Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Persiapan


__ADS_3

"Perlihatkan pada dunia bahwa kamu itu hidup dan berkembang di dalamnya, jangan takut untuk terlihat salah karena itu adalah titik awal keberhasilan mu kelak."


*****************#####*****************


Guild Moonlight lantai 3 terlihat tenang meski keadaan lantai bawah begitu riuh. Pasalnya ini adalah hari pertama dimana pejalan kaki di pasar gelap menyadari bahwa ada guild baru terbuka disana.


Biasanya para guild akan mempromosikan keahlian mereka secara terbuka dengan mengadakan pesta besar untuk mengundang semua kalangan ke dalamnya.


Namun guild baru ini bahkan tidak mengatakan apa pun. Mereka tumbuh seperti jamur yang baru akan diketahui jika sudah tumbuh besar.


Anehnya para pelayan di guild tersebut menggunakan topeng aneh dengan baju khusus yang membuat mereka terlihat seperti kultus sesat.


"Guild baru ini terlihat aneh," lirih salah satu pejalan kaki saat melihat seorang pria muda dengan topeng rubah dan simbol bulan di telinganya.


"Hei, tempat apa ini?" tanya pria kekar yang diikuti tatapan penasaran pejalan kaki lainnya.


"Tuan, kami adalah Guild Moonlight, dimana anda bisa menyewa atau membeli jasa kami dalam mendapatkan informasi.Jika anda membutuhkan informasi apa pun, silahkan kunjungi kami."


"Apa informasi yang kalian berikan itu valid?"


"Tentu saja. Kami akan memberikan informasi sesuai dengan tingkat dan biaya yang diberikan oleh klien. Dan tuan, anda juga bisa menjual informasi pada kami, tapi dengan premis bahwa informasi tersebut penting dan memang layak untuk dibeli. "


"Kalau begitu, berapa harga yang ditetapkan?" tanya salah satu pejalan kaki yang penasaran.


"Harganya akan bervariasi tergantung pada tingkat kesulitan dari informasi tersebut. Selain itu, ada syarat khusus bagi klien yang ingin menyewa jasa kami."


"Syarat khusus? Seperti apa syaratnya?" tanya pria kekar yang sejak tadi diam.


"Syarat khusus yang berlaku bagi klien itu ada dua. Pertama, harus menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Kami memperlakukan syarat ini agar baik dari pihak penyewa maupun klien tidak saling bias satu sama lain, dan bagi kami kerahasiaan adalah hal yang sangat penting."


"Lalu, apa yang kedua?" tanya si pejalan kaki.


"Kedua, Klien harus membayar satu koin emas untuk setiap permintaan. Itu diluar dari biaya klien dalam menyewa jasa kami. Jika anda merasa bingung, anggap saja satu koin emas itu sebagai uang masuk setiap kali klien mengajukan permintaan."


Dennis menjelaskan seluruh peraturan dan apa saja yang dimiliki oleh Guild. Ia seperti seorang sales profesional yang sudah lama berkecimpung dalam bidang ini.


"Bagaimana tuan? apakah kalian ingin mencobanya? Tapi tentu saja kalian harus memenuhi kedua syarat tersebut."


"Bagaimana jika kami tidak memenuhi syarat itu?"


Seorang wanita dengan pakaian kasual dan tatapan manis mendekati tempat itu. Ia terlihat begitu tertarik dengan penawaran yang dituturkan Dennis sebelumnya.


"Maaf Nona, itu sudah ketentuan guild ini. Jika anda tidak memenuhi kedua syarat itu, maka permintaan anda akan ditolak. Tidak peduli seberapa kaya dan terhormatnya anda, itu tidak berlaku disini." jawab Dennis tegas.


Wanita itu terlihat menyukai sikap tegas Dennis. Ia merasa perlu mencoba setidaknya sekali jasa dari guild ini.


"Baiklah, aku suka itu."


Wanita itu kemudian pergi, ia terlihat sibuk dengan kotak hadiah dibelakang pelayannya. Sejujurnya saja konsep yang dibuat oleh Guild Moonlight sangat cocok bagi para bangsawan dan kelas atas lainnya.


Terkadang mereka cenderung tertutup untuk urusan pribadi. Dan hadirnya guild baru ini membuat mereka tidak perlu khawatir akan kebocoran identitas.


****


Senja yang baru saja terbangun dari tidurnya mulai mendengar ocehan kasar di luar gedung. Ia dengan malas melirik jendela dan mendapati Dennis yang sedang berargumen dengan pejalan kaki disekitarnya.


"Apa sudah waktunya buka?" tanya Senja bingung. Pasalnya ia diberitahu jika guild Moonlight akan diresmikan tiga hari kemudian.


"Belum Nona, saat ini Dennis sedang mempromosikan guild." jawab Dian sambil menempatkan ember air hangat di atas meja.


"Hanya Dennis?"


"Iya Nona, hanya Dennis. Ia sangat pandai dalam hal promosi sehingga tugas ini diberikan padanya."


"Dim..."


"Yang lain sedang bekerja mengumpulkan informasi, Nona. Mereka sekarang sedang menyebar di berbagai tempat tersibuk di kerajaan ini."


Dian dengan cepat memotong perkataan Senja sebelum ia sempat menyelesaikan pertanyaannya.


"Bagus sekali." lirih Senja setelah mengelap wajahnya dengan handuk hangat.


"Nona, sudah waktunya anda kembali." seru Dian yang dijawab anggukan kepala oleh nona nya itu.


20 menit kemudian Senja turun dari lantai 3 menuju ruang bawah tanah. Pada saat ia berada di lobby, Senja melihat Dennis yang masih sibuk dengan promosinya.


"Aku suka dia,"


Setelah puas melihat keadaan lobby, Senja pun kembali melanjutkan misinya. Ia segera pergi menuju ruang bawah tanah bersama dengan Dian.


"Nona, portal sudah siap sejak 10 menit yang lalu." seru Dian saat mereka baru saja sampai di ruang bawah tanah.


"Bagus," Senja dengan santai melangkahkan kakinya menuju portal sihir.


Dalam hitungan detik, portal sihir mulai beraksi. Seketika pandangan Senja dan Dian mulai kabur. Mereka mengalami sedikit guncangan sebelum akhirnya menghilang dari ruangan tersebut.


"Nona, kenapa kita disini?" tanya Dian bingung saat melihat dinding putih yang tampak tidak asing.


"..."


Senja tidak menjawab, ia juga tidak memiliki kewajiban untuk menjawab semua pertanyaan bawahannya itu. Senja lalu pergi dari ruang bawah tanah menuju lantai pertama gedung ini.


Ketika membuka pintu, hal pertama yang Senja jumpai adalah manisnya aroma mawar dan segarnya daun mint. Ia merasa hidup kembali setelah malam panjang yang membuatnya stres.


"Nona, kamu disini." seru pelayan pria yang mengenakan celemek hitam di tubuhnya.


"Dimana sopan santun mu?" tanya Dian yang baru saja muncul dari balik pintu.


"Maaf Nona, maaf. Saya bodoh dan tidak tahu diri." Pelayan itu tampak gugup, ia menundukkan wajahnya berharap akan dimaafkan.


Senja yang melihat itu hanya diam sambil melangkah pergi menuju lantai dua. Ia tidak perlu repot-repot dalam mengurus hal ini karena itu bukan kewajibannya.


"Lain kali, sapa dulu majikan mu sebelum bertanya." jelas Dian sebelum mengikuti Senja menuju lantai dua.


Setibanya Senja dilantai dua, ia melihat Rima sedang bergelut dengan dekorasi ruangan. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Senja dan Dian disana.


"Rim..."


Belum sempat Dian menyelesaikan kalimatnya, ia melihat nona nya memalingkan mata sambil menyuruhnya diam.


Senja tidak ingin menggangu aktivitas bawahannya, ia dengan santai duduk disalah satu sofa yang ada di ruangan itu. Dian yang melihat itu segera keluar dari ruangan untuk menyiapkan teh dan cemilan.


5 menit kemudian Dian balik dengan membawa nampan berisi teh hitam, macaron dan kue sus. Terlihat simpel tapi itulah yang paling disukai Senja.


"Silahkan Nona," lirih Dian setelah menuangkan teh hitam ke dalam cangkir.


Tidak berselang lama, Rima yang masih fokus kini mulai teralihkan oleh aroma pekat teh hitam. Saat ia menoleh untuk melihat asal aroma tersebut, Tania sadar Rima terjatuh dari kursi dekorasinya.

__ADS_1


"Astaga, ada Nona disini? Aku tidak menyadarinya, betapa bodohnya aku."


Rima segera bangkit, ia dengan cepat menghadap ke depan meja Senja sambil memasang senyum penuh rasa bersalah.


"Selamat siang Nona, semoga hari mu menyenangkan." seru Rima dengan suara kakunya.


"Selamat pagi," balas Senja acuh tak acuh.


"Lanjutkan saja aktivitas mu kembali," lanjut Senja sebelum menyesap teh nya.


Rima yang mendengar itu merasa takut, ia pikir nona nya ini sudah marah besar karena diabaikan cukup lama.


"Maaf nona, maafkan saya. Lain kali saya akan menyambut anda dengan baik."


Melihat Rima yang ketakutan, Dian dengan pelan berbisik pada Rima. Ia menjelaskan jika nona mereka tidak bermaksud lain. Ia sengaja tidak memanggil Rima agar tidak menggangu pekerjaannya.


"Benarkah?" tanya Rima lirih.


"Benar."


Setelah mendengar perkataan Dian, Rima pun merasa lega. Ia segera berdiri dari duduk nya dan kembali menyelesaikan dekorasi ruangan tersebut.


"Dian, lain kali katakan pada mereka untuk jangan menyapa ku apabila ada pelanggan di tempat ini. Aku tidak ingin mereka tahu jika akulah pemilik asli toko ini."


Dian jelas mengerti apa yang dimaksud nona nya. Ia pun segera mengabari rekan dan bawahan yang lain mengenai permintaan nona mereka itu. Setelah menginformasikan perintah itu, Dian lalu kembali ke sisi Senja dengan membawa sepucuk surat.


Senja kemudian mengambil surat tersebut dan membacanya. Senyum misterius muncul dari bibir Senja. Ia terlihat sangat senang dengan kabar yang dituliskan pada surat tersebut. Senja lalu mengambil lilin aroma yang ada di depannya dan membakar surat tersebut tanpa sisa.


"Aku sudah mendapatkan seluruh alur permainannya."


"Siapkan kereta kuda, aku akan mampir sebentar ke rumah." seru Senja yang dijawab anggukan kepala Dian.


*****


Mansion Duke Ari Paviliun Tulip


"Tempat ini masih sama seperti terakhir kalinya," gerutu Senja kesal ketika melihat halaman miliknya yang tidak terawat.


"Sepertinya kita perlu menasihati mereka sedikit. Dian, kau tahu harus berbuat apa bukan?"


Dian menganggukkan kepalanya sebelum menghilang dari pandangan Senja.


"Aku harus menyapa Duke sebelum pergi dari sini."


Senja lalu bangkit dari duduknya dan segera pergi ke rumah utama. Di sana ia melihat selir Reliza sedang berbincang ringan dengan salah satu pelayannya sebelum menatap kearah Senja dengan sinis.


"Dasar ja**ng." lirih selir Reliza ketus.


Senja bisa mendengar ******* selir Reliza sebelum ia menghilang dari ujung lorong. Beberapa menit kemudian Senja sudah berada tepat di depan pintu ruang kerja Duke.


Tidak seperti biasa, kini Senja sudah bisa masuk ke dalam ruangan tersebut Tania harus menunggu terlebih dahulu. Disana Senja bisa melihat betapa sibuknya Duke kali ini.


"Ada perlu apa kau datang kesini? Apa kau membutuhkan uang untuk membeli peralatan untuk mendukung ujian mu sama seperti Sarah dan Arina?"


"Jadi begitu rupanya, mereka juga datang kesini untuk alat pendukung. Aku rasa mereka sungguh bersiap untuk perang."


Tanpa Duke sadari, ia sudah membocorkan rahasia penting Arina dan Sarah. Dengan ini Senja merasa ia tahu harus berbuat apa untuk selanjutnya.


"Alat apa yang mereka beli ayah?"


"Anti-magic." jawab Duke acuh tak acuh.


"Lalu, alat apa yang kau butuhkan?" tanya Duke sambil melepas kacamatanya.


"Tidak ayah, aku tidak membutuhkan itu."


"Yang aku butuhkan hanya uang, uang dan uang." lanjut Senja dalam hatinya.


"..."


Melihat Duke yang diam, Senja pun segera memberikan alasan yang valid. Ia mengatakan kepalanya untuk melihat mata Duke sebelum tersenyum hangat pada ayahnya itu.


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan ku wilayah timur, itu saja."


"Begitu? Apa kau masih berfikir bahwa aku tidak akan memberikan mu hal yang sama seperti yang aku berikan kepada saudara mu lain?"


"Bukan begitu ayah, hanya saja aku tidak membutuhkan apa pun dalam ujian kali ini. Aku percaya dengan kemampuan ku sendiri."


Duke hanya menatap Senja dengan pandangan tidak percaya, bahkan Noah yang dikenal kuat sekalipun membeli beberapa peralatan untuk mendukungnya saat ujian.


"Hah."


Duke menghela napas panjang dengan sikap keras kepalanya Senja. Ia lalu menarik salah satu laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kantong hitam seukuran telapak tangan orang dewasa.


"Ambil ini."


Duke melemparkan kantong hitam tersebut kearah Senja, dengan reflek Senja mengambil kantong tersebut dan saat ia berhasil menangkapnya, seketika tubuh Senja bergetar kaget.


"Apa ini ayah?"


"Itu adalah batu sihir berkualitas tinggi yang aku dapatkan sebagai hadiah perjamuan di kerajaan tetangga."


"Ini, luar biasa."


"Karena kau seorang penyihir, batu sihir dapat mendukung kekuatan mana mu. Aku tidak terlalu bagus menggunakannya karena aku adakah ksatria, meski begitu kau pasti akan bisa menggunakannya lebih baik daripada aku."


"Terima kasih ayah. Aku akan menggunakan ini dengan baik."


"Baguslah."


Tidak disangka pertemuan Senja dengan Duke memberikan hasil yang bagus bagi rencananya. Tentu saja ia tidak akan menggunakan batu sihir berkualitas tinggi tersebut pada ujian kali ini.


"Ujian akan dimainkan sesuai rencana awal dan untuk batu ini, aku akan menggunakannya dilain kesempatan."


****


Setelah urusannya selesai, ia segera pergi menuju akademik melalui portal sihir yang terhubung langsung ke kamarnya. Ketika sampai Senja melihat Vanilla yang sudah tumbuh semakin besar dari bentuk awalnya.


"Lily, apa yang kau dapatkan kali ini?"


"Wah itu terlihat sangat lucu, seperti yang anda duga bahwa pelayan palsu itu bekerja sama dengan adik tiri mu, Sarah."


"Lalu?"


"Mereka berencana untuk membuat mu sakit di awal permainan. Lucu sekali bukan, mereka bahkan tidak tahu jika anda bisa mengontrol racun dengan bantuan Ristia."


"Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa pun," seru Senja bangga. Kun yang melihat itu hanya bisa mendengus.

__ADS_1


"Kau, kenapa?"


"Bukan urusan mu."


"Dasar kucing pemalas."


Kun bahkan tidak peduli dengan teriakan Senja. Ia hanya membalikan tubuhnya lalu tertidur kembali seperti tidak ada yang terjadi di tempat itu sebelumnya.


Keesokan paginya, sesuai dengan yang dikatakan Lily semalam bahwa Amel dan Sarah berencana untuk mengganggunya pagi ini. Terlihat dari aroma teh yang masih sama namun rasanya sedikit berbeda dengan campuran obat mules yang sengaja diletakkan di dalamnya.


Senja hanya tersenyum melihat kelakuan Amel kali ini. Ia perlahan menatap Lily yang tidak terlihat sebelum meminum teh tersebut sampai habis.


"Ini enak."


"Terima kasih Nona."


"Amel, untuk sekarang kau ku bebaskan. Dian sudah kembali, sekarang kau bisa beristirahat sesuai dengan keinginan mu saat itu."


"Terima kasih banyak Nona, terima kasih."


Senja hanya mengangguk lalu menyuruhnya keluar. Disaat Amel sudah tidak terlihat lagi, ekspresi wajah Senja langsung berubah kusut, ia terlihat kesal sambil membanting cangkir teh ke lantai.


"Vanilla apa kau sudah siap bekerja untuk pertama kalinya hari ini?"


"Siap. Saya siap," teriak Vanilla berulang kali. Hari ini adalah awal dari balas dendam yang sesungguhnya.


"Hmm, ku rasa memotong sedikit dari mereka lebih bagus. Bukan begitu?"


*****


Setelah Prof Xei selesai menyampaikan apresiasi kepada siswa yang akan mengikuti ujian. Semua peserta kemudian diberikan masing-masing di antara satu buah gulungan kertas yang bertuliskan ying dan yang.


Gulungan kertas itu harus seimbang satu sama lain, yang artinya mereka harus merebut gulungan siswa lain untuk bisa lolos ujian kali ini. Bukan hanya akan melawan monster di dalam hutan, kini mereka juga harus melawan satu sama lain.


"Beruntung kita mendapatkan gulungan yang berbeda dari mereka, sehingga akan mudah bagi kita untuk memberikan alasan mengapa mereka terluka dalam pertarungan kali ini," seru Dira tajam sambil melirik ke arah Luna dan yang lainnya.


Pada dasarnya hal itu sudah sejak awal diatur oleh Dira dan juga pangeran kelima agar mereka mendapatkan gulungan yang berbeda dari kelompok Luna.


"Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mati," lirih Mari sambil menjilat bibir bawahnya.


Terkadang Dira merasa aneh dengan sifat gila yang dimiliki Mari sahabatnya itu, namun dia juga tidak membenci sifat itu.


"Jangan lepas kendali di awal permainan. Itu sangat tidak bagus."


"Baik, aku akan mengingatnya."


Sebelum berangkat ke aula untuk mengikuti upacara penyambutan sekaligus pelepasan ujian. Senja sempat menyuruh Lily menyembunyikan energi Vanilla dan Kun.


Hal itu karena energi Kun dan Vanilla yang terlalu besar akan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi panik. Senja tidak bisa membuat musuhnya panik dan meninggalkan dirinya tanpa adanya imbalan.


"Kun, kau bisa tetap dalam tubuh seperti ini sampai aku memintamu untuk berubah nantinya, dan untuk Vanilla. Kau dan Lily bisa tetap tidak terlihat di atas ku, dan ingat jangan tampakkan diri kalian apa pun yang terjadi disana nantinya. Hanya Kun yang akan ikut aku kali ini untuk bermain," seru Senja acuh tak acuh.


"Baiklah."


"Bagus, dan Lily tolong sembunyikan energi Vanilla dan Kun selama permainan dimulai. Aku tidak ingin ada musuh yang kabur sebelum aku sempat menyerang."


"Baiklah, tidak masalah bagiku."


****


"Senja, kau sedang memikirkan apa?"


Senja tersentak kaget ketika Muna memukul ringan bahunya.


"Tidak ada, aku hanya sedikit lelah."


"Jangan khawatir kita akan baik-baik saja."


"Muna benar, kita akan baik-baik saja kali ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun diantara kita terluka."


Luna yang baru tiba di samping Senja kemudian memberikan air mineral padanya untuk bisa membuat Senja sedikit tenang. Pada dasarnya Senja tidak gugup sama sekali. Ia malah sangat senang sampai rasanya tidak sabar untuk memukul habis mereka semua.


"Wah dia lucu sekali, ini Kun yang kau katakan waktu itu bukan?" tanya Zakila lembut sambil mengelus bulu Kun.


"Itu benar, sekarang dia sedang tidur, meski pun ia memang pada dasarnya tukang tidur sih."


"Lembut sekali bulunya. Aku juga membawa Miki."


Zakila lalu mengangkat Miki ke dalam pelukannya masih dengan senyum hangat pada Senja.


"Kami juga membawa yang lainnya."


"Sepertinya mereka akan menjadi teman yang akrab," seru Luna ketika Armi miliknya dihinggapi oleh Poni, hewan magic milik Maya.


"Ami sepertinya bakal punya teman baru juga kali ini."


Sekarang Ami, hewan magic Muna yang hinggap di samping Poni di atas tubuhnya Armi.


"Hahahaha, mereka lucu sekali."


Zakila tidak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah Armi yang acuh tak acuh ketika Miki meloncat ke kakinya.


Dari jauh Dira dan kelompoknya mencibir Luna dan yang lainnya. Meski begitu Dira senang karena memikirkan bahwa mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam hutan nantinya.


"Mereka terlihat bahagia. Dasar orang-orang bodoh."


"Biarkan saja itu, mereka hanya memiliki waktu untuk tertawa sekarang karna nantinya mereka akan menangis meminta pengampunan."


Dira dan kelompoknya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka terlalu sibuk untuk melihat Luna dan yang lainnya saat ini.


****


"Siswa sekalian, waktu kalian hanya 7 hari hari di dalam hutan sebelum ujian dinyatakan selesai. Bagi mereka yang memiliki gulungan lengkap maka ia akan dinyatakan lulus namun bagi yang hanya memiliki satu gulungan jangan khawatir karena kalian nantinya akan diadu kembali disini dengan siswa lainnya yang juga hanya memiliki satu gulungan saja. Dari hasil pertarungan tersebut yang menang lah yang akan lulusan sedangkan bagi yang kalah, kalian akan mengulangi ujian ini tahun depan bersama dengan murid baru lainnya."


Semua murid menegang mendengar bahwa pada akhirnya mereka juga akan tetap bertarung satu sama lain untuk bisa mendapatkan label kelulusan.


Setelah selesai menyampaikan tata cara ujian, pintu gerbang menuju hutan pun segera dibuka. Tampak di dalamnya begitu terang dan tenang. Ketenangan itu bahkan bisa membuat seseorang tercekik, tanpa pikir panjang satu persatu kelompok mulai memasuki hutan.


Para penonton yang melihat baik dari para bangsawan maupun rakyat biasa bersorak dengan kepergian mereka.


"Huh, berisik sekali dibelakang," gerutu salah satu siswa yang tampak sangat gugup ketika memasuki hutan.


"Mereka sangat senang melihat kita bertarung dan terluka, bahkan mati di dalam sana," cibir yang lain dengan ekspresi tabah diwajahnya.


Senja dan yang lainnya lalu memasuki hutan setelah kelompok Dira menghilang dari balik pohon besar di depan mereka.


"Kini, permainan yang sesungguhnya akan dimulai."

__ADS_1


Senja tersenyum acuh sambil memasuki area hutan bersama dengan Kun yang ada di pelukannya.


__ADS_2