
"Menjadi dewasa bukanlah tentang umur melainkan tentang bagaimana kau menerimanya, tentang cara mu mencintai diri sendiri dan juga dunia."
****************######*****************
Kerajaan Aruna adalah kerajaan kecil yang terletak di timur laut Kekaisaran. Meskipun kerajaan ini kecil namun hidup rakyatnya sangatlah makmur.
Setiap bangsawan saling mendukung dan membantu dalam pembangunan negara, meski hanya ada satu gelar tertinggi yaitu Raja namun tahtanya tidak pernah mendapatkan ancaman dari bangsawan mana pun.
Raja adalah gelar turun - temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi. Calon terkuat Raja saat ini adalah Maya Aruna yang merupakan putri tertua sang Permaisuri. Maya terlahir lebih awal dari Zakila dan meski begitu mereka berdua tetap mendapatkan perlakuan yang sama.
Pada dasarnya Maya dan Zakila memiliki saudara satu ayah yang merupakan anak kandung dari sang Ratu namun peraturan negara menyebutkan bahwa hanya anak permaisuri sajalah yang bisa menjadi pengganti Raja sedangkan anak Ratu hanya akan mendapatkan gelar bangsawan lainnya.
"Ini membosankan," cicit Senja sambil menutup buku silsilah keluarga kerajaan Aruna.
"Jika seperti itu, bukannya anak Ratu akan memberontak ya?" tanya Luna pada Zakila yang berada di sampingnya.
"Itu tidak mungkin, mereka hanyalah anak Ratu yang tidak memiliki gelar."
"Hah, apa maksud mu?"
"Ratu diangkat dari keluarga Baron atau pun Vincount yang bahkan tidak memiliki wilayah kekuasaan namun memiliki keterampilan yang mumpuni dalam mengelola kerajaan. Oleh karena itu ayah ku mengangkatnya menjadi ratu."
"Aneh sekali," seru Luna yang kini mendapatkan perhatian penuh dari Senja.
"Mengapa begitu?" tanya Senja masih penasaran dengan peraturan aneh kerajaan Aruna ini.
"Jadi begini. Mereka diangkat dengan adanya kesepakatan antara Raja dan Ratu, dimana Raja akan membuat hidup Ratu dan keluarganya terjamin namun dengan syarat bahwa sang Ratu hanya akan menjadi status tanpa hak khusus lainnya."
" ... "
"Ratu hanya akan membantu Raja dalam administrasi negara sedangkan untuk urusan lain itu semua digenggam oleh permaisuri. Pada dasarnya Ratu diangkat untuk meringankan beban Raja dan juga membantunya dalam politik negara. Oleh karena itu Ratu dipilih dari kalangan bangsawan rendah agar tidak terjadi pemberontakan terhadap permaisuri."
Zakila menjelaskan dengan panjang lebar.
"Jadi intinya posisi Raju hanyalah sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan satu sama lain. Jika Raja mendapatkan segala bantuan dengan urusan negara maka Ratu mendapatkan jaminan hidup sebagai gantinya," lirih Luna menyimpulkan apa yang sudah diceritakan oleh Zakila.
"Yup, benar sekali," balas Zakila senang sambil menutup buku sejarah di tangannya.
Sekarang Senja dan kedua sahabatnya itu sedang berada di dalam perpustakaan milik kerajaan Aruna yang terletak di bagian barat istana Raja. Mereka sengaja datang ke tempat itu untuk melihat siapa saja bangsawan yang akan datang pada acara kedewasaan nanti.
"Aku lelah."
Teriak Muna sambil berguling-guling di lantai marmer perpustakaan. Lantai ini cukup licin dan bersih sehingga tubuh Muna terlihat merosot setiap kali ia bergerak maju.
"Aku ingin pergi ke kamp pelatihan saja," seru Muna masih dengan wajah bosannya.
"Tidak boleh, kau sama sekali tidak boleh pergi dari tempat ini," lirih Zakila ketika menghalangi langkah besar Muna.
"Mengapa?"
"Sebentar lagi Maya akan datang bersama seorang desainer, jadi kau harus menunggunya."
"Ah, membosankan sekali," teriak Muna yang merasa frustasi ketika melihat tumpukkan buku di hadapannya.
"Aku bisa gila jika terus begini," gumam Muna yang membuat Senja dan Luna tertawa pelan.
Beberapa saat kemudian Maya datang menghampiri mereka dengan seorang pria dewasa di sampingnya.
"Salam Lady," sapa pria itu sambil membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
" ... "
Senja yang melihat tingkah aneh pria itu hanya diam sambil melirik sekilas pada Luna yang sekarang tengah membalas salamnya.
"Bangkitlah."
"Terima kasih," lirih pria itu dengan nada sangat lembut namun tegas.
"Bagaimana kabar mu, Senja?" tanya Maya setelah pria itu selesai dengan salamnya.
"Aku baik dan bagaimana dengan mu?"
"Aku baik meski sedikit sibuk beberapa hari ini."
"Semoga kau cukup beristirahat."
"Tenang saja, aku selalu menjaga kesehatan tubuh ini," seru Maya angkuh sambil membusungkan dadanya seolah berkata 'Lihatlah tubuh ku yang hebat ini'. Senja hanya tersenyum simpul dengan apa yang hendak dikatakan Maya.
"Siapa pria ini?" tanya Muna yang sudah kembali sadar dari lamunannya.
"Ah iya, aku sampai lupa," lirih Maya yang sadar telah membawa seseorang bersamanya.
"Aku tahu kalian pasti akan datang sehingga aku sudah menyiapkan desainer terbaik kerajaan ini untuk membuat gaun pesta yang mewah bagi sahabat ku," lanjut Maya dengan sikap lucunya.
Sangat terlihat jelas bahwa kini hidung Maya menjadi sedikit lebih panjang berbeda dari biasanya.
"Maya terlihat aneh jika menyombongkan diri," batin Zakila yang tidak habis pikir dengan sikap kembarannya ini.
__ADS_1
"Nama saya Feri Van Jio Lady, dan maaf sebelumnya karena saya telat memperkenalkan diri," seru Feri masih dengan nada suara yang lembut.
"Feri adalah seorang desainer berbakat dari keluarga Count Jio. Ia dan keluarganya adalah pebisnis sehingga Feri sudah menjadi desainer berbakat sejak usia muda," jelas Maya untuk mendukung Feri dihadapan sahabatnya.
"Benarkah? Hebat sekali jika begitu," lirih Luna tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Luna tahu kebanyakan bangsawan lebih memilih anaknya menjadi penyihir atau pun ksatria ketimbang harus menjadi ahli desain seperti ini.
"Terima kasih Nona," seru Feri lembut dan namun tegas.
"Kalau begitu mari kita mulai," lirih Zakila sambil membawa ketiga sahabatnya masuk ke dalam ruang desain.
Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak pola baju yang keren dan menakjubkan. Banyak sekali gaun yang sudah terbentuk serta ada juga beberapa yang masih dalam tahap penjahitan.
"Maaf Nona, saya akan memulai pengukurannya," seru Feri sambil mengambil alat ukur yang berada di kantong celananya.
"Selama menunggu, para Nona yang lainnya bisa membuka majalah untuk melihat referensi gaun seperti apa yang ingin di desain," lanjut Feri kemudian menunjukkan meja yang penuh dengan buku majalah.
Muna adalah gadis pertama yang diukur oleh Feri. Awalnya Feri merasa canggung karena Muna berbeda jauh dari Luna dan Senja yang memilki ekspresi wajah tenang.
Wanita muda dihadapannya ini lebih terlihat sulit untuk didekati karena memasang ekspresi wajah dingin yang siap membekukan siapa pun yang hendak mendekatinya.
"Nona, rilekskan sedikit bahu anda agar ukurannya tidak melenceng saat di desain," seru Feri yang kini membuat Muna sedikit merilekskan tubuhnya.
"Huff, sulit sekali," batin Feri setiap kali tubuh Muna menegang tanpa sebab.
"Sudah selesai Nona," seru Feri lembut yang dijawab dengan tatapan dingin Muna.
"Aku kesal," gumam Muna sebelum meninggalkan Feri yang terlihat terkejut dengan perkataannya.
"Hah, apa maksud dari Nona muda itu?" tanya Feri yang masih menatap kosong pada posisi Muna yang kini telah di isi oleh Senja.
"Ada apa?" tanya Senja ramah ketika ia melihat raut wajah penuh tanda tanya dari desainer pria ini.
"Ah, bukan apa-apa Nona," seru Feri kemudian mengalihkan pandangannya dari Muna.
"Begitukah." gumam Senja ketika melihat arah pandang Feri sebelum ia berbalik badan.
"Muna memang terlihat dingin dari luar namun ia sangatlah ramah dan penyayang," jelas Senja yang membuat Feri terlihat memerah.
"Ma, maaf Nona," lirih Feri malu karena telah ketahuan melirik Muna secara terang-terangan.
"Tidak masalah," balas Senja acuh tak acuh.
Setelah beberapa saat, kini adalah giliran Luna yang sudah siap di posisinya. Sama halnya dengan Senja, semua proses yang dijalani Luna berlalu dengan mudah.
Feri sudah tidak tahan lagi berada di dalam ruangan ini setelah melihat duo kakak-adik yang bertengkar untuk memilih model seperti apa yang akan dikenakan oleh sahabatnya.
"Aku ingin pulang," gumam Feri sedih ketika ia mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu.
"Apakah ini harus di ukur juga?" tanya Luna ketika kakinya hendak disentuh oleh Feri.
"Iya Nona, saya akan mengukurnya tanpa menyentuh anda jadi jangan khawatir."
"Baiklah."
Setelah mendapatkan persetujuan, Feri akhirnya mulai mengukur pangkal kaki Luna namun tiba-tiba hal aneh terjadi disana yang membuatnya kaget.
"Prang!"
Terdengar bunyi suara gelas jatuh, seketika Feri berbalik untuk melihatnya. Di sana Feri melihat Maya dan Zakila yang ribut mengenai pakaian apa yang akan dikenakan Senja.
"Sudah hentikan," lirih Senja sambil memegang bahu Maya dan Zakila.
"Tenanglah," lanjutnya yang kini membuat duo kakak-adik itu semakin terlihat kacau.
"Hey kalian, apa sudah gila ya?" tanya Muna kesal ketika melihat perilaku aneh keduanya.
"Biarkan Senja memilih sendiri desain pakaiannya," lanjut Muna yang semakin menyulut emosi si kembar.
"Kenapa kau yang marah, hah?"
"Iya benar, bahkan Senja saja tidak masalah jika kami yang memilih pakaiannya," seru si kembar kompak untuk melawan Muna.
"Hah, sialan," gerutu Muna yang semakin dibuat kesal oleh keduanya.
Sebenarnya Muna sudah kesal sejak awal karena disuruh untuk membaca tumpukkan buku dan sekarang harus bermain baju-bajuan dengan si kembar.
"Sini kalian," teriak Muna sambil mengeluarkan aura dari tubuhnya. Tentu saja si kembar juga tidak mau kalah. Mereka juga mengeluarkan aura dari tubuh masing-masing.
"Ya Tuhan, aku hanya ingin ini cepat selesai," batin Feri tidak sanggup dengan tekanan kuat yang keluar dari aura ketiganya.
"Kalian bertiga, berhentilah," seru Luna dengan dinginnya.
"Sekarang apa lagi?" tanya feri sambil menangis dalam hatinya.
"Apa aku kabur saja ya? Tapi jika begitu maka..."
__ADS_1
Kini Feri mulai memegang lehernya. Ia takut jika tiba-tiba lari keluar dari tempat ini maka lehernya akan ditebas atau mungkin saja bisa lebih parah dari itu.
"Ibu, aku janji tidak akan nakal," gumam Feri sambil mengingat wajah ibunya yang sedang memarahinya ketika ia tidak mau berlatih ilmu pedang.
"Sudah hentikan semua, aku akan memilih desain pakaian ku sendiri," seru Senja sambil menunjukkan sebuah desain baru yang ia buat sendiri selama mereka bertiga bertengkar.
"Dasar kecebong darat," seru Maya yang sama sekali tidak mendengar perkataan Senja barusan.
"Kau itu lebih mirip kodok dari pada seorang putri," teriak Muna yang tersulut emosi.
"Hentikan kalian semua," bentak Luna yang sama sekali tidak digubris.
"Kau lebih mirip es batu yang ada di kutub, dingin dan kaku."
"Kau sendiri lebih mirip pasir yang panas dan bau."
Ketiganya masih terus saja bertengkar tanpa memperdulikan sekitarnya.
"Aku lelah," batin Feri berteriak histeris. Ia ingin menangis namun tidak bisa karena memang tidak mungkin baginya untuk menangis sekarang.
"Hentikan!" bentak Luna sekali lagi sambil mengeluarkan panah aura dari tangannya.
Pada akhirnya ketiga sahabat itu berhenti berdebat dan kini mulai menurunkan aura masing-masing.
"Tidak bisakah kalian mendengar apa yang baru saja dikatakan Senja hah?" tanya Luna kesal sambil terus memarahi mereka.
"Maafkan kami," gumam ketiganya pelan sambil melirik Senja yang sudah selesai dengan desain pakaiannya.
"Tidak masalah, tapi jangan diulangi lagi," seru Senja dengan senyum hangatnya.
"Kini mereka seperti anak kucing yang sedang dimarahi induknya," seru Feri ketika melihat raut wajah ketiga nona muda tersebut yang lesu.
****
"Feri!" panggil Maya yang membuat lamunan Feri menjadi buyar seketika.
"Ah, iya Nona," seru Feri kaget ketika punggungnya dipukul ringan oleh Maya.
"Sedang memikirkan apa kau tadi?"
"Ah tidak, bukan apa-apa Nona."
"Baiklah kalau begitu ini adalah desain dari ketiga sahabat ku, buat dengan benar dan indah," seru Maya sambil menyerahkan lembar kertas yang telah di desain ketiganya tadi.
"Baik Nona."
"Kalau begitu, selamat bekerja," seru Maya sambil meninggalkan Feri sendirian di dalam ruangan itu.
"Hah, kapan mereka semua pergi?" tanya Feri penasaran ketika ruangan tersebut sudah kosong sejak Maya mengagetkannya.
"Hmm, tapi baguslah," lanjutnya sambil merebahkan tubuh keatas sofa yang empuk.
Malam harinya setelah makan malam, Senja memutuskan untuk kembali ke kamarnya sedangkan Luna dan Maya akan pergi ke istana utama untuk menemui Raja dan membahas tentang acara pesta yang akan digelar satu hari lagi. Dan Muna memutuskan untuk pergi menuju barak latihan untuk mengasah pedangnya.
"Nona, ada surat dari Morreti," seru Dian ketika Senja sedang menikmati teh hijau kesukaannya.
"Berikan," lirih Senja datar sambil menaruh cangkir tehnya.
"Ini Nona," Dian kemudian menyerahkan sebuah surat yang masih tersegel pada Nona nya itu.
Senja lalu membuka surat tersebut dan membacanya. Awalnya Senja terlihat biasa saja sampai akhir bacaannya ia terlihat terhibur dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
"Kerja bagus," lirih Senja dingin sambil melihat baris kalimat di surat tersebut.
"Dian, perintahkan Eza untuk membawa adik Amel menemui ku segera."
"Baik Nona."
Dian kemudian keluar dari kamar tersebut meninggalkan Senja yang tengah asyik membaca surat.
Dear Nona Senja
Nona, saya sudah berhasil menemukan dimana Count Difani menyembunyikan keluarga Amel dan sekarang Eza tengah menyelamatkan mereka sesuai dengan perintah anda.
Nona selain itu kumpulan pedagang Weru sangat senang dengan pengawalan kita dan mereka sekarang ingin terus mendapatkan pengawalan terbaik dan tentu saja pemimpin Guild pedagang Weru ingin bertemu dengan anda untuk menjalin kerja sama lebih jauh.
Tempat dan waktu akan disesuaikan dengan kebutuhan anda, sehingga mereka akan menunggu surat persetujuan dari Nona.
Nona mengenai masalah Cavil dan Ira, saya dan Hana akan menyelidikinya lebih lanjut sedangkan untuk Aslan dan Sean, keduanya masih bertugas untuk mencari informasi di kerajaan tetangga tempat dimana akademik Lumine berada.
Saya harap Nona baik-baik saja dan semoga ketenangan menyertai anda.
Morreti
Setelah Senja mengingat seluruh isi surat tersebut, ia kemudian menggunakan sihir apinya untuk membakar surat itu hingga tak bersisa.
"Menarik, aku tidak sabar mendapatkan informasi mengenai latar belakang keduanya."
__ADS_1