
"Semakin dekat kamu dengan bahaya maka semakin peka pulalah diri mu."
******************#####*****************
Noime diam, ia tidak dapat bereaksi dengan cepat sehingga dalam hitungan detik penghalang transparan berhasil menghalangi langkahnya untuk kabur.
Noime bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang tengah ia alami. Noime tidak pernah menyangka bahwa siswa tahun pertama dapat menjebaknya seperti ini.
"Tidak pernah dalam hidup ku merasakan perasaan takut dan gelisah." batin Noime kesal.
"Baru, baru dengan gadis muda itu aku merasakannya. Ia bukan gadis biasa, siapa dia sebenarnya?"
Noime terus memutar otaknya dalam menemukan jawaban yang pasti dari situasinya ini. Sejak pertama kali ia bertemu dengan gadis itu, Noime tidak pernah merasa tenang.
"Bahkan dalam mimpi pun aku terjebak olehnya." gerutu Noime sambil berusaha merusak perisai yang ada di punggung belakangnya.
Meski sedang terjebak, Noime tidak gampang panik. Ia dengan cerdik terus menatap sosok itu seraya terus mengetuk kuat perisai yang menghalangi langkahnya.
"Percuma, kau tidak akan bisa kabur hanya dengan itu." seru sosok itu dengan senyum nakalnya.
"Sial," maki Noime namun ia tetap terlihat santai. Dengan senyum mengejek Noime membalas perkataan sosok itu.
"Sombong sekali, kau hanyalah seorang gadis belia yang tidak mengetahui betapa kejamnya dunia ini."
"..."
"Kau hanya bisa datang ke tempat ini dengan memanfaatkan orang-orang disekitar mu. Jika bukan karena koneksi kau bahkan tidak bisa memasuki tempat ini."
"?"
Noime tahu bahwa sosok itu tidak lebih kuat darinya. Ia hanyalah seorang gadis muda yang memanfaatkan uang dan kekuasaannya untuk bisa berada di tempat ini.
Meski Noime sedikit bingung dan penasaran dengan apa yang telah diberikan gadis itu pada temannya, sehingga membuat temannya dengan bodoh membawa gadis itu masuk ke wilayah dalam.
"Aku sangat membenci orang seperti diri mu," seru Noime setelahnya.
"Oho, ternyata begitu. Aku juga membenci seseorang yang melalaikan tugasnya." balas sosok itu seraya berjalan mendekati Noime.
"Aku benci orang yang melarikan diri dari tanggung jawabnya. Orang yang terlihat cukup adil dan bijaksana seolah hanya dirinyalah yang baik di dunia ini, tapi nyatanya ia tidak lebih dari pengecut yang suka melarikan diri."
Perkataan sosok itu membuat Noime tertampar keras. Ia tahu jika melanggar kewajiban adalah tindakan yang buruk namun Noime tidak punya pilihan. Ia memiliki prioritas utama untuk diselesaikan.
"Kenapa diam? Apa kau sedang membenarkan dirimu untuk menjalankan prioritas utama sebagai siswa tahun terakhir? Ataukah kau sedang mencari alasan logis untuk dapat kabur dari tempat ini?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok itu membuat hati nurani Noime sakit. Ia tidak bisa mengelak dari tanggung jawab tapi ia juga tidak bisa melepaskan point hanya untuk hal sepele seperti itu.
"Apa menurut mu ujian tengah semester begitu sepele sehingga kau bahkan tidak peduli dengan hasilnya?" tanya sosok itu setelah jarak diantara mereka tinggal satu meter lagi.
Noime dapat dengan jelas melihat wujud sosok itu. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang ramping seolah ia adalah gadis lemah yang harus dilindungi dari kejamnya dunia.
Sungguh miris penampilan gadis itu bahkan tidak sebanding dengan ekspresi licik di wajahnya. Ia tersenyum samar dengan sudut mata yang tengah menatap tajam ke arah Noime.
__ADS_1
"Indah namun mematikan."
Noime telah menjuluki gadis itu sebagai permata tajam yang indah namun beracun. Ia menggambarkan sosok di hadapannya sebagai gadis polos berwajah malaikat namun berhati iblis.
"Tidak ada yang pernah menyangka bahwa sifat asli dari gadis ini bahkan lebih berbahaya dari pada iblis itu sendiri." batin Noime yang tanpa sadar menelan saliva nya.
"Aquila Noime. Aku menangkap mu." seru sosok itu yang membuat lamunan Noime buyar seketika.
"Sial. Hahahaha....."
Noime hanya bisa tertawa geli, ia tidak menyangka bahwa kali ini ia telah mendapatkan seorang junior yang lebih merepotkan dari pada sebelumnya.
Biasanya tidak mudah bagi mereka untuk dapat menemukan Noime. Bahkan sering kali mereka gagal tanpa bisa menemukan Noime meski ujian telah berkahir.
"Sebelum itu, bisakah kau melepas penghalang ini?" tanya Noime dengan mata yang menatap tajam ke arah gadis itu.
"Hah, tentu saja tidak bisa." balas gadis itu tanpa pikir panjang.
"Aku tidak ingin bertaruh lagi dengan sifat mu yang suka melarikan diri, senior." lanjut gadis itu seraya menunjuk kursi santai di sampingnya.
"Bagaimana jika kita mengobrol santai sambil memikirkan rencana kedepannya." usul gadis tersebut yang membuat Noime sedikit terkejut.
"Hmm, boleh juga." balas Noime sebelum berjalan menuju kursi tersebut.
****
Wilayah dalam terletak di bagian paling dalam akademi Adeline. Oleh karena itu untuk memudahkan akses berpergian maka dibuatlah portal teleportasi. Dimana portal tersebut akan menghubungkan antara wilayah dalam akademi dengan menara penjaga.
Hal ini merupakan salah satu keuntungan yang dimiliki siswa akademi Adeline dalam pengerjaan misi mereka. Dimana mereka tidak perlu memikirkan apa pun selain menyelesaikan misi dengan tepat waktu.
Sayangnya untuk dapat menggunakan portal, mereka harus memiliki kupon sebagai tanda transaksi. Kupon tersebut hanya akan diberikan pada siswa yang mampu menyelesaikan misi tepat waktu.
Satu siswa hanya mendapatkan satu kupon per satu misi. Jadi semakin banyak misi yang diselesaikan maka semakin banyak pula kupon yang akan mereka miliki.
Selain itu jika para klien menyukai hasil dari pengerjaan misi tersebut maka mereka tidak hanya mendapatkan point tambahan, mereka juga mendapatkan kupon tambahan sebanyak rating bintang yang diberikan oleh klien.
Maka dari itu Evan yang sadar akan pentingnya kepuasan klien merasa sangat kesal saat mengetahui bahwa Noime tidak datang tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan sebelumnya.
"Ugh, lama sekali." gerutu Evan saat jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi.
Evan dan Noime sudah berencana untuk bertemu di pintu gerbang portal tepat jam 12 tengah malam. Sayangnya sudah satu jam Evan menunggu namun ia sama sekali belum melihat Noime bahkan batang hidungnya saja tidak kelihatan.
"Noime, sialan." maki Evan kesal.
Ia sudah lama harus mengantri untuk bisa mendapatkan jatah portal. Namun Noime sama sekali belum memberi kabar. Ia tidak bisa membiarkan jatah portal terakhir diambil alih oleh siswa lain.
"Hei nak, mau berapa lama lagi?" tanya penjaga yang sudah bosan.
"Maaf pak, teman saya seperti sedang dalam masalah. Ia akan datang sebentar lagi."
"Huh, kau sejak tadi terus saja berkata sebentar lagi, sebentar lagi. Mau sampai kapan?"
__ADS_1
Evan hanya bisa diam, meski ia terlahir sebagai bangsawan namun di akademi Adeline gelar bangsawan tidak berlaku bagi para staff dan guru pengajar.
Jika Evan meninggikan egonya dan menunjukkan gelarnya sebagai bangsawan maka bisa dipastikan jika dia akan terkena masalah untuk kedepannya.
"Sabar Evan, sabar." batin Evan seraya mengelus lembut dadanya.
Melihat wajah Evan yang panik, staff tersebut hanya bisa mendengus dengan kesal. Ia menyampaikan jika dalam lima menit Evan tidak menggunakan portal, maka ia akan memberikan jatah portal terkahir tersebut pada siswa lain.
Evan yang mendengarnya mencoba untuk bernegosiasi tapi staff tersebut sudah bosan karena ia sudah memberikan Evan waktu lebih dari 1 jam lamanya.
"Sudah tidak ada waktu lagi," gerutu staff tersebut kesal.
Evan hanya bisa pasrah seraya memohon agar Noime bisa datang tepat waktu. Tidak, setidaknya Evan berharap bahwa Noime bisa datang saat itu juga.
"Noime, kau benar-benar membuat ku gila dalam artian yang sebenarnya." gumam Evan sambil melirik kesana kemari.
Evan terus memutar tubuhnya 180° untuk melihat apakah Noime sedang bersembunyi di suatu tempat dan tengah menertawakan dirinya yang sedang panik.
"Sedang apa kau?" tanya sebuah suara yang membuat gerakan Evan terhenti seketika.
"Hah, sialan kau Noime." teriak Evan kesal saat ia membalikan badan dan melihat Noime yang tengah memandangnya dengan tatapan bingung.
"Hei, aku disini menunggu mu seperti orang gila saja. Kau tahu!"
Evan kesal, ia sudah lelah menanti kedatangan Noime namun hal pertama yang ia lihat bukanlah wajah penyesalan melainkan wajah penuh tanda tanya dari sahabatnya itu.
"Noime dari mana saja kau? Kau tahu betapa frustasinya aku saat petugas terus menanyakan berapa lama lagi dia bisa menunggu?" tanya Evan yang dibalas acuhan bahu oleh Noime.
"Sudahlah, mari kita pergi." balas Noime sebelum pergi menuju staff penjaga.
"Noime, kau selalu saja begitu. Aku lelah, aku benar-benar lelah." bentak Evan kesal.
"Iya, iya aku tahu." balas Noime santai.
Petugas yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menggelengkan kepala seraya menyuruh keduanya untuk segera masuk ke dalam portal.
"Noime, jangan diam saja. Jawab aku kemana saja kau tadi?" teriak Evan saat petugas hendak mengaktifkan portal teleportasi.
"Aku? Memangnya kau siapa harus mengetahui semua pergerakkan ku?" tanya Noime balik.
"Heh, hahaha... Dasar gila! Aku tidak peduli kau mau kemana atau dengan siapa tapi setidaknya kabari aku jika kau ingin datang terlambat, brengsek." gerutu Evan kesal.
Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya mampu menertawakan amarahnya yang hanya dijawab dengan ekspresi acuh tak acuh nya Noime.
"Mereka ribut sekali," seru petugas yang sudah bosan melihat pertengkaran keduanya.
"Benar, mereka sangat berisik." balas gadis muda yang kemudian ikut masuk ke dalam portal sedetik setelah portal tersebut diaktifkan.
"Hah, siapa itu?" tanya petugas yang heran saat melihat sosok gadis muda yang menghilang bersamaan dengan Noime dan Evan.
"Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Siapa dia?" tanya petugas itu seraya mengingat senyum ramah dari bibir mungil gadis tersebut.
__ADS_1