Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Danau Sinju


__ADS_3

"Sekuat apa pun bau itu kau sembunyikan, pasti suatu saat nanti akan tercium juga."


*****************#####*****************


Di sebuah hutan gelap yang hanya diterangi oleh cahaya bulan temaram. Sepasang mata tengah sibuk mengamati sekitarnya. Mata itu terus mengedarkan pandangannya dengan sinis, ada senyum licik melengkung di bibirnya.


Malam itu nyanyian jangkrik menjadi latar suara yang menemaninya. Bersama dengan dinginnya malam ia terus memantau kumpulan prajurit yang tengah menjaga sebuah danau aneh.


Danau itu di sebut-sebut sebagai danau kematian karena siapa pun yang terjun ke dalamnya tidak akan pernah muncul kembali ke permukaan. Para warga yakin jika danau itu adalah kutukan akibat menghilangnya salah satu putri keluarga Count Difani.


Count Difani dulunya adalah keluarga yang biasa saja tanpa pengaruh apa pun namun setelah putrinya menghilang ia menjadi sangat kuat dan penuh dengan kekuasaan. Selain itu, danau yang dulunya berwarna jernih kini berubah menjadi hitam tanpa ada yang tahu penjelasannya.


Rakyat juga menyebutkan jika danau itu dulunya adalah tempat dimana mereka sering mengambil air karena pada dasarnya danau itu merupakan mata air warga daerah ini. Namun entah mengapa setelah kejadian putri Count menghilang, danau itu ditutup dan tidak boleh dimasuki dan barang siapa yang melanggar, mereka akan mati tanpa jejak.


Banyak rumor mengatakan jika putri tersebut hilang karena jatuh ke dalam danau tersebut sehingga mengubah warna airnya menjadi hitam pekat. Warga hanya berasumsi jika warna itu didasari karena perjuangan sang putri untuk bisa hidup kembali. Sayangnya usahanya gagal dan mengakibatkannya kehilangan nyawa.


Oleh karena itu warna hitam mendominasi danau tersebut. Warna hitam juga sering dikaitkan dengan kematian sehingga hal itu terdengar lumrah bagi sebagian masyarakat. Sayangnya tidak ada yang tahu bahwa warna hitam danau tersebut bukan karena perjuangan sang putri melainkan kekejaman saudari kembarnya.


Mana mati di danau tersebut adalah bukti perjanjian antara pihak Count dengan sekutunya. Mereka membuat danau mana untuk menciptakan golem dan pasukan iblis. Butuh banyak nutrisi untuk terus menjaga danau tersebut sehingga setiap harinya pasti ada saja penduduk yang hilang.


"Aku ingin muntah."


Kun tampak mual saat melihat pemandangan di depannya itu.


"Jika kau ingin muntah, maka menjauhlah dari ku."


Senja tampak acuh tak acuh dalam menanggapi sifat Kun yang kekanak-kanakan. Meski ia tahu bahwa mana mati sangat bertentangan dengan hewan suci namun ia mengabaikannya.


Posisi Kun dan Ristia sungguh tidak menguntungkan disini namun Senja tidak bisa meninggalkan keduanya di penginapan sebab mereka sendirilah yang meminta untuk ikut.


"Jika tidak senang kembali saja."


"Jika aku kembali, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan disini nantinya."


Kun tampak kesal sekaligus khawatir namun Senja hanya menatapnya datar.


"Dian, bawa Kun kembali sementara aku akan mengecek lebih dalam lagi."


"Tapi Nona, ini bahaya. Anda bisa terluka jika mereka mengetahui keberadaan mu."


Dian terlihat begitu khawatir meski begitu, Senja hanya mengabaikannya dan melangkah pergi.


"Maka jangan sampai ketahuan," gumam Senja pelan pada dirinya. Dian hanya bisa menatap punggung nona nya itu dengan gelisah.


Seperti apa yang dikatakan nona nya, tempat ini sangat tidak cocok untuk hewan suci bahkan White sampai meringkuk di dalam saku pakaian Dian.

__ADS_1


"Hah, mau bagaimana lagi."


Dian dengan berat hati mengendong Kun dan segera membawanya pergi dari hutan tersebut.


Setelah beberapa meter ke depan Senja dapat dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi disana. Terlihat begitu jelas danau yang menghitam dengan puluhan penjaga di sekelilingnya. Penjaga itu memakai baju besi dengan senjata di masing-masing tangannya.


Melihat penampakan di depannya Senja jadi teringat apa yang dikatakan Josep beberapa saat yang lalu.


"Selamat datang Nona," sapa Josep ringan.


Senja hanya menganggukkan kepalanya lalu memasuki gedung penginapan di depannya itu.


"Katakan apa maksud dari surat ini?"


Senja lalu melemparkan surat yang sebelumnya ia baca. Surat itu kini kusut dengan robekan kecil di sudutnya.


"Seperti yang saya sampaikan disana Nona. Awalnya saya juga terkejut namun setelah beberapa saat saya menyadari bahwa itu nyata."


Josep mulai menjelaskan apa yang ia lihat di desa ini dan betapa menyeramkannya tempat ini.


"Jadi maksudmu mereka sedang memproduksi mana mati untuk di distribusikan?"


"Kurang lebih seperti itu Nona. Namun ada yang aneh, menurut saya di bawah danau itu seperti ada sesuatu yang ditanam. Ketika mana mati mulai berkurang terkadang tampak terlihat buntalan kayu di tengahnya."


"Apa kau yakin mengenai itu?"


Senja mulai menghela napas panjang dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh Josep. Ia juga terlihat bingung. Senja merasa aneh karena tidak hanya kerajaan Guira yang melakukan tindakan ini namun kerajaan Green juga.


"Apa Luna mengetahui hal ini? Atau jangan-jangan hanya beberapa musuh saja yang mengetahuinya."


Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di pikiran Senja. Ia bingung harus bereaksi seperti apa untuk saat ini.


"Josep, jika yang kau katakan benar. Maka kepada siapa saja mereka mendistribusikan mana mati itu?"


"Saya belum bisa mengetahui siapa orangnya Nona, namun satu hal yang saya ketahui bahwa setiap bulannya mana mati di danau itu akan di masukan ke dalam tong besar untuk di kirim ke suatu tempat."


Senja hanya menatap dingin dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh Josep. Jika mana mati itu di distribusikan maka sudah jelas ada perdagangan disini namun siapa yang melakukan transaksi ilegal itu masih belum diketahui dalangnya.


"Jika begitu, dari mana mereka mendapatkan sumber untuk membuat mana mati?"


"Saya tidak tahu Nona, pasalnya sejauh yang saya ketahui dari tempat itu. Saya sama sekali belum pernah melihat adanya mayat ataupun sisa-sisa tukangnya. Mungkin saja mereka menempatkan para budak di tempat lain yang tersembunyi Nona."


Senja kembali berpikir tentang apa yang baru saja di katakan Josep. Memang benar akan sangat sulit untuk menaruh mereka secara bersamaan karena jika ketahuan maka semuanya akan berantakan. Selain itu, pihak kerajaan juga sulit untuk datang ke lokasi karena tempat ini masuk ke dalam wilayah Selir Jina.


"Aku merasa Selir Jina sudah menyiapkan ini sejak lama. Apa dia berencana untuk memulai perang?"

__ADS_1


Senja bertanya dalam hatinya dengan bingung namun satu hal yang ia ketahui bahwa Putra Mahkota dan juga bawahannya sama sekali tidak mengetahui soal masalah ini.


"Apa ada lagi informasi lainnya?"


"Sayangnya tidak ada Nona."


"Baiklah kalau begitu, kau bisa keluar."


"Baik terima kasih Nona."


Ketika Josep hendak meninggalkan ruangan tersebut, Senja dengan cepat menghentikannya.


"Berhenti, ambil ini."


Senja lalu melemparkan sekantong obat sihir pada Josep.


"Gunakan itu pada luka mu dan jika mereka bertanya kemana kau pergi. Maka jadikan itu sebagai alibi," lanjut Senja acuh tak acuh.


"Baik Nona."


Josep hanya melihat tumpukan obat di dalam kantong dengan mata berbinar.


"Terima kasih Nona," lanjutnya dalam hati. Meski terlihat acuh, sebenarnya Josep adalah pria yang baik hati.


"Selain itu, jika kau mendapatkan informasi baru. Segera kabari aku."


"Baik Nona, saya mengerti."


Cukup mengenang kejadian beberapa jam yang lalu, kini Senja kembali lagi ke kesadarannya semula. Ia dengan malas menatap ke arah danau yang saat ini setenang mata air.


"Aku tidak menyangka di dalam hutan yang tenang ini ternyata ada bahaya sekejam itu."


Sekali lagi Senja mencoba untuk melangkah lebih dekat menuju danau.


"Seandainya saja pihak Putra Mahkota mengetahui ini maka Pangeran brengsek itu pasti sudah tamat sejak lama."


Senja sedikit kesal ketika mengingat tentang Pangeran Kelima yang dengan kejinya memutuskan pertunangan mereka.


"Sayang sekali disini tidak ada handphone, jika tidak sudah aku rekam penampakkan ini dan aku sebarkan ke seluruh penjuru kerajaan."


Beberapa saat setelah pengamatannya Senja merasa merinding di sekujur tubuhnya. Ia dengan ragu menatap ke arah danau yang saat ini sedang diterangi oleh cahaya sihir. Cahaya itu mampu memperlihatkan keseluruhan isi danau yang awalnya gelap.


"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?" tanya Senja panik saat salah seorang penyihir mulai terbang naik ke tengah danau. Penyihir itu terlihat sangat muda, bahkan lebih muda dari Senja.


"Apa yang akan dilakukan bocah itu?"

__ADS_1


Pertanyaan Senja meredam saat beberapa ksatria membawa belasan, tidak lebih tepatnya puluhan anak-anak ke bibir danau.


Anak-anak itu tampak pucat dan kaku, mata mereka dingin seperti tidak bernyawa. Mereka lebih terlihat seperti boneka hidup yang sedang di gerakan oleh seseorang.


__ADS_2