
"Hal yang selalu kau tutupi pasti suatu saat nanti akan diketahui oleh orang lain juga."
******************#####****************
Di malam yang tenang seorang wanita muda tengah menikmati indahnya pemandangan langit. Wanita itu terlalu asyik dalam dunianya sehingga sama sekali tidak menyadari ada sosok pria misterius yang tengah mengamatinya.
Pria itu terus melihat wanita muda itu sampai akhirnya ia memutuskan untuk datang dan menghampirinya.
Jarak yang tersisa dari keduanya hanya tiga meter lagi namun wanita itu masih belum menyadari kehadiran pria tersebut. Wanita masih saja berada di dunianya, entah apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan namun yang pasti pria itu terus saja melangkah mendekatinya.
Ketika pria itu tepat berdiri dihadapannya barulah si wanita muda menyadarinya. Ia sadar ketika langit yang tengah ia pandang kini berubah menjadi wajah pria tampan itu.
"Cavil!" teriak Senja kaget ketika wajah Cavil tepat berada di hadapannya.
"Sedang apa kau disini?"
Senja bertanya dengan ekspresi wajah yang masih kaget. Ia sempat berpikir jika seluruh anggota keluarga Winter tengah berdiskusi di dalam ruang kerja Marques.
"Itu bukan urusan mu," seru Cavil dingin sama seperti sebelumnya.
"Huh, dasar aneh," gumam Senja pelan sambil mendorong tubuh Cavil menjauh darinya.
Anehnya bukannya menjauh Cavil malah mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Senja yang hendak mendorongnya. Senja yang mendapati tekanan dari genggaman tangan Cavil hanya bisa mengerang kesakitan.
"Ugh, lepaskan aku." gerutu Senja sambil menggoyangkan kedua lengannya yang terkunci.
" ... "
"Apa yang kau inginkan?" tanya Senja kesal ketika setiap kali hendak melawan pergelangan tangannya semakin digenggam erat.
"Diam dan tenanglah."
"Hah, apa?"
Senja terlihat semakin bingung ketika Cavil terus saja menatapnya tajam tanpa sedikit pun melonggarkan genggamannya.
"Jangan pernah berpikir untuk menggunakan sihir mu pada ku, itu sama sekali tidak berguna," seru Cavil ketika ia melihat Senja yang sudah siap merapalkan mantra.
"Sialan,"
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Senja untuk keduanya kalinya.
" ... "
Namun seperti biasa Cavil hanya diam dan terus menatapnya dingin. Tatapan Cavil membuat Senja semakin kesal. Ia ingin menyuruh Lily untuk membuat Cavil lumpuh sesaat namun jawaban Lily sungguh di luar dugaan.
"Nona, sihir ku sedang di kunci."
"Hah, apa? Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu Nona tapi yang pasti ia sedang menggunakan alat anti-magic sekarang."
"Sialan."
Link batin pun terputus ketika Cavil mulai mendekatkan wajahnya pada Senja.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Cavil tajam di setiap katanya.
"Siapa kau yang berani membuat ilusi aneh seperti itu?" lanjut Cavil dengan penekanan kuat di akhir kalimatnya.
Senja yang mendapatkan pertanyaan itu hanya bisa diam membeku. Senja sama sekali tidak menyadari jika kejadian tadi sore membuatnya begitu sulit sekarang.
"Lain kali aku harus berhati-hati dalam menggunakan kekuatan ku,"
Senja sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang Cavil. Ia hanya diam sambil menatap lurus ke arah mata hitam itu.
"Apa maksud mu, aku... Ugh."
Perkataan Senja terhenti ketika pergelangan tangannya terus ditekan oleh Cavil.
"Jangan pernah mencoba untuk membohongi ku," seru Cavil tajam ketika ia tahu bahwa Senja sedang bermain dengannya saat ini.
"Hentikan ini, kau menyakiti ku," gerutu Senja ketika ia mulai merasakan rasa pedih di kedua pergelangan tangannya.
"Jika kau terus menekannya maka tangan ku bisa patah," lanjut Senja dengan ekspresi wajah kesakitan.
"Jangan berbohong."
"Aku tidak berbohong."
__ADS_1
"Kau selalu saja terlihat lemah, tapi aku tahu jika kau itu sangatlah kuat."
" ... "
"Jangan pernah terlihat menyedihkan lagi di hadapan ku, karena itu tidak ada gunanya."
"Kau, sialan."
"Hah, lucu sekali," cibir Cavil ketika ia melihat wajah ganas Senja yang terlihat siap untuk menerkamnya kapan saja.
"Hei, aku beritahu pada mu jika sekarang aku tidak berbohong, ini benar-benar sakit dan jika kau terus menggenggamnya dengan erat maka pergelangan tangan ku akan patah nantinya," seru Senja masih dengan perlawanan tajam.
"Kalau begitu maka kau harus menjawab apa yang sudah aku tanyakan pada mu sebelumnya."
" ... "
"Siapa kau sebenarnya dan apa tujuan mu terhadap adik ku? Aku tahu jika kau sejak awal tidak pernah berada di kediaman ini tapi mengapa kau menyebarkan rumor jika kau telah bersembunyi disini selama ini?"
" ... "
"Jawab aku, bukankah kau ingin bebas? Mengapa kau memanfaatkan adik ku seperti itu hah?" Cavil terus saja bertanya tanpa memperdulikan rasa sakit yang diderita Senja.
Senja yang tahu jika Cavil memang sejak awal sudah curiga padanya hanya bisa menghela napas panjang.
"Sialan kau,"
"Bisakah kau melepaskan pergelangan tangan ku dulu?" tanya Senja kesal.
Senja merasa jika saat ini tulangnya sedang berfluktuasi untuk segera hancur.
"Bukankah aku sudah bilang jika kau ingin lepas maka jawablah seluruh pertanyaan ku."
Cavil yang keras kepala tidak ingin melepaskan pergelangan tangan Senja dengan mudah.
"Apa aku harus pemukulnya sampai ia pingsan lalu kabur," gumam Senja dalam hatinya masih dengan wajah yang datar.
"Nona, aku bisa membuatnya pingsan jika kau mau," seru Ristia seolah tahu apa isi hati nona nya itu.
"Hah, sebaiknya jangan. Aku takut jika ia akan semakin sadar bahwa aku benar-benar kuat."
"Tapi Nona..."
Percakapan Senja dengan Ristia terhenti ketika Cavil menjentikkan jarinya di hadapan Senja.
"Apa yang kau pikirkan? Mencoba untuk kabur dengan menipuku dengan wajah memelas mu itu?"
" ... "
"Bukannya aku menyuruh mu untuk menjawab? Mengapa kau diam seperti patung begitu," ejek Cavil masih dengan tatapan mengintainya.
"Hah, aku lelah. Aku pikir jika pergi ke taman bisa membuat ku tenang namun nyatanya,"
gerutu Senja sambil melirik sekilas pada wajah Cavil yang masih setia dengan tatapan dinginnya.
"Pria batu ini mana mungkin bisa mengerti,"
"Baiklah, baiklah," seru Senja ketika Cavil tidak hentinya menatap dirinya.
"Aku, kurasa kau sudah tahu siapa aku sebenarnya jadi aku tidak akan memperpanjang hal ini namun sebelum itu..."
Senja melirik ke bawah dimana kedua pergelangan tangannya sedang terkunci.
"Tidak bisakah kau melepas ini? Aku juga tidak akan kabur kemana-mana."
"Lagi pula aku masih membutuhkan kediaman ini untuk kabur dari mereka." lanjut Senja dalam hatinya.
Lima menit kemudian Cavil melepaskan pergelangan tangan Senja setelah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
"Huh, lama sekali dia berpikir untuk ini. Dasar aneh," gerutu Senja ketika Cavil mulai melepaskan genggaman tangannya.
"Kalau begitu ceritakan alasan mu," lirih Cavil masih menatap Senja yang kini sedang mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat ulahnya sendiri.
"Ugh, apa kau lihat ini? Jika kau terus menggenggamnya maka pergelangan tangan ku akan patah," cicit Senja ketika lingkaran merah di pergelangan tangannya mulai membiru.
Cavil yang semula menatapnya datar kini mulai menatap dingin pada sikap Senja yang mengeluh padanya.
"Baiklah, aku akan menceritakannya," seru Senja ketika ia sadar bahwa Cavil kini menatapnya dengan dingin.
"Menyebalkan Sekali, huh,"
__ADS_1
"Jadi begini, kau tahu bukan jika setelah kejadian itu mereka sedang mencari ku maksud ku adalah bahwa setelah hal tersebut maka tidak hanya sekutu bahkan musuh pun sedang mengincar nyawa ku yang sedang sekarat."
" ... "
"Sebelumnya Muna pernah mengatakan jika ia memiliki sebuah tempat rahasia dimana tidak semua mata bisa melihatnya dan tempat itu juga sudah dilindungi oleh sihir. Posisinya juga sangat dekat dengan Hutan Black Flores sehingga akan sulit bagi orang lain untuk menemukannya," seru Senja yang kini membuat kedua alis Cavil menjadi satu, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kena kau,"
Awalnya Senja berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya, namun jika begitu maka Cavil akan semakin curiga dan terus saja menyelidikinya. Oleh karena itu Senja menggunakan tempat latihan Muna untuk alasannya kali ini.
"Karena kondisi ku yang seperti itu maka akan sangat mudah bagi mereka untuk segera membunuh ku sehingga aku memutuskan untuk merahasiakan posisi ku saat itu kepada siapa pun."
" ... "
"Lagi pula karena tempat itu dekat dengan Hutan Black Flores maka aku menyuruh kedua pelayan pribadi ku untuk mencari tanaman obat-obat di sana dan setelah kondisi ku mulai membaik, aku memutuskan untuk menemui Muna sebagai awal dari semua ini," jelas Senja yang membuat Cavil sedikit terlihat percaya.
"Mengapa kau tidak menemui Luna terlebih dahulu, kau bisa saja meminta bantuan dari tuan putri kerajaan ini bukan?"
"Bisa saja begitu, namun keadaan ku juga berkaitan dengan Dira yang notabenenya merupakan putri kerajaan. Meski ia adalah seorang anak Selir, namun tetap saja akan sangat sulit bagi ku untuk melawan pengikutnya. Selain itu sikap Luna yang sangat bersemangat setiap kali kami bertemu itu bisa membuat musuh curiga. Sedangkan Muna adalah sosok yang pendiam, sehingga ia akan menjaganya dengan baik sampai kondisi tubuh ku benar-benar pulih."
"Ada benarnya, Luna selalu bersemangat jika itu berhubungan dengan kesukaannya," lirih Cavil tanpa sadar setuju dengan argumen Senja.
Cavil juga tahu betul bagaimana sifat Luna yang sebenarnya karena Luna sudah lama berteman dengan adiknya.
"Aku sudah menceritakan semuanya dan sekarang kau tahu bukan alasan aku bersama dengan Muna, bukannya aku ingin memanfaatkannya tetapi kondisi itulah yang membuat ini terjadi," seru Senja ketika Cavil sudah mulai menurunkan kewaspadaannya.
"Aku harap kau mengerti dengan alasan ku sehingga tidak ada lagi salah paham di antara kita selanjutnya," lanjut Senja dengan memasang ekspresi tabah.
"Hah, baiklah untuk sekarang kau bisa ku bebas," lirih Cavil sambil melangkah pergi dari taman.
"Tapi kau harus ingat bahwa aku masih belum bisa mempercayai mu seutuhnya dan kau juga masih belum menjawab pertanyaan pertama dari ku," lanjut Cavil sebelum ia benar-benar menghilang dari taman.
"Untuk sekarang? Hahahaha, kau lucu sekali Cavil."
Senja kembali mengulang kalimat yang sebelumnya diucapkan Cavil. Ia sangat membenci pria itu dan berharap untuk membunuh pria itu jika ia bisa.
"Sejujurnya aku tidak berbohong jika keadaan lah yang membuat ku memanfaatkan mereka," lanjut Senja ketika ia melihat Dian yang mulai mendekatinya sambil membawa nampan berisi cemilan dan teh.
"Dari mana saja kau?" tanya Senja penasaran karena sudah lebih dari 30 menit Dian tidak kembali setelah ia pergi untuk mengambil cemilan.
"Maaf Nona, saya tersesat sebelumnya," lirih Dian dengan napas terputus-putus sama persis seperti orang yang baru saja selesai berlari.
"Tersesat?"
"Iya Nona, saya tidak bisa menemukan taman ini untuk sesaat," jawab Dian jujur.
Senja kembali mengerutkan keningnya. Ia tahu jika lokasi tempat ini tidak jauh dari dapur utama karena jaraknya hanya 5 menit jika berjalan kaki.
"Bagaimana bisa ia tersesat?"
Senja kemudian teringat tentang kejadian sesaat sebelumnya ketika Cavil mendatanginya.
"Ada yang aneh," gumam Senja pelan.
"Hah, apa Nona?" tanya Dian setelah mendengar suara samar dari Senja.
"Tidak, bukan apa-apa."
"Benarkah?"
"Iya, kalau begitu mari kita kembali ke kamar karena ini sudah larut malam," lanjut Senja sambil melangkah pergi dari taman bersama dengan Dian di belakangnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa Cavil adalah pengguna sihir? Hal ini agak aneh karena setahu ku keluarga Winter hanya melahirkan ksatria dan sejak lama mereka tidak perna memiliki kekuatan sihir sedikit pun,"
Senja terus memikirkan semua kemungkinan yang terjadi padanya karena Cavil. Ia tidak tahu jika keturunan Winter juga memiliki darah penyihir yang mengalir di dalamnya.
"Apa mungkin Cavil berbeda dari yang lain?"
Senja dengan santai duduk di sofa yang berada tepat di depan jendela kamarnya. Ia kembali teringat dengan sosok Cavil dan kekuatan fisiknya yang berbeda dari Muna dan Mina.
"Apa benar dia sekuat itu?" gumam Senja sambil melihat keluar jendela kamar.
"Siapa yang anda maksud 'kuat' Nona?"
"Bukan siapa-siapa dan Dian sekarang kau bisa keluar," seru Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Dian.
"Aku harus menyelidikinya,"
Senja kemudian mengambil pena dan kertas yang ada di dalam laci mejanya. Ia menulis surat dengan memberikan detail informasi yang ingin dia dapatkan. Senja juga tidak lupa menyuruh bawahannya untuk mencari atar belakang Ira, pelayan pribadi Sarah.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh Morreti untuk menyelidiki hal ini."