
"Kebebasan adalah syarat paling mutlak untuk bisa menjadi seorang pejuang."
*******************#####******************
Setelah semua syarat kontrak sudah disetujui kedua belah pihak, Senja memutuskan untuk menyuruh Nindia membawa Naven menuju guild. Tentu saja Senja juga memberikan surat pada Nindia untuk disampaikan pada Dian.
Di dalam surat itu menjelaskan semua hal yang harus dilakukan Dian dan rekannya dalam sesi latihan. Apa saja yang boleh mereka lakukan dan apa saja yang boleh mereka makan sudah dituangkan semua oleh Senja pada surat itu.
"Dengan adanya sesi latihan ini maka kesempatan mereka untuk naik level jauh lebih besar. Aku berharap dalam waktu satu tahun setidaknya mereka sudah berhasil mencapai level 10."
Senja sudah tidak sabar lagi melihat perkembangan para bawahannya itu. Ia merasa senang dan tanpa sadar bersenandung ria.
"Ekhem, Nona maaf telah menggangu momen berharga anda tapi sepertinya anda punya pertanyaan lain untuk saya."
"Aku sudah tidak tahan diperhatikan oleh mereka, jadi ku mohon nona cepatlah bertanya. Aku ingin segera pergi dari rumah ini. Ya meski pun ini rumah ku sendiri sih."
Basel terlihat gugup, ia merasa butuh menghirup udara segar saat ini. Entah mengapa basel merasa bahwa rumahnya cukup padat dan penuh sesak sejak para elemental berkumpul untuk melihat Senja.
"Padahal mereka hanya di luar bukan di dalam," gumam Basel yang berhasil di dengar oleh Senja.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak nona, saya hanya ingin tahu pertanyaan apa lagi yang ingin anda tanyakan pada saya."
"Oh itu, aku ingin bertanya sudah sejauh mana penelitian sebelumnya?"
Senja cukup penasaran dengan penelitian yang dilakukan Phelia dan Nindia beberapa bulan ini. Meski Nindia sering memberitahu Senja sejauhmana progresnya tapi tetap saja ia ingin melihatnya secara langsung.
"Penelitian yang dilakukan Phel dan Nindia sudah menunjukan hasilnya nona. Mereka saat ini sedang membuat prototipe untuk alat anti sihir pencucian otak."
"Begitu, apakah ada kendala dalam prosesnya?"
"Untuk kendala sepertinya tidak terlalu banyak nona. Mereka hanya kekurangan bahan dan batu mana."
"Hmm, seberapa banyak batu mana yang mereka butuhkan?"
"Saya kurang tahu nona, jika nona ingin tahu detailnya saya bisa memanggil Phel kesini."
"Tidak perlu, aku tidak punya banyak waktu saat ini. Katakan saja berapa banyak batu mana yang dibutuhkan, nanti akan aku kirim."
"Baik nona, terima kasih."
Basel sangat senang karena penelitian anaknya akan membuahkan hasil baik. Meski butuh waktu dan biaya yang besar namun dengan adanya Senja kekurangan itu akan dengan mudah teratasi.
"Wah, luar biasa hebat." gumam Basel takjub saat melihat sosok Senja yang dipenuhi uang disekitarnya.
"Memang uang adalah yang terbaik, meskipun aku seorang peri tapi aku tidak bisa bohong soal kebenaran itu."
Basel dengan cepat menghapus air liur dari bibirnya. Ia tidak ingin terlihat aneh di hadapan Senja yang merupakan majikan di wilayah ini.
"Basel," panggil Senja sebelum meletakkan cangkir tehnya.
"Aku akan kembali sekarang, katakan pada Nindia untuk mengubungi ku tentang masalah batu mana itu."
"Baik nona,"
Basel kemudian mengantarkan Senja menuju pintu keluar kota mati. Setelahnya Basel segera kembali menuju ruang kerjanya untuk melanjutkan aktivitas yang tertunda sebelumnya.
"Tuan, anda lihat yang tadi bukan?" tanya pengawal Basel yang penasaran.
"Tentu saja dan aku rasa ia akan menjadi seperti kita nantinya."
"Bagaimana bisa, setahu saya tidak ada manusia yang bisa mengikat seorang elemental."
"Ada, kamu saja yang tidak tahu."
****
Senja yang berhasil keluar dari kota mati segera berteleportasi menuju ruang bawah tanah permaisuri Mawar. Namun saat hendak memasuki portal Senja berhenti sesaat dan melihat ujung gaunnya.
"Hei, pergi dari sini." seru Senja sambil menarik ujung gaunnya itu.
"Kembali sana, masih kecil sudah keluyuran." lanjut Senja yang dijawab gelengan kepala.
"Nak, aku bukan ibu mu jadi bisakah kau pergi dari ku?"
"Tidak, aku tidak mau."
"Sejak kapan pula anak ini mengekori ku hingga kesini." gerutu Senja tidak senang.
Senja sangat yakin jika tadi ia pergi bersama Basel menuju pintu keluar dan kenapa sekarang ada anak kecil di balik gaunnya.
"Aku sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan bocah ini. Apa dia hantu?"
"Aku bukan hantu," seru anak itu yang dengan berani menjawab pikiran Senja.
"Aduh, bisa gila aku. Pergi sana, aku tidak suka anak kecil." bentak Senja sambil mendorong tubuh anak itu menjauh darinya.
"Tetap disana dan jangan mendekat." lanjutnya saat melihat bocah itu mencoba mendekatinya kembali.
__ADS_1
"Aku tidak mau, tidak mau!"
Bocah nakal itu berteriak histeris sehingga membuat kuping Senja sakit. Ia merasa pusing dan entah mengapa hawa disekitar ruangan menjadi lebih panas.
"Aku tidak mau, aku tidak mau!"
"Bocah nakal ini seperti iblis saja," gumam Senja kesal. Ia mencoba untuk menutup mulut anak itu tapi anak itu malah mengigit jarinya.
"Sial, sakit tahu." bentak Senja kesal. Tanpa pikir panjang Senja segera merapalkan mantra sihirnya dan menghilang dari tempat itu.
Senja tidak tahu apa yang akan anak itu lakukan sendirian disana. Tapi yang pasti anak itu tidak akan menggangunya lagi.
"Sekarang aku bisa tenang," gumam Senja sebelum membuka pintu tua di depannya.
"Setidaknya jika anak itu terus menangis maka para pelayan akan menemukannya dan memulangkannya kembali."
Senja kemudian pergi menuju goa coklat yang sebelumnya dijumpai oleh Vanilla. Goa coklat itu masih sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan yang berarti.
"Hmm, aku akan mengeceknya nanti setelah tahu berapa banyak yang dibutuhkan Nindia untuk percobaan nya."
Rencananya Senja akan menyuruh Kun dan Vanilla untuk menggali batu mana itu. Tentu saja dirinya akan menerima hasil tambang dengan senang hati.
"Sekarang aku akan fokus pada latihan," lirih Senja sambil melangkah pergi menuju sungai terdekat.
Biasanya Senja melatih kekuatan sihirnya ditempat ini selama beberapa jam saja. Hal itu karena perbedaan waktu antara ruang bawah tanah dan dunia nyata berbeda.
"Satu jam disini sama dengan empat jam di luar sana. Cukup boros, tapi sangat bagus untuk melarikan diri."
Senja kemudian meluncurkan teknik wind wave untuk membuat gelombang air di sungai. Setelahnya air sungai naik sedikit demi sedikit sehingga membentuk ombak kecil.
Senja dengan santai membolak balikkan air tersebut ke kiri dan kanan. Cukup lama Senja melakukan hal itu sampai tidak terasa satu jam pun telah berlalu.
Puas dengan membolak-balikkan air, kini Senja melanjutkan kembali dengan memindahkan batang kayu. Mulai dari ukuran kecil hingga besar telah berhasil Senja pindahkan.
Namun Senja merasa ada yang kurang, ia merasa bahwa hal itu tidak cukup untuk membuat batang kayu bertahan lama jika diberi serangan luar.
"Aku akan membuatnya lebih kokoh," gumam Senja sembari memadatkan energi anginnya sebelum memindahkan batang kayu yang lain.
Puas dengan hasil tersebut, Senja memilih untuk beristirahat sejenak. Ia akan melanjutkannya kembali jika mana nya sudah terisi penuh.
Dalam lamunannya Senja berpikir akan lebih mudah jika ia bisa menggunakan sihir anginnya untuk memanipulasi udara sekitar.
"Jika pusat gravitasi diturunkan maka aku akan bisa terbang," gumam Senja senang.
"Tapi bagaimana caranya ya? Aku tidak punya buku dengan teknik seperti itu. Apa aku tanya Sera saja."
Dengan pemikiran itu, Senja pun merapikan gaunnya dan segera tidur. Ia ingin menjumpai Sera dan bertanya berbagai hal.
"Sera, bagaimana kabar mu?" seru Senja saat sudah berada tepat di depan pintu rumah.
"Aku baik dan sepertinya kau terlihat begitu bahagia," balas Sera sebelum mempersilahkan Senja memasuki rumahnya.
Meskipun rumah Sera tidak berpintu namun Senja memiliki etiket bangsawan murni yang tidak bisa dilanggar. Ia tidak bisa masuk ke dalam rumah orang lain sebelum orang itu menyetujuinya.
"Aku sudah bisa menggunakan teknik wind wave dengan mudah."
"Benarkah? Bagus sekali."
"Terima kasih, sekarang aku datang untuk menanyakan tentang sihir gravitasi pada mu."
"Sihir gravitasi? Apa kau ingin terbang?"
"Hahaha,"
Senja hanya bisa tertawa canggung saat niatnya ketahuan dengan mudah. Tapi bukan karena alasan itu saja, entah mengapa saat ini Sera melihat Senja jauh lebih agresif lagi dari pada sebelumnya.
"Kau seperti anak kecil saja."
"Kenapa, memang ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja itu cukup unik."
Sera kemudian pergi menuju salah satu rak buku miliknya. Disana ia terlihat seperti sedang memilih buku sihir. Beberapa menit kemudian Sera mengambil salah satu buku yang berada tepat diatas kepalanya.
"Kau bisa menggunakan buku ini, tapi ada syaratnya."
"Hah, apa lagi ini?"
Setiap kali Sera mengajukan persyaratan hal itu pasti membuat Senja harus bergadang semalaman. Ia tidak tahu bahwa permintaan Sera yang tidak melibatkan materi lebih sulit dari pada uang itu sendiri.
"Apa itu?" tanya Senja pasrah. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdebat dengan Sera.
"Siapa bocah laki-laki di belakang mu itu?"
"HAH...!"
Mendengar pertanyaan Sera membuat bulu kuduk Senja berdiri. Ia dengan gugup mulai mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari mungil Sera.
Disana Senja bisa melihat bocah laki-laki berambut merah dengan iris mata berwarna emas. Sungguh pemandangan yang indah bagi orang lain namun bagi Senja itu adalah pemandangan yang sangat-sangat mengerikan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Bukankah aku meninggalkan bocah ini di kantor Agra. Tapi, tapi ini..."
Senja sangat pucat, ia terlihat bisa pingsan kapan saja. Tanpa berpikir panjang Senja segera berlari mendekati Sera dan bersembunyi di belakangnya.
"Dia, dia bukan bocah biasa. Dia setan," teriak Senja dengan suara yang bergetar.
"Hahaha,"
Sera hanya tertawa geli melihat reaksi lucu Senja saat berhadapan dengan bocah itu. Ia dengan pelan menggelengkan kepalanya sebelum menyuruh Senja untuk kembali duduk.
"Tidak, aku tidak mau. Lagian kenapa kau tertawa?"
"Astaga, melihat reaksi mu ini aku menjadi yakin kalau dia tidak mengatakan apa pun pada mu."
Sera dengan lantang menunjuk kearah bocah itu yang kini malah membuat bocah itu mulai berkaca-kaca. Ia tanpa sadar mengeluarkan air matanya yang sedari tadi ditahan.
"Aku bukan setan!" teriak bocah itu yang membuat Senja semakin merinding ketakutan.
"Menjauh dari ku, pergi." bentak Senja sambil memegangi gaun Sera.
"Aku tidak mau!" teriak bocah itu sekali lagi dengan aura yang tidak bisa di kontrol.
Entah mengapa Senja mulai merasa panas dan seketika beberapa tumbuhan Sera mulai layu dan ada juga yang hangus terbakar.
"Astaga, kau bisa membuat rumah ku hangus terbakar." seru Sera saat mengeluarkan sihir air untuk menyelamatkan tumbuhannya.
"Aku tidak mau pergi, aku tidak mau,"
Bocah itu terus saja berteriak meski Sera sudah memperingatinya. Melihat bahwa tidak ada jalan keluar, Sera akhirnya memutuskan untuk mengikat Senja dan bocah itu.
"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak bocah itu sambil meronta-ronta dari kekangannya.
"Sera, ini tidak lucu," protes Senja yang tidak jauh berbeda dengan bocah itu.
"Sekarang aku tahu alasan mengapa bocah itu menyukai mu. Kalian berdua terlihat sangat-sangat mirip."
Sera yang sudah tidak tahan dengan ocehan Senja dan bocah itu segera mengikat kedua mulut mereka dengan kain putih yang sudah diberi sihir peredam suara.
"Akhirnya tenang juga," lirih Sera sambil meletakkan keduanya diatas sofa.
"Baiklah mari kita mulai diskusinya." lanjut Sera sebelum membuka penutup mulut Senja.
"Bwahhh..., apa ini?" tanya Senja kesal.
"Senja, apa kau tahu siapa bocah ini?"
"Tentu saja, dia adalah iblis kecil ya...."
Perkataan Senja terputus saat Sera dengan cepat menyumpal kembali mulutnya dengan kain putih. Sera kemudian memandang bocah itu yang saat ini masih saja menatapnya dengan ganas.
"Apa kau sudah mengatakan siapa diri mu pada nya?" tanya Sera pada bocah itu sambil menunjukan ke arah Senja.
"Mmppm"
Tanpa perlu dibuka Sera sudah tahu jika bocah itu sama sekali belum memperkenalkan dirinya pada Senja.
"Hah, sejak kapan kau menyukainya?" tanya Sera kembali namun bocah untuk hanya memalingkan wajahnya tidak suka.
"Baiklah, aku akan mengatakan ini padanya." seru Sera yang membuat bocah itu kesetanan. Ia tidak terima bahwa ada orang lain yang menjelaskan situasi.
"Jika kau tidak senang, maka cepat katakan saja."
Senja yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak tahu jika Sera akan bertindak sejauh itu pada anak kecil.
"Meski pun aku membenci anak kecil tapi aku tidak pernah menyuruh mereka menjawab pertanyaan saat mulutnya masih tersumpal, bukankah itu sudah keterlaluan."
"Mmpppmm."
"Apa kau tidak senang? Baiklah aku akan mengatakan semuanya."
"Mmpppmmm."
"Kasihan sekali dia," gumam Senja tidak habis pikir dengan metode yang digunakan Sera.
"Baiklah, katakan sekarang." seru Sera kemudian membuka penutup mulut anak itu.
"..."
"Hei, kau bilang ingin menjelaskan."
"..."
"Hah, Senja. Anak ini adalah elemental."
"Tidak...!"
Bocah itu berteriak kaget dan tidak menerima apa yang baru saja dikatakan Sera pada Senja. Tapi reaksi Sera hanya acuh tak acuh sambil mengangkat bahunya cuek.
"Sudah aku katakan bukan,"
__ADS_1
"Hik..."
Anak itu malah menangis lebih parah lagi dari pada sebelumnya. Dan tentu saja Sera dengan tenang menutup kembali mulut bocah itu dengan kain putihnya.