Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Pesta Teh


__ADS_3

"Suatu hal yang di anggap spesial sejujurnya hanya sebuah kenangan manis yang sulit untuk dilupakan."


*****************#####*****************


"Kalian dari mana saja?" tanya Zakila kesal.


"Kami sudah menunggu kalian sejak tadi," lanjutnya sambil menunjuk ke arah kursi di belakangnya.


"Senja!" panggil Luna senang. Wajahnya tampak bahagia, ia lalu berjalan menghampiri Senja dan memeluknya.


"Astaga,"


"Mari kita pergi," seru Maya sambil beranjak dari duduknya.


"Aku senang kau kembali," bisik Luna pelan sebelum mereka memasuki gerbong kereta kuda.


"Maaf,"


"Tak, apa. Aku senang melihat mu kembali."


Luna lalu tersenyum hangat sambil menyambut uluran tangan Kaira untuk naik ke dalam gerbong.


"Berapa lama sampai ke mansion mu, Kaira?" tanya Maya saat kereta kuda sudah melewati plaza kota.


"Tidak lama, hanya sekitaran 30 menit saja."


"Kenapa kau tidak memilih untuk membangunnya di tengah kota?"


"Aku tidak terlalu suka keributan."


"Aku mengerti."


Beberapa menit kemudahan, mereka sudah berhasil keluar dari ibu kota dan kini tengah menuju mansion Kaira. Di sepanjang jalan, mereka hanya melihat ribuan pohon yang berada di setiap sisi jalan, tidak ada rumah atau pun aktifitas lainnya di sana.


"Apa kau mencoba untuk mengisolasi diri?" tanya Zakila penasaran.


"Tidak, aku hanya ingin beristirahat dengan tenang," jawab Kaira ramah.


"Tapi ini...."


"Ini terlalu sepi dan mengerikan," timpal Muna memotong perkataan Zakila.


"Hahaha, apakah begitu?" Kaira bertanya setelah melihat ekspresi lucu di wajah tamunya.


"Kau seperti putri yang terkena penyakit terkutuk saja," seru Maya acuh.


"Begitukah? Aku rasa ini bagus," balas Kaira senang.


"Menurutku tempat ini tidak buruk," gumam Senja pelan namun masih bisa di dengar oleh mereka.


"Senja, kurasa kau perlu rehabilitas mata," seru Maya yang tidak bisa mengerti jalan pikiran sahabatnya itu.


"Kurasa Maya benar." Muna juga setuju dengan pendapat Maya tentang penglihatan Senja yang buruk.


"Aku akan mengabari dokter kerajaan untuk memeriksa kesehatan mata mu." lanjut Luna yang terlihat khawatir pada Senja.


Senja yang bingung atas reaksi sahabatnya hanya bisa berpaling untuk menatap Kaira yang saat ini tengah tersenyum simpul padanya.


"Apa aku mengatakan hal yang salah?" batin Senja yang terlihat jelas di wajahnya.


"Lucu sekali gadis ini," gumam Kaira saat melihat wajah kebingungan dari Senja.


"Hahaha, kalian membuatnya bingung."


Perkataan Kaira sontak membuat Luna dan yang lainnya menatap Senja.


Mereka juga bisa melihat betapa bingungnya Senja terhadap reaksi mereka sebelumnya. Perlahan Luna mulai tersenyum sembari mengelus pelan rambut Senja.


"Kami hanya bercanda, jangan terlalu dipikirkan."


"Luna benar, kau tidak perlu pergi ke dokter."


Kini Maya mulai menjelaskan situasinya.


"Aku tidak tahu mengapa kau sangat menyukai tempat aneh seperti ini tapi itu tidak berarti kau juga aneh." lanjutnya dengan penekanan kata yang jelas.


"Mereka hanya bercanda, itu saja." sambung Zakila membenarkan perkataan saudari kembarnya.


"Huh, aku tahu itu. Tidak perlu dijelaskan secara mendetail juga," batin Senja yang masih mempertahankan senyum polosnya.


"Baiklah, cukup sampai disini," seru Kaira sambil menepuk kedua tangannya.


"Karena kita akan segera sampai, jadi mari kita sedikit bersantai." Kaira kemudian menunjuk kearah jendela luar dimana bangunan mansion berada.


"Cantik sekali," lirih Zakila yang tertegun dengan pemandangan cantik mansion tersebut.


"Itulah alasan mengapa aku memilih tempat ini," seru Kaira dengan perasaan puas.


"Sekarang aku mengerti," balas Maya yang juga ikut tertarik.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di area dalam mansion. Di sana terdapat sebuah danau yang menghadap langsung ke hutan dengan pemandangan bukit indah di hadapannya. Selain itu, area depan mansion diisi oleh berbagai macam bunga dan juga terdapat area tea time disana.


"Kalian bisa bermain sepuasnya disini. Lakukan apapun yang kalian inginkan, tapi ingat. Jangan merusak, okay."


Setelah mengatakan hal itu, Kaira masuk ke dalam mansion dan meninggalkan mereka bersama dengan beberapa pelayan dan juga penjaga.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke danau. Apa kau ingin ikut bersama ku?" tanya Muna pada Luna yang tengah bercanda dengan Zakila.


"Aku!?" tanya Luna bingung.


"Iya, kau."


"Baiklah."


Mereka kemudian menyisih dari taman depan mansion, lalu pergi menuju danau.


"Ada apa?" tanya Luna dalam bisiknya.


"Ini mengenainya," jawab Muna singkat sambil melirik sekilas pada Senja.


Sesampainya di danau, Muna segera menceritakan apa yang terjadi padanya saat menunggu Senja kembali. Luna tampak sangat khawatir mendengar seluruh cerita Muna. Ia merasa bahwa apa yang terjadi saat Senja sungguh keterlaluan.


"Aku tidak menyangka jika Duke Ari tega memberikan wilayah timur pada Senja sebagai hadiah kedewasaannya."


Protes Luna yang kesal setelah melirik Senja yang saat ini sedang tertawa bersama Zakila dan Maya.


"Sebenci apapun Duke Ari pada Senja, ia sama sekali tidak boleh memperlakukan anaknya secara bias." lanjutnya dengan emosi yang tidak terkontrol.


"Tahan emosi mu, Luna. Kita tidak bisa ikut campur dalam masalah internal mereka. Selain itu Senja sendirilah yang memutuskannya." jelas Muna yang mencoba mengontrol emosi Luna.


"Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, tapi jika dilihat kembali Senja sepertinya sangat menyukai wilayah timur. Ia dengan khusus datang kesana hanya untuk melihat miliknya."


Lanjut Muna yang pada akhirnya membuat Luna menangis.


"Betapa buruknya hal yang ia alami. Ia bahkan sudah senang hanya dengan menerima tanah kosong yang berpasir," lirih Luna sedih.


"Aku tahu itu, tapi inilah keputusannya."


"Ia masih saja polos. Aku tidak tahu alasan apa yang membuat Arina serta Sarah sangat membencinya."


"Aku setuju denganmu. Selain baik, Senja juga sangat polos. Aku tidak tahu bahwa ia telah tertipu sampai sejauh ini."


"Sayangnya kita juga tidak bisa membantunya dalam pembangunan wilayah timur. Rumor akan menyebar dan Senja akan dalam masalah lagi."


"Huff, aku benci rumor."


"Aku juga," balas Muna dengan raut wajah dinginnya.


Disisi lain, Senja dan Maya memutuskan untuk meninggalkan Zakila sendirian di taman. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan santai di sekitaran wilayah mansion.


"Apakah kau sudah sembuh?" tanya Maya kaku.


"Hah, apa maksudmu?" Senja yang bingung malah bertanya balik.


"Itu, maksudku adalah. Apakah kau sudah pulih? Soalnya tadi pagi kau terlihat seperti zombie yang baru bangun dari kematian."


"Tentu saja. Wajahmu saat itu sangat pucat, terlebih lagi lingkaran hitam di bawah matamu sangat besar. Kau seperti habis bertempur melawan waktu semalaman."


"Oh, hahaha. Kau tahu bukan, bahwa aku sangat menyukai buku. Jadi saat itu..."


"Jangan bilang kau membacanya sampai lupa waktu?"


"Hehehe"


"Dia percaya,"


"Hah, kau tahu. Betapa khawatirnya kami saat melihat kondisi mu yang seperti itu."


"Maaf, aku janji ti..."


"Janji apa? Seharusnya kau tidak hanya berjanji tapi juga menepati janji itu."


"Sepertinya Maya telah salah paham. Aku yakin Muna dan Luna pasti tidak menceritakan apa pun padanya," batin Senja saat melirik sekilas ke arah Muna dan Luna yang saat ini tengah berbincang serius.


"Baiklah, aku janji ini yang terakhir."


"Terakhir apanya, palingan besok juga sama." batin Senja mengejek dirinya sendiri.


"Bagus jika kau mengerti," balas Maya sebelum masuk ke hutan.


"Lalu, buku apa yang kau baca saat itu?"


"Hanya beberapa buku dongeng dan cerita rakyat."


"Apa kau memang sangat menyukai buku-buku itu?"


"Tentu saja, apa kau juga mau membacanya."


"Tidak terima kasih."


"Maya mirip sekali dengan Muna jika sudah menyangkut tentang buku. Apa memang para ksatria itu sangat malas dalam membaca ?"


Sudah dua puluh menit, Maya dan Senja berada di dalam hutan. Kini mereka tengah melihat kumpulan landak yang tengah membawa makanan mereka ke sarang masing-masing.


"Apa mereka selalu melakukan itu?" tanya Senja sambil menunjuk ke salah satu landak yang saat ini tengah membawa apel di atas pundaknya.


"Sepertinya begitu,"


"Mereka imut sekali,"


"Apa kau ingin menyentuhnya?"

__ADS_1


"Apakah boleh?"


"Tentu saja. Mereka ini hanya hewan biasa jadi tidak masalah."


"Baiklah, kalau begitu aku mau yang ini."


Senja lalu mengambil salah satu landak yang tengah membawa jamur di atas pundaknya.


****


Setelah perbincangan panjang, Luna dan Muna kemudian kembali ke taman. Betapa terkejutnya mereka ketika hanya melihat Zakila sendirian disana. Luna kemudian memalingkan wajahnya untuk melirik ke segala arah, hal yang sama juga dilakukan oleh Muna.


"Dimana Senja?" tanya Luna dingin.


"Dan dimana Maya?" timpal Muna kemudian.


"Aku tidak tahu," jawab Zakila acuh.


"Hah, bagaimana bisa? Bukannya kau sejak disini bersama mereka," teriak Muna kesal.


"Mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan," gerutu Zakila sambil berdiri menghadap Muna.


"Jadi, jangan ganggu aku lagi," lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk dada Muna.


"Ada apa ini?" tanya Kaira yang saat ini sudah berganti pakaian.


"Tidak ada," jawab Muna datar sambil menghentakkan jari Zakila.


"Apa kau bisa merasakan aura Maya dan Senja?" tanya Luna pada Kaira.


"Tentu," jawab Kaira ramah.


"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Kaira dalam hatinya.


"Saat ini Maya dan Senja sedang berada di bagian selatan mansion. Mereka sekarang tengah berjalan keluar dari hutan dan hendak menuju kesini."


"Terima kasih,"


Beberapa menit kemudian, Senja dan Maya kembali ke taman. Di sana mereka sudah di sambut oleh berbagai macam cemilan dan teh.


"Kapan kau menyiapkan ini semua?" tanya Senja dengan wajah polosnya.


"Kue ini baru saja tiba," jawab Kaira ramah.


"Benarkah?" Apa aku boleh memakannya?"


"Tentu saja. Kau boleh makan apa pun yang ada di atas meja ini."


"Terima kasih."


Senja kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di hadapannya, begitu pun dengan Maya. Setelah kembalinya Senja dan Maya, tea time pun segera dimulai. Kaira dengan anggun membagikan teh ke dalam masing-masing cangkir mereka.


"Silahkan dinikmati," seru Kaira dengan senyum manis di wajahnya.


"Terima kasih," jawab mereka bergantian.


Saat hendak melewati meja Senja, Kaira tanpa sengaja melihat seekor landak yang tengah bergelantungan di gaun Senja.


"Apa ini?" tanya Kaira penasaran.


"Oh ini, namanya Bubu. Aku menemukannya di hutan tadi. Lihat, masih ada jamur di punggungnya," jawab Senja polos sambil mengangkat Bubu keatas meja.


"Dia lucu sekali," batin Kaira saat melihat senyum manis Senja yang sedang memegang landak.


"Senja sangat menyukainya, jadi dia memutuskan untuk membawanya pulang," seru Maya menjelaskan.


"Apakah boleh?" tanya Senja pada Kaira.


"Astaga, aku tidak sanggup untuk menolaknya." gumam Kaira saat melihat mata Senja yang tengah berbinar terang di hadapannya.


"Ehem, baiklah." Kaira menjawab dengan kaku, wajahnya tampak memerah dengan malu.


"Aku ingin membungkusnya," lanjut Kaira dalam hatinya sambil membayangkan ekspresi wajah Senja saat hendak di bungkus.


"Terima kasih," balas Senja senang.


"Astaga, jantungku," gumam mereka semua yang melihat senyum manis Senja.


"Senja benar-benar lucu saat ini," batin Luna yang tidak tahan dengan rasa manis di depannya.


"Senja sebaiknya kau hentikan saja senyuman mu itu!" seru Maya yang membuat wajah Senja mengkerut.


"Kenapa?" tanya Senja bingung.


"Senyum mu itu dapat membuat kami diabetes," lanjut Maya menjelaskan.


"Hah? Apa?" tanya Senja yang sama sekali tidak mengerti maksud dibalik perkataan Muna.


"Apa maksudnya, aneh banget deh." batin Senja penuh tenda tanya.


"Sudahlah, sebaiknya kita makan saja," seru Kaira sebelum duduk di kursi samping Senja.


"Kini aku tahu, selain wajahnya yang polos dan tubuhnya yang lemah. Ternyata dia juga sangat lucu dan menghibur," batin Kaira saat melihat Senja yang sedang menikmati kue tar dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Aku jadi ingin memilikinya."

__ADS_1


__ADS_2