
"Tenang dan diam adalah kunci penting dalam mengamati seseorang."
******************####*******************
Gedung Asrama Lantai Tiga
Suasana malam yang tenang seakan menjadi melodi indah bagi Senja. Melodi itu sangat memabukkan seakan sedang bernyanyi bersamaan dengan seruan angin malam. Angin yang dengan kasarnya menerpa tubuh mungil Senja.
Namun Senja seakan acuh tak acuh dengan hal itu. Meski sesekali rambutnya dimainkan oleh angin, Senja seakan tidak peduli. Senja lebih memperdulikan apa yang dikatakan Prof Edward padanya sebelum ia diusir dari ruangan itu.
"Rambut coklat dengan mata biru terang," gumam Senja sembari mengingat deskripsi yang diberikan Prof Edward padanya.
"Rambut coklat..." ulang Senja sekali lagi.
Senja tidak sadar bahwa ia sudah mengucapkan kalimat itu berulang kali. Pasalnya Senja masih belum bisa menemukan siapa sosok senior yang akan mendampinginya itu.
Bagi Senja deskripsi yang diberikan Prof Edward padanya terlalu umum. Siapa pun tahu jika sebagian besar siswa di akademi memilki rambut coklat dan mata biru.
"Tidak mungkin aku harus menanyakan satu-persatu dari mereka." keluh Senja kesal.
Senja yang masih bingung memutuskan untuk tetap berada di balkon. Ia berencana untuk menghabiskan malamnya disana.
Tepat satu jam lamanya ia disana tiba-tiba saja seekor burung Pipit hinggap di sampingnya. Burung itu berwarna biru muda dengan sedikit corak coklat di bagian sayapnya.
"Hmm, apa ini?" tanya Senja saat melihat kaki burung Pipit tersebut.
"Apa sudah waktunya? Aku pikir itu akan sedikit lebih lama." lanjut Senja sembari mengambil kertas di kaki burung tersebut.
Sedetik kemudian setelah kertas itu berhasil di lepas, burung Pipit pun pergi meninggalkan Senja. Sebelum bergi burung Pipit sempat terbang beberapa putaran di kepala Senja dan kemudian menghilang dari balik kegelapan.
Melihat burung itu menghilang membuat Senja sedikit bingung. Biasanya para burung pengirim surat akan meminta bayaran sebelum mereka pergi, dan biasanya Senja memberikan potongan roti atau daging tergantung jenis burung apa mereka.
"Aneh, kenapa dia pergi begitu saja." lirih Senja saat hendak mengeluarkan remahan biskuit dari kantong piyamanya.
Senja kemudian memasukkan kembali remahan tersebut dan segera membersihkan tangannya menggunakan tisu yang ada di meja balkon.
"Aku penasaran apakah misinya berhasil atau tidak," gumam Senja setelah tangannya bersih dari remahan biskuit.
Senja kemudian membuka kertas tersebut dan membacanya. Awalnya Senja terlihat biasa saja hingga beberapa baris berikutnya senyum pun muncul di ujung bibir Senja.
"Sesuai dugaan ku," lirih Senja senang. Ia lalu membakar habis kertas itu sebelum masuk ke dalam kamar.
"Aquila Noime,"
Senja tersenyum nakal, ia kemudian dengan samar mengingat kembali deskripsi yang diberikan oleh Prof Edward mengenai senior dengan nomor 46 tersebut.
__ADS_1
****
Diwaktu yang bersamaan dengan kegembiraan Senja terdapat seorang gadis muda yang merasa dingin di punggung belangnya.
Gadis itu dengan gelisah menyeka keringat dingin yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Ia merasa bahwa sebentar lagi bahaya besar akan menimpanya dan menyeretnya masuk ke dalam lingkaran setan yang tidak berujung.
"Sial, kenapa aku begini?" batin gadis itu.
Sudah sejak sore gadis itu merasakan perasaan aneh yang tabu. Perasaan yang bahkan sulit untuk dideskripsikan olehnya hewan sucinya sekali pun.
"Ini semua karena anak itu" gerutu si gadis sembari bangun dari tidurnya.
Gadis itu kemudian berjalan keluar dari kamarnya, ia memilih untuk menjernihkan pikirannya sebelum kembali tidur lagi.
"Aku benci mengakuinya tapi dia sangat aneh." lirih gadis itu dengan senyum kecut di bibirnya.
Setelah lama berjalan akhirnya gadis itu memutuskan untuk duduk sejenak di taman asrama. Ketika sedang asik menikmati dinginnya malam, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan sosok lain yang mendekati dirinya.
Dengan tangkas gadis itu menarik belatinya dengan posisi siap menyerang. Ketika sosok itu sudah berjarak cukup dekat, dengan sekali gerakan ia mulai menyerang titik vital sosok itu.
"Sial Noime, apa yang kau lakukan?" teriak sosok itu kesal.
"Evan," balas Noime bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?" balas Evan saat hendak duduk di kursi samping Noime.
"Aku?" tanya Noime bingung.
"Iya kau, sedang apa kau disini sendirian? Aku melihat mu tadi keluar dari asrama jadi aku datang untuk menyapa." jelas Evan singkat.
"..."
Noime tidak menjawab, ia malah menatap Evan dengan ekspresi jijik diwajahnya, seakan-akan sedang melihat sosok pria mesum yang menyebalkan.
"Hei, aku bukan orang mesum. Kau tahu." seru Evan kesal.
"Tidak mungkin," balas Noime dengan memicingkan kedua matanya tajam.
"Sial aku berkata jujur, lihat saja ini."
Evan kemudian menunjukkan kantong kresek yang sejak tadi dibawanya. Kantong itu berisi snack dan minuman karbonasi. Jika dilihat dari suhu minuman tersebut dapat dipastikan jika itu baru saja dibeli beberapa saat yang lalu.
"Aku keluar karena lapar," lanjut Evan sembari memberikan minuman tersebut pada Noime.
"Tidak, aku tidak butuh itu."
__ADS_1
Melihat Noime menolak pemberiannya membuat Evan dengan sengaja membuka minuman tersebut dan meminumnya langsung di depan Noime.
"Wah, segarnya." seru Evan puas.
"Hah, aku kembali dulu." lirih Noime sebelum berdiri dari duduknya. Ia kemudian pergi meninggalkan Evan sendirian dan segera kembali ke kamar asramanya.
Evan yang melihat punggung belakang Noime terlihat acuh tak acuh. Jujur saja Evan tahu jika Noime menjadi salah satu senior yang akan mendampingi junior tahun kedua untuk ujian kali ini.
"Aku yakin dia mendapatkan junior terburuk sehingga tidak bisa tidur dengan tenang." batin Evan sebelum beranjak dari duduknya.
"Tapi ini membuatku penasaran ujian seperti apa yang akan Noime berikan untuk siswa bermasalah itu," lanjut Evan dengan senyum nakal di bibirnya.
Selain itu Evan juga tahu jika saat ini Noime sedang menjalankan misi kelas D. Misi itu diberikan khusus diberikan oleh akademi untuk siswa kelas enam dan tujuh.
Sehingga selain Noime harus mendampingi juniornya, ia juga harus menyelesaikan misi yang diberikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh akademi. Jika misi tersebut lewat dari deadline, maka Noime harus memberikannya pada siswa lain.
Inilah alasan mengapa banyak senior sangat sulit untuk dijumpai. Mereka lebih memilih menyelesaikan misi yang diberikan akademi dari pada harus mendampingi junior tahun kedua.
"Hmm, sudah berapa banyak Junior yang ia terlantarkan karena memilih menjalankan misi itu ya?" gumam Evan saat hendak memasuki gedung asramanya.
"Ah, aku kira itu sudah lebih dari lima orang. Sial, aku harap Junior itu tidak akan kesulitan kali ini."
Meski terlihat khawatir nyatanya Evan sama sekali tidak peduli. Sebagai senior ia dan rekannya yang lain memiliki prioritas utama untuk dijalankan.
Selain itu semua senior tahu jika ujian ini hanyalah batu loncatan sehingga mereka tidak terlalu peduli pada junior yang mengikuti ujian tersebut.
Sebagian besar senior lebih suka menyembunyikan identitas mereka dengan nomor, itulah mengapa para junior hanya diberi nomor punggung agar mereka dapat mencari senior tersebut sebagai misi awal.
"Lagi pula keterikatan dengan junior hanya akan membahayakan mereka dalam misi yang lebih sulit lagi," batin Evan sebelum memasuki kamarnya.
Evan dan sebagian besar senior yang berada di kelas enam dan tujuh sadar bahwa misi yang mereka jalani akan sangat sulit jika para junior turut ikut campur, maka dari itu kebanyakan para senior akan memberikan tugas sulit sehingga junior tersebut tidak akan menggangu mereka selama mereka sedang menjalankan misi.
Hal itu dikarenakan kelas enam dan tujuh yang mulai aktif menjalani misi dari akademi untuk mendapatkan prestasi point agar bisa lulus dari Akademi Adeline. Point prestasi ini akan bisa menjamin mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
Bisa saja jika point prestasi mereka tinggi maka mereka akan bisa masuk ke departemen kerajaan atau pun serikat terpercaya lainnya. Dan jika kemampuan mereka bagus, maka mereka mungkin saja bisa diangkat sebagai pegawai tetap.
Itulah alasan mengapa senior kelas enam dan tujuh lebih sering mengambil misi. Hal itu mereka lakukan untuk mengumpulkan point prestasi sebagai jaminan masa depan setelah lulus dari Akademi.
"Noime harus bekerja keras mengumpulkan point prestasi karena dia berasal dari kalangan rakyat biasa. Andai saja Noime terlahir sebagai bangsawan, mungkin salah satu kursi ksatria istana akan menjadi miliknya."
Evan tahu betapa hebatnya kemampuan Noime, ia sadar bahwa kemampuan Noime akan sangat dibutuhkan bagi kerajaan Green dan wilayah kekuasaan bangsawan lainnya.
Sayangnya Noime terlahir sebagai rakyat biasa sehingga akan sulit baginya untuk masuk ke istana ataupun rumah bangsawan lain kecuali jika Noime memiliki surat rekomendasi dari para guru dan kepala sekolah.
"Noime, aku harap junior itu bisa sedikit meringankan beban mu." gumam Evan sebelum mematikan lampu kamarnya dan mulai tertidur lelap.
__ADS_1