Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Festival Rakyat pt 6


__ADS_3

"Ketenangan terkadang dapat mencekik mu masuk ke dalam perangkap kebisuan."


*****************#####*****************


Setelah Senja melihat reaksi Marques terhadap perkataan Kaira, satu kesimpulan yang bisa ia ambil dari hal itu bahwasanya keputusan Kaira untuk keluar dari penerus juga memiliki keterikatan perjanjian dimana para petinggi tidak bisa menyentuhnya sembarangan.


"Semakin aku melihatnya, semakin tertarik pula aku dengannya."


Senja mulai menarik sudut bibirnya, ia tersenyum nakal. Senja tahu bahwa ada rahasia gelap di antara mereka dan itu sungguh menggiurkan bagi dirinya.


"Dian, pergi dan..."


"Tidak!"


Dian menjawab dengan cepat, ia sungguh tahu maksud licik dibalik senyum nakal nona nya itu.


"Saya tidak mau."


"Tidak ada pilihan."


Senja mulai tersenyum hangat dan itu malah menambah kesan menyeramkan dirinya.


"Nona saya..."


Perkataan Dian terhenti ketika Senja melemparkan sekantong uang koin padanya.


"Aku tidak akan membuatmu menderita lagi, kecuali jika kau mau hal itu terjadi."


Entah mengapa punggung belakang Dian menjadi dingin setelah mendengar perkataan Senja.


"Baik Nona. Apa yang harus saya lakukan?"


Dian tahu semakin dia melawan maka semakin sakit dirinya nanti. Jadi lebih baik menerima sekarang dari pada harus terluka, toh hasilnya akan tetap sama.


Senja yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan Dian hanya bisa memasang senyum lebar diwajahnya. Ia tampak kasihan padanya namun itu juga terlihat sedikit menghibur.


"Pakai uang itu sebagai permintaan maaf," seru Senja sambil menggoyangkan surat di tangannya.


"Sisanya aku serahkan padamu."


Dian langsung mengerti maksud dari nona nya itu. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan segera keluar untuk melaksanakan tugas.


Setelah kepergian Dian, Senja kembali memfokuskan pandangannya pada pertarungan Kaira dan juga Marques. Permainan yang semula tenang kini sedikit berdarah tapi ia sangat menyukainya. Tampak begitu jelas jika Dera memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan simpati publik.


Sayangnya apa yang dilakukan Dera adalah sia-sia karena publik bahkan tidak berkedip padanya. Selain itu, emosi Kaira yang sudah sampai puncaknya tidak bisa di tahan lagi. Banyak dari mereka merasa sakit bahkan beberapa pelanggan bar di sekitar Senja juga merasakan dampaknya.


Kekuatan dominasi Kaira sangat hebat, banyak dari warga dan bangsawan yang menunduk karenanya namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Senja. Ia tahu bahwa kekuatan Kaira kali ini lebih di dominasi oleh hewan sihirnya.


"Merepotkan sekali."


Senja mulai tampak bosan terlebih lagi keadaan sekitar yang mulai kacau namun ada satu hal yang membuat mata Senja menjadi lebih besar dari sebelumnya.


"Dia..."


Senja kembali memikirkan pria yang ditemuinya pada saat melakukan perjanjian dengan Pedagang Weru.


"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Senja sekali lagi. Wajahnya sedikit mengerut dan matanya mulai menyipit. Senja berusaha untuk memahami apa yang akan dikatakan oleh Kaira.


"Pangeran Kedua?"


Perhatian Senja kini teralihkan oleh gumaman Kaira yang menyatakan jika pria itu adalah mantan kekasihnya.


"Hahaha, menarik," lirih Senja saat Pangeran Kedua memindahkan tombak api milik Kaira.


"Jadi seperti ini cara kerjanya."


Senja tampak begitu tertarik dengan bagaimana cara Allen memindahkan tombak api tersebut dengan mana teleportasi miliknya. Senja merasa ia perlu belajar banyak mengenai mana dan juga teleportasi sebab baru kali ini ia melihat bahwa teleportasi juga bisa memindahkan kekuatan sihir seseorang.


"Mari kita lihat, siapa yang akan ia lindungi."


Mata Senja kembali berbinar saat melihat Allen mendatangi Kaira terlebih dahulu ketimbang tunangannya. Jelas terlihat jika Allen begitu merindukan Kaira dan ia juga tampak sangat sedih ketika melihat Kaira yang menyerang Marques secara kasar.


Namun disini Senja tahu satu hal, Kaira sama sekali tidak peduli akan hal itu. Tidak, lebih tepatnya Kaira terlihat bingung harus berbuat apa di hadapan Allen. Kaira tampak kaku dan termenung seperti baru saja melihat hantu.

__ADS_1


"Kasihan Sekali dia,"


"Aku tidak yakin ini akan berjalan lancar," lanjutnya saat melihat Dera menangis lebih kencang dari pada sebelumnya.


Warga yang melihat Dera pun kini mulai bersimpati padanya. Mereka lantas menatap Kaira dengan pandangan tajam dan menusuk.


Senja mulai bosan dengan apa yang ia lihat saat ini. Pemandangan yang begitu klise sangat mirip dengan kisah drama percintaan di negara asalnya dulu.


"Mereka membuat ku jengkel."


Senja tampak kesal ketika Allen bahkan sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya.


Ketika Senja hendak memalingkan wajahnya, ia melihat seorang pria memanggil Kaira. Pria itu tampak seperti pelayan dari keluarga terpandang dan itu jelas terlihat dari seragamnya. Senja yang semula bosan kini kembali menatap arena dengan mata bercahaya.


"Lucu juga wajahnya," gumam Senja saat melihat wajah Allen yang saat ini penuh dengan emosi dan tanda tanya.


"Entah mengapa Kaira juga terlihat sama, meski itu hanya sekilas," lanjutnya ketika melihat wajah penuh tanda tanya dari Kaira.


"Tapi itu sangat bagus, dia datang tepat pada waktunya."


Senyum licik mulai mengembang di bibir Senja. Ia kini lebih tampak seperti iblis yang menggoda dari pada Tuan Muda yang manis.


Meski begitu Kaira cepat tanggap, ia langsung membela pria tersebut dan menyuruh Allen untuk melepaskan genggamannya. Beberapa menit kemudian Kian datang bersama Zakila. Mereka terlihat habis berlarian kesana-kemari dengan napas yang terengah-engah.


Kian tampak sangat kesal, ia memelototi Allen dengan geram dan menyuruh mereka semua untuk datang ke istananya untuk membicarakan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Meski awalnya ribut dan berantakan namun dengan adanya kehadiran Kian, semua hal itu kini menjadi tenang.


"Putra Mahkota ya, pantas saja."


Kali ini Senja mendapatkan pengetahuan baru tentang Kerajaan El-Aufi. Ia sadar bahwa yang menggantikan Kaira bukanlah Pangeran Kedua melainkan Kian, adiknya.


"Sebenarnya itu keputusan yang bagus," gumam Senja setuju dengan keputusan Raja.


Singkat cerita Kian berhasil meredakan emosi rakyat dan juga membuat Dera serta bawahannya diam. Namun satu hal yang menarik, selain Allen ternyata Kian juga penuh emosi dalam mengurus pria yang tadinya terabaikan penuh.


Pria itu dengan tenang memperkenalkan dirinya dan hal yang paling menghebohkan adalah bahwa ia dengan sengaja menyatakan bahwa Zakila adalah Putri Mahkota.


"Ini lucu tapi juga menarik," lirih Senja sambil menatap tajam ke arah Zakila dan Kian. Meski banyak yang terjadi namun hal itu berhasil terkontrol dengan aman.


"Dia menyadari keberadaan ku."


"Dia kuat juga."


Meski begitu Senja tahu satu hal, bahwa Kian tidak sekuat dirinya tapi masih lebih kuat dari Kaira.


"Kakak-adik sama saja,"


"Nona, apa mereka meninggalkan mu?" tanya Dian yang baru saja tiba di dekatnya.


"Entahlah."


"Hah."


Dian tampak kaget pasalnya baru kali ini Luna dan kedua sahabat nona nya itu melupakan dirinya.


"Ini aneh, apa mereka mendapatkan guncangan hebat sampai melupakan Nona," gumam Dian tidak percaya.


"Apa kita susul saja?"


"Tidak perlu. Aku masih ingin berjalan ria disini."


"Baiklah."


****


"Nona, anda ingin makan malam dimana?" tanya Dian saat mereka keluar dari kafe tersebut.


"Lihat saja nanti," balas Senja acuh.


Senja kemudian berjalan santai menuju arah pasar. Kini tempat yang tadinya penuh dengan kekacauan sudah berubah menjadi pasar malam yang indah yang di penuhi dengan berbagai macam hiasan cantik di sekitarnya.


Beberapa jam setelah Senja melihat-lihat pemandangan pasar, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kafe tempat pertama kali ia bertemu dengan Kaira. Kafe itu terlihat sama seperti terakhir kali ia melihatnya hanya saja mereka kini menambahkan beberapa aksesoris untuk membuat kafe tersebut terlihat lebih cantik dan mewah.


"Selamat datang Tuan."

__ADS_1


Salah seorang pelayan menyapa Senja. Setelah Dian mengatakan tujuan mereka, Pelayan itu lalu membimbing Senja menuju lantai atas. Di sana tampak jelas pemandangan plaza yang kini sudah berubah fungsi menjadi pasar malam.


"Nona, saya akan pergi untuk membeli sesuatu."


Setelah itu Dian keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Senja seorang.


"Nona, ada link dari Kun."


Senja sesaat menghentikan aktifitasnya, ia lalu menatap ke arah Ristia yang saat ini sedang berputar ria di pergelangan tangannya.


"Sambungkan."


Segera Ristia menyambungkan link antara Senja dan Kun.


"Nona, aku sudah menemukan mereka."


"Bagus."


"Mereka saat ini terkurung di ruangan spesial milik Kaira. Mereka tidak akan bisa keluar sebelum melakukan perdamaian."


"Hmm, menarik."


Setelah melakukan perbincangan ringan dengan Kun, kini Senja tahu satu hal bahwa apa yang sedang menimpa Muna dan Maya adalah kasus yang berbeda.


"Apa ini mengenai bangsawan waktu itu?"


Senja kembali teringat dengan salah satu bangsawan kerajaan Aruna yang sedang mengintai kamarnya.


"Jika benar maka Muna tidak salah dalam tindakannya, karena jika dibiarkan terus maka kerajaan Aruna akan mengalami kudeta besar-besaran."


Senja tampak membayangkan nasib kedepannya kerajaan Aruna. Meski kerajaan Aruna hanyalah kerajaan kecil namun mereka memiliki wilayah yang makmur dan damai, sayang sekali jika kerajaan seperti itu harus hancur hanya karena kudeta.


"Aku rasa keputusan Muna ada benarnya."


Beberapa menit kemudian Dian kembali ke restauran dengan wajah pucatnya. Ia lalu menghadap Senja yang saat ini terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Nona!"


"Ada apa?"


"Apa anda baik-baik saja?"


"Apa maksudmu?"


Senja yang kebingungan hanya menatap aneh ke arah Dian.


"Ah tidak, aku hanya mengatakan apa yang sedang aku lihat dari Nona."


"Memangnya aku terlihat seperti apa?"


"Hum, anda terlihat seperti sedang mengalami masalah serius."


Senja hanya diam menatap Dian yang begitu jujur terhadapnya. Ia lalu kembali lagi berbincang dengan Kun dan mengabaikan bawahannya itu. Dian yang tahu jika dirinya diabaikan langsung mengeluarkan sepucuk surat dari kantong pakaiannya.


"Nona," seru Dian sambil menaruh surat tersebut di atas meja.


"Aku mendapatkan ini dari Josep," lanjutnya serius. Senja hanya menatap malas ke arah surat tersebut sebelum memutuskan untuk membacanya. Betapa terkejutnya Senja saat melihat isi surat yang di kirim Josep untuknya.


"Sial," gerutu Senja kesal. Wajahnya mengeras dengan aura dingin disekitarnya.


"Dian..."


"Saya tahu Nona, sudah saya siapkan sejak tadi."


Dian memotong perkataan Senja karena ia tahu maksud dari nona nya itu. Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk membereskan sisanya.


"Kun, segera teleportasi kesini."


Kun yang kaget merapalkan mantra sesuai dengan koordinat yang baru saja diberikan oleh Senja.


"Jangan tinggalkan jejak."


Pesan Senja sebelum Kun melakukan teleportasinya. Jelas Senja tahu bahwa keseluruhan isi mansion itu memiliki mata dan telinga Kaira.

__ADS_1


Lima menit kemudian Dian kembali bersamaan dengan teleportasinya Kun ke kafe tersebut. Setelahnya Senja lalu menyuruh Dian untuk mengirimkan surat kepada Luna melalui post. Segera setelahnya mereka pergi meninggalkan kerajaan El-Aufi melalui portal sihir.


__ADS_2