
"Waktu yang berlalu tidak bisa diputar kembali, maka sayangilah apa yang sekarang kau miliki."
*****************######****************
Hembusan angin Senja menyapa hangat tubuh Lucas. Angin itu membawa Lucas pada ingatan masa lalu yang masih menghantuinya hingga kini.
"Tuan," bisik suara samar dari balik pohon Pinus disampingnya. Lucas lantas berbalik untuk melihat sosok dibalik suara tersebut.
"Tuan seperti yang anda duga mereka sudah bergerak," lanjut sosok tersebut ketika Lucas tepat berhadapan dengannya.
" ... "
Lucas hanya diam, ia sudah menduga hal tersebut akan terjadi. Namun bukan ini informasi yang ia inginkan.
"Kami berhasil melindungi Luna namun anehnya mereka mulai mundur tidak seperti biasa." Bayangan itu mulai cemas saat tuannya tidak beraksi.
"Cari informasi mengenai Dira untuk sekarang dan tetap awasi Luna sampai hari ujian tiba," seru Lucas yang dijawab anggukan paham.
"Mereka pasti merencanakan sesuatu, aku harus waspada,"
Lucas mulai bersikap waspada, ia tahu jika kesunyian ini tidak akan bertahan lama. Ia lalu menatap kembali sisi lain area itu. Perlahan Lucas menarik ujung bibirnya membentuk senyum hangat.
Lucas lalu mengangkat Senja dan menggendongnya dalam pelukan. Tidak ada perlawanan Senja tetap tertidur lelap di pelukannya dan itu membuat Lucas semakin senang.
"Aku akan selalu menjagamu, aku janji."
Lucas begitu posesif, ia sangat membenci jika miliknya di sentuh oleh orang lain. Meski begitu, ia tetap tidak bisa memaksakan kehendak hati nya begitu saja pada Senja.
"Tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu, termasuk dia."
Nada suara Lucas terdengar parau ketika menyebut kata dia. Lucas masih teringat tentang rumor bunuh diri Senja dari akibat pembatalan pertunangannya dengan pangeran kelima.
"Baji**an itu tidak pantas untuk mu."
Gerutu Lucas tajam dengan sorot mata yang memerah menahan emosi. Ia membawa Senja masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di ranjang serta memerintahkan Dian untuk menyiapkan makanan hangat ketika Senja bangun nanti.
****
Gedung Asrama
Maya marasa sangat khawatir, ia takut akan terjadi suatu hal yang besar. Sudah beberapa hari ini tidak ada pergerakkan dari Dira ataupun temannya. Biasanya suasana diam menanda awal yang mengerikan.
"Aku merasa cemas dengan keadaan ini,"
Maya memandang keluar jendela kamar, ia sedang memperhatikan aktivitas siswa lainnya. Begitu tenang, tidak ada keributan atau pun selisih paham yang biasanya sering terjadi diantara siswa.
"Ini terlalu sunyi, firasat ku tidak enak tentang ini."
Maya mulai memikirkan kondisi terburuk apa yang akan terjadi pada mereka nantinya. Ia mulai waspada mengingat tatapan tajam Dira di hari pertengkaran itu.
"Aku harus menemui Luna," seru Maya lalu bergegas pergi dari ke kamar Luna.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Zakila penasaran saat ia melihat Maya yang sedang buru-buru keluar kamar.
" .... "
"Aku ikut," cicit Zakila kembali saat tidak mendapati tanggapan dari kembarannya itu. Ia lalu turun dari kasurnya mencoba mengikuti maya namun ditahan oleh Mia.
"Nona, anda dilarang pergi kemana pun."
"Menyingkirlah Mia, itu bukan urusan mu." gerutu Zakila kesal saat Mia mulai menahan tubuhnya.
"Tidak boleh, Nona harus beristirahat sesuai perintah Nona Maya."
"Kenapa? Aku sudah lama sembuh." Zakila mencoba untuk protes namun Mia tidak menghiraukannya.
Mia lalu memegang bahu Zakila dan menatapnya tajam. "Jika Nona masih ingin hidup maka istirahatlah dengan benar."
Wajah Mia seketika berubah mengerikan dengan suara nada yang dingin. Ia pun berhasil membuat Zakila kembali tidur di kasurnya.
"Begini lebih baik."
Maya yang berhasil keluar kamar dengan bantuan Mia, lantas bergegas menuju kamar Luna yang terletak di lantai empat. Dalam perjalanan Maya bertemu dengan Sarah yang sedang terlihat kesal. Terlihat dengan samar bekas tamparan di pipi Sarah yang tidak dapat ia sembunyikan.
"Sarah. Ada apa dengan nya?" tanya Maya mencoba mencari sedikit jejak yang disembunyikan. Ia pun melirik ke ujung lorong tempat dimana Sarah baru saja keluar.
"Lorong itu menghubungkan lantai empat dan tiga, dan jika dilihat arah kedatangannya. Bukankah itu lantai empat?"
Maya mulai berspekulasi alasan dari keadaan Sarah saat ini. Ia merasa ada yang janggal, sebab sedari tadi suasana akademik begitu tenang. Anehnya tiba- tiba saja ia melihat Sarah dengan bekas tamparan yang sepertinya baru saja dibuat.
"Itu pasti bukan hal yang baik."
"Silahkan masuk Nona."
Tanpa sadar Maya sudah berada di depan pintu kamar Luna. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan ia ada di sana.
Ketika Maya masuk, ia sudah disambut tatapan curiga Luna. Tanpa pikir panjang, Maya pun duduk di kursi tepat di hadapan Luna.
"Ada apa?" tanya Luna Tania basa-basi seperti biasa.
"Kurasa kau sudah menyadarinya." balas Maya dengan menatap balik Luna.
Mereka saling memandang selama beberapa detik sebelum akhirnya Luna menghela napas panjang.
"Memang seperti yang kau duga tapi aku tidak bisa menjelaskan detailnya." tutur Luna lemah.
"karena aku tidak tahu apa itu." lanjutnya dalam hati.
Maya hanya diam, ia tidak bisa menjelaskan situasinya saat ini. Namun seperti yang ia duga bahwa tidak hanya dirinya yang mendapati keanehan ini.
"Setidaknya aku tidak sendiri."
"Kau bisa sedikit tenang dengan meminum ini." Seru Luna sambil mengusap santai teh mint miliknya.
__ADS_1
"Tidak buruk." balas Maya saat bibirnya mulai merasakan perasaan hangat dari aroma teh tersebut.
"Aku baru saja bertemu Sarah, dan dia memiliki simbol unik di pipinya?" lanjut Maya sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Apa itu?"
"Entahlah, itu tampak seperti tamparan keras."
Luna mulai membayangkan apa yang digambarkan Maya mengenai wajah Sarah. Aneh, ia tahu jika Sarah sangat menyayangi wajah cantiknya itu.
"Dari mana sumbernya?" tanya Luna kembali.
"Aku tidak tahu, yang jelas saat itu ia baru saja turun dari lantai empat ketika aku hendak menuju kamar mu."
Gedung asrama wanita akademik Adeline memiliki 5 lantai, tentu saja itu tidak termasuk lobby. Setiap lantai diisi oleh senior dan Junior, karena tidak ada ketetapan tingkat di dalam gedung asrama.
Luna dan Muna serta Arina ditempatkan di lantai 5. Dira dan Tasya ditempatkan di lantai 4. Untuk Senja dan Sarah serta Mari di tempatkan di lantai 3. Sedangkan Zakila dan Maya berada di lantai 2.
"Lantai empat?" Luna bertanya bingung.
Jelas Sarah tidak memiliki kepentingan baik dilantai 4 mau pun 5. Meskipun ia memiliki tali persaudaraan dengan Arina, semua orang tahu jika mereka tidak akrab apalagi harus berkunjung ke kamar masing-masing.
"Jika bukan Arina, artinya..."
Luna melihat wajah Maya yang dingin. Meski ia begitu mirip dengan zakila, namun kepribadian mereka seperti langit dan bumi.
"Dira." balas Maya dingin.
"Ada urusan apa keduanya?"
"Kurasa bukan hal yang baik. Melihat wajah Sarah yang kesal, sepertinya telah terjadi sesuatu."
"Kita harus waspada." seru sebuah suara yang berasal dari balik jendela kamar Luna.
"Astaga Muna!" teriak Luna kaget saat melihat Muna yang tiba-tiba saja keluar dari balik jendela.
"Sejak kapan kau ada disitu?" tanya Maya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Luna.
"Sejak tadi." jawab Muna datar.
"Untung saja aku tidak memiliki penyakit jantung." batin Luna dan Maya bersamaan.
"Aku dengar Senja kembali ke kediaman Duke Ari." lanjut Muna sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Aku sudah pastikan sebelumnya, sepertinya ada hal janggal dari kepulangannya itu." Luna terlihat khawatir, ia takut hal buruk sedang terjadi pada Senja.
"Aku juga melihat salah satu pelayannya pergi menemui Dira." Seru Muna ketika hendak meminum teh di depannya.
"Aku tahu, aku juga melihatnya kemarin."
Ketiganya mulai berspekulasi buruk mengenai pelayan Senja yang bernama Amel itu. Mereka curiga bahwa ia akan merencanakan hal buruk untuk Senja.
__ADS_1
"Kita harus bergegas sebelum terlambat," seru Luna sambil melirik kedua sahabatnya yang lain.
Mereka lalu memutuskan untuk menjenguk Senja di kediamannya. Tentu saja itu dilakukan secara rahasia agar tidak ada yang akan mengantisipasi kedatangan mereka nantinya.