Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Party Pt 2


__ADS_3

"Diam adalah emas namun jika berlebihan maka rasa sakit yang akan di dapat."


*****************#####*****************


"Selesai sudah," seru Dian setelah meletakkan mahkota kecil diatas rambut Senja.


"Nona, lihatlah penampilan anda sungguh indah." lanjut Dian yang hanya dijawab erangan malas Senja.


"Nona bangunlah, anda sudah telat 10 menit dari waktu yang dijanjikan," lirih Dian sambil membereskan peralatan make up Senja.


"Siapa ini?" tanya Senja acuh ketika ia pertama kali membuka mata dan melihat sosok cantik dihadapannya.


Sosok itu begitu indah dengan mahkota kecil di atas rambut ikalnya yang digerai bebas, ada juga hiasan rambut lainnya seperti bunga kering yang mekar dengan indah yang menjuntai di setiap kepangan rambut yang ada di antara kupingnya.


Mata hijau kebiruan nya terlihat tegas dengan bibir merah ranum seperti ceri membuat penampilan wanita itu seperti boneka. Ia memakai gaun biru langit dengan bintang kecil mengitari ujung gaunnya.


"Cantiknya," seru Senja tanpa sadar menyentuh cermin di hadapannya.


"Nona, jangan terus bercanda. Anda sudah telat dan akan ketinggalan dansa pertama jika tidak cepat sampai di aula." seru Dian kesal dengan perilaku acuh tak acuh nya Senja.


Senja masih terperangah melihat kecantikannya. Ia bahkan tidak sadar jika Dian sedari tadi sudah mengomelinya.


"Sayang sekali tidak ada ponsel di dunia ini."


"Nona, anda narsis sekali," seru Dian ketika nona nya memuji diri sendiri.


"Ayo Nona, kita sudah terlambat." lanjut Dian sambil mendorong tubuh Senja keluar dari kamarnya.


"Hah, malasnya."


"Nona, anda saja belum berada disana, dari mana datangnya rasa bosan itu?" tanya Dian sambil menatap wajah Senja yang sedang cemberut.


"Jangan berekspresi seperti itu Nona, nanti riasannya bisa luntur," gerutu Dian kesal dengan perilaku Senja yang akhir-akhir ini terasa aneh.


"Bodoh amat," balas Senja sambil mempercepat langkahnya menuju aula pesta.


Sesampainya di depan pintu aula, seorang penjaga menghampiri Senja sambil memberi salam.


"Selamat sore putri de Ari," seru penjaga itu sopan.


"Selamat sore," jawab Senja acuh sambil terus melangkah mendekati pintu aula.


Penjaga yang dilewati Senja segara menatap temannya untuk segera membuka pintu aula.


"Selamat sore putri de Ari," seru penjaga tersebut sambil membuka pintu aula.


Pintu aula terlihat sangat megah dengan dekorasi ular emas yang melingkar di tengahnya, ada juga dua pedang perak yang menyilangi ular tersebut.


"Putri Senja de Ari memasuki ruangan," teriak penjaga itu bersamaan dengan terbukanya pintu aula.


Senja sedikit kaget karena penjaga tersebut meneriaki namanya namun rasa kaget itu hilang seketika dan digantikan dengan rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Ketika pintu aula terbuka hal pertama yang menyambut Senja adalah ribuan mata para bangsawan kerajaan Aruna, baik itu bangsawan berpangkat rendah mau pun tinggi.


Mereka saling memandangi Senja dari ujung rambut hingga ujung kaki. Diantara mereka ada yang terlihat kagum dengan kecantikan Senja ada pula yang iri dengannya.


Senja mencoba untuk mengabaikan seluruh tatapan tajam yang diarahkan padanya. ia kemudian berjalan masuk ke dalam aula dengan tenang dan anggun layaknya seorang bangsawan tingkat tinggi.


Maya dan Zakila yang merupakan tokoh utama di tempat itu hanya tersenyum manis melihat Senja yang kini mendatangi mereka.


Senja terlihat anggun dan lembut, sosoknya saat ini bahkan bisa disandingkan dengan peri.


"Sungguh indah," gumam Zakila dengan senyum lebar di wajahnya.


"Kau benar, dia sangat indah," balas Maya yang masih menatap lembut pada Senja.


Bisikan demi bisikan terus bergema di aula pesta. Mereka sibuk membicarakan Senja yang merupakan putri utama Duke Ari yang kini mulai mendapatkan perhatian penuh dari sang Duke yang dulunya pernah acuh terhadapnya.


Mereka juga membicarakan rumor mengenai bunuh dirinya Senja akibat pembatalan pertunangan dengan pangeran kelima, serta kasus yang baru saja ia alami.


"Aku dengar dia diracuni oleh pelayannya sendiri."


"Kasihan sekali dia, selain itu tunangannya juga direbut sama saudarinya sendiri."


"Ternyata penampilan cantik bukan segalanya, ia bahkan dikhianati oleh dua orang terdekatnya sekaligus."


"Aku kasihan padanya."


Mereka terus saja membicarakan Senja, dari awal masuknya ia sampai berada di depan singgasana Raja dan Permaisuri serta Ratu dan juga si kembar.


"Salam cahaya terang kerajaan Aruna." seru Senja sambil sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Raja.


"Salam cahaya malam kerajaan Aruna," lanjut Senja yang kini menghadap ke arah Permaisuri kemudian menghadap ke arah arah Ratu.


"Salam Putri malam kembar kerajaan Aruna," lanjut Senja kembali ketika ia menghadap ke arah Maya dan Zakila.


"Semoga terangnya rahmat selalu menyertai anda semua," lanjut Senja kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap sang Raja.


"Selamat datang putri de Ari," balas Raja dengan aura agung selayaknya seorang pemimpin.


"Aku dengar kau dan kedua putri ku adalah sahabat."


"Benar yang mulia, saya senang kedua putri mau berteman dengan saya." balas Senja sopan yang malah mendapatkan tatapan tajam dari para bangsawan disekitarnya.


"Berani sekali dia berbicara dengan nada angkuh begitu," bisik salah satu nona bangsawan yang sejak awal tidak menyukai kehadiran Senja.


"Bukankah dia telat? Mengapa dia tidak meminta maaf terlebih dahulu dan malah berani mengangkat kepalanya dengan congkak," gerutu yang lain.


Satu persatu dari mereka mulai memelototi Senja yang malah terlihat sangat menghibur bagi dirinya.


Senja melirik pelan pada Muna dan Luna yang berada tidak jauh darinya. Mereka menatap para bangsawan dengan pandangan rendah ketika sedang menghina Senja.


"Sungguh menghibur," batin Senja dengan sedikit senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Aku dengar Maya dan Zakila sangat menyayangi mu, sungguh aku ingin mengetahui apa alasannya," seru Raja Aruna sambil sekilas melirik kearah putri kembar nya.


"Saya sendiri juga tidak tahu yang mulia," jawab Senja dengan senyum ramahnya.


"Begitu kah?"


"Iya yang mulia."


"Menarik sekali."


Raja Aruna mulai tersenyum puas dengan reaksi yang diberikan Senja. Ia tahu jika wanita di depannya ini bukanlah wanita biasa. Mengingat Senja adalah putri seorang Duke, pastinya ia juga memiliki kekuatan yang tidak dapat diremehkan.


"Hahaha, sekarang aku tahu mengapa putri kembar ku sangat tertarik pada mu."


" ... "


"Aku sangat suka dengan sikap mu ini, lain kali aku akan mengundang mu untuk makan malam bersama."


"Terima kasih yang mulia."


"Tidak perlu berterima kasih, seharusnya aku yang meminta maaf karena telah menyita waktu mu disini."


"Tidak yang mulia, tidak sama sekali. Saya malah senang bisa berbincang lama dengan anda."


"Begitu kah? Aku senang mendengarnya."


"Benar yang mulia."


"Baiklah putri, kau bisa menikmati pesta ini sekarang."


"Terima kasih yang mulia," lirih Senja sopan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Wanita yang menarik," batin Raja Aruna ketika ia melihat Senja yang pergi menghampiri Luna dan Muna.


"Kekuatan yang ia sembunyikan setidaknya sebanding dengan setengah kekuatan ku," gumam Raja Aruna singkat sambil melirik gumpalan hitam di atas kepala Senja.


"Aku ingin terus melihatnya," bisik Raja Aruna sebelum menyapa tamu yang hendak berbicara dengannya.


Senja yang tengah berjalan menuju kedua sahabatnya itu mulai merinding secara mendadak. Ia tidak tahu dari mana datangnya merasa dingin itu tapi yang pasti perasaan itu sangat mengganggu dirinya.


"Ada yang sedang membicarakan aku," batin Senja tidak suka dengan apa yang tengah ia rasakan.


"Nona, Raja itu sangat aneh. Dia sejak awal terus memperhatikan mu, tidak lebih tepatnya ia sedang mengawasi mu saat ini," seru Lily cemas ketika Raja Aruna terus menatap tajam nona nya.


"Lily benar Nona, ada yang aneh dengan Raja itu. Dia seolah tahu jika anda sedang menyembunyikan sesuatu." timpal Ristia yang kini mulai naik menuju jari telunjuk Senja.


"Raja itu sepertinya tahu kekuatanmu Nona, dan sepertinya dia juga kuat."


"Tentu saja dia kuat, diakan Raja meski pun kerajaan ini kecil namun kita juga tidak bisa seenaknya meremehkannya." ejek Senja saat Lily tidak sadar dengan posisi Raja Aruna.


"Nona, aku rasa anda harus mewaspadai tempat ini." seru Lily acuh tak acuh.


"Lily, seharusnya kau yang harus berhati-hati di tempat ini agar tidak sembarangan menggunakan kekuatan mu pada ku," gerutu Senja kesal masih mengingat kejadian tadi sore di perpustakaan.


"Apa kau bilang?" bentak Senja dengan senyum aneh di wajahnya.


"Senja, duduklah disini," seru Luna sambil mendorong kursi didepannya.


"Terima kasih."


Senja kemudian duduk di kursi itu masih dengan senyum kesalnya.


"Ada apa? Kau terlihat kesal," tanya Muna yang kini sedang menatap aneh kearah Senja.


"Ah, bukan apa-apa," jawab Senja ramah sebelum meminum teh yang ada dihadapannya itu.


"Nona, kau sangat menyebalkan," balas Lily ketika Senja masih berbicara dengan Luna dan Muna.


"Aku ingin memukulnya sekarang juga," gerutu Senja masih mempertahankan senyum kesalnya. Senja tidak bisa memperlihatkan rasa kesalnya di pesta ini karena saat ini semua mata sedang tertuju padanya.


"Hey, apa yang kalian katakan barusan?" tanya Senja ketika ia mendengar gumaman Ristia dan Lily secara bersamaan.


"Nona, kami baru saja mendapatkan pesan dari Kun jika ada segerombolan pria misterius yang tengah mengawasi kamar anda saat ini."


"Hah, apa? Siapa yang mengirimkan mereka? Tunggu, Lily apakah kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan sebelumnya," tanya Senja panik namun masih mempertahankan wajah pokernya di depan para bangsawan lain.


"Tenang saja Nona, semua sudah beres."


"Hah, syukurlah, lalu siapa mereka?"


"Kami juga tidak tahu Nona, mereka datang secara tiba-tiba kata Kun."


"Baiklah, aku mengerti."


"Jangan khawatir Nona, aku akan menyelidikinya segera," seru Lily sebelum terbang keluar dari aula pesta melalui jendela kabin yang terbuka.


"Lily, pastikan kau menyembunyikan kekuatan mu dan juga kami," lirih Senja sebelum Lily benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


"Nona, saya rasa aura kekuatan anda perlu ditekan kembali agar Raja tidak menyadarinya seperti tadi."


" ... "


"Saya yakin Nona, jika Raja memiliki kepekaan yang tinggi mengenai orang kuat disekitarnya."


"Baiklah, aku mengerti," balas Senja yang kini mulai menurunkan sedikit kekuatan mana yang mengalir ditubuhnya.


"Manusia, ini aku." seru Kun yang melakukan link batin secara mendadak. Senja yang kaget mulai kembali mengontrol ekspresi wajahnya sebelum mengambil kipas dan menutupi setengah wajahnya.


"Kun, ada apa?"


"Manusia, aku mendapatkan informasi penting bahwa para bayangan itu adalah milik seorang bangsawan tinggi kerajaan ini."


"Apa kau yakin?"

__ADS_1


"Apa kau meragukan aku manusia? Aku baru saja mendengar salah satu diantara mereka menyebutkan nama bangsawan itu."


"Sialan. Bagaimana kau bisa mendengarnya? Jangan bilang pada ku jika kau mengejar mereka?"


"Mengapa aku harus berusaha payah mengejar mereka? Aku ini hewan suci yang memiliki pendengaran seratus kali bahkan ribuan kali lebih kuat dari pada manusia lemah seperti mu."


"Iya iya, terserah kau saja," balas Senja lelah mendengar omong kosong Kun yang tidak ada habisnya.


Satu jam telah berlalu sejak kehadiran Senja di dalam aula pesta. Para bangsawan yang semula masih memandang liar me arah Senja kini mulai sibuk dengan urusan masing-masing.


Maya dan Zakila juga sedang sibuk berkutat dengan para pengikutnya. Hal ini sangat menguntungkan bagi Senja dan kesehatan mentalnya.


"Aku bosan," cicit Muna dengan ekspresi lelah di wajahnya.


"Kau sama sekali tidak bisa menyembunyikan ekspresi mu itu saat ini," balas Luna yang malah mendapatkan tatapan bodoh amat dari Muna.


"Aku akan keluar untuk jalan-jalan," lirih Muna sambil melangkah pergi dari kursinya.


"Hah, anak itu tidak pernah berubah," gerutu Luna kesal ketika Muna benar-benar meninggalkan aula pesta.


"Aku juga bosan," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Luna.


"Kalian berdua sama saja," seru Luna kesal kemudian beranjak dari kursinya menuju ke arah Maya yang sedang kewalahan menyapa para tamu.


"Lebih baik aku juga pergi," gumam Senja sambil melangkah pergi menuju arah teras dimana Lily keluar sebelumnya.


"Senja!" panggil seorang wanita muda ketika Senja hendak pergi meninggalkan kursinya.


"Zakila, ada apa?" tanya Senja acuh sebelum melirik sekilas ke arah teras di depannya.


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin beristirahat sejenak di teras."


"Oh begitu, dimana yang lain?"


"Saat ini Muna sedang keluar untuk mencari udara segar sedangkan Luna sedang berbicara dengan Maya di sana," jawab Senja sambil menunjuk sisi lain aula dimana Luna dan Maya berada.


"Pfftt, aku rasa Muna sekarang sedang melarikan diri dari pesta," seru Zakila sambil menahan tawanya yang hendak pecah.


"Kurasa begitu."


"Baiklah, kalau gitu ambil ini." lirih Zakila sambil menyerahkan sepotong kue coklat pada Senja.


"Cake ini sangat lezat, aku mendapatnya dengan susah payah jadi kau harus memakannya sampai habis," lanjut Zakila senang dengan senyum aneh diwajahnya.


"Ah, iya Senja..."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Zakila sudah disapa oleh salah satu pria bangsawan yang tengah membawa seikat bunga mawar.


"Salam Putri Zakila, semoga cahaya rahmat selalu menyertai anda."


"Salam tuan muda Derik," jawab Zakila tenang dan sopan.


"Selamat malam putri de Ari."


Kini Derik menyapa Senja yang sejak awal terlihat kaku ditempatnya.


"Salam kembali untuk mu tuan," balas Senja acuh tak acuh.


"Baiklah aku tidak ingin menggangu, kalian bisa mengobrol sekarang. Aku undur diri dulu," lanjut Senja datar sambil melangkah pergi menuju teras.


"Senja, jangan lupa habiskan kuenya," seru Zakila sebelum senja melangkah pergi menjauhi mereka.


Senja yang mendengar perkataan Zakila hanya bisa menatap acuh pada kue coklat tersebut.


"Nona, ini enak," seru Ristia ketika bibirnya menyentuh krim coklat yang ada apa kue tersebut.


"Jika kau mau, ambillah," lirih Senja acuh sambil menaruh kue tersebut ke atas meja yang ada di sekitar teras.


"Segarnya," gumam Senja pelan ketika terpaan angin mulai menyentuh kulit wajahnya.


"Tempat ini sangat nyaman untuk bersantai," lanjut Senja sambil menutup kedua matanya untuk menikmati suasana dengan santai.


Beberapa saat kemudian Dian datang ke dalam teras sambil membawa selimut tebal yang lembut.


"Nona, ada surat dari Eza," bisik Dian ketika menaruh lembut selimut itu pada bahu nona nya.


Senja yang mendapatkan pesan singkat dari Dian lantas membuka kelopak matanya yang terpejam.


"Hah, segarnya," gumam Senja sebelum menatap ke arah Dian.


"Berikan suratnya," lanjut Senja datar sambil memegang selimut bulu di pundaknya itu.


"Ini Nona," lirih Dian sambil mengeluarkan sebuah surat yang ada dibalik saku roknya.


"Dian, bawakan aku teh hijau dan juga beberapa cemilan untuk Ristia."


"Baik Nona," seru Dian sambil pergi meninggalkan teras.


Senja lalu membuka surat dari Eza dengan perlahan. Di dalam surat itu dituliskan bahwa Count Difani menyekap keluarga Amel di penjara bawah tanah yang ada di tengah hutan milik keluarga itu. Penjagaan disana tidak terlalu ketat sehingga mudah bagi Eza untuk membebaskan mereka.


Selain itu Eza juga menuliskan di dalam suratnya bahwa Sarah dan pelayannya saat ini tidak bisa dilacak keberadaanya sedangkan keluarga Count Difani sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu di dalam hutan itu.


Mereka lebih ketat dalam menjaga sebuah danau dari pada gua yang diisi keluarga Amel. Mereka juga terlihat memasang mantra sihir kuat di sekitaran danau tersebut.


Mantra itu terlihat seperti menjaga apa yang ada di dalam danau agar tidak keluar ketimbang menjaga orang luar untuk tidak masuk ke dalamnya.


"Sangat aneh," gumam Senja pelan sebelum mengeluarkan sihir api ditangannya.


"Hmm, tapi prioritas utama ku sekarang adalah Cavil bukan danau itu," lirih Senja sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dikediaman Winter.


"Sayang sekali meski menarik tapi aku harus menundanya," lanjut Senja kemudian membakar surat itu setelah mengingat seluruh informasi yang ada di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2