
"Ketenangan kadang membuatmu lupa akan adanya bahaya, namun ingatlah bahwa kancil bisa jatuh ke tangan buaya karna sungai yang damai."
*****************#####*****************
Setelah memasuki hutan, pintu gerbang yang terhubung langsung dengan akademik segera ditutup. Senja dan yang lainnya segera mengambil rute berlawanan dari kelompok Dira.
"Kita akan bergerak dengan santai mulai saat ini." seru Luna saat mereka sudah terpisah jauh dari kelompok lain.
"Kenapa begitu?" tanya Zakila bingung.
"Kita perlu menghemat tenaga untuk saat ini." jawab Luna tenang.
"Kurasa kau benar."
Luna dan Zakila berbincang ringan selama perjalanan menuju titik lokasi awal. Anehnya setiap jalan yang mereka lalui terasa sepi. Tidak ada siswa atau pun hewan liar yang menghadang perjalanan mereka.
"Tenangnya hutan ini." lirih Muna pelan. Ia merasa ada suatu yang salah, namun ia tidak mengetahui apa itu.
"Mungkin saja mereka takut sehingga lebih memilih menjauh dari pada mendekat." balas Senja sambil mengelus lembut tubuh Kun.
"Kurasa kau benar."
"Tentu saja mereka tidak ada. Aku sengaja menyuruh Lily untuk menutup jalan ini sehingga mereka hanya bisa melihat hutan, bahkan para monster dengan sendirinya menjauh karena hawa keberadaan Kun yang tidak bisa ditutupi sepenuhnya."
"Bukankah ini bagus?" tanya Zakila polos seolah ia sama sekali tidak mengerti kekhawatiran teman-temannya.
"Mungkin itu bagus untuk saat ini, namun situasi ini sangatlah janggal." seru Luna setelah diam beberapa saat.
"Luna benar, situasi ini sangat janggal. Kita bahkan tidak menemukan seekor monster pun selama perjalanan. Anehnya, para profesor mengatakan jika mereka melepas banyak monster di hutan ini dua bulan lalu." jelas Muna yang mendapatkan anggukan kepala Maya.
"Juga tidak mungkin mereka semua mati kelaparan di hutan ini selama dua bulan itu." lanjut Muna yang lagi-lagi di jawab anggukan oleh Maya.
"Maya, kau bisa saja sakit kepala jika mengangguk terlalu cepat." batin Senja menahan tawanya.
"Untuk saat ini fokus saja mencari tempat istirahat." seru Luna setelah memperhatikan sekeliling mereka.
"Hari sudah mulai gelap, bahaya jika kita berada di luar tanpa adanya perlindungan." lanjutnya sembari melangkah pergi.
Para penonton yang menyaksikan Senja dan temannya mulai merasa bingung. Mereka heran karena Senja dan temannya bahkan tidak di datangi oleh hewan liar mana pun.
Jika melihat kelompok siswa lain, maka bisa dipastikan kini kondisi mereka tengah sibuk berburu hewan liar, bahkan sebagian ada yang masih bertarung. Salah satu siswa bahkan sudah kehilangan begitu banyak tenaga dalam bertarung bahkan ada juga yang sudah kehabisan mana.
Namun anehnya sisi Senja tampak damai sejak awal masuk hutan hingga saat ini. Mereka bahkan tidak terluka sedikit pun atau bertemu dengan siswa mana pun.
Penonton merasa curiga bahwa Senja dan temannya menggunakan alat magic khusus yang membuat mereka tidak terlihat. Itu bisa saja menipu penglihatan siswa lain tapi hal itu tidak berlaku untuk kamera pengintai.
"Mereka sangat beruntung," seru salah seorang penonton ketika mendengar obrolan Senja dan yang lainnya melalui jendela perekam yang ada di langit.
"Kurasa mereka akan segera mendapatkan masalah besar. Bagaimana pun juga, kadang setelah tenang mungkin saja bisa terjadi badai." Balas pria yang berada di belakang kursi kursi penonton itu.
"Kurasa kau benar, mungkin saja jalan yang mereka pilih adalah jalan monster yang lebih berbahaya sehingga monster lain menghindar jalan tersebut."
Para penonton saling sahut-menyahut dengan argumen yang berbeda. Mereka terlihat sangat menikmati ujian tersebut.
"Bagaimana bisa? Bahkan Dira saja sampai kesusahan seperti itu," lirih Helios tidak suka. Ia sudah sejak awal curiga dengan Senja dan kelompoknya.
Ketika melihat wajah Senja di awal ujian, ia sudah memiliki firasat yang buruk. Ia merasa bahwa saat ini Senja kelihatan sangat berbeda dari penampilan nya yang dulu Meski wajahnya masih tetap cantik, tapi sifatnya entah mengapa lebih bebas dari dulu.
"Aku tahu kecantikan permaisuri Mawar sangat melegenda, hal itu juga dapat terlihat dari garis keturunannya. Mereka terlihat seperti pinang yang dibelah dua. Tapi tetap saja sifatnya itu membuat ku muak."
Pertama kali Helios melihat Senja, ia sudah jatuh cinta. Namun pada saat itu, Helios merasa bahwa Senja hanya memanfaatkannya untuk bisa lepas dari kediaman Duke. Ia merasa sakit hati lalu pergi memilih Arina yang polos dan lembut.
"Arina dapat lebih mudah untuk di kontrol karena sifatnya yang naif. Tapi entah kenapa rasanya lebih nyaman dengan Arina karena dia selalu terbuka dibandingkan dengan Senja yang tertutup dan pemalu."
Helios teringat wajah Senja yang diam dan kaku tanpa senyum diwajahnya. Terlihat seperti mayat hidup dibandingkan dengan manusia normal. Hal itu membuat Helios merasa jijik. Ia sangat menyukai wanita lemah-lembut yang mudah dikendalikan.
"Aku tidak suka dengan keras kepalanya yang selalu acuh tak acuh."
Helios menyayangkan sifat mandiri Senja, ia merasa jika wanita itu harus menuruti semua keinginan pria dan mengutamakan pria dibandingkan dirinya.
Senja dengan egois selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca. Hobinya itu membuat Senja pandai dalam mengamati, sehingga Helios takut bahwa Senja nantinya akan menjadi penghalang bagi dirinya menuju tahta kerajaan.
"Pangeran?" panggil selir Jina ketika mendapati putranya yang termenung.
Helios yang kaget pun segera kembali ke kenyataan. Ia mendapati selir Jina tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Iya Ibu, ada apa?"
"Jangan melamun di tempat ini, fokuslah. Kamu bisa saja diejek dari belakang jika terlihat seperti orang idiot."
Nasehat selir Jina hanya di jawab dengan senyum hangat oleh Helios. Ia tahu betapa kuat keinginan ibunya atas posisi permaisuri dan menginginkan dirinya mendapati tahta kerajaan.
"Iya ibu," lirih Helios tabah. Ia kemudian kembali melihat ke arah layar dimana Senja dan temannya tengah memasuki pintu goa.
****
Hari kedua di hutan buatan tidak terlalu baik, tiba-tiba saja hujan muncul dan membanjiri area tersebut. Senja dan kelompoknya masih berada di dalam goa saat hujan terjadi.
"Untung saja kita menemukan tempat ini." seru Zakila saat hujan di area itu mulai membawa banjir.
__ADS_1
"Jangan terlalu senang, kita tidak tahu apa yang akan mena.."
"Aku tahu, tidak usah terlalu serius, santai saja. Lagi pula, kita semua sudah bersiap untuk serangan mendadak." potong Zakila yang masih marah dengan rencana teman-teman.
Mereka baru memberitahu Zakila tadi malam tentang rencana tersebut. Untung saja Zakila sudah menduga hal ini sejak awal, jadi ia tidak terlalu terkejut.
"Aku masih kesal, dengan kalian. Jadi biarkan aku bersantai." lanjut Zakila dengan wajah menekuk kesal.
"Maafkan kami, saat itu kamu masih sakit. Jika kami membicarakan hal ini pada mu, mungkin saja sakit mu akan semakin parah." tutur Maya yang ke dua puluh tiga kalinya.
"Ya ya ya, terima kasih atas perhatiannya." balas Zakila lagi dan lagi seperti itu.
"Biarkan saja dia," gumam Muna yang masih bisa di dengar oleh semuanya.
Zakila hanya menghela napas kesal sebelum memalingkan wajahnya untuk melihat air hujan diluar.
Setengah hari sudah berlalu namun hujan masih terus turun tanpa ada tanda-tanda untuk berhenti. Baik Senja maupun kelompok lainnya masih bersembunyi di sarang mereka tanpa ingin keluar.
"Malam ini kita masih memiliki stok untuk makan, namun besok kita harus mencari bahan tambahan." seru Luna saat melihat persediaannya yang mulai menipis.
"Aku dan Senja yang akan mencari bahan tambahan besok. Kalian tetap berada di Goa dan bersembunyi sampai kami datang kembali." balas Maya yang dijawab anggukan kepala semuanya.
Sudah Dua hari Senja dan temannya berada di gua tersebut. Namun mereka masih belum menemukan satu monster pun yang berkeliaran di sekitar area goa. Mereka terlihat seperti sedang berpiknik dari pada melakukan ujian kenaikan tingkat.
"Nyamannya," lirih Zakila ketika meredam kakinya ke dalam air sungai yang ada disekitaran gua. Sungai itu ditemukan saat mereka sedang mencari stok bahan makanan.
"Bagaimana dengan makan malam kita hari ini?"
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mendapatkan lebih dari pada cukup untuk kita makan," seru Muna sambil melirik kearah ikan hasil pancingannya.
"Muna, aku akan memeriksa area sekitar sekali lagi bersama Luna. Kita perlu mencari siswa lainnya untuk melengkapi gulungan." seru Maya sambil meletakkan pancingannya.
"Baiklah," jawab Muna acuh tak acuh masih dengan pancingannya.
Maya yang tidak peduli dengan reaksi Muna pun pergi menghampiri Luna untuk berkeliling sebentar.
Dua hari telah berlalu tapi penonton masih belum melihat Senja dan temannya bertarung. Mereka terlihat santai meski siswa lainnya sudah ada beberapa yang gugur.
"Mereka sungguh beruntung dan itu membuat ku gila," teriak seorang penonton dengan frustasinya.
Mereka sudah melihat begitu banyak siswa yang terluka bahkan ada yang sudah di diskualifikasi karena menyerah ditengah pertarungan. Ada juga yang merasa lelah karena harus melawan monster dan para siswa untuk merebutkan gulungan kertas.
Ujian semester awal akademik memang cukup sulit. Hal ini dikarenakan hanya segelintir siswa saja yang dapat bertahan di akademik, meski begitu hasil yang mereka dapat sungguh luar biasa.
Akademik pun hanya menerima mereka yang kuat baik secara mental maupun fisik. Apabila gagal, mereka harus mengulanginya tahun depan dan jika mereka lulus maka untuk ujian selanjutkan akan lebih mudah dari pada ini.
Salah satu penonton berteriak dengan senang dan bangga seolah ia telah menemukan harta nasional.
"Aku juga."
"Aku juga."
"Kalau begitu aku juga akan bertaruh untuk putri bangsawan yang itu."
Para penonton saling memasang taruhan masing-masing. Mereka sangat antusias dengan hasil yang akan didapat ketika ujian selesai.
Disisi lain, Senja yang duduk diam di pintu goa mendapatkan kabar tidak terduga dari Lily. Ia mendengar bahwa ada beberapa pemburu ilegal yang datang ke hutan ini melalui teleportasi ditempat yang tidak bisa dilacak oleh jendela pengawas.
"Ternyata mereka sudah mulai bergerak."
"Lalu Nona, kapan kita akan menyusul?"
"Belum saatnya, masih ada lima hari lagi sebelum ujian selesai."
"Sangat lama, sangat bosan," cicit Vanilla tidak sabar untuk melihat momen menarik tersebut.
Beberapa saat kemudian Muna dan Zakila kembali ke goa bersamaan dengan tangkapan mereka. Lima belas menit kemudian Luna dan Maya pun kembali.
Mereka kemudian melaporkan situasi di sekitar area goa yang tetap aman meski mereka sudah berkeliling lebih jauh dari pada sebelumnya.
"Besok adalah hari perburuan pertama kita." seru Luna dengan tatapan tegasnya.
"Dimengerti."
Mereka berlima kemudian masuk ke dalam goa dan beristirahat setelah selesai menghabiskan makan malamnya.
****
Matahari terbit dengan cerah hari ini, suara burung saling bersaut satu sama lain. Mereka seperti tengah memainkan melodi kematian sebelum perang dimulai.
Senja dan temannya sudah bersiap untuk berburu. Hari ini adalah hari ketiga mereka berada di hutan buatan. Awal perjalanan mereka tampak mulus sampai dua jam setelahnya seekor monster datang menyerang kelompok itu.
"Nona aku sudah mempersiapkannya sesuai dengan perintah mu." bisik Lily memalui link batin.
"Bagus."
Senja sengaja menyuruh Lily untuk mengendurkan penghalangnya karena sudah saatnya bagi mereka untuk berolahraga setelah dua hari diam.
Satu-dua monster berhasil mereka kalahkan. Tentu saja hal itu tanpa campur tangan Senja sama sekali. Ia hanya berdiri diam sambil mempersilahkan keempat temannya menunjuk bakat mereka pada publik.
__ADS_1
"Semua siswa tahu jika hutan ini sudah diawasi oleh kamera pengawas dan disiarkan secara langsung di hadapan para tamu dan penonton. Jadi aku sengaja bertingkah tidak mencolok karena akan berbahaya nantinya."
Senja menonton dalam diam saat ia melihat temanya bertarung. Disana ia melihat Zakila yang memiliki dinding pelindung memblokir serangan para monster sedangkan Muna dan Maya menggunakan aura mereka pada pedang masing-masing.
Mereka kemudian menyerang monster itu dari berbagai arah sedangkan Luna dengan cepat melafalkan mantra teleportasi untuk memindahkan Maya dan Muna agar ruang lingkup pergerakkan mereka semakin besar.
"Sungguh kerja sama tim yang baik,"
Senja saat ini berada di atas punggung Armi dengan Poni yang bertengger di atas kepalanya. Sedangkan Miki berada di depannya dan Ami berada di belakangnya.
Hal ini menimbulkan pandangan yang lucu pada Senja. Ia seperti seorang housekeeping yang tengah menjaga hewan pribadi teman nya.
"Aku ingin pulang saja," gumam Senja kesal dengan posisinya saat ini.
Dua jam yang lalu sebelum mereka bertarung, Luna dan Muna sepakat tidak membiarkan Senja ikut serta. Ia merasa mereka berempat sudah cukup dalam menangani hal ini.
Tentu saja Senja menerimanya dengan senang hati. Ia tidak perlu susah payah menyembunyikan kemampuannya karena ada keempat temannya yang peka akan hal itu.
"Ya meski pun mereka menganggap aku lemah, setidaknya itu sangat menguntungkan ku."
"Memikirkannya kembali membuat ku tambah kesal." lirih Senja saat Miki mulai menaiki tubuhnya untuk bergelantungan.
Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kini giliran mereka untuk beristirahat sebentar dan mengisi kembali mana dan kekuatan dengan makanan yang mereka bawa tadi.
Ketika sedang menikmati makanan itu tiba-tiba saja sebuah serangan datang secara mendadak. Serangan itu terfokus untuk membelah mereka berlima ke beberapa titik.
Dari kejauhan mereka bisa melihat Dira dan kelompoknya datang menghampiri Senja dan temannya dengan wajah sumringah.
"Akhirnya aku menemukan kalian." seru Dira bahagia.
"Sial." gumam Maya yang hanya didengar Zakila.
Suara tawa memenuhi tempat itu tanpa henti, terlihat Dira dan Arina yang tengah memandang rendah ke arah Luna dan Senja.
"Aku akan menghabisi mu kali ini, Muna," teriak Tasya tidak sabaran.
Muna hanya tersenyum acuh tak acuh sebagai tanggapan. Melihat itu membuat darah Tasya semakin menggila.
"Kalian sangat kacau. Ckckck."
" ... "
Kelompok Senja hanya bisa diam melihat tatapan aneh Dira dan rekannya. Mereka kemudian saling memandang satu sama lain sebelum mulai fokus pada Dira dan Arina.
"Melihat kalian tetap diam, sepertinya kalian benar-benar pengecut yang ahli." sindir Mari masih dengan senyum jahatnya.
"Kun...!!"
Teriak Senja kaget ketika Kun tiba-tiba saja melompat dari pangkuannya dan menghilang dari balik pohon.
"Sial." seru Maya mulai terpancing. Melihat hal itu membuat kelompok Dira semakin tertawa senang.
"Lucu sekali, hahaha. Betapa pengecutnya kucing kampung yang kau bawa itu," cibir Dira memandang rendah ke arah Senja yang di ikuti tawa Arina.
Senja menatap tajam pada Dira sebelum mengeluarkan mantra panah ke arahnya namun sayang panah tersebut berhasil dihadang oleh Mari.
"Hahaha. Dasar lemah," teriak Mari namun tanpa Mari sadari sebuah pedang mengarah ke lehernya.
Meski pun Mari bisa menghindar dengan reflek namun ujung pipinya sempat tergores oleh tajamnya aura dari pedang tersebut.
"Beraninya kau," teriak Mari kesal sambil menghantamkan perisainya pada Maya yang kemudian dihalangi oleh Zakila.
"Kembar sialan."
"Hehehehe."
Tawa Maya terdengar samar akibat benturan hebat yang dibuat oleh Muna untuk menghalangi Tasya mendekati Senja namun itu cukup kuat untuk bisa di dengar oleh Mari seorang.
"Serang."
Dengan satu kalimat yang keluar dari Dira, pertempuran di tempat itu pun terjadi. Arina menggunakan mantra cambuk dari tanah untuk menghadang pukulan Luna, sedangkan Dira yang berhasil menerobos pertahanan Muna langsung mengarahkan pedang apinya dan siap menebas leher Luna.
Melihat hal itu Senja menggunakan mantra angin nya untuk menarik Luna sebelum melakukan teleportasi kepada ke empat sahabatnya yang lain.
Dira yang sadar bahwa Luna dan rekannya akan berteleportasi langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ia terlihat sangat kesal sampai menghantamkan pedang apinya ke tanah dengan kuat.
"Sialan, mereka kabur."
"Cih." Dengus Mari kesal.
"Aku belum melakukan pemanasan tapi mereka sudah kabur." Seru Tasya sama kesalnya dengan mari.
Gerutuan kesal mulai keluar dari satu persatu dari bibir Dira. Ia tampak emosi melihat cahaya perak yang tersisa dari hasil teleportasi tersebut.
"Kali ini kalian selamat tapi lain kali jangan harap," seru Dira sambil menyentuh bekas teleportasi tersebut.
Dira kemudian menyuruh Arina untuk melacak kelompok Luna dari bekas teleportasi yang di tinggalkan oleh Senja.
"Aku akan menemukan kalian segera, tunggu saja,"
__ADS_1