Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E65] Ikatan Baru


__ADS_3

Setiap Ikatan adalah bukti dari kesetiaan Namun tidak semua ikatan berawal dari ketulusan."


******************#####****************


"Ugh," erang Senja saat merasakan denyut hebat di pergelangan tangan kirinya.


"Dimana ini?" lanjutnya saat melihat ruangan kosong yang gelap gulita.


"Awalnya aku merasa hangat tapi..."


Senja kembali teringat kejadian saat terakhir kali ia merasakan kantuk hebat sebelum percikan cahaya merah menerangi penglihatan matanya.


Senja merasa bingung karena awalnya ia baik-baik saja sampai akhirnya perasaan perih seperti disengat listrik membuatnya tidak tahan dan berakhir pingsan.


"Aku sudah menduganya sejak awal bahwa kontrak ini mustahil dilakukan. Bagiamana bisa seorang manusia melakukan kontrak dengan elemental."


Senja sedikit kesal namun apa boleh buat ia sudah terlanjur melakukannya. Perlahan Senja duduk dari tidurnya. Ia mulai memperhatikan sekelilingnya untuk melihat situasi yang ada.


"Aneh, kenapa hanya ada hitam? Biasanya saat aku terbangun dari tidur, seharusnya aku sudah kembali ke padang rumput." gumam Senja bingung.


Bukan sekali atau dua kali Senja mengalami hal ini. Ia bahkan sudah bosan mengalaminya karena beberapa faktor seperti kelelahan dan diusir secara paksa oleh Sera.


"Sudah aku duga ada yang tidak beres dengan bocah itu." seru Senja sambil mencoba untuk berdiri dari duduknya.


Sejak awal Senja merasa jika Khalid terlalu polos untuk menipunya. Bagaimana pun juga dengan wajah tampannya itu ia lebih mirip malaikat meskipun sifat aslinya seperti iblis.


"Aku harus keluar dari tempat ini, bagaimana pun caranya." gumam Senja sembari mencari jalan keluar dari ruangan gelap itu.


Lama Senja berjalan tapi ia sama sekali belum menemukan pintu keluar. Jangankan pintu, bahkan dinding saja tidak ada.


Senja yakin jika ia sedang terkurung dalam sebuah ruangan tapi anehnya ruangan itu sama sekali tidak memiliki batasan. Ruangan itu seperti lapangan besar yang tidak ada akhirnya.


Namun Senja tidak menyerah, ia terus mencari jalan keluar sambil meraba-raba area sekitarnya. Awalnya ia berjalan lurus namun karena sama sekali tidak menemukan apa pun akhirnya Senja memutuskan untuk memutar arah.


Lama Senja mencari jalan keluar namun hal itu sepertinya sia-sia. Senja seperti sudah menduga bahwa ruangan yang sedang mengurungnya ini adalah ruangan gelap tak terbatas.


"Sial,"


Lelah Senja berjalan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Senja sudah tidak perduli lagi, ia cukup lelah untuk sekedar memikirkannya saja.


"Hah, akan lebih baik jika ini cepat berakhir." gumam Senja sembari merentangkan tubuhnya di lantai. Perlahan Senja mulai tertidur karena lelah yang ia rasakan.


Entah sudah berapa lama Senja tertidur tapi sayup-sayup ia mendengar suara samar yang sedang memanggil namanya.


"Sen...."


"Senja...!"


"Senja?"

__ADS_1


Suara itu perlahan-lahan mulai terdengar jelas. Senja yang merasa terganggu mulai membuka pelan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah cahaya terang yang menyinari kedua iris matanya.


Cahaya itu perlahan mulai difokuskan menjadi sosok seorang wanita yang terlihat samar. Sosok itu dengan panik memegang dahi Senja sebelum menghela napas lega.


"Kau seharusnya memperingati dia, dasar bodoh." bentak wanita itu pada sosok mungil di depannya.


"Sera," gumam Senja yang mulai sedikit sadar. Ia perlahan melirik kearah samping dimana sosok Khalid berada.


"Dia lemah, kekuatannya bahkan belum pulih sepenuhnya dan bla... bla... bla.. " teriak Sera dengan nada suara yang berapi-api.


Sayangnya Senja sudah tidak bisa lagi menyimaknya karena rasa pusing ya menyergap. Sedangkan Sera masih terus mengomel sehingga membuat Khalid menangis gila.


"Ia terlihat seperti seekor anjing yang baru saja ketahuan merusak sofa." batin Senja sembari memijat ringan kepalanya.


"Ugh," erang Senja kesal.


"Berisik sekali, aku pusing." lanjutnya dalam hati.


mendengar erangan Senja membuat perhatian keduanya kini tertuju padanya. Sera dengan panik memegang pergelangan tangan Senja sebelum pergi menuju arah dapur.


Sedangkan Khalid hanya mendekati sisi Senja dan melihatnya dengan ekspresi wajah sedih. Khalid kemudian dengan ragu memegang wajah Senja dan mengelusnya manja.


"Bagaimana rasanya?" bisik Khalid yang dibalas ekspresi bingung dari Senja.


"Menjauh darinya," teriak Sera saat baru saja keluar dari dapurnya. Ia kemudian melangkah cepat sambil membawa napan kecil di kedua tangannya.


"Bocah ini sudah gila." lirih Sera saat melihat Khalid yang sedang mengelus lembut pipi Senja.


"Tidak mau, sekarang dia adalah kontraktor ku kenapa aku harus menuruti perintah mu."


"Sial, kau pikir karena siapa dia seperti itu?"


"..."


Sera yang melihat Khalid diam segera mendorongnya menjauh dari sisi Senja. Ia merasa jika Khalid memiliki aura tersembunyi yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Senja, aku akan menopang mu." seru Sera kemudian mengangkat bahu Senja dan menopangnya tubuhnya untuk duduk.


"Minum ini untuk mengembalikan mana mu." lanjutnya yang dijawab anggukan kepala oleh Senja.


Saat Senja sedang meminum obat herbal yang disuapi oleh Sera, ia tanpa sadar melirik ke arah Khalid yang masih diam di pojok sofa.


Wajah Khalid terlihat gusar dengan tangan yang gelisah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu tapi Senja tidak tahu apa itu karena Khalid hanya menunduk kaku.


"Apa aku tidak salah dengar tadi?"


Senja yang masih pusing merasa kesal saat melihat senyum nakal Khalid ketika ia sedang mengelus pipinya. Senja juga mendengar bisikan Khalid padanya yang seakan sedang mempertanyakan sesuatu tapi sayangnya Senja tidak bisa mengingatnya dengan jelas karena saat itu ia sedang pusing.


Lima belas menit kemudian Senja sudah menyelesaikan minum obatnya. Ia terlihat lebih sehat dengan kulit yang mulai menunjukkan warnanya.

__ADS_1


"Sera," panggil Senja pelan.


"Apa yang terjadi pada ku?"


Sera yang melihat wajah pucat Senja segera memalingkan wajahnya pada Khalid. Ia dengan kasar menghirup udara segar dan melepaskannya secara perlahan.


Butuh waktu beberapa menit hingga Sera merasa yakin untuk menceritakan kondisi Senja. Ia kemudian menatap tajam ke arah Senja sebelum melirik sekilas pada Khalid.


"Kau kehabisan mana." seru Sera sambil menyeka helaian rambut yang menghalangi wajahnya.


"Kontrak yang kau jalin dengannya menguras habis mana mu. Jika aku tahu akan begini, Sejak awal tidak akan aku tinggalkan kau berdua saja dengannya." lanjut Sera dengan mata yang memicing ganas ke arah Khalid.


"..."


Senja hanya diam, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia juga kesal dengan Khalid karena telah menipunya tapi melihat ekspresi sedih di wajah mungil itu membuat Senja merasa kasihan.


"Tunggu, sejak kapan aku mengasihani seseorang?"


Seketika Senja mulai bingung dengan perasaanya. Ia tahu jika Khalid salah tapi saat melihat wajah sedih Khalid membuatnya juga ikutan sedih. Anehnya Senja adalah sosok yang sangat jarang berempati pada orang lain.


Senja adalah sosok yang anti terhadap perasaan orang lain dan lebih memilih untuk membahagiakan dirinya sendiri dari pada orang tersebut. Ia cukup egois sehingga rasanya aneh saat melihatnya berempati pada anak kecil seperti Khalid.


Belum lagi Senja memiliki riwayat yang tidak pernah akur dengan anak kecil. Senja sadar jika anak kecil sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang dewasa dan tidak suka dengan keributan.


"Perasaan apa ini?" gumam Senja sembari menyentuh dadanya.


Melihat ekspresi aneh di wajah Senja membuat Sera sedikit panik. Ia takut efek kekurangan mana akan membuat komplikasi lain pada tubuh Senja.


"Kenapa? Apa jantung mu sakit?"


"..."


Senja tetap diam, ia seakan bingung mau menjawab apa dan hal itu malah menambahkan rasa khawatir di hati kecil Sera.


"Aku tidak ingin menunggu ratusan tahun lagi untuk mencari penerus selanjutnya tempat ini." batin Sera sambil memikirkan harinya yang sepi dan gelap.


"Senja, kau baik-baik saja kan?"


"..."


"Senja?"


Khalid yang mendengar nada panik Sera sedikit menyunggingkan senyum. Ia terlihat begitu menikmati pertunjukan di depannya itu. Awalnya Khalid hanya ingin mengujinya saja tapi akhirnya tidak terduga seperti ini.


"Dasar bodoh," gumam Khalid dengan pancaran merah terang di iris matanya.


Khalid yang masih menundukkan wajahnya perlahan mulai mengangkat kepalanya untuk melihat lebih jelas situasi yang ada. Tapi saat ia baru saja ingin mengangkat wajahnya, secara kebetulan ia langsung berkontak mata dengan Senja.


Khalid yang merasa canggung pun segera tersenyum lembut. Ia terlihat begitu senang saat melihat wajah majikannya yang menatapnya kosong.

__ADS_1


"Kau sudah benar-benar terhubung dengan ku."


__ADS_2