Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Siasat


__ADS_3

"Pertarungan tanpa adanya strategi adalah kematian namun strategi tanpa adanya teori adalah kepalsuan."


*****************#####*****************


Sudah sebulan sejak hari dimana Senja melihat Amel dan Dira bersama di plaza kota dan sekarang adalah waktunya bagi mereka untuk bergerak di dalam rencana awal yang sudah lama disusun.


"Aku tahu ini sedikit sulit, tanpa bantuan dari Zakila kekuatan kita tidak seimbang."


"Jangan khawatir tentang itu Maya, kami semua tahu jika Zakila masih dalam tahap penyembuhan dan jika dipaksakan maka dia akan semakin terluka nantinya."


"Terima kasih untuk itu."


Maya tersenyum tabah mendengar perkataan Luna namun seperti yang ia katakan sebelumnya bahwa kekuatan mereka tidak seimbang dengan kelompok Dira yang memiliki Mari sebagai guardian.


"Kita tidak perlu bertarung jika itu sulit. Kita hanya akan mengarahkan mereka ke dalam perangkap." lirih Muna tegas.


"Benar kata Muna, kita hanya perlu menyiasati mereka tanpa perlu bertarung tapi jika itu tidak mungkin maka sedikit terluka tidak menjadi masalah." seru Luna ketika melihat Maya yang ragu.


"Ujian akan diadakan di hutan buatan yang berada di area timur akademik. Meski berada di dalam akademik namun hutan itu khusus dirancang untuk ujian para murid tingkat pertama seperti kita."


Luna mulai menjelaskan lokasi dan struktur hutan buatan tersebut. Meskipun hutan itu dibuat secara detail namun faktanya masih ada celah yang memungkinkan pihak lain untuk menyusup ke dalamnya.


"Sayangnya mereka tidak memasang kamera pengawas di beberapa sudut hutan sehingga kecelakaan tidak terduga mungkin saja terjadi."


"Terima kasih Luna, atas informasi penting ini." seru Senja sambil menaruh cangkir teh di atas meja.


"Dengan informasi ini, kita bisa menyusun rencana untuk mengelabui mereka, tentunya kita juga harus menutupi celah itu." lanjut Senja saat menunjuk peta hutan buatan.


"Kita masih dengan rencana awal, hanya saja kita perlu perbaiki sedikit area ini." Senja menunjuk ke salah satu titik tumpul hutan itu.


"Area ini sangat berbahaya, aku harus mewaspadai tempat ini dan sekitarnya."


Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka memutuskan untuk menjalankan rencana awal yang sudah disusun matang sebelumnya. Ada tiga rencana awal yang akan Mereka gunakan sebelum ujian dimulai.


Pertama, Maya dan Luna akan memprovokasi Arina dan Dira mengenai pangeran kelima sehingga membuatnya tidak akan fokus selama ujian berlangsung.


Kedua, Senja akan menyombongkan dirinya di depan Sarah dengan mengatakan bahwa posisi duchess masa depan akan menjadi miliknya.


Ketiga, Muna akan mengungkit luka kelam Tasya sebelum mereka memasuki area hutan dan menggiringnya menjauh dari Dira dan Mari.


Jika ketika rencana itu berhasil, maka selanjutnya akan mudah. Mereka tinggal digiring menuju perangkap dan semuanya pun selesai.


"Sebelum itu, pastikan kalian berolahraga dengan benar karena kita akan lebih banyak menggunakan tenaga fisik daripada sihir."


Maya dan Muna dengan tegas memperingati Senja dan Luna yang hobinya suka rebahan di kamar. Mereka tahu jika kedua temannya ini akan malas-malasan selama liburan kali ini.


"Baiklah, baiklah," lirih Luna pelan sambil mengangkat kedua tangannya.


"Olahraga itu membosankan, akan lebih baik jika aku menggunakan teleportasi jarak dekat untuk menipu Sarah."


Senja tersenyum nakal yang dibalas tatapan tajam Maya dan Muna. Mereka entah kenapa memiliki insting jika Senja memiliki rencana tersendiri untuk melarikan diri.


"Senja, ini juga berlaku untuk mu."seru Muna sambil memegang kedua bahu Senja dan menekannya pelan.


"Benar, ini demi keselamatan kau dan kita semua." lanjut Maya sambil menatap tajam kearah mata Senja.


Senja yang mendapati tekanan dari kedua temannya itu hanya bisa tersenyum nakal sebelum menganggukkan kepalanya.


"Mari kita nikmati saja liburan kali ini sebelum peperangan yang sesungguhnya dimulai,"


Luna yang tidak mau ambil pusing dengan sifat kekanakan memutuskan untuk menghentikan obrolan itu dengan senyum ramahnya.


"Nice timing Luna."


****


Wilayah Callista


Mansion milik Marques Callira berada di ujung barang ibu kota kerajaan. Wilayah Callira memiliki tanah yang lebih subur ketimbang wilayah lainnya.


Disana terdapat berbagai macam kebun buah dan sayuran. Setiap bahan pangan yang berjenis vegetarian bisa dijumpai disana. Meski begitu tidak semua rakyat wilayah Callira hidup dengan makmur.


Terdapat diskriminasi ketat antara yang kaya dan si miskin di tempat itu. Meski begitu, hal tersebut dianggap wajar karena di wilayah lainnya juga melakukan hal yang sama.


Disisi timur wilayah Callira terdapat sebuah Puri indah yang dibuat khusus untuk para tamu. Mereka akan disambut hangat dengan sebotol wine tua yang berumur ratusan tahun.


"Dira, bagaimana dengan rencana kita?"


Sarah terlihat kacau setelah mengetahui jika Senja sedang menikmati liburan indahnya di kerjaan Aruna.


"Apa kau meragukan diri ku?" Dira balik bertanya dia tidak suka dengan sikap sombong Sarah yang tidak tahu tempatnya itu.


"Tidak, tidak sama sekali." jawab Sarah dingin. Sejujurnya ia tidak begitu yakin dengan rencana Dira namun melihat tatapan matanya yang begitu yakin, Sarah pun memilih diam.


"Kita lihat saja nanti, jika gagal aku akan lepas tangan dari ini semua."


"Kau harus ingat Dira, kerja sama kita akan berakhir telat setelah ujian ini selesai." lanjut Sarah sebelum menyesal wine ditangannya.


"Tenang saja, aku bukanlah wanita yang suka melanggar janji."


"Tentunya hal itu tidak akan berlaku untuk mu," lanjut Dira dengan senyum liciknya.


"Dira, berikan Zakila untuk ku nanti." seru Mari yang baru saja tiba. Ia sudah mendengar rencana ini saat perjalanan menuju wilayah Callira.


"Terserah kau saja," jawab Dira acuh. Ia tahu betapa dendamnya Mari terhadap Zakila.


*****


Kerajaan Aruna


Musim semi terbaik dengan ribuan bunga sakura yang mekar di setiap wilayah membuat kerajaan Aruna mendapati julukan taman bunga.


Kerajaan ini melarang keras diskriminasi sehingga banyak rakyat dan bangsawan hidup berdampingan dengan damai. Kerajaan Aruna juga memiliki tingkat ekonomi yang tinggi sehingga rakyat biasa di wilayah itu sama rakyat menengah atas di kerajaan lain.

__ADS_1


Hal inilah yang menyebabkan Senja begitu menyukai wilayah Aruna. Ia merasa bahwa tinggal di wilayah ini dapat membuatnya hidup damai.


Hari pertama Senja di kerajaan Aruna, begitu meriah. Ia disambut hangat oleh Maya dan Zakila. Malam harinya Senja diundang makan malam di istana kerajaan sehingga dapat bertemu langsung dengan Raja dan Permaisuri kerajaan tersebut.


"Kerajaan yang indah," seru Luna yang baru saja kembali dari istana Amir.


Istana Amir adalah nama istana Raja dimana ia dan istrinya tinggal. Sedangkan yang ditempati Senja saat ini adalah istana Miru, istana yang dibangun khusus untuk para tamu.


"Terima kasih atas pujiannya," tutur Maya dari belakang punggung Luna.


Luna kaget saat mendapati Maya yang tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.


"Kau bisa membuat orang lain jantungan."


"Tapi kau tidak punya penyakit jantung kan?" tanya Maya acuh tak acuh.


"Ya untung saja itu aku, jika orang lain bagaimana mana?"


"Entahlah." Maya terlihat tidak peduli, ia terus masuk ke ruang tamu sebelum berhenti beberapa meter dari Muna.


"Latihan malam sangat bagus di wilayah ini. Suhunya tidak terlalu tinggi sehingga membuat tubuh terasa nyaman saat mengayunkan pedang." lanjut Maya kemudian melemparkan pedang kayu pada Muna.


"Boleh juga," Muna yang menerima pedang kayu tanpa ragu mengikuti Maya ke lapangan latihan.


Senja dan Luna saling menatap satu sama lain sebelum menggelengkan kepala dengan bingung.


"Kalau begitu aku undur diri dulu." seru Luna sebelum menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Senja yang ditinggal sendirian pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai tiga istana Miru.


Baru saja Senja hendak duduk di balkon kamarnya, ia sudah mendapati seekor burung hinggap di atas keranjang buah yang ditempatkan di atas meja.


"Dari siapa surat ini?"


Perlahan Senja mengambil surat itu, ia lalu membuka dan melihat bahwa surat tersebut berasal dari Dian. Surat itu sudah di mantra terlebih dahulu oleh sihir sehingga hanya orang yang dituju saja yang bisa membuka dan membacanya.


"Dear Nona Senja,


Nona, sesuai dengan arahan anda sebelumnya, saya melatih keenam anak itu dengan baik. Kini mereka sudah berkembang pesat dari pada sebelumnya. Salah satu dari keenam anak itu bahkan sudah mencapai level 3 awal.


Saya yakin setelah ujian anda selesai, mereka sudah bisa berada diposisi masing-masing. Selain itu, saya dengar perkembangan cukup pesat juga dialami oleh keempat rekan saya yang lain. Kini mereka tangan menunggu perintah dari anda.


Salam hangat, Dian.


Pesan yang dikirim Dian terbilang cukup singkat namun jelas dan padat. Itulah yang disukai Senja. Ia sengaja menyuruh bawahannya untuk menginformasikan hal penting saja, sisanya bisa dibicarakan secara tatap muka.


"Bagus sekali,"


"Gedung yang aku beli kini sudah bisa ditempati. Bukankah sudah waktunya untuk memperkenalkan diri."


Sudut bibir Senja melengkung dengan misterius. Ia kemudian mengambil pena dan kertas untuk membalas surat Dian.


Beberapa saat setelahnya burung lainnya pun datang. Senja dengan santai mengambil surat dari mulut burung tersebut sebelum memberinya cacing segar.


Di dalam surat Eza mengatakan jika para penambang sudah berhasil mendapatkan berlian dengan kualitas tinggi. Ia juga sudah memasang beberapa alat sihir yang berfungsi sebagai anti-pelacakan.


Alat sihir ini berfungsi agar orang lain tidak dapat mengetahui apa yang ada dibalik wilayah timur yang sedang dibangun itu. Meski luas wilayah timur lebih dari 20 hektar, namun hampir setengahnya dimiliki oleh kota mati.


Untuk menjaga wilayah itu, kedua belah pihak mengambil jalan tengah. Dimana Senja akan memberikan sebagian tanah miliknya untuk penduduk kota mati dan mereka akan memberikan akses penuh pada tambang berlian untuknya.


"Kerja bagus, Eza. Kerja bagus."


Tawa Senja terus keluar tanpa henti. Kini selain kekuatan, ia juga memiliki uang yang tidak mudah habis. Senja kemudian membalas surat Eza dan menyuruhnya untuk kembali ke sisinya.


"Akhirnya, secara perlahan dendam ini bisa terbalaskan."


****


Keesokan paginya Senja memutuskan untuk segera kembali ke kediaman Duke Ari karena ada hal penting yang harus ia lakukan.


"Kenapa kau kembali begitu cepat?" rengek Zakila dengan ekspresi sedih dan sedikit mengeluarkan air dari sudut matanya.


"Bahkan ini belum seminggu sejak kedatangan mu." lanjut Zakila tidak mau melepaskan pergelangan tangan Senja.


"Tidak, bukan begitu. Aku punya urusan yang harus aku selesaikan segera di ruma. Lagi pula kita akan bertemu kembali di akademik dua hari lagi." Jelas Senja kemudian.


"Berhati-hatilah sampai hari ujian. Kita tidak tahu rencana apa yang akan dilakukan Dira pada mu kali ini." seru Luna yang sama tidak siapnya dengan Zakila.


"Baiklah, terima kasih. Aku pergi dulu."


"Sampai jumpa lagi di akademik Senja."


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Senja lalu menaiki gerbong kereta dan pergi meninggalkan wilayah Aruna. Sejujurnya Senja tidak kembali ke kediaman Duke, melainkan pergi menuju pasar gelap seperti yang ia tulis pada suratnya tadi malam.


Tidak butuh waktu lama, saat kereta sudah menghilang dari pandangan istana. Senja segera mengaktifkan sihir teleportasi dengan merobek gulungan kertas yang ia simpan sebelumnya.


Sang kusir sama sekali tidak mengetahui jika Senja sudah menghilang dan hanya menyisakan sepucuk surat untuk mengantarkan barangnya menuju asrama akademik.


Butuh waktu dua kali transit sampai akhirnya Senja tiba di gedung tua yang ia beli satu bulan lalu. Saat Senja masuk ke dalam gedung, ia sudah melihat Count Servan yang telah lama berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangannya.


Disana samping Count sudah ada Dian dan kelompoknya serta Eza yang tengah duduk menikmati sepotong kue coklat di atas meja.


"Selamat datang putri. Bagaimana kabar mu?" seru Count sambil berjalan menghampiri Senja.


"Aku baik, terima kasih." jawab Senja acuh sama seperti biasanya.


Mereka yang melihat kedatangan Senja segera membungkuk pelan sebelum akhirnya kembali normal setelah mendapatkan anggukan kepala nona mereka.


Senja lalu pergi menuju ruang bawah tanah yang kemudian diikuti semua bawahannya. Sesampainya disana, Senja melihat ruang bawah tanah yang sudah didesain dengan sangat baik.


"Sesuai dugaan ku, kau sungguh hebat dalam mendesain tempat ini."


Puji Senja ketika melihat ruang bawah tanah yang sudah diubah menjadi tempat latihan dengan berbagai macam alat pendukung.

__ADS_1


"Ini bukan masalah besar." Count tersenyum canggung dengan pujian Senja.


Selesai mengamati ruang bawah tanah secara detail, Senja pun kembali menatap para bawahannya itu.


"Baiklah, sekarang mari kita mulai bisnisnya," seru Senja sambil melangkah pergi menuju ruangan lain di area itu.


Sesampainya di ruangan itu, Senja dengan santai duduk disalah satu sofa yang menghadap kearah mereka semua.


"Aku tidak perlu membicarakan detailnya, karena aku yakin kalian sudah mendengar ini dari Dian dan Eza."


Mereka lalu mengangguk tanda setuju, melihat itu Senja terlihat puas dan melanjutkan kembali perkataannya.


"Aku ingin kalian membuang seluruh identitas masa lalu yang selama ini kalian pakai. Aku tidak suka mendengar seseorang menyebutkan masa lalunya disini."


Mereka terlihat bingung, tidak tahu untuk bereaksi seperti apa. Lagi pula mereka membenci masa lalu itu, dan berharap untuk segera membuangnya.


"Baik Nona," jawab Dian yang membuat mereka sontak melihatnya. Hening beberapa detik sebelum akhirnya mereka serempak mengiyakan perkataan Senja.


"Bagus Dian,"


"Karena kalian sudah setuju, maka akan kuberikan kalian nama dan identitas baru yang akan kalian pakai seumur hidup sampai kalian mati nantinya."


"Terima kasih Nona," jawab mereka serempak dengan senyum cerah diwajahnya. Akhirnya mereka bisa melupakan masa lalu kelam yang selama ini mereka alami.


Sejujurnya mereka benci dengan nama dan identitas lama itu. Andai saja mereka bisa berubah, maka mereka akan lebih baik tidak punya nama dari pada harus terus mendengar panggilan itu.


Senja lalu melirik seorang anak laki-laki yang usianya sekita 14 tahunan dengan rambut hitam dan mata merah darahnya.


"Aslan Terra, itu nama mu saat ini."


Aslan tersenyum hangat saat menerima nama barunya. Akhirnya ia bisa dengan bangga menyebutkan namanya di depan umum untuk seterunya.


Senja lalu mengalihkan pandangannya pada anak laki-laki di samping Aslan. Wajahnya anak itu kecil dengan rambut emas yang panjangnya sebahu.


Jika diperhatikan dengan baik, anak itu memiliki fitur wajah cantik seperti seorang wanita namun ada sisi maskulin dari matanya yang tajam.


"Wira Terra, itu nama mu." Wira tersenyum hangat menerima nama barunya itu.


Selanjutnya Senja melihat seorang anak perempuan cantik dengan mata hijau dan kulit sawo matang.


"Anak ini punya pesona tersendiri. Aku yakin ia akan menjadi rebutan dikalangan para pria nantinya."


"Nama mu, Hana Terra." seru Senja sebelum beralih ke sisi lain.


Disamping Hana, ada seorang anak perempuan berusia 13 tahun dengan raut wajah lemah namun memiliki senyum yang tampak aneh.


"Dia licik, aku suka itu."


"Hazel Terra, itu nama mu." seru Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Hazel.


Senja selanjutnya menatap kearah anak laki-laki yang terlihat pucat dengan rambut silver dan mata birunya. Anak itu terlihat pendiam dengan tatapan mata yang dalam.


"Nama mu, Sean Terra."


Sean hanya mengangguk setuju Tania mengatakan apa pun. Senja tidak ambil pusing dengan itu, ia lalu menatap kembali ke sisi lain Sean.


Disana Senja melihat anak perempuan berusia 14 tahunan dengan mata merah yang hampir identik dengan Aslan.


"Olaf Terra, itu nama mu." Olaf hanya mengangguk setuju sama seperti anak lainnya.


"Aku juga memiliki identitas baru untuk kalian." Senja menatap lurus pada keempat rekan Dian.


"Dimulai dari mu," tunjuk Senja pada Adi."


"Dennis Terra, mulai sekarang itu nama mu."


"Terima kasih nona," seru Dennis dengan senyum puas.


"Tia, nama mu kini menjadi Rima Terra."


"Selanjutnya Huil, nama mu kini Morreti Terra."


"Cown, kini nama mu Agra Terra."


Setelah selesai memberi nama untuk semua bawahannya. Kini Senja kembali diam, ia sedang memikirkan posisi yang cocok untuk ditangani mereka semua.


"Dennis dan Morreti akan menjadi partner kerja. Kalian akan bertugas menjaga Guild Moonlight ini." seru Senja yang kemudian mendapatkan perhatian kembali dari mereka semua.


"Aslan dan Sean akan menjadi bawahan kalian di guild." lanjut Senja saat memperhatikan mereka.


"Hana dan Hazel akan mengikuti kalian juga." sambungnya sebelum menyuruh mereka berkumpul di sudut yang berbeda.


"Rina dan Wira akan menjadi partner di Sun Forest. Toko berlian yang akan dibuka 1 bulan lagi."


"Baik Nona, Laksanakan." seru Wira penuh semangat.


"Untuk Agra, kau akan menjaga toko obat ku di wilayah timur. Kau akan bertugas bersama Olaf disana."


"Baik Nona," jawab Agra tegas.


Setelah mendapatkan jawaban dari semua pihak, Senja kemudian menyerahkan masing-masing pada mereka sebuah cincin sihir teleportasi.


"Ketika kalian menyentuh cincin itu kalian akan segera berteleportasi ke lokasi terdekat dari portal sihir. Sehingga dimana pun kalian berada, kalian bisa melarikan diri dengan selamat, namun itu dibawah premis jika tidak ada penghalang besar disekitar kalian."


Mereka semua memandang cincin itu dengan penuh semangat. Mereka terlihat seperti sedang mengamati harta nasional milik negara.


"Keselurahan dari tim ini dijuluki 'Black Dragon' dengan simbol mawar hitam yang dikelilingi oleh seekor naga dengan dua pedang yang satu berwarna perak sedangkan yang lainnya berwarna emas."


"Satu hal lagi, setiap dari kalian harus memakai topeng berbentuk rubah merah kecil dengan hiasan mawar hitam di telinganya. Kalian tidak boleh menunjukkan wajah asli kepada siapa pun ketika sedang melaksanakan misi."


Mereka yang sejak awal fokus mendengarkan penjelasan Senja mulai mengangguk paham. Mereka sadar akan pentingnya kerahasiaan ini dalam hidup dan mati mereka.


"Selain itu, penting untuk menjaga kerahasiaan tempat ini. Siapa pun klien yang ingin menyewa jasa dari guild harus memakai topeng serta membayar uang 1 koin emas untuk setiap permintaannya."

__ADS_1


__ADS_2