Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E43] Mayat Hidup


__ADS_3

"Memang benar sulit untuk menyatukan dua hal yang berbeda, namun bukan berarti itu tidak mungkin."


*****************#####*****************


Untuk hari ini Senja terpaksa beristirahat, ia lelah karena interaksi sulit di antara kedua elemennya yang berbeda. Meski begitu ia tetap merasa senang karena berhasil menyatukan keduanya.


"Nona, seperti yang di instruksikan oleh Tuan Lucas, anda tidak boleh melakukan apa pun untuk hari ini dan beberapa hari ke depan."


"Hah," Senja kaget dengan apa yang dikatakan Dian padanya. Sejak kapan Lucas berani memerintahkan dirinya seperti itu.


"Aku hanya setuju untuk istirahat selama satu hari penuh," keluh Senja tidak terima.


"Bagaimana itu bisa menjadi beberapa hari?" lanjutnya penuh dengan protes.


"Nona, anda bisa menilai sendiri bagaimana itu bisa terjadi. Saya sendiri pun setuju dengan perintah Tuan Lucas ini."


Tidak biasanya Dian bersikap seperti itu, ia biasanya selalu mendukung Senja apa pun keadaannya.


"Kau...," mata Senja menyipit dengan tajam.


"Berapa banyak dia menyuap mu, hah? Berapa banyak suapan itu sehingga kau berkhianat pada ku?" tanya Senja penuh penekanan.


Dian hanya menggelengkan kepalanya dengan malas. Ia tidak berniat untuk menjawab dan hanya fokus pada pekerjaannya.


"Anak ini, sudah berani rupanya." teriak Senja marah.


"Sebaiknya kau ikuti saja kata mereka. Bocah itu pun juga sama, ia khawatir pada mu, kau bisa menilai hal itu setelah kau bercermin nanti."


Kun akhirnya angkat bicara setelah keributan yang membuatnya terjaga. Ia terlalu malas untuk menjelaskan jika Senja sejujurnya baik-baik saja dan hanya cangkang luarnya saja yang terlihat buruk.


"Kau juga mendukung mereka?" teriak Senja sekali lagi.


Kun yang acuh tak acuh hanya bisa menutupi kupingnya dengan malas, ia kemudian melemparkan sebuah cermin pada Senja sebelum memilih untuk kembali tidur lagi.


"Kakek tua sialan itu," cibir Senja kesal namun ia masih mengambil cermin yang baru saja di lemparkan oleh Kun.


Ketika ia pertama kali melihat cermin itu, Senja menjadi sangat syok. Ia tahu jika kondisi fisiknya mungkin sedikit pucat namun kali ini kelihatannya sangat jauh berbeda.


Ia lebih terlihat seperti makhluk abadi tanpa darah di bandingkan dengan zombie. Mulai dari bibirnya yang pucat dan kelopak matanya yang layu, bahkan pipinya pun tampak sangat tirus dari pada sebelumnya.


"Siapa ini?" batin Senja kaget. Ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri, bagaimana dengan orang lain yang melihatnya.


Dengan rasa panik dan juga penasaran yang tinggi, akhirnya Senja memutuskan untuk berdiri dari tidurnya dan melangkah maju menuju cermin yang ukurannya jauh lebih besar.


"Astaga, mahkluk apa ini? Bagaimana ini bisa terjadi?" cicit Senja tidak percaya dengan penampilannya sendiri.


Meski ia masih menggunakan pakaian yang sama seperti yang terakhir kali ia pakai, namun sangat jelas terlihat bahwa ia tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Aku merasa sangat sehat, bahkan lebih sehat dari pada sebelumnya tapi mengapa kondisi fisik ku sangat tidak mendukung?" tanya Senja bingung.

__ADS_1


Tubuh yang kurus kering dan hanya menyisakan tulang saja. Wajah yang pucat dan suhu tubuh yang bahkan lebih dingin dari pada gunung es di Utara. Bagaimana bisa kondisi seperti ini bisa dikatakan baik-baik saja.


"Astaga Nona, aku baru saja meninggalkan anda sebentar tapi apa yang anda lakukan sekarang." teriak Dian kaget saat melihat Senja yang berdiri dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di definisikan.


Dian kemudian menarik nona nya itu kembali ke tempat tidur. Ia lalu mendudukkan Senja di sana sembari mengambil air untuk membersihkan kulitnya.


"Bahkan Nona sangat ringan, aku khawatir Nona akan terbang jika terkena tiupan angin sedikit Saja." batin Dian sedih saat sedang membersihkan tubuh Nona Nya itu.


Ia bertekad dengan kuat untuk bisa merubah dirinya yang dulu. Mencoba untuk menjadi lebih kuat dari pada yang bisa nona nya harapkan darinya. Ia ingin nona nya tidak akan pernah mengalami kejadian malang di kehidupan selanjutnya.


Senja yang masih syok dengan penampilannya itu hanya bisa diam tidak berkata apa pun. Ia bingung sekaligus penasaran tentang kondisinya itu.


"Aku memang harus menjumpai dirinya," gumam Senja yang berhasil di dengar oleh Dian.


"Nona!" teriak Dian kesal.


"Sudah saya katakan jika Nona tidak boleh kemana-mana. Dan lagi siapa itu? Biar saya saja yang menemuinya jika memang itu penting."


"..."


Senja hanya diam menatap dalam ke arah mata Dian. Ia kemudian membalikan tubuhnya sambil berkata "Pergilah."


"Nona...!"


"..."


"Baiklah jika Nona memang tidak mau bicara, biar saya cari tahu sendiri nanti." seru Dian kemudian pergi dari kamar Senja.


Ia terlihat marah karena baru kali ini nona nya tidak mengatakan apa pun padanya. Ia kesal karena nona nya masih belum bisa memaafkan dia karena kejadian memalukan saat itu.


"Aku akan pergi menemuinya." lirih Dian dengan emosi tajam di matanya. Ia kemudian bergegas merobek gulungan teleportasi dan beberapa saat setelahnya ia pun menghilang.


"Hah, anak itu ribut sekali." gumam Senja setelah kepergian Dian.


Setelah hanya ada dirinya di kamar itu, Senja merasa bosan. Ia bingung harus melakukan apa seharian di sana. Biasanya ia akan memilih untuk membaca buku sambil melihat siswa dan siswi yang sedang berlalu lalang di sekitar asramanya.


Namun kali ini ia malas untuk melakukan hal itu, ia juga sedang banyak pikiran. Jadi ia malas saja untuk bergerak dan melakukan hal lain.


"Pekerjaan menjadi pemalas itu memang enak, namun itu juga membosankan." seru Senja saat mengambil paksa tubuh Kun yang berada di atas meja.


"Kau...!" lirih Kun kesal. Ia baru saja ingin beristirahat dengan tenang namun tubuhnya kini sudah berada di dalam pelukan Senja.


"Bagaimana rasanya beristirahat seharian?" tanya Senja bosan.


"Kau hanya perlu menutup mata mu dan tidur." balas Kun acuh tak acuh.


"Kau memang bawahan yang tidak bisa diajak bicara." lanjut Senja masih dengan memeluk erat tubuh Kun.


Jujur saja tubuh Kun itu sangat lembut, sama lembutnya dengan rambut Senja yang entah mengapa sama sekali tidak mengalami perubahan. Hanya rambutnya itu yang masih dibilang layak untuk dilihat sedangkan sisanya bisa di bilang tidak.

__ADS_1


"Lepaskan aku," pekik Kun yang mencoba untuk melarikan diri.


"Hehehe, tidak semudah itu."


"Kau..., kelihatannya saja lemah tapi kekuatan mu jauh lebih kuat dari pada sebelumnya."


"Kau memang pandai."


"Tentu saja, aku sudah hidup jauh ratusan tahun dari mu dan dari bocah-bocah kecil itu."


"Begitu."


"Jelas. Ah iya dimana bocah yang sering menempel pada mu saat ini?"


"Maksud mu Ristia?"


"Iya bocah itu, memang siapa lagi yang sering menempel pada mu selain dirinya."


"Entahlah mungkin ia sedang bermain dengan yang lain."


Senja terlihat acuh, ia sama sekali tidak tahu dimana keberadaan Ristia. Namun satu yang pasti Ristia saat ini baik-baik saja.


"Kau melepasnya begitu saja, dasar ceroboh."


"Aku membiarkannya untuk bermain, lagi pula ia hanya menemui Lily, memang apa yang salah?"


"Hah, tidak ada."


"Jelaskan. Kau terlihat enggan menjelaskan situasi di antara hewan-hewan magic itu."


"Aku memang yang tertua, tapi bukan berarti aku harus mendidik mereka. Lagi pula mereka sudah dewasa, jadi bisa memilih untuk memulai jalan yang mana."


"Itu sama saja membuang mereka namanya."


"Yah terserah kau mau bilang apa, tapi yang pasti lepaskan aku."


Kun mencoba untuk melarikan diri lagi namun lagi dan lagi ia gagal. Ia kesal dan ingin mengubah dirinya menjadi besar namun Senja berhasil menekannya sehingga ia tidak bisa bertransformasi.


"Kau, teknik apa yang sedang kau gunakan?"


"Tidak ada tuh," balas Senja acuh tak acuh.


"Bocah ini," pekik Kun kesal.


"Kau sudah lama tidak bertemu dengan Vanilla bukan? Karena aku merasa bahwa Vanilla butuh bimbingan dari orang tua seperti mu, maka dari itu kita akan pergi menemuinya."


"Sialan," pekik Kun yang bahkan belum selesai mengucapkan kalimatnya


Portal sihir seketika terbuka lebar di bawah tubuh mereka. Portal itu kemudian bersinar dengan terang dan menghilang bersamaan dengan kepergian keduanya.

__ADS_1


__ADS_2