
"Apa yang kau tanam, itulah yang kau petik."
******************####*****************
Kerajaan Guira
Senja yang masih setia mendengar ocehan Count Pilgub mengenai mutiara hitam tersebut hanya bisa tertawa pelan. Jujur saja, Senja sudah tahu bahwa semua yang Count katakan adalah omong kosong belaka.
"Dia lucu sekali," batin Senja saat melihat wajah bersemangat Count.
"Dia pikir aku adalah gadis bodoh yang mudah diperdaya, tapi sayang sekali. Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan." lanjut Senja gemas dengan setiap penjelasan yang diberikan oleh Count padanya.
"Jika benar yang kau katakan itu, maka tidak masalah bukan jika kau memakannya?" tanya Senja polos.
"Itu..."
Perkataan Count Pilgub terhenti ketika Senja mengangkat tangannya dingin.
"Nindia,"
Nindia yang mendengar panggilan Senja segera masuk ke dalam ruangan dan berdiri di tepat disamping nona nya itu.
"Berikan ini padanya. Aku ingin melihat efek dari obat sakti ini, sehingga aku bisa memutuskan untuk membebaskannya atau tidak."
Nindia lalu mengambil mutiara hitam tersebut dan mendatangi Count Pilgub. Wajah Count tampak sangat panik, ia sama sekali tidak tahu jika gadis di depannya itu akan melakukan tindakan ini.
"Sial, bagaimana bisa aku memakannya," gumam Count Pilgub panik.
Senja yang melihat hal tersebut semakin merasa terhibur. Ia dengan santai kembali meminum air tehnya sambil melihat Nindia yang sedang berhadapan dengan Count.
"Lihat wajahnya itu, sungguh menyebalkan,"
"Hmm..."
Senja bergumam pelan saat melihat reaksi Baron yang hanya diam termenung disana.
"Dia sudah seperti itu sejak aku tiba disini."
Senja jadi penasaran dengan apa yang dilakukan Aslan sehingga Baron itu terlihat gila.
"Aku harus menanyakan ini pada Aslan nantinya. Tapi sebelum itu..."
Senja menjeda kalimatnya sambil melirik ke arah pergelangan tangannya.
"Dimana Ristia?" tanya Senja bingung ketika tidak mendapati Ristia disana.
Senja kemudian memikirkan kembali kejadian beberapa saat yang lalu yang terjadi padanya. Seingatnya, ia menyuruh Ristia untuk mencari tahu alasan mengapa Kaira bisa lolos dari pemimpin bar di wilayah pinggiran kota El-Aufi.
"Astaga, aku meninggalkannya disana. Ini semua karena kucing sialan itu."
"Hah, pasti dia kesal."
Senja mulai memikirkan Ristia yang akan berbuat ulah karena ditinggalkan.
"Aku harus segera kembali," batin Senja saat melihat mulut Count yang hendak di buka paksa oleh Nindia.
"Tunggu, tunggu dulu," teriak Count panik.
"Aku sedang tidak bisa memakannya. Aku sudah mengkonsumsi obat sebelum sampai kesini." lanjutnya gugup sambil melirik ke arah Baron.
"Dasar penipu. Kau sudah berada disini hampir seminggu jadi bagaimana bisa obat yang kau makan minggu lalu masih aktif sekarang,"
"Jadi, apa saran mu?" tanya Senja dingin.
Count awalnya hanya diam sambil memikirkan alasan apa yang hendak ia katakan. Namun ketika ia melihat ke arah Baron, Count Pilgub jadi memiliki ide gila.
"Bagaimana jika anda memberikan mutiara itu pada Baron. Ia saat ini dalam keadaan yang kurang sehat."
Count saat ini melihat Baron yang berwajah pucat dengan pandangan mata yang kosong.
"Dasar licik."
__ADS_1
Senja hanya menatap kesal pada Count yang hendak menjual bawahannya itu.
"Sial sekali nasib mu," gumam Senja pelan sambil melirik ke arah Nindia.
"Lakukan."
Nindia kemudian membuka mulut Baron dengan mudah. Meski begitu, Baron tetap diam sama seperti sebelumnya.
"Apa dia sudah menjadi mayat?" Aku harus menyelidiki hal ini terlebih dulu." lanjut Senja saat Nindia hendak memasukan mutiara hitam tersebut.
"Berhenti!"
Nindia seketika menghentikan gerakannya saat mutiara hitam tersebut sudah menggantung di bibir Baron.
"Bawa Baron keruangan sebelah."
Nindia terlihat kaget dengan perintah yang baru saja diberikan oleh nona nya itu.
"Segera," seru Senja sekali lagi.
Nindia kemudian dengan cepat menarik Baron dan membawanya pindah ke ruangan samping.
"Panggil Aslan kesini," seru Senja setelahnya.
Beberapa saat kemudian Aslan masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Senja yang tengah menatap tajam ke arah Count. Saat ini Count terlihat begitu panik, wajahnya lebih pucat dari sebelumnya dan ia tampak sangat gugup.
"Sial, apa dia menyadarinya?" tanya Count gelisah.
Senja kemudian menyerahkan mutiara hitam yang sebelumnya ia berikan pada Nindia kepada Aslan.
"Lakukan."
Hanya dengan satu perintah, Aslan lalu mendekati Count dan memaksanya untuk menelan mutiara hitam itu.
"Mmpp..."
Count tampak melawan, ia sepertinya tidak terima di perlakukan seperti ini. Ia lalu menatap tajam ke arah Senja yang lantas membuat Aslan kesal.
"Kau pikir, selama ini kau masih hidup karena siapa, hah?"
Count tampak sangat panik. Ia tanpa sengaja menelan mutiara hitam tersebut.
"Uhuk..."
Count mencoba batuk untuk memaksa agar mutiara hitam itu keluar dari tubuhnya.
"Sial!" teriak Count saat batuknya tidak menghasilkan apa pun.
"Sayang sekali, sepertinya kau sudah memakan obat MUJARAB itu."
Senja sengaja menekan kata 'mujarab' agar Count tahu bahwa selama ini tipuannya hanya palsu.
"Sial, jadi selama ini dia menipu ku."
Wajah Count mulai memerah karena kesal.
"Aku pikir dia percaya dengan omong kosong ku beberapa saat yang lalu, tapi ternyata aku salah." lanjutnya kesal saat merasakan nyeri di tubuhnya.
"Ternyata kau tidak sepolos yang terlihat."
Senja hanya diam saat mendengar penuturan Count namun Aslan yang mendengarnya tampak sangat kesal.
"Aku yakin, sudah banyak sekali orang yang tertipu oleh tampang mu itu." lanjut Count yang membuat Aslan tanpa sadar memukulnya.
"Hentikan."
Aslan yang hendak memukul Count untuk kedua kalinya harus berhenti karena perintah dari Senja.
"Sepertinya, kau baru sadar akan hal itu. Sayang sekali, tapi kau sudah terlambat," seru Senja dingin.
"Lagi pula sudah tidak ada gunanya lagi. Toh sebentar lagi, kau akan mati."
__ADS_1
Count yang mendengar perkataan Senja merasa sedikit lega sekaligus kesal. Count jelas tahu jika selama ini dirinya juga sering melakukan hal yang sama. Ia sering menipu orang lain dengan sifatnya tapi anehnya ia merasakan hal yang berbeda dari gadis di depannya ini.
"Hanya dengan wajah itu, ia sudah mampu menipu seseorang," batin Count yang hanya bisa melihat mata Senja saja.
"Tatapan mata tampak seperti gadis polos yang baik hati, gelagatnya juga murni seperti seorang suci tapi dibalik itu semua..."
Count menjeda perkataannya saat Senja hendak berdiri dari duduknya.
"Dia mirip dengan monster, tidak. Dialah monster yang sesungguhnya." lanjut Count ketika Senja sudah berjalan mendekatinya.
"Kau terlihat murni meski aku hanya bisa melihat dari mata mu saja. Kau tahu bahwa bawahan ku itu sedang dalam masalah, oleh karena itu kau memindahkannya."
Senja hanya diam ketika Count terus saja berbicara dengannya.
"Kau adalah gadis murni yang tidak sepantasnya masuk ke dunia ini. Kau terlalu murni untuk bisa menyentuh darah."
Perkataan Count barusan juga disetujui oleh Aslan. Ia entah mengapa tidak ingin nona nya itu terkena noda darah ataupun harus terluka.
"Aku jadi teringat saat Nona harus menderita karena ledakan mana."
Aslan seketika bernostalgia akan keadaan Senja saat ia pingsan setelah ujian akademik selesai dilaksanakan.
"Ugh..."
Wajah Count kini berubah mengerikan. Urat nadinya mulai menghitam dan menjalar keluar dari tubuhnya. Keadaanya tampak sangat kacau, karena mana mati telah menyerang beberapa saraf di tubuhnya.
"Argh..."
Count mulai berteriak nyaring saat tubuhnya tidak bisa lagi mengontrol mana mati itu. Sekarang kulitnya mulai mengelupas dan wajahnya serta matanya tampak sangat merah. Kini Count terlihat seperti monster yang siap mengamuk kapan saja.
"Nona," panggil Aslan saat ia merasa bahwa waktu transformasi Count tinggal beberapa menit lagi.
"Nona tidak harus melihat ini." lanjutnya sambil melirik ke arah Count yang tampak sangat mengerikan.
Senja hanya diam, mengabaikan saran dari Aslan. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Count yang saat ini kesadarannya mulai diambil alih.
"Selamat menikmati hari mu," bisik Senja dingin tepat di telinga Count.
"Hahaha"
Count tertawa kasar tepat di hadapan Senja. Ia merasa lucu dengan apa yang baru saja ia dengar dari bocah yang usianya masih sangat muda darinya.
"Bocah ini memang monster, monster yang sangat mengerikan," batin Count saat melihat senyum mengejek dari balik topeng gadis di hadapannya itu.
Senja yang merasa bahwa waktunya sudah habis, memutuskan untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Aslan, bahwa ia tidak harus menyaksikan Count berubah.
"Aku harus segera kembali."
Senja kemudian berbalik arah dari Count dan memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Count yang melihat Senja hendak keluar dari ruangan lantas berteriak di hadapannya.
"Kau tidak pantas untuk lahir!"
Mendengar teriakan Count tersebut, Senja hanya mengabaikannya saja.
"Kau hanya membuang tenaga mu saja," batin Senja saat ia melihat Aslan yang sedang memukul Count dengan kasarnya sebelum pintu masuk ruangan tersebut tertutup.
"Nona," panggil Nindia yang juga mendengar teriakan Count.
"Apa anda baik-baik saja?"
Sayangnya Senja hanya diam sambil melangkah pergi menuju ruangan sebelah.
"Nindia."
"Iya Nona."
"Cari tahu apa penyebab dia seperti itu."
Nindia hanya diam saat nona nya menunjuk ke arah Baron yang masih diam di kursinya.
"Baik Nona."
__ADS_1
Setelah mengatakan apa yang harus dilakukan oleh Nindia selama disana. Senja kemudian memutuskan untuk segera kembali ke Kerajaan El-Aufi. Ia memutuskan untuk langsung berteleportasi menuju kamar hotelnya.