
"Diam adalah manifestasi dari curiga dan amarah."
******************#####*****************
Malam yang sunyi seakan menjadi melodi indah bagi seorang gadis muda. Dimana ia tengah menikmati tenangnya malam ditemani dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang sedang bermain dengan rambutnya.
Meski malam semakin larut namun gadis itu tetap setia pada posisinya. Ia seakan enggan meninggalkan tempat tersebut. Bagi gadis itu malam adalah teman setianya yang berharga.
"Gagal, tidak ada sama sekali."
Gadis itu terlihat frustasi, ia sama sekali tidak menyangka bahwa informannya akan mengalami kegagalan. Dengan kesal gadis itu meremas erat sepucuk surat ditangannya.
Lama gadis itu melakukan hal tersebut sampai ia tidak sadar bahwa surat itu sudah hangus terbakar olehnya. Perlahan gadis itu kembali membuka mata biru-zamrud nya dengan tatapan ambisi kuat.
"Amir, siapa sebenarnya diri mu," lirih Senja pelan.
Senja kemudian mengalihkan pandanganya ke sekeliling asrama. Ia melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan siapa saja yang masih terjaga bersamanya.
Sayangnya Senja sama sekali tidak menemukan sosok apa pun. Senja sedikit kecewa tapi ia mencoba untuk tidak memikirkannya.
"Selain itu dimana dia?" gerutu Senja yang kembali kesal.
"Kemana perginya bocah itu? Aku sudah bilang padanya untuk diam, apa dia marah."
Sejak kembalinya Senja ke kamar, ia sama sekali tidak melihat Khalid. Awalnya Senja berpikir jika Khalid sedang bermain. Namun anehnya Khalid belum pernah bermain selama ini.
"Jika dipikir kembali, bukannya Khalid masih takut untuk keluar, lalu kenapa dia pergi dan kemana juga dia menghilang?"
Senja terus saja memikirkan kondisi Khalid, meski ia mencoba untuk tetap tenang tapi entah mengapa perasaanya selalu saja ganjal setiap kali melihat kamar yang kosong tanpa adanya kehadiran Khalid.
Dalam lamunan panjangnya Senja tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara familiar yang membuatnya kembali ke dunia nyata. Suara itu dengan lembut menggelitik telinganya.
"Nona, anda bisa masuk angin jika terus begitu." seru suara itu dengan nada panik.
Dengan malas Senja membalikkan tubuhnya, dan tepat saat itu ia melihat sosok gadis muda yang tengah menggendong selimut tebal.
"Dian," lirih Senja kaget.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Senja sedetik kemudian.
"Sejak awal saat nona berada di balkon." jawab Dian seraya membalut tubuh nona nya dengan selimut tersebut.
Dian tahu betul bahwa saat ini nona nya sedang kesusahan, dan sebagai seorang pelayan sudah kewajibannya untuk meringankan beban nona nya itu.
"Nona, sudah saatnya anda tidur." seru Dian setelah selesai membungkus tubuh Senja.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Senja bingung.
"Pukul 1 pagi." balas Dian sembari menunjukkan jam tangannya.
"Uhm, kau benar ini sudah larut."
Senja kemudian masuk ke dalam kamar dan tanpa membuang waktu ia segera merebahkan dirinya keatas kasur. Dian yang melihat perilaku Senja segera menutup pintu balkon dan mendekati nona nya.
"Nona, anda tidak bisa tidur seperti ini. Anda harus bebersih dulu."
__ADS_1
"Ugh, besok saja."
"Tidak ada besok, sekarang."
Dian dengan kuat menarik tubuh Senja menjauh dari kasur. Ia kemudian membawa Senja menuju kamar mandi dan segera melakukan tugasnya.
****
Suasana pagi terasa damai saat Senja tidak harus mendengar ocehan berat dari bawahannya. Ia dengan santai pergi menuju gedung sihir untuk memulai ujian teori teknik manipulasi elemen dasar.
Ketika Senja hendak memasuki gedung sihir ia secara kebetulan melihat Ronald dan Alisa. Kedua terlihat sedang berdebat sebelum akhirnya berhenti saat melihat kehadiran Senja.
"Hmm..."
Senja kemudian melewati keduanya tanpa berkata apa pun. Ia seakan mengabaikan kehadiran mereka dengan tidak melirik ataupun mengucapkan salam.
"Kenapa ruang kelas rasanya jauh sekali," gumam Senja ketika posisinya sudah satu meter jauhnya dari Ronald dan Alisa.
"Aku harap mereka akan terus mengabaikan ku seperti...."
Belum selesai Senja bergumam ia sudah merasakan hawa mencekam dari belakang punggungnya.
"Kumohon jangan," teriak Senja yang tertahan di tenggorokannya.
Senja seketika menegang saat ia merasakan sentuhan hangat dari seseorang. Sentuhan itu membuat jantung Senja berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya.
Senja kaku, ia tanpa sadar memejamkan matanya erat sambil berharap bahwa semua itu hanyalah ilusi semata.
"Kumohon, biarkan aku sendiri," seru Senja masih dengan mata yang terpejam erat.
Aneh saat itu tidak ada reaksi sama sekali baik dari Alisa maupun Ronald. Keduanya seakan bisu dan hal itu membuat jantung Senja semakin berdetak dengan keras.
Dengan napas berat Senja berusaha mengumpulkan seluruh tenaga dan keberaniannya. Jujur saja jika ini bukan akademi mungkin Senja sudah memukul keduanya dengan keras.
Saat ini Senja sedang berusaha keras menahan egonya agar tidak pecah. Ia tidak ingin rahasianya ketahuan saat seluruh emosinya berantakan.
"Sebisa mungkin aku tidak ingin pihak akademi mengetahui kekuatan ku," batin Senja frustasi.
"Tapi aku juga tidak bisa terus-terusan seperti ini," gerutunya kesal.
"Aku harus menyingkirkan mereka secepatnya, tapi aku juga harus tetap menjaga kewarasan ku."
Setelah Senja memikirkan resiko dari semua tindakannya, ia segera mendapati kesimpulan yang menguntungkan. Dengan satu tarikan napas Senja segera berbalik dan berteriak keras.
"LEPASKAN AKU DAN JANGAN PERNAH MENGGANGU KU...."
Senja diam, ia terlihat bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"... Lagi?" sambung Senja sedetik kemudian.
Pasalnya hal pertama yang Senja lihat saat membuka matanya bukanlah Alisa ataupun Ronald melainkan hamparan danau dengan hutan lebat yang mengelilinginya.
Danau itu tidak sama dengan danau di hutan kegelapan. Danau itu begitu jernih dan bersih seperti sungai yang ada di ruang bawah tanah permaisuri. Mana yang ada di hutan itu pun begitu tipis sangat berbeda dengan hutan kebanyakan.
"Apa ini?" tanya Senja saat tidak melihat siapa pun di hadapannya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini...!!?" teriak Senja sekali lagi ketika ia sadar bahwa dirinya sudah berteleportasi.
"Aku yakin, aku sangat yakin bahwa tadi aku berada di gedung sihir." lirihnya sembari melirik ke kanan dan kiri.
Aneh Senja merasa ia tidak melakukan teleportasi atau apa pun. Ia juga tidak merasakan mantra ataupun rune yang membuatnya berpindah begitu cepat.
"Dan rasanya tidak mungkin jika Alisa dan Ronald mampu memindahkan ku dengan sihir mereka."
Senja bingung dengan kondisinya, pasalnya ia belum pernah merasakan hal tersebut sepanjang hidupnya bahkan Lucas sekalipun tidak akan bisa memindahkan Senja tanpa ia sadari, kecuali jika Senja sedang pingsan itu mungkin saja terjadi.
Namun kondisinya saat ini tidak benar, Senja tidak pingsan ataupun terluka. Ia juga baik-baik saja jadi apa yang menyebabkan nya berteleportasi begitu saja.
Ketika Senja sedang asik berpikir keras mengenai situasinya, entah mengapa Senja sepertinya melupakan sesuatu. Ia yang awalnya fokus pada sekitarnya kini menjadi kaku.
"Sial, aku melupakannya!" teriak Senja panik.
Senja kemudian melirik area sekitar untuk mencari jalan keluar. Ketika sedang mencari akhirnya Senja sadar bahwa dirinya sudah berteleportasi keluar dari akademi.
Senja semakin bingung, ia tidak tahu-menahu mengenai tempat ini. Senja merasa bahwa dirinya telah dikirim ke tempat yang salah atau memang itu tujuan dari si pengirim.
"Yang pasti saat ini aku harus segera kembali,"
Senja yang sudah tidak tahan lagi memutuskan untuk melafalkan sihir teleportasi nya. Anehnya sihir itu sama sekali tidak berfungsi sehingga membuat teleportasi Senja gagal.
"Sial, masalah apa lagi ini?"
Senja yakin jika dirinya dipindahkan dengan sihir teleportasi tapi anehnya saat hendak melakukan teleportasi sihirnya gagal. Dengan marah Senja segera menghubungi Vanilla.
"Untung saja Vanilla masih berada di guild dan belum pergi ke ruang bawah tanah. Jika tidak akan sangat sulit bagi ku untuk bisa kabur dari tempat ini."
Senja tahu jika ruang bawah tanah permaisuri Mawar tidak bisa diakses dengan mudah. Jika seseorang sudah masuk ke dalamnya maka akan sangat sulit menghubungi mereka karena jaringan yang sulit dilacak.
Tentu saja hal itu tidak berlaku untuk Senja, ia bisa dengan mudah menghubungi hewan sucinya dimana pun mereka berada. Tapi anehnya lokasi Senja saat ini sangat bertolak belakang dari ruang bawah tanah permaisuri.
"Entah mengapa aku tidak bisa mengakses ruang bawah tanah permaisuri dari tempat ini." gumam Senja sebelum mengirimkan lokasinya pada Vanilla.
Beberapa menit kemudian muncul sinar biru terang dibawah kaki Senja. Sinar biru itu perlahan menelan Senja dan membawanya menuju guild.
"Kerja bagus," seru Senja setelah sinar biru menghilang.
Tanpa membuang waktu Senja segera berteleportasi menuju kamar asramanya. Ia sengaja melakukan itu agar tidak seorang pun tahu jika dirinya telah keluar dari akademi.
Ketika sampai, Senja segera berteleportasi menuju kelasnya. Meski teleportasi dilarang di akademi tapi Senja yakin bahwa perbuatannya saat ini tidak akan menyebabkannya diinterogasi.
"Yah aku hanya menggunakan teleportasi untuk bisa sampai dikelas dengan cepat bukan untuk melarikan diri dari akademi." lirih Senja puas.
Setidaknya dengan alasan tersebut Senja yakin jika dirinya akan dibiarkan lolos tanpa harus terkena hukuman berat.
Meskipun sebenarnya Senja sudah sering keluar-masuk akademi menggunakan teleportasi tapi entah mengapa ia menganggap jika kondisinya yang dulu dan sekarang berbeda.
"Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda dengan situasi yang berbeda pula." lanjut Senja ketika sinar teleportasi mulai menelannya.
Ketika Senja membuka matanya kembali ia sudah berada tepat di depan pintu masuk kelas. Dengan helaan napas panjang Senja melirik jam tangannya.
"Sial, sekarang sudah pukul 9:15, aku sudah telah 15 menit. Aku harap Miss Aila akan memakluminya."
__ADS_1