
"Rasa penasaran terkadang bisa membuat seorang lupa bahwa hal itu tidak boleh di sentuh."
*****************#####*****************
Tepat setelah Senja membakar surat itu tanpa sengaja ia melihat Muna yang tengah berjalan di taman bersama dengan pria misterius. Pria itu tampak seperti bangsawan terhormat pada umumnya.
Ia juga mengenakan pakaian formal untuk acara pesta tidak ada yang khusus darinya namun yang membuat Senja tertarik adalah bahwa pria itu sekarang sedang menarik - narik tangan Muna untuk menghentikannya pergi.
"Kenapa anda tersenyum begitu nakal Nona?" tanya Dian yang baru saja tiba dengan nampan yang berisi teh hijau dan beberapa cemilan lezat di tangannya.
"Hahaha, lucu sekali," lirih Senja yang acuh dengan pertanyaan Dian.
"Ini menarik," lanjut Senja masih fokus pada Muna dan pria misterius itu.
"Silahkan dinikmati," seru Dian ramah pada Ristia yang kini tengah berenang di atas sisa kue coklat sebelumnya.
"Terima kasih," balas Ristia sebelum melompat ke dalam kue yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Dian.
Setelah selesai menaruh seluruh isi nampan di atas meja. Dian segera mendatangi Senja untuk melihat apa yang sedang ditonton oleh nona nya itu.
"Bukannya itu Nona Muna?" tanya Dian sambil menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas.
"Ada apa dengan Nona Muna dan Tuan Muda Asher sekarang?" lanjut Dian bingung setelah melihat pria misterius tersebut sedang beradu mulut dengan Muna.
"Kau kenal pria itu?" tanya Senja kaget ketika Dian mengetahui identitas pria asing tersebut.
"Tentu Nona, saya sangat mengenalnya."
"Bagaimana bisa, Ah tidak yang lebih penting siapa dia?"
"Dia adalah Tuan Muda dari keluarga Marques Della."
"Marques Della? Aku belum pernah mendengar nama keluarga itu sebelumnya."
"Tentu saja Nona, itu karena dia bukan warga Kerajaan Green. Marques Della adalah seorang bangsawan dari selatan kerajaan kita. Lebih spesifiknya, keluarga Marques Della berasal dari Kerajaan Pasai."
"Oh begitu, terus bagaimana dia bisa mengenal Muna?"
"Karena tuan muda Asher adalah kakak senior Nona Muna di akademik Adeline."
"Aku tidak menduganya, tapi bagaimana bisa ia berada disini?"
"Kemungkinan besar Raja Aruna mengundangnya kesini sebagai perwakilan dari Marques Nona."
"Hmm, bisa saja," lirih Senja yang masih memandang kearah Muna dan Asher yang kini sedang saling dorong-mendorong.
"Mereka terlihat sangat bahagia," lirih Senja acuh tak acuh.
Dian yang mendengar ucapan nona nya itu kemudian kembali menatap kearah taman dimana Muna dan Asher sedang beradu mulut.
"Apanya yang bahagia, mereka lebih terlihat seperti musuh," gumam Dian tidak percaya dengan pendapat nona nya itu.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, tidak sama sekali Nona," jawab Dian acuh sebelum mengambil piring kosong yang ada di atas meja.
"Aneh sekali," bisik Senja pelan yang masih bisa didengar oleh Dian.
"Yang aneh itu Nona, bukannya sedih melihat temannya bertengkar anda malah terlihat sangat bahagia," batin Dian masih bingung dengan perilaku aneh nona nya itu.
__ADS_1
"Dian, aku akan kembali ke kamar sekarang juga."
"Sekarang Nona?"
"Iya."
"Lalu bagaimana dengan pestanya?"
"Aku tidak peduli," jawab Senja acuh sambil melompati pembatas teras setelah menarik paksa Ristia dari kuenya.
Segera setelah Senja melompat sebuah portal teleportasi mulai tergambar di bawah kakinya.
"Ah, setidaknya anda kan bisa lewat pintu," gerutu Dian kesal ketika nona nya sudah menghilang dari portal tersebut.
"Untung saja aku ini penyabar," gumam Dian sambil mengelus pelan dadanya.
****
Disisi lain Eza yang kini tengah bersama dengan keluarga Amel kemudian membawa mereka menjauh dari hutan setelah ia mengirimkan sebuah surat kepada nona nya.
"Kita akan segera keluar dari hutan ini setidaknya 15 menit dari sekarang," seru Eza dingin sambil mempercepat langkah kudanya.
"Tu, tuan siapakah anda?" tanya seorang pria yang usianya 5 tahun lebih muda dari Eza.
"Aku disini hanya untuk membebaskan kalian bukan menjawab pertanyaan," balas Eza dengan pandangan dinginnya.
"Kalau begitu..."
"Diam dan tunggu saja," gerutu Eza yang membuat satu keluarga menjadi bungkam kembali.
Eza sedikit kesal karena nona nya masih mau berurusan dengan keluarga pengkhianat seperti mereka. Ia berpikir jika nona nya itu terlalu murah hati sampai harus membebaskan mereka dari penyekapan.
"Kita akan segera berteleportasi setelah sampai di desa yang berada tidak jauh dari hutan ini," lanjut Eza masih dengan tampang sedingin gunung es di wajahnya.
"Ibu aku takut," gumam gadis kecil yang tubuhnya penuh dengan bekas luka cambuk.
"Jangan khawatir nak, kita akan baik-baik saja sekarang," jawab sang ayah yang juga mendapatkan anggukan kepala dari sang ibu.
"Ini lebih baik dari pada kita harus berada di goa tersebut, setidaknya jika dia membunuh kita secara langsung itu akan lebih bagus dari pada terus disiksa sampai akhir," batin sang ayah sedikit merasa lega dan meski pun mereka harus mati nantinya tapi setidaknya mereka akan bebas.
"Ayah, apa kita bisa hidup dengan tenang setelah ini?" tanya pria muda yang sebelumnya bungkam.
"Tidak masalah apakah kita akan bahagia atau tidak tapi yang terpenting sekarang kita bisa bebas, itu saja sudah cukup," seru sang ayah tabah dengan keadaan keluarganya.
"Benar kata ayah mu, kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan pria ini selanjutnya," timpal sang ibu dengan raut wajah yang sama tabah nya dengan sang ayah.
Awalnya mereka sama sekali tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Mereka hanyalah keluarga biasa yang hidup tidak kekurangan atau pun berlebihan dan semua hal itu karena berkat putri tertua mereka yaitu Amel.
Sang adik yang awalnya menyerah pada pendidikan kini mulai terlihat ada kesempatan karena sang kakak yang sudah mengumpulkan banyak uang untuk biaya pendidikan nya.
Ada pun sisa uang mereka gunakan untuk membeli bahan makanan untuk dijual kembali. Mereka dulunya adalah pedagang kecil sampai beberapa minggu yang lalu ketika segerombolan ksatria datang untuk menangkap dan menyekap mereka di dalam goa yang gelap.
Mereka bahkan tidak dijelaskan kesalahan apa yang sudah mereka perbuat atau alasan logis lainnya. Para kstaria itu hanya datang dan membawa paksa mereka kemudian memukuli mereka sampai babak belur.
Setengah jam kemudian Eza sudah sampai di desa tersebut. Segera setelahnya Eza membawa mereka menuju portal yang sebelumnya sudah disiapkan oleh para penyihir. Portal itu berukuran sangat besar sehingga muat untuk 5 orang sekaligus.
Eza kemudian memberikan arahan kepada mereka berlima untuk segera memasuki portal. Awalnya mereka terlihat ragu namun setelah melihat tatapan tajam Eza membuat mereka segera memasuki portal.
"Lakukan."
__ADS_1
Perintah Eza pada para penyihir yang ada di samping portal tersebut.
"Baik, tuan," seru para penyihir yang kemudian membaca mantra untuk menghidupkan portal.
Terlihat wajah gelisah dari mereka berlima setelah melihat Eza yang acuh tak acuh pada saat itu. Mereka juga panik ketika para penyihir selesai membacakan mantra dan segera memindahkan mereka ke tempat yang sama sekali tidak mereka ketahui.
"Ibu aku takut," seru gadis kecil sambil memeluk ibunya, sedangkan sang kakak hanya menatap ke arah Eza yang masih memandang mereka dengan sinis.
"Kita akan berjumpa kembali," gumam sang kakak kepada Eza sebelum ia dan keluarganya benar-benar menghilang dari tempat itu.
****
Setelah berteleportasi Senja kembali ke kamarnya dengan sangat tenang, disana ia bisa melihat Kun yang tengah berbaring di atas tempat tidur bersama dengan Vanilla yang berada di sampingnya.
"Kau sedang tidur atau terjaga?" tanya Senja kesal ketika ia melihat sikap cuek Kun.
"Kau bilang mereka sedang mengawasi ku lantas sekarang dimana mereka?" tanya Senja kembali yang lagi-lagi diabaikan oleh Kun.
"Sialan," gerutu Senja frustasi sambil melangkah pergi menuju balkon kamarnya.
Di sana Senja bisa melihat pemandangan pantai yang indah tepat ketika pintu balkon dibuka. Senja kemudian melirik ke kanan dan kiri secara natural untuk melihat apakah mereka masih ada disekitar sini atau tidak sayangnya ia tidak menemukan apa pun.
"Hah, apa mereka sudah pergi?" gumam Senja lelah ketika daerah itu sama sepinya seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya.
"Apa aku pergi tidur saja." lanjut Senja sambil melepaskan sepatu kaca yang sedang ia pakai saat ini.
"Kaki ku yang malang," gumam Senja ketika melihat rona merah dikedua mata kakinya tersebut.
"Nona, aku sudah menemukan markas mereka," seru Lily mengagetkan Senja.
"Astaga!" teriak Senja tepat ketika Lily berada di hadapannya.
"Apa kau tidak bisa datang dengan tenang?"
Senja menatap Lily dengan kesal sambil menggandeng sepatu kacanya.
"Apa kau tidak melihat aku sedang apa?" lanjut Senja yang membuat kerutan di wajah Lily semakin lebar. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dibicarakan nona nya itu.
"Nona, apa anda sakit? Apa disaat pesta kepala anda berbenturan dengan benda keras?" tanya Lily serius yang hanya mendapatkan ekspresi tajam dari Senja.
"Sudah hentikan itu, apa yang membuat mu terburu-buru seperti ini?"
Senja mencoba untuk mengurangi rasa kesalnya dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Nona, aku sudah tahu markas mereka."
"Cepat sekali? Apa itu mungkin jebakan?"
"Tidak Nona, ini sungguhan."
"Jelaskan pada ku."
"Jadi Nona setelah aku pergi dari aula pesta..." Lily menceritakan semua yang ia alami saat itu kepada Senja.
Senja yang awalnya terlihat kesal kini mulai membentuk senyum nakal di wajahnya. Senyum itu terus mengembang seiring banyaknya informasi yang diberikan Lily.
"Ini sangat menghibur," gumam Senja masih mendengarkan penuturan Lily yang panjang itu.
"Begitulah Nona," seru Lily setelah selesai menceritakan segalanya.
__ADS_1
"Kerja bagus." Puji Senja sambil mengelus lembut kepala Lily yang bulat.
"Sekarang aku mendapatkan kartu yang bagus,"