Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pertemuan pt 6


__ADS_3

"Kemarahan dapat membuat mu lupa dan menjadi gila tak terkontrol."


******************#####****************


"Apa kau sedang bermain dengan ku?" bentak Kaira saat Dian mulai mengepak barangnya.


"Apa ada masalah dengan itu?" tanya Dian balik dengan tampang acuhnya.


"Kau!" pekik Kaira kesal.


Kaira kemudian membanting meja yang ada dihadapannya dan membuat seluruh cip di atas meja jatuh berhamburan.


Cip-cip itu tidak lain adalah milik Kaira sendiri sedangkan milik Dian sudah dibawa pergi lebih dulu oleh pelayan bar untuk ditukar. Dian hanya menatap datar meja yang sudah berbalik kearahnya. Ia terlihat acuh tidak peduli dengan tempramen Kaira yang tidak terkontrol saat ini.


"Apa kau ingin menyerang ku?" tanya Dian dengan suara dinginnya.


"Kau tahu bukan peraturan di kasino ini. Aku rasa bukan sekali atau dua kali kau bermain judi disini." lanjut Dian sebelum berdiri dari duduknya.


" ... "


Kaira yang marah tampak siap meledak saat itu juga.


"Sayang sekali, wanita cantik seperti mu tidak tahu etika dasar di bar ini," lirih Dian semakin memprovokasi Kaira.


"Sialan kau!" pekik Kaira sekali lagi dengan tangan yang sudah terkepal erat.


"Nona, kendalikan diri mu," seru Opi saat Kaira siap menghantamkan Dian dengan tinjunya.


"Bodoh amat," balas Kaira dingin sebelum memutus link dari Opi.


Dian yang sadar jika dirinya dalam bahaya, langsung menghindar dari serangan fatal Kaira. Para tamu yang melihat serangan Kaira, semuanya berhamburan menjauh dari lokasi tersebut. Mereka tampak panik saat Kaira terus saja menyerang Dian tanpa memberinya waktu untuk bernapas.


"Wanita itu sudah gila," seru salah seorang penonton yang berada di lantai dua.


"Lucu sekali, dia tidak terima uangnya diambil tapi nyatanya ia sudah mengambil begitu banyak uang dari orang lain." timpal pria yang berada di samping penonton tersebut.


Mereka semua memandang Kaira dengan dingin, tidak ada yang bersimpati padanya. Mereka malah kasihan dengan Dian yang terus-terusan diserang oleh Kaira tanpa jeda. Beberapa diantara para tamu memilih untuk keluar dari bar dari pada harus menonton hal yang memalukan seperti itu.


Sebagian dari mereka malah asik dalam menikmati pertarungan tersebut. Mereka tahu bahwa Kaira tidak main-main dalam pukulannya, sedangkan sebagian lainnya tidak peduli dan malah terus lanjut dalam permainan judi mereka.


"Sialan, wanita itu bisa membuat kita rugi besar jika begini," seru salah seorang pelayan ketika ia melihat sebagian tamu meninggalkan gedung bar.


"Kita harus melaporkan hal ini pada ketua."


Pelayan tersebut memutuskan untuk pergi mencari pemimpin mereka.


Banyak area di dalam bar tersebut telah hancur karena serangan Kaira, tapi tidak ada satu pun serangannya yang berhasil mengenai Dian. Melihat hal ini, Kaira semakin kesal dan terus saja menyerang tanpa memperdulikan area sekitarnya.


"Mau kabur kemana kau?" pekik Kaira saat Dian menghindari serangannya.


"Lawan aku, dan jangan terus menghindar," bentaknya ketika Dian sekali lagi menghindar.


"Apa kau pikir aku ini bodoh?"


"Aku tidak ingin membuat pemimpin ku dalam masalah hanya karena urusan sepele seperti ini." lanjut Dian yang sontak membuat Kaira semakin kesal.


"Apa kau bilang?"


Kaira yang kesal kemudian melafalkan mantra sihirnya untuk menyerang titik vital Dian. Mereka yang semula masih acuh dengan pertarungan tersebut, kini mulai terlihat panik. Ada yang segera keluar dari bar dan ada juga yang memasang sihir perlindungan diri.


"Wanita itu sudah gila," teriak salah satu pengunjung yang sedang menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


"Dia berencana untuk menghancurkan bar ini."


Lanjutnya ketika sudah berada di luar gedung.


Teriakan para pengunjung tersebut sontak membuat para pejalan kaki ikut melarikan diri bersamanya. Suasana di dalam gedung dan diluar gedung tampak kacau saat ini dan itu membuat Senja yang berada di dalam kafe hanya melihatnya dengan curiga.


"Apa Kaira berniat membunuh Dian?" tanya Senja dengan alis yang saling bersatu.


"Apa dia sudah gila?" lanjut Senja saat melihat banyak pengunjung yang melarikan diri dari bar.


"Aku rasa dia memang gila," batin Senja ketika merasakan aura mencekam dari dalam gedung bar.


"Apa kita akan pergi kesana?" tanya Ristia sambil melompat ke jendela kafe.


"Tidak,"


"Kenapa?"


"Karena Dian tidak meminta bantuan," jelas Senja sebelum melanjutkan makan malamnya.


Disisi lain, pemimpin bar yang mendapatkan kabar dari bawahannya segera berlari dengan kencang menuju bar tersebut. Ia terkejut ketika merasakan aura mematikan yang keluar dari bar miliknya. Segera ia mempercepat langkahnya sebelum bar miliknya hancur tak tersisa.


Dian yang saat ini menghadapi kemarahan Kaira hanya bisa menahan senyum nakal dari balik topeng nya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukan nya saat ini sudah benar, dengan terus-menerus memprovokasi wanita itu Dian percaya bahwa beberapa hari kemudian Kaira tidak akan bisa menggangu nona nya lagi.


"Terus keluarkan aura mu, karena dengan ini kau akan terseret dalam masalah besar."


"Hahaha, kau terlihat lucu saat ini."


Dian mencoba memprovokasi Kaira dengan senyum nakalnya. Kaira yang tahu maksud Dian lantas menghantamkan bola api raksasa kearahnya, namun lagi dan lagi bola api tersebut hanya menghantam bagian bar tanpa menyentuh Dian sedikit pun.


"Sialan, mengapa aku tidak bisa menyentuhnya?"


Kaira lalu mengeluarkan tombak api yang dibalut dengan angin ringan disekitarnya. Tombak api itu tampak siap melahap siapa saja yang berada disekitarnya. Para pengunjung yang sejak awal menikmati pertarungan mereka segera memasang sihir pertahanan agar tidak mendapatkan dampak dari serangan tersebut.


Pemimpin bar yang sudah berada di ambang pintu masuk gedung terlihat sangat terkejut dengan tombak api yang menyala terang di dalam barnya. Ia tanpa sadar segera berlari menuju Kaira yang hendak melemparkan tombak api tersebut kearah Dian.


"Situasi yang bagus," gumam Dian saat ia menyadari bahwa pemilik gedung sedang berlari gila kearah Kaira.


"Dengan ini kau pasti akan kena masalah.


"Sialan," teriak Kaira kesal sambil melemparkan tombak api miliknya.


Beruntungnya serangan Kaira berhasil diblokir oleh seorang pemuda misterius yang sejak awal menonton keduanya. Pemuda itu dengan gampangnya memindahkan panah api Kaira keluar gedung.


Anehnya setelah panah api hilang terdengar sebuah ledakan hebat yang dibarengi dengan hembusan angin tajam yang menghantam pinggiran kota tersebut.


Dari dalam mereka bisa mendengar teriakan warga yang mengatakan jika ada ledakan besar di sisi selatan wilayah tersebut. Wilayah itu hancur dan menyebabkan angin debu yang menutupi seluruh kota.


Mereka yang penasaran dengan bunyi itu segera keluar dari bar. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati area selatan yang sudah kehilangan keindahannya. Sebelumnya area tersebut dipenuhi oleh banyak pohon yang indah namun saat ini yang terlihat hanyalah api yang tengah membakar pohon-pohon tersebut.


"Ini gila," seru salah seorang warga yang merasakan hawa panas dari terbakarnya hutan tersebut.


"Untung saja itu tidak meledak disini," gumam salah seorang pengunjung bar yang dibalas anggukan kepala dari yang lainnya.


"Kau benar, jika tidak maka kitalah yang akan menjadi santapan api seperti itu," bisik yang lainnya sambil melirik sekilas pada Kaira.


Kaira baru saja sadar akan apa yang telah ia perbuat. Ia merasa bersalah dengan situasi yang tengah terjadi saat ini. Dian sendiri yang menyaksikan hal tersebut lantas menatap kearah lantai dua kafe didepannya.


Disana Dian bisa melihat Senja yang tengah memandangi area selatan dengan tatapan dingin diwajahnya. Tanpa membuang waktu, Dian segera pergi ke dalam bar dan mencari pria yang memindahkan tombak api tersebut.


Namun sayangnya Dian sama sekali tidak menemukan pria tersebut. Pria itu menghilang entah kemana, Dian mencoba untuk mencarinya di luar namun tetap tidak menemukan jejaknya sama sekali.

__ADS_1


"Ini aneh," gumam Dian saat melihat ke sekeliling area bar.


"Nona, ini uang mu," seru pelayan yang sebelumnya mengambil cip milik Dian.


" ... "


Dian hanya menatap diam kearah kantong yang berisi uang tersebut.


"Apa ada yang salah Nona?" tanya pelayan itu ketika Dian hanya terdiam kaku ditempatnya.


"Tidak," jawab Dian datar sebelum mengambil kantong uang tersebut.


Ketika pelayan tersebut hendak pergi, Dian menarik tangan pelayan itu dan memberikannya beberapa koin yang ada di dalam kantong.


"Ambilah ini, dan terima kasih," seru Dian sambil menyerahkan uang tersebut.


"Terima kasih Nona," balas si pelayan sebelum memasukan uang itu ke dalam sakunya.


"Sebentar, apa kau bisa mengabari aku jika ada info mengenai bar ini?"


"Informasi apa yang ingin nona ketahui?"


"Tidak banyak, cukup beritahu aku informasi terkini dari bar ini," jawab Dian sambil melihat ke sekeliling area bar.


"Aku ingin tahu siapa pria tadi ya g telah memindahkan panah api itu. Jika kau mengetahui informasi penting tentang dirinya segera kirim surat pada alamat ini." lanjut Dian sambil menyerahkan alamat Guild pada pelayan tersebut.


"Baiklah Nona,"


Dian kemudian memutuskan untuk keluar dari bar secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun. Ketika Dian ingin keluar ia sempat melihat sekilas pada Kaira yang sedang bersusah payah menjelaskan mengapa dia melakukan semua tindakan itu.


Para warga terlihat kesal dengan Kaira sehingga mengerubunginya tanpa henti. Dian dengan senang hati mengambil kesempatan ini untuk kabur, ia segera melepaskan topengnya dan menggantinya dengan topeng baru.


"Jika begini, tidak akan ada yang tahu siapa aku,"


Beberapa saat kemudian, Dian sudah berada di dalam kafe. Ia saat ini sedang berada di hadapan Senja yang terlihat acuh tak acuh dengan informasi yang baru saja ia berikan.


"Ah, jadi begitu,"


"Nona, aku masih penasaran dengan pria itu."


Dian masih belum bisa melepaskan ingatannya mengenai pria yang telah memindahkan tombak api Kaira.


"Lupakan saja dia, prioritas utama kita disini sudah selesai dan saat ini kita harus segera kembali menuju ibu kota El-Aufi karena Luna dan yang lainnya akan segera tiba."


"Segera siapkan kereta kuda."


"Baik Nona."


Dian lalu keluar dari ruangan tersebut dan bergegas menuju tempat sewa kereta kuda.


"Aku melihatnya, Aku melihat pria aneh itu.


Senja kembali teringat saat dimana dentuman keras berbunyi disudut wilayah itu. Ia penasaran dengan apa yang terjadi sehingga tanpa sadar terus memperhatikan bar dan juga area sekitarnya.


Saat itu sebelum kaira keluar dari bar, Senja sempat melihat pria aneh dengan masker hitam di wajahnya. Pria itu dengan santai keluar dari bar dan menuju lorong kecil tidak jauh dari gedung itu.


Tidak lama setelahnya para warga mendatangi bar setelah melihat para tamu dan kaira keluar dari bar dengan wajah bingung. Mereka terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Dengan marah para warga mengerubungi kaira dan tidak membiarkannya pergi walau sudah dihentikan oleh pemilik bar. Para warga masih saja menghujani kaira dengan pertanyaan dan omelan pedas yang membuat kaira kebingungan untuk bertindak.


"Siapa pria itu, dia terlihat tidak asing."

__ADS_1


__ADS_2