Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Kerajaan El-Aufi


__ADS_3

"Kehidupan di atas gurun pasir akan selalu membawa mu pada petualangan ajaib."


******************#####****************


Semuanya merasa sangat terkejut ketika aura dominasi Senja tanpa sadar menyebar di area tersebut. Mereka merasa takut sekaligus panik, ada yang berpikir bahwa mereka telah melakukan kesalahan tanpa disengaja.


Mereka juga berpikir mungkin ini karena bangunan yang mereka bangun harus siap secepatnya tapi saat ini, mereka sedang istirahat sore sebelum melanjutkan nya di malam hari.


Terlihat satu - persatu dari mereka mulai bangkit dan mengerjakan tugas tanpa diperintah terlebih dahulu, ada yang mencetakkan bata dengan cepat dan ada juga yang menyusunnya serapi mungkin.


Dian yang juga merasakan aura dominasi Senja hanya bisa melihat wajah kesal nona nya tersebut. Perlahan Dian mendatangi Senja sambil membawakannya teh hijau.


"Nona!" panggil Dian saat tiba didekatnya.


"Sadarlah, anda sudah membuat mereka takut," bisik Dian pelan yang seketika membuat Senja kaget.


"Ah, astaga,"


"Apa yang sudah aku lakukan," batinnya saat melihat Nindia yang ditahan oleh Eza dan juga beberapa orang lainnya yang bergegas mengerjakan bangunan padahal hari sudah petang.


"Minumlah Nona,"


"Apa ini?" tanya Senja yang tidak sadar jika dirinya sudah membakar koran pemberian dari Eza, bahkan saat ini tangannya pun masih mengeluarkan api.


"Saya kan sudah mengatakan agar Nona lebih berhati-hati dalam mengontrol kekuatan. Baru saja kekuatan Nona lepas dan membuat takut mereka semua," gerutu Dian sambil mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan telapak tangan Senja dari debu.


"Hah, aku harus lebih giat lagi dalam berlatih,"


"Selain itu, anda juga harus mendengar perkataan saya,"


"Uhuk..."


Tanpa sadar Senja terbatuk karena teguran dari pelayannya tersebut.


"Hmm, Nona. Anda benar-benar ceroboh," erang Dian kesal dengan perilaku nona nya itu.


Dari jauh, Eza mulai melepaskan pegangannya tangannya dari Nindia. Tentu saja ia tahu jika nona nya itu hanya kesal karena informasi yang tertera pada koran tersebut namun itu bukan berarti jika yang lainnya bisa ikut campur.


Jika saja Eza tadi tidak menghentikan Nindia, mungkin saja sekarang Nindia akan terluka karena mencoba untuk mendekati Senja. Hal itu tidak berlaku bagi Dian, dikarenakan Dian adalah tangan kanan Senja selain dirinya, sehingga keberadaan mereka bisa diterima oleh aura negatif nona nya itu.


"Jangan dekati Nona kika dia tidak meminta mu," bisik Eza saat melepaskan kunciannya.


"Nona bisa sangat berbahaya jika dia tidak sadarkan diri," lanjut Eza sebelum meninggalkan Nindia sendirian disana.


"Huh, dasar sombong," gerutu Nindia sambil mengelus pelan pergelangan tangannya yang memerah.


Eza kemudian pergi menemui Senja yang sedang menikmati tehnya sedangkan Dian memutuskan untuk menghentikan pekerjaan bawahannya yang lain.


"Nona, bagaimana?"


"Biarkan saja, kita tidak akan bisa datang kesana dalam kondisi seperti ini,"


"Eza, panggil Agra untuk menemui ku dikamar, sekarang juga," lanjut Senja sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Baik Nona," jawab Eza kemudian pergi menuju arah Dian dimana Agra dan bawahannya tengah bekerja.


Nindia, yang masih berada ditempatnya hanya bisa melihat Senja memasuki area tambang dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Apa Nona masih belum menerima ku?"


"Aku akan selalu siap berada di dekat Nona,"


Beberapa saat kemudian, Agra datang menemui Senja di dalam kamarnya. Ia sempat berpikir jika nona nya sedang marah besar dikarenakan penghuni kota bawah tanah dan memintanya untuk mengusir mereka.


"Salam Nona,"


"Agra, kau..."

__ADS_1


Perkataan Senja terhenti ketika Agra tiba - tiba saja memotongnya.


"Nona, saya mohon jangan usir mereka, selain itu mereka juga bisa membantu Nona jika anda dalam kesulitan. Saya mohon untuk memberikan mereka kesempatan untuk yang terakhir kalinya," jelas Agta panjang lebar yang malah mendapatkan tatapan aneh baik dari Senja atau pun Nindia.


"Apa maksud...."


"Saya mohon Nona, saya janji akan mencarikan mereka pekerjaan terbaik untuk anda," seru Agra sekali lagi yang membuat Senja menggelengkan kepalanya.


"Ada apa dengan bocah ini sebenarnya,"


"Siapa memangnya yang akan aku usir?"


"Maaf?"


"Tuan Agra, Nona sama sekali tidak membuang kami, jadi anda tidak perlu khawatir dan dengarkan saja apa yang ingin disampaikan oleh Nona," seru Nindia memotong perkataan Agra saat itu.


Agra yang mendengar penjelasan dari Nindia mulai tersipu malu dengan sikapnya yang sudah tidak sopan.


"Maaf, Nona,"


"Sudahlah, kirimkan saja surat ini pada kelompok dagang Weru. Aku dengar mereka sekarang tengah berada di kerajaan El-Aufi," seru Senja sambil menyerahkan surat yang sebelumnya ia tulis.


"Kebetulan sekali, karena aku pun sudah berencana untuk pergi kesana," batin Senja mengingat informasi yang diberikan Dennis padanya sebelum pergi ke wilayah timur.


"Baik Nona,"


"Nindia, panggil Eza dan Dian kesini, serta siapkan juga portal sihir karena kita akan pergi malam ini,"


"Baik Nona,"


"Dia terlihat begitu polos," cicit Lily saat Nindia sudah keluar dari ruangan.


"Benar sekali, aku kasihan padanya karena telah tertipu," timpal Ristia dengan ekspresi wajah sedihnya.


"Tidak bisakah kalian diam," gerutu Senja sambil melempar Lily keatas kasurnya.


"Jangan harap kau akan tidur tenang setelah sampai disana," lanjut Senja dengan senyum licik diwajahnya.


"Aku tidak peduli," balas Kun acuh sambil menutup kembali kedua matanya.


"Dasar, kakek tua tidak sadar diri," gerutu Senja kemudian menarik Vanilla menuju pelukannya.


"Vanilla, kau akan berlatih cara melindungi diri dari Lily di Guild selama aku pergi dengan Kun dan Ristia."


Mendengar namanya disebutkan Lily kemudian kembali terbang menuju arah Senja.


"Kau tidak akan membawa ku?"


"Tidak, sudah waktunya bagi Vanilla untuk mengontrol kekuatannya. Selain itu, Kun dan Ristia sudah cukup," jelas Senja ketika mengelus lembut bulu Vanilla yang terlihat semakin besar hari demi hari.


"Nona, apa saya akan bekerja lagi untuk anda," tanya Vanilla penuh semangat.


"Bocah malang ini telah tertipu, kasihan sekali," gumam Lily saat melihat ekspresi polos dari wajah Vanilla.


"Tidak, kau akan menjalani latihan bersama dengan Lily di Guild nantinya."


"Jadi Nona membuang ku?"


"Hah, tidak begitu. Kau masih terlalu muda untuk bekerja dan mana mu masih harus di kontrol lagi." jelas Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Vanilla.


"Baiklah Nona, saya akan berlatih agar anda tidak akan mendapatkan kesulitan di masa depan." seru Vanilla senang sebelum pergi bersama Lily menuju Guild Moonlight.


Beberapa saat setelah Vanilla dan Lily pergi dengan teleportasi menuju Guild, Dian dan Eza memasuki kamar dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ada perlu apa Nona memanggil kami?" tanya Dian yang masih terlihat kesal karena kejadian tadi.


"Karena Nona, saya harus mengawasi mereka bekerja sampai sekarang. Padahal ini sudah waktunya saya untuk istirahat."

__ADS_1


Seperti itulah yang dikatakan oleh wajah Dian saat ini. Senja yang mengetahui kondisi Dian hanya bisa mengabaikannya karena Senja tahu apa yang akan dia katakan tidak akan bisa mengubah situasi saat ini.


"Aku hanya ingin kalian menyampaikan pesan ini pada Luna dan yang lainnya saat mereka tiba kesini," seru Senja sambil menyerahkan sebuah surat pada Dian.


"Nona, anda mau pergi kemana saat ini?" tanya Eza khawatir saat ia memikirkan kota Ceko yang sudah kacau karena ledakan mana mati.


"Iya, Nona hendak kemana anda dalam situasi seperti ini?" timpal Dian setelah menerima surat tersebut.


"Aku akan pergi menuju ibu kota El-Aufi. Bukankah kita harus saling mengenal tetangga?"


"Nona, masalah apa lagi yang hendak anda perbuat disana?" tanya Dian mengintrogasi.


"Aku hanya akan berlibur, bukankah kalian sendiri juga tahu jika akademik akan di buka dalam dua minggu lagi," seru Senja menjelaskan kepergiannya.


"Aku tidak percaya," batin Dian yang langsung bisa dibaca oleh Senja.


"Lalu dengan siapa Nona akan pergi?" tanya Eza saat Nindia masuk ke dalam kamar tersebut.


"Nona, semua persiapan sudah selesai," seru Nindia yang sama sekali tidak mengetahui kondisi canggung dihadapannya itu.


"Aku akan pergi dengannya," lirih Senja sambil menunjuk kearah Nindia.


"Nona...!" panggil Dian datar dengan ekspresi kesal diwajahnya.


"Siapa lagi anak ini?" tanya Dian masih dengan ekspresi dingin diwajahnya tersebut.


"Dia akan menjadi bagian dari kalian, oleh karena itu aku membawanya selama kau menyiapkan bangunan tersebut," jawab Senja acuh tak acuh.


"Astaga Nona,"


"Bukankah saya sudah mengatakan jika Anda harus sering waspada..." Dian mengentikan perkataannya ketika melihat kearah Nindia.


"Mohon jangan tersinggung," lanjutnya pada Nindia yang dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.


"Saya sama sekali tidak mengerti, Nona ini polos atau bagaimana?"


"Permisi," seru Nindia yang terpotong karena tatapan tajam dari Dian.


"Diam lah jika kau tidak ingin kuping mu rusak," bisik Eza pada Nindia agar tidak mencoba untuk memprovokasi Dian.


"Dian akan sangat kejam ketika ia marah," lanjut Eza yang sudah hafal dengan sifat Dian yang seperti ini.


Tentu saja bukan hanya Eza yang kewalahan dalam menghadapi emosi Dian, Senja sendiri saja tidak punya kata - kata dalam membantah pelayannya tersebut.


"Dian, tenangkan diri mu. Aku tahu apa yang aku lakukan jadi tenanglah,"


"Aku akan pergi bersamanya selama kau sibuk disini. Selain itu dia adalah orang kepercayaan Agra sehingga tidak perlu lagi meragukannya. Dia juga telah melakukan sumpah setia kepada ku sama seperti Eza," lanjut Senja menjelaskan.


Nindia sendiri kemudian memberikan bukti sumpahnya pada Dian ketika gadis itu menatapnya.


"Hah, baiklah Nona, tapi anda harus ingat satu hal, jika terjadi masalah maka segera hubungi saya," lanjut Dian sebelum keluar dari ruangan sambil menarik tangan Eza untuk mengikutinya.


"Dia sangat loyal," gumam Nindia saat Eza ditarik paksa keluar dari ruangan tersebut.


"Nindia, bawa kucing sialan itu dengan mu dan jangan biarkan ia tidur setelah kita sampai di kerajaan El-Aufi," seru Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Nindia.


Setelah makan malam, Senja dan Nindia bergegas menuju portal yang telah disiapkan sebelumnya.


"Siapkan bangunan itu segera sebelum pesta kedewasaan dimulai," seru Senja pada Dian dan kelompoknya.


"Nona, kerjaan El-Aufi sangat panas jadi anda harus menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Anda bisa gunakan ini untuk kondisi tertentu," bisik Olaf setelah memberikan mantel bulu tersebut.


"Mantel ini sudah saya berikan sihir pendinginan jadi anda tidak perlu khawatir lagi."


Selain Senja dan hewan sucinya, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui jika Senja memiliki kekuatan es. Oleh karena itu Olaf yang memiliki kekuatan air memberikan mantel tersebut agar Senja tetap merasa dingin disaat suhu kerajaan El-Aufi menurun.


"Terima kasih untuk ini, selain itu aku ingin semuanya selesai sesuai rencana, jadi pastikan itu dengan baik."

__ADS_1


"Baik Nona," jawab mereka yang terdengar samar ditelinga Senja karena portal sihir sudah memindahkannya.


__ADS_2