Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Let's Start the Games


__ADS_3

"Bersembunyi dari masalah tidak berarti takut, melainkan hanya membutuhkan waktu untuk bisa memulainya kembali."


*****************######****************


"Apakah kita akan terus bersembunyi?"


Zakila merasa bingung dengan pilihan mereka untuk kabur. Ia tahu jika pihak Dira sulit dikalahkan, tapi mereka juga tidak lemah.


"Tidak, waktunya belum tepat," jawab Luna sambil memperhatikan bagian luar goa.


"Bagaimana jika mereka berhasil menemukan goa ini?" tanya Zakila sekali lagi.


"Memang itu yang kita inginkan, Aku sengaja membuat celah agar mereka dapat mengikuti kita."


Senja berkata dengan serius, ia sengaja melakukan itu untuk memancing kelompok Dira untuk saat ini.


"Sebaiknya kita istirahat sekarang karena besok mungkin akan sangat melelahkan," seru Muna mengakhiri percakapan.


"Baiklah."


Setelah percakapan panjang mengenai rencana selanjutnya Luna dan yang lainnya segera beristirahat di dalam goa. Mereka tahu jika besok adalah hari penting dimana pemburuan yang sesungguhnya akan dimulai. Meski begitu istirahat yang cukup sangatlah penting untuk kesehatan.


"Bagaimana dengan Kun?" tanya Muna sesaat sebelum Senja benar-benar tidur.


"Hmm. Bukan masalah besar, jadi tenang saja."


"Ku harap Kun bisa cepat kembali."


"Terima kasih."


Muna lalu membalikkan badannya setelah mendengar jawaban acuh tak acuh nya Senja.


****


Pagi hari di hutan buatan terasa begitu segar. Suasana goa pun masih terlihat damai, meski sebelumnya terasa panas. Senja yang cukup istirahat bangun dalam keadaan bugar. Meski begitu rasa khawatir masih tetap ada dipikirannya.


"Hah, aku jadi tidak sabar."


Setelah 10 menit Senja bangu, Muna dan Maya pun terbangun bersamaan. Dua menit kemudian Luna dan Zakila pun bangun. Mereka terlihat segar, dengan pandangan jernih dan tubuh yang sehat.


"Dalam kondisi seperti ini, kita mungkin akan menang. Aku yakin 80%." seru Muna sambil mengamati kesehatan temannya.


"Kenapa 20% lagi?" tanya Zakila asal.


"..."


Seperti biasa tidak ada jawaban dari Muna. Zakila yang menyadari hal itu hanya bisa mendengus kesal sebelum pergi keluar goa.


"Tidak baik," seru Zakila beberapa saat sebelum ledakan hebat terjadi di pintu goa.


"Ada apa?" teriak Maya khawatir.


"Mereka datang." seru Zakila sambil menunjuk ke arah hutan.


Senja dan Muna bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Disana tidak jauh hanya berjarak 300 meter, keduanya bisa melihat Dira dan kelompoknya berdiri.


"Cepat sekali mereka disini," seru Muna tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Tidak bisakah mereka datang setelah aku sarapan dulu." batin Senja kesal dengan kedatangan mereka.


"Senja, ambil ini." Luna menyerahkan barang milik Senja yang tertinggal di dalam goa.


"Zakila, Muna." Maya dengan cepat menyerahkan pedang dan barang lainnya milik Zakila dan Muna.


Saat mereka masih sibuk dengan barang masing-masing seketika saja sebuah anak panah melesat cepat menuju goa pintu goa.


"BRAK!"


Panah itu hancur ketika menabrak tameng yang muncul disaat yang tepat. Muna dan Senja kaget saat melihat kejadian itu sedangkan Maya dan Luna yang menggelengkan kepala.


"Untung saja aku sudah bersiap," lirih Zakila lega.


Dira yang melihat panah itu hancur segera marah, ia langsung meluncur ke depan pintu goa bersama Mari dan Tasya.


"Hahaha, ternyata disini tempat tikus-tikus itu sedang bersembunyi."


Tawa Mari terlihat sangat ganas. Ia terlihat seperti menyimpan dendam yang teramat dalam pada kelompok Senja.


"Kali ini kalian tidak akan bisa kabur," teriak Dira sambil meluncurkan serangan tombak api ke arah pintu gua


Segera Senja dan yang lain melompat dari bibir gua untuk menghindari serangan mematikan itu. Mereka berlima loncat ke arah yang berbeda menjadi empat bagian.


Di sisi Timur ada Muna yang sudah siap dengan pedangnya untuk menyerang dan di sisi Barat ada Luna dan Zakila yang sedang memasang kuda-kuda penyerangan.


Sedangkan di sisi Utara ada ada Maya yang siap menghadang serangan dari kelompok Dira. Serta di sisi Selatan ada Senja yang siap merapalkam mantra teleportasi agar mereka semua bisa bertemu di satu titik.


Bentuk formasi yang sangat berantakan di antara mereka membuat para penonton di podium terlihat bersemangat. Mereka penasaran siapa kali ini yang akan menang. Apakah pihak Dira atau pun pihak Luna.

__ADS_1


"Wah, pemandangan yang langka," teriak salah satu penonton pria yang antusias dengan hasil pertandingan.


"Dengan formasi yang kacau seperti itu, kurasa mereka akan kalah dengan telak," cibir wanita yang ada di sampingnya.


***


Tidak jauh dari area itu, Sarah dan temannya sedang berburu monster liar. Ketika monster yang mereka buru sudah mati, Cecil yang merasakan getaran aneh melihat ke arah Sarah dan Kira.


Tanpa banyak tanya ketiganya pun segera pergi menuju asal aura tersebut sebelum akhirnya melihat pertunjukan seru yang sulit untuk dilewatkan.


"Sungguh formasi yang kacau," cibir Sarah senang melihat kelompok Senja yang terpecah belah.


Sarah bisa melihat Dira dengan kasar melemparkan bola api ke arah Luna dan Maya. Sedangkan di sisi lain ada pertarungan sengit antara Muna dan Tasya. Keduanya saling menggunakan aura masing-masing dalam menyerang dan bertahan.


"Aku senang dengan perkelahian ini, jika bisa ada kecelakaan maka itu jauh lebih baik." gumam Sarah penuh minat.


"Sarah, kita tidak seharusnya disini." bisik Cecil yang merasa perubahan hebat dalam pertarungan itu.


Cecil dan Kira melihat Mari yang dengan semangat menyerang Zakila. Tampak dari wajahnya bahwa ia begitu gila seperti ingin membunuh Zakila saja.


Hal inilah yang membuat Kita dan Cecil khawatir akan terseret arus dan mengalami kecelakaan di dalamnya.


Sarah tidak fokus yang apa yang dikhawatirkan kedua temannya itu. Ia hanya fokus dalam pertarungan Senja dan Arina.


Terlihat jelas Senja sedang merapalkan mantra namun lagi-lagi digagalkan Arina.


"Hehehehe, aku sangat beruntung kali ini," gumam Sarah senang sambil melangkah maju menuju arah Senja.


"Kau akan masuk dalam pertarungan?" tanya Kira khawatir ketika melihat pertarungan yang sengit di depannya itu.


"Tentu saja, ini adalah kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali."


"Baiklah, jika itu keinginan mu, tapi aku dan Cecil tidak akan terlibat apa pun." seru Kira yang mendapatkan anggukan kepala oleh Cecil.


Senja terlihat tidak senang dengan kondisi kacau ini. Ia harus segera membawa sahabatnya berkumpul kembali sebelum terjadi kesalahan yang lebih besar.


Formasi mereka sangat berantakan, meski ia tahu mereka bisa mengatasinya namun jika hal ini terus berlanjut maka itu akan sangat merugikan pihaknya.


Baru saja ingin melontarkan mantra, pijakan kaki Senja langsung oleng akibat mantra sihir dari Arina. Terlihat wajah senang Arina saat melihat Senja yang sedang kesusahan.


"Sialan," gerutu Senja frustasi. Ia harus bisa membuat pijakan kaki yang sempurna sebelum merapatkan mantra sihir teleportasinya.


"Mau kemana buru-buru sekali."


Sebuah suara yang familiar mengagetkan Senja, ia dengan perlahan menoleh ke arah tempat suara tersebut berasal. Disana Senja melihat Sarah yang sedang tersenyum nakal terhadapnya.


Senja semakin kesal ketika melihat kehadiran orang yang tidak di undang dalam pertarungan kali ini.


"Sekarang kau adalah milik ku," seru Sarah tajam sambil melirik sekilas pada Arina.


Segera setelah itu Arina mundur kebelakang menuju arah Dira. Sepertinya, ia tahu apa yang dimaksud dengan kata 'milik ku' sehingga memutuskan untuk segera pergi.


Senja yang melihat itu merasa sedikit bersyukur meski sulit untuk menghadapi Sarah tapi itu bukan berarti ia tidak bisa.


Sekarang pertempuran ditempat itu menjadi skala yang sangat besar dengan adanya kehadiran pihak ketiga diantara mereka. Kelompok Senja yang terdesak pun memutuskan untuk menjauh dari tempat itu sambil tetap menjaga pertarungan.


Mereka harus bisa berpencar agar kekuatan musuh juga bisa berkurang. Muna yang berada di arah timur mendorong Tasya terus masuk ke dalam hutan. Ia harus bisa menjauhkan Tasya dari Dira sesegera mungkin, begitu pula dengan Luna dan si kembar.


Mereka segera berlari menuju hutan namun masih tetap menjaga punggung mereka dari serangan Dira. Sedangkan Mari menjadi lebih gila saat Zakila dengan gesit menghilang dari balik pohon menuju kedalaman hutan. Melihat itu, Senja sadar bahwa ia juga harus kabur dari tempat ini.


Segera Senja mengambil langkah panjang untuk memisahkan Sarah dari kedua temannya tersebut. Sarah terus berlari tanpa henti sambil mengejar Senja.


"Mereka benar-benar terpisah untuk saat ini," gumam Noah yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di layar kaca podium.


"Sekarang pertarungan akan menjadi pertarungan individual. Dimana mereka akan menggunakan kekuatan masing-masing tanpa campur tangan pihak lain," seru putra mahkota yang masih melihat ke arah layar podium.


Para penonton terlihat lebih antusias dari pada sebelumnya. Mereka kini memasang taruhan yang lebih besar lagi, ada yang menggadaikan rumahnya ada juga yang menggadaikan perhiasan serta bisnisnya dan masih banyak lagi.


Prof Xei yang melihat siswanya bertarung dengan sengit menatap layar di hadapannya dengan perasan gelisah. Meski peraturan ujian kali ini tidak boleh ada siswa yang saling membunuh tapi mereka masih bisa menghancurkan satu sama lain.


Prof Xei khawatir jika kelima murid yang tidak bersalah itu akan terluka parah dan mungkin saja kesempatan untuk bertarung lagi sangatlah kecil.


"Tenang saja Prof Xei, mereka akan baik-baik saja." Prof Edward mencoba menenangkan kepala sekolah untuk sesaat.


"Benar kata Prof Edward pak kepala, mereka akan baik-baik saja. Kita harus bisa fokus dalam hal ini untuk memantau semua siswa yang sedang menjalani ujian."


Miss Aila terlihat tenang untuk ukuran seorang wanita. Ia jelas tahu jika ujian kali ini pasti ada campur tangan pihak bangsawan yang menentang pangeran mahkota namun ia juga tidak bisa gegabah mengambil tindakan karna yang bertarung kali ini juga seorang putri kaisar.


Mereka tidak bisa menghentikan pertarungan begitu saja. Jika tidak ingin di provokasi oleh pihak luar yang siap mengambil alih akademik, mereka harus bisa tenang dan memantau jalannya ujian.


*****


Malam hari tiba begitu cepat kali ini, Maya yang berhasil menghindar serangan Mari terus berlari dan sebisa mungkin untuk menghilangkan jejaknya. Ia bersembunyi di balik semak-semak untuk menyamarkan baunya dari musuh.


"Hah, aku sangat rindu makanan rumah. Apa aku harus menyuruh Mia untuk menyiapkannya nanti setelah ujian selesai."


Tanpa sadar air liur Maya mulai menetes dari bibirnya. Kini ia sangat lapar karena sudah seharian penuh ia berlari liar untuk menghindar serangan Mari sebisa mungkin.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya membayar apa yang telah ia lakukan pada Zakila kali ini. Hehehe," lirih Maya bersemangat sambil memakan beberapa helai rumput yang ada disekitarnya.


"Lihatlah siapa yang sedang bersembunyi disini seperti sapi. Ckckck."


Mari berhasil menemukan Maya yang sedang memakan rumput liar. Pemandangan yang sangat langka melihat putri bangsawan sedang makan rumput liar di hutan.


"Sialan," lirih Maya kesal sambil menatap tajam ke arah Mari dan tanpa pikir panjang ia pun segera mengeluarkan pedangnya dan hendak memotong leher Mari namun berhasil dihadang oleh perisai yang tebal.


"Kau..., kau bukan Zakila."


Mari terlihat kaku ketika melihat Maya yang menyerangnya dengan pedang. Ia berpikir bahwa seharian ini ia tengah mengejar Zakila. Ia begitu senang memikirkan untuk bisa mematahkan leher wanita itu.


"Apa kau kecewa, hah?"


"Sialan, kalian berani menipu ku."


"Hey, bukan kami yang menipu mu tapi diri mu sendirilah yang berhasil tertipu."


Mari menggerakkan giginya karena kesal.


"Jadi seharian ini aku telah ditipu olehnya."


"Sialan kau Maya," teriak Mari kesal sambil terus melancarkan serangan tajam ke arah Maya.


"Hehehehe, kena kau," bisik Maya pada telinga Mari ketika mereka saling berdekatan. Mari yang kesal semakin dibuat kesal dengan provokasi Maya. Dan kini arah gerakannya mulai tidak teratur akibat emosi.


Hal ini menjadikannya sangat tidak fokus sehingga keuntungan besar pun berada di pihak Maya.


"Aku akan menghabisi mu sekarang juga," teriak Mari setiap kali serangannya gagal menyentuh Maya.


Maya yang sadar akan hal itu segera mengambil tindakan tajam pada Mari. Ia dengan cepat mengarahkan pedangnya pada leher Mari namun sayang Mari berhasil menghindar dan hanya terlihat bekas goresan dalam pada lehernya.


"Sialan kau, sampah."


Mari yang merasakan sakit akibat luka gores menjadi sangat murka, ia kemudian mengarahkan tinjunya pada Maya.


"Hehehe."


Mari bisa melihat senyum jahat di wajah Maya ketika tinjunya mulai mendekat. Maya dengan ringan memegang tinju tersebut dan menggenggamnya dengan erat. Ia menarik kasar pergelangan tangan Mari dan memukulnya dengan keras.


"Krek."


Terdengar suara tulang yang patah, dengan refleks Mati menarik tangannya sambil menjerit kesakitan namun sayangnya pergelangan tangan Mari masih digenggam erat oleh Maya. Segera Maya menarik leher Mari dan mencengkeramnya dengan erat.


Mari memberontak dengan keras namun semakin ia berontak maka semakin keras pula genggaman tangan Maya. Melihat wajah Mari yang mulai memucat membuat senyum jahat di wajah Maya semakin melebar.


Penonton yang melihat ini sangat tertarik, mereka sempat berspekulasi jika Maya lah yang akan kalah dalam pertarungan tersebut karena Mari terus menyerangnya tanpa henti. Namun kini siapa yang tahu jika Mari lah yang akan kalah dalam pertarungan ini.


Vincount Lapedi yang melihat putrinya dikalahkan dengan kesal memandang ke arah layar, tangannya terkepal erat siap untuk menghancurkan Maya kapan pun.


Sebelumnya ia terlihat senang bahwa putrinya unggul dalam pertarungan namun seperti guntur disiang bolong situasi sekarang sangat buruk bagi putrinya. Ia sempat memandang ke arah selir Jina yang merupakan ibu Dira.


Namun selir Jina malah acuh tak acuh terhadapnya. Ia lebih fokus terhadap putrinya sendiri yang tengah bertarung melawan Luna.


"Sungguh sial," cicit Vincount Lapedi tidak percaya dengan situasi saat ini bahkan kaisar terlihat acuh untuk putrinya, ia hanya berharap jika ini segera berakhir.


Disisi lain Mari yang sudah kehabisan napas tidak bisa bergerak sama sekali di tangan Maya. Melihat itu Maya segera mendorong Mari menjauh ke dalam hutan sambil terus tersenyum jahat.


Disudut hutan yang gelap, Maya bisa melihat sebuah jebakan kecil yang hanya diketahui olehnya. Jebakan itu sudah diatur sejak awal oleh dirinya dan ketiga sahabatnya yang lain.


Segera Maya melemparkan Mari ke dalam jebakan tersebut. Tentu saja yang namanya jebakan pasti ada sesuatu di dalamnya. Hal itu sudah cukup untuk menahan Mari sampai akhir ujian.


Mari yang dilemparkan ke dalam jebakan itu hanya bisa berteriak histeris. Tangan kanannya sudah patah dan lehernya juga sulit untuk digerakkan dan meski kini ia bebas, namun udara yang ada di dalam jebakan sangat tipis sehingga Mari dengan susah payah menarik napas dalam-dalam agar tidak kekurangan oksigen di dalam tubuhnya.


"Siapa tikusnya sekarang?" tanya Maya yang berhasil menarik perhatian Mari untuk melihat ke atas. Disana Mari bisa melihat wajah Maya yang tersenyum dengan ganas di bawah sinar rembulan yang begitu terang.


Pemandangan itu sungguh menyeramkan baginya. Ia takut, tubuhnya bergetar tanpa henti. Baru kali ini ia merasakan rasa takut yang sebenarnya. Mari ingin menangis namun ia tidak bisa.


Ia terlalu takut untuk menangis sekarang. Maya yang melihat ekspresi ketakutan dari Mari langsung terlihat bahagia.


"Beginilah seharusnya diri mu," batin Maya senang. Ia lalu melambaikan tangan ke arah Mari sambil memperlihatkan gulungan di tangannya.


Melihat gulungan yang berada di tangan Maya membuat wajah Mari semakin panik. Ia merogoh tubuhnya untuk menemukan gulungan yang sama namun hasilnya nihil..


Mari tahu jika ia gagal pada ujian kali ini maka ia tidak bisa naik tingkat dan harus mengulanginya tahu depan.


"Sungguh sial," cicit Mari tabah sambil menyentuh dinding jebakan.


Seketika tubuhnya menegang dengan sensasi yang baru saja ia rasakan. Dinding yang baru saja ia pegang kini berubah menjadi sebuah jalan besar dan jebakan itu pun berubah menjadi sebuah markas monster yang penuh dengan bau menjijikan.


"Sialan kau Maya."


"Hahaha, selamat bersenang-senang, dan juga sampaikan salam ku pada pemimpin monster disana karena telah merusak sedikit markasnya ini, hehehehe."


Tawa Maya bergetar ditelinga Mari yang membuatnya semakin merinding.


"Sialan," teriak Mari frustasi sambil menyiapkan perisai berlapis ganda untuk menghadang para monster mendekatinya.

__ADS_1


__ADS_2