sahabatnya itu terluka.
"Apa kau sudah mendengar berita tentang mereka?" tanya Muna memastikan bahwa tidak ada informasi yang terlewatkan.
"Hah?"
Senja terlihat bingung dengan apa yang ditanyakan Muna barusan.
"Aku dengar jika pelayan itu akan di hukum mati tiga hari lagi."
"Ah, Amel. Aku merasa kasihan padanya, karena mereka menjadikannya kambing hitam."
"Kenapa kau bersimpati terhadap sampah sepertinya? Aku malah bersyukur jika ia akan mati namun aku juga kesal karena selir Jina sangat licik dalam menutup kasus kali ini."
"Apa maksud mu?"
"Selir Jina melakukan berbagai cara agar putrinya selamat. Dia juga yang membantu Sarah untuk keluar dari situasinya. Aku rasa mereka punya rencana di balik ini semua."
"Tunggu dulu, bukannya Sarah berhasil lolos karena ayah?"
"Itu tidak benar, Duke Ari bahkan tidak melakukan apa pun padanya. Duke juga terlihat tidak peduli terhadap Sarah ketika para penjaga menyeretnya keluar akademik."
"Ini berita besar, aku pikir ayah akan menjaga putri kesayangannya tersebut tapi ini..."
"Aku juga berpikir begitu tapi Duke Ari terlihat sangat khawatir pada mu, ia mencari keberadaan mu setelah kekacauan itu selesai di atasi."
"Aku mengerti."
Meski tidak bisa percaya, namun Morreti telah mengkonfirmasi sebelumnya, jika Duke Ari menyuruh seluruh ksatria untuk mencari Senja.
"Senja, rencana apa yang akan kau mainkan kali ini?"
"Jangan berkata seperti itu, aku jadi terlihat seperti seorang penjahat."
"Ya tidak ada salahnya juga untuk terlihat jahat bukan?"
"Kau benar, tapi kali ini aku berencana untuk memberitahu seluruh kerajaan bahwa aku sedang berada di kediaman Winter sehingga mereka yang mencoba untuk menyakiti ku akan berpikir dua kali."
"Cerdas sekali."
" ... "
"Kali ini akan aku biarkan kau untuk memanfaatkan posisi ku sebagai sahabat namun lain kali kau harus membayarnya dengan berterus terang pada ku mengenai kondisi mu."
"Baiklah," lirih Senja tidak percaya dengan Muna yang masih memasang wajah dingin ketika sedang berbicara seperti itu.
****
Pagi harinya seluruh kerajaan dibuat kaget dengan rumor baru mengenai Senja. Mereka ada yang bingung ada juga yang setuju bahkan setelah kejadian saat itu rumor yang palsu pun terlihat nyata. Senja yang terlihat di kediaman Winter sudah cukup membuktikan jika pihak Marques benar-benar menjaganya.
Tidak hanya itu, bahkan Duke Ari yang semula acuh terhadap Senja kini terlihat sangat peduli padanya dengan mengirimkan berbagai macam obat-obatan penyembuh dan juga pakaian untuk putrinya itu.
Para bangsawan yang mencoba untuk menyerang Duke Ari atau pun Marques kini harus berpikir ulang. Mereka tidak ingin mengambil resiko besar ketika dua kekuatan itu kini telah menyatu berkat persahabatan dari kedua putri mereka.
Raja yang merupakan orang paling berpengaruh di kerajaan ini bahkan mengirim berbagai macam obat-obatan untuk sahabat putrinya itu. Tidak hanya itu bahkan negara tetangga juga mengiriminya berbagai macam ramuan sihir untuk kesembuhan Senja.
"Kini kekuatan Duke Ari dan Marques Winter sangat hebat. Selain dari pihak Raja, mereka juga memiliki dukungan dari negara tetangga. Meski itu bukan negara besar, namun kekuatan mereka tidak bisa di remehkan."
Rumor demi rumor terus berkembang diantara masyarakat. Mereka sama sekali tidak berpikir jika persahabatan diantara para putri bangsawan tersebut dapat berdampak besar bagi keluarga mereka.
"Komposisi yang sempurna," seru salah seorang warga yang tengah melihat rombongan paket menuju kediaman Marques Winter.
"Putri kerajaan Luna de Green, Putri Utama Duke Senja de Ari, Putri kesayangan Marques Muna Winter, dan bahkan si kembar dari kerajaan Aruna yang salah satunya merupakan pewaris utama kerajaan itu. Kini mereka berlima berkumpul bersama atas nama persahabatan yang membuat para musuh berpikir dua kali sebelum menyerang mereka."
"Kau benar, terlebih lagi ketika salah seorang diantara mereka terluka, maka yang lainnya seperti kesetanan."
"Kita harus mewaspadai kelima Nona bangsawan itu, mereka bisa menjadi ancaman besar bagi kita atau mungkin bisa juga menjadi kekuatan bagi kita."
Para warga begitu antusias dalam menyabut bersatunya kekuatan besar tersebut namun mereka tidak mengetahui bahwa rumor tersebut telah membuat selir Jina dan para musuh dari kedua rumah tangga itu marah besar.
"Ini sangat seru," lirih Lucas yang sedang melihat Senja bersama ke empat sahabatnya itu.
"Tuan, persiapan sudah selesai."
__ADS_1
"Baiklah, mari kita pergi,"