
"Semakin candu seseorang akan suatu hal maka semakin gila pula dia untuk mendapatkannya."
*****************######****************
"Nona, persiapannya sudah siap," lirih Dian sambil memberikan jubah hitam pada Senja.
"Bagus, mari kita berangkat."
Sebelum keluar kamar Dian terlebih dahulu memeriksa keadaan asrama. Setelah dirasa cukup aman, Dian lalu kembali dan mengabari Senja. Beberapa saat kemudian keduanya keluar dari asrama tanpa diketahui oleh siapa pun.
"Nona, saya sudah menyiapkan kereta kuda tidak jauh dari gerbang Akademik."
"Bagus sekali."
Sesampainya di pintu gerbang, Senja langsung menaiki gerbong kereta sedangkan Dian yang menjadi kusirnya.
Kondisi di sepanjang jalan menuju pasar gelap terasa tenang. Semua toko pakaian dan makanan tutup menyisakan lampu jalan yang menerangi kereta kuda.
15 menit kemudian Senja sudah sampai di pintu masuk pasar gelap. Seperti biasa ia menyebutkan kata kunci dan segera tembok lusuh itu terbuka.
Saat Senja melihat lorong temaram menuju pasar gelap, tanpa sadar Senja jadi teringat kembali tentang pintu rahasia di bawah paviliun permaisuri Mawar.
"Ingatan ini sangat sulit diabaikan."
Di dalam pasar gelap masih seperti biasa meskipun sudah empat bulan Senja tidak berkunjung disana tapi kondisi pasar masih tidak ada perubahan.
"Dian, dari sini kau harus mulai berhati-hati dan jangan berbicara sebelum aku perintahkan."
"Baik Nona."
"Bisnis dimulai."
Senja memasang senyum aneh yang membuat Dian sebagai pelayannya selama ini hanya bisa mengerutkan kening dengan tindakan nona nya itu.
Segera setelah itu Senja bergegas pergi menuju rumah pertarungan dimana ia akan bertemu dengan Count Servan untuk bertransaksi.
"Nona, tempat ini sangat busuk," lirih Dian dengan ekspresi tidak suka ketika melihat para petarung yang keluar dengan rantai di lehernya.
"Tenangkan dirimu, masa lalu biarlah berlalu ada saatnya dimana kau bisa membalas dendam jadi bersabarlah."
Dian hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar penuturan Senja. Meski rasanya sakit sampai harus mengamuk tapi Dian membenarkan apa yang dikatakan nona nya itu.
Lama Senja berjalan masuk menyusuri lorong rumah pertarungan tapi ia masih belum juga menemukan tuan Count.
"Apa dia sudah mati?" tanya Senja kesal pada dirinya sendiri.
"Hey kau yang disana."
Senja menunjuk salah satu petugas yang sedang berjaga di depan pintu petarung anak-anak.
"Ada apa Nona?"
"Dimana Count pemilik gedung ini?"
"Itu, dia..., dia..."
"Apa dia sudah mati?"
"Eh, tidak Nona sekarang Count sedang...."
Penjaga itu terlihat kebingungan, ia seperti sedang menimbang alasan yang cocok untuk Senja.
"Sedang apa hah? Apa sedang memandikan kecubung atau sedang sekarat saat mandi?"
Terlihat sekali wajah kesal Senja yang membuat penjaga itu sampai meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
"Ya mana saya tahu. Saya kan cuman penjaga bukan baby sister-nya tuan Count," gumam penjaga itu dalam hatinya dengan wajah panik sekaligus kesal.
"Oho, siapa ini?"
Terdengar suara tajam dari balik si penjaga. Senja yang kesal dengan malas melirik ke arah sumber suara tersebut.
__ADS_1
"Tu, tuan Count," pekik si penjaga kaget dengan ekspresi takut. Ia merasakan perasaan mencekam dan menyeramkan dari balik punggungnya.
"Hik, kenapa aku berada di sini,"
Penjaga itu merasa bahwa posisinya sungguh salah. Berada tepat diantara nona muda misterius dan tuan pemilik tempat ini.
"Aku ingin pulang,"
Penjaga tersebut mulai mengeluarkan keringat dingin seperti air terjun mulai jatuh bercucuran.
"Count."
"Selamat datang Nona," sapa Count Servan santai masih dengan senyum misteriusnya.
"Tidak usah basa-basi aku datang kesini untuk meminta sesuatu dari mu."
"Oho, baiklah nona kalau begitu ikuti aku."
Senja dan Count pun meninggalkan tempat itu untuk masuk lebih jauh lagi menuju ke kedalaman lorong tersebut yang hanya diterangi oleh lentera saja.
"Syukurlah, aku selamat," lirih penjaga itu lega setelah melihat tuan Count dan Senja pergi meninggalkannya.
Dian yang melihat ekspresi lega dari si penjaga hanya bisa menatapnya aneh.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu lega sekali?"
"Tentu saja itu karena kepergian nona mu dan tuan count dan tempat ini."
Ingin sekali si penjaga berteriak mengutarakan isi hatinya tapi ia memilih untuk diam dan tidak mengatakan hal tersebut.
"Apa kau bisu?"
"..."
Penjaga itu tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan Dian. Ia tahu jika Dian hanyalah seorang pelayan dan bukan majikan.
Dian yang merasa diabaikan segera pergi meninggalkan penjaga itu dan mengikuti Senja dari belakang.
"Lama tidak berjumpa Nona," seru Count servan masih dengan senyum aneh mengembang di wajahnya.
"Tidak usah banyak basa-basi tuan Count, langsung saja ke intinya."
"Hahaha, anda sungguh wanita yang tidak suka bertele-tele."
"Aku berpikir setelah kejadian inspeksi waktu itu kau sudah mati di tiang gantung." ejek Senja yang membuat sudut bibir Count Servan berkedut nyeri.
"Mulut anda tajam sekali."
"Aku tidak melihat mu sejak tadi, ternyata mau bersembunyi disini."
"Aku baru saja menyelesaikan urusan personal, maaf jika itu membuatmu kesulitan disini."
"..."
"Apa yang Nona butuhkan dari saya? Apa anda membutuhkan pelayan lagi?"
"Aku datang kesini untuk meminta mu mencarikan tempat yang aman di pasar gelap untuk ku."
"Tempat?"
"Iya tempat, apa itu sulit?"
"Tidak begitu sulit, tapi untuk apa itu nona?"
"Rahasia."
Melihat count yang masih diam membuat Senja berpikir sejenak. Ia tahu jika pria di depannya ini sangat sulit untuk diajak diskusi, tapi tidak sesulit itu jika ada uangnya.
"Aku ingin membuat investasi jangka panjang dengan mu. Bagaimana?" lanjut Senja yang mendapatkan sedikit perhatian Count.
"Tidak usah banyak berpikir, aku tahu kapasitas otak mu masih belum mencukupi untuk hal itu jadi biarkan aku menjelaskan ini sampai selesai," tutur Senja tajam setelah melihat Count yang bimbang.
__ADS_1
"Baiklah Nona, anda bisa mulai sekarang."
"Begini, aku ingin sebuah gedung dimana bisa menampung banyak orang tanpa di curigai oleh pihak kerajaan. Selain itu, Aku juga membutuhkan beberapa petarung anak-anak untuk membantu perkembangan tem..."
"Jika anda membutuhkan budak petarung aku memiliki banyak untuk itu."
Senja menatap tajam ke arah Count yang sedang memotong penjelasannya.
"Khem. Silahkan dilanjutkan kembali, Nona."
"Aku ingin sebuah gedung dimana terdapat ruang bawah tanah di dalamnya. Gedung itu nantinya akan aku gunakan sebagai tempat pertukaran informasi atau pun menjalankan misi penting dari klien. Tentunya misi akan dibayar sesuai dengan kesulitan dari penyelesaiannya.
"Tunggu Nona, apa anda ingin membuat Guild petualangan di pasar ini?"
"Itu benar."
"Tapi Nona itu sangat berbahaya, bagaimana bisa anda melakukannya?"
"Tidak perlu khawatir, aku punya solusi untuk itu."
Senja menatap count dengan wajah berbinar. Ia seperti menemukan harta karun yang bisa dimanfaatkan kapan saja.
"Nona...?"
Count yang melihat tatapan aneh Senja mulai bergidik ngeri. Setidaknya ia tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan wanita muda itu terhadap dirinya.
"Mereka sudah mengetahui jika kau adalah pemilik tempat ini dan tidak akan ada masalah jika kau membuka Guild petualangan. Bukankah itu sangat menguntungkan juga bagi mu."
"Nona, anda tidak tahu jika gedung ini bukan milik ku. Aku hanya pemilik diatas nama sedangkan kontrak sesungguhnya adalah milik pria itu. Dan alasan mengapa aku tidak dieksekusi saat itu karena pria itu menjamin diriku."
"Tapi Nona itu." Count ingin menolak tapi belum sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Senja sudah memotong perkataan count.
"Untuk masalah uang itu gampang. Aku hanya butuh nama mu, lagi pula jika kau tidak menyebarkan apa yang sebenarnya ada disana maka tidak akan ada seorang pun yang bakal mengetahuinya."
"Nona, anda terlihat persis seperti pria itu. Ia dengan arogan meminta ku menandatangi kontrak seumur hidup demi kerahasiaan tempat ini atas miliknya."
"Anda ada benarnya, tapi bukan itu maksud saya."
"Keputusan mu hanya ada satu, yaitu menerimanya."
Count terlihat kacau, meski ia tidak tahu siapa wanita muda ini tapi perasaan familiar yang dikeluarkannya mengatakan count dengan pria pemilik asli gedung pertarungan ini.
"Apa keputusan mu?" tanya Senja setelah diam beberapa saat.
"Apa mungkin wanita ini dan pria itu adalah satu?"
Count berpikir dengan serius, ia tahu satu fakta jika pria pemilik asli gedung ini tahu identitas aslinya maka dari itu ia memutuskan untuk menandatangi kontra seumur hidup karena tidak bisa membantah sama sekali.
Jika ia melakukan pemberontakan maka seluruh keluarga dan kerabatnya akan habis dibunuh oleh pria misterius itu.
Count sejenak melirik kearah Senja, ia mulai mencipitkan matanya untuk melihat detail wajah dengan cermat.
"Tidak ada seorang pun yang pernah bercanda dengan ku mengenai tiang gantung kecuali wanita ini."
Count Servan kembali teringat perkataan Senja sesaat setelah memasuki ruangan ini. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa hukuman bagi si penjahat itu adalah hukum gantung.
"Baiklah Nona," Count Servan sudah memutuskan untuk mengikuti arus. Ia takut jika berbalik arah maka pedang tajam akan menebas lehernya dengan cepat.
"Seminggu lagi aku ingin kau memberikan situasi aktual mengenai gedung itu. Dan juga aku membutuhkan lima orang, tidak maksud ku adalah tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Mereka adalah anak yang memiliki setidaknya berada di level 2 dan 3.
"Baik Nona. Anda bisa menunggu kabar baiknya Minggu depan."
"Bagus aku suka itu."
Setelah Senja keluar dari pasar gelap, ia langsung menuju parkiran kereta kuda. Disana ia melihat beberapa pejalan kaki yang menyelusuri lorong dengan wajah lesu.
"Dian mulai minggu depan kau akan tinggal di desa bersama dengan 6 anak itu. Kau akan melatih mereka membaca dan menulis, lalu laporkan juga pada ku perkembangan mereka setiap harinya."
"Baik Nona, sesuai perintah anda."
"Dian, kirimkan surat pada Eza untuk terus mengawasi wilayah timur sampai aku memerintahkan mereka untuk berhenti, baru setelah itu mereka bisa kembali ke sisiku."
__ADS_1