Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E87] Misi Berburu


__ADS_3

"Jika kamu tidak kuat maka jadilah pintar karena itu cara terbaik untuk bertahan hidup."


****************######****************


Pertengkaran Evan dan Noime terus berlanjut meski mereka sudah keluar dari menara penjaga. Anehnya tidak ada seorang pun yang menghentikan omelan Evan pada Noime seolah-olah itu adalah hal yang biasa terjadi pada keduanya.


"Uhm, ini dimana?" batin Senja saat melihat lapang luas dihadapannya.


Meski mereka berada tidak jauh dari menara penjaga namun yang dilihat Senja bukanlah kota ataupun desa melainkan hamparan padang rumput yang luas.


Hal tersebut sangatlah janggal karena biasanya menara penjaga berada di wilayah perbatasan untuk menjaga suatu daerah kekuasaan agar tidak dimasuki oleh pihak lain.


"Noime, jika kau terus seperti ini aku akan benar-benar menyerah!" teriak Evan yang membuat lamunan Senja buyar seketika.


Meski Senja sudah terbiasa dengan nada tinggi Evan tapi tetap saja ia terus kaget setiap kali mendengar Evan menaikkan satu oktaf suaranya.


Menurut Senja, Evan memiliki suara tegas yang kuat sehingga setiap kali ia berteriak tanpa sadar Senja selalu kaget dibuatnya. Oleh karena itu Senja hanya bisa menghela napas seraya memfokuskan kembali pikirannya.


Setidaknya itu yang dipikirkan Senja sampai Evan yang sudah tidak tahan lagi dengan Noime mulai mengalihkan perhatiannya. Ia dengan bingung memandang Senja sebelum mengalihkan kembali perhatiannya pada Noime.


"Tikus apa yang kau bawa?" tanya Evan masih dengan nada kesal.


"Tikus? Maksudnya aku?" batin Senja tidak senang.


"Maaf ya, aku buk...."


"Bukan urusan mu," potong Noime yang tidak membiarkan Senja mengeluarkan isi hatinya.


"Hah? Bukan urusan ku? Noime kau sudah gila ya? Kita ini datang jauh-jauh kesini untuk berburu bukan untuk tadika mesra."


Evan mengeluh tanpa henti, ia tahu jika Noime suka bertingkah sesuka hatinya. Tapi ini masalah lain, mereka saat ini tengah menjalankan misi bukan melakukan sesuatu seperti permainan kanak-kanak.


"Tenanglah Evan, biar aku jelaskan." seru Noime seraya menarik pergelangan tangan Evan dan membawanya menjauh dari Senja.


Melihat keduanya bergerak menjauh, Senja memutuskan untuk bersantai ria sambil menunggu mereka kembali. Ia tahu bahwa saat ini Noime akan membuat berbagai macam alasan agar dirinya bisa diterima dalam group.


"Nona, hutan itu..."


"Aku tahu," potong Senja yang membuat Ristia terdiam sesaat.


"Nona, anda harus menjauhi hutan itu." lanjut Ristia sebelum kembali tidur.


"Hmm..."


Melihat tingkah Ristia yang aneh membuat Senja hanya bisa menghela napas panjang. Entah mengapa akhir-akhir ini sifat Ristia tidak jauh berbeda dari Kun.


"Biasanya Ristia selalu aktif meski aku tidak banyak merespon, tapi ini..." batin Senja saat melihat wajah polos Ristia yang sedang tidur.


Tidak mau ambil pusing Senja hanya menatap tajam ke arah hutan sebelum mengalihkan perhatiannya kearah Noime dan Evan yang tengah berdebat hebat.


Jujur saja Senja tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Evan dan Noime tapi dari gestur keduanya Senja dapat tahu bahwa mereka saat ini sedang bertengkar akan sesuatu.


"Yah sangat jelas jika yang mereka debatkan tidak lain dan tidak bukan adalah diri ku." gumam Senja acuh tak acuh.


Senja kemudian kembali menatap hutan di depannya. Memang jarak antara dirinya dan hutan masih sangat jauh, mungkin sekitaran satu kilo meter.


Namun dari jarak yang seperti itu Senja sudah dapat melihat aura negatif yang keluar dari hutan tersebut. Aura yang dipancarkan begitu kuat sehingga Senja yakin bahwa tidak ada satu makhluk pun yang normal di hutan tersebut.


Alasan Senja dapat memberikan kesimpulan seperti itu karena aura negatif itu begitu pekat dan bau. Meski Senja sudah melakukan kontrak dengan Khalid tapi indranya yang peka masih dapat melihat berbagai macam aura dari makhluk hidup.


Senja tahu bahwa hubungan kontrak antara dirinya dan Khalid hanya membuat kekuatannya ditekan tapi bukan berarti kekuatan itu akan tumpul dan hilang darinya.


Senja masih bisa melihat aura tapi tidak seintens seperti dulu. Untuk sekarang ia sudah bisa mengatur kekuatannya namun terkadang kekuatan itu bisa bocor saat aura yang dikeluarkan lawan begitu kuat.


"Selain itu aku belum melihat Khalid hingga sekarang. Ia menghilang begitu saja setelah kejadian saat itu, menyebalkan sekali."


Senja mulai kesal saat mengingat Khalid yang menghilang tanpa jejak. Bahkan tidak ada pesan atau petunjuk apapun yang diberikan Khalid bahwa dirinya akan pergi selama ini.


Hal itulah yang membuat Senja kesal namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia masih dalam tahap menjalani ujian. Jika ia kabur begitu saja maka usahanya selama ini akan terbuang sia-sia.


****


Disisi lain Noime yang lelah dengan ocehan Evan mulai mengambil tindakan. Ia berencana menjelaskan apa yang terjadi sehingga gadis itu ikut bersamanya.

__ADS_1


"Apalagi ini Noime?" bentak Evan kesal.


"Diamlah bodoh," erang Noime.


"Kau..., sial."


Evan ingin meledak saat itu juga namun melihat raut wajah serius Noime membuatnya mundur untuk sesaat. Setidaknya ia masih memiliki hati nurani untuk tidak melawan Noime saat ini.


"Siapa dia?" lanjut Evan mulai serius dengan obrolan mereka.


"Hah, seperti yang kau tahu." balas Noime datar.


"Aku tidak tahu, lagi pula bagaimana bisa aku tahu jika kau sama sekali tidak menjelaskannya." bantah Evan sedetik kemudian.


"Hmm, mau bagaimana lagi." lirih Noime yang kemudian memutuskan untuk menjelaskan siapa sosok gadis itu sebenarnya.


"Dia adalah junior yang harus aku bimbing. Selain itu, kau tidak bisa menilainya hanya dari wajahnya saja, dia benar-benar mengerikan." seru Noime sambil melirik sekilas pada gadis yang saat ini tengah berdiri santai menghadap hutan.


"Maksudmu?" tanya Evan bingung.


"Evan, kau akan segera tahu apa yang aku maksud setelah berbaur dengannya." jawab Noime singkat.


Kemudian dengan diiringi helaan napas panjang Noime memutuskan untuk kembali pada gadis itu. Sayang baru beberapa langkah pergelangan tangannya sudah ditarik kembali oleh Evan.


"Jelaskan padaku secara detail Noime. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." lirih Evan pelan.


"Selain itu, aku tidak suka berkeliling bersama dengan orang yang tidak aku kenal." lanjut Evan dengan raut wajah serius.


Melihat ekspresi tegas Evan, akhirnya Noime memutuskan untuk menjelaskannya. Ia mengatakan bahwa saat hendak menjumpai Evan pada waktu yang dijanjikan, ia tidak sengaja terjebak dalam perangkap gadis itu.


Noime tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan gadis itu. Jika ia tidak mau maka bentrokan akan terjadi pada keduanya. Jujur saja saat itu Noime bisa menggunakan kekuatannya untuk melawan gadis itu.


Namun mengingat bahwa misi yang akan mereka kerjakan nanti membuat Noime berpikir dua kali saat hendak menyerang. Entah mengapa Noime tahu hasilnya akan sangat sia-sia.


"Aku terperangkap dalam kubah, aku sudah berusaha keras untuk menghancurkannya tapi itu sia-sia saja." seru Noime yang masih mengingat betapa kerasnya kubah yang hendak ia hancurkan itu.


"Aku tidak tahu artefak apa yang ia gunakan tapi yang jelas saat itu keadaan sangat tidak menguntungkan." lanjutnya.


Noime bisa saja bertarung dengan gadis itu tapi resiko dari hasil pertarungan sangat tidak menguntungkan baginya. Selain peraturan akademi yang melarang senior tingkat atas untuk melukai juniornya, hukuman pengurangan point juga berlaku disana.


"Saat itu...."


"Tunggu, sebelum itu jelaskan dulu pada ku siapa dia?" potong Evan ditengah-tengah penjelasan Noime."


Noime hanya bisa menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya. Ia tahu Evan adalah siswa pintar tapi untuk hal ini dia benar-benar terlihat bodoh.


"Hah Evan, astaga. Apa kau tidak mengenalnya? Dia dan dirimu, kalian berdua sama-sama bangsawan." erang Noime kesal.


"Heh Noime, kau harus tahu bangsawan di benua ini ada banyak. Apa kau pikir aku ini cenayang?" gerutu Evan sama kesalnya.


"Hah baiklah, gadis itu bernama Senja de Ari. Putri utama Duke Ari sekaligus mantan tunangan pangeran kelima." jelas Noime yang seketika membuat Evan terkejut bukan main.


"Noime, apa kau serius?" tanya Evan memastikan.


"Tentu saja, apa kau pikir aku bercanda dalam situasi ini?" tanya Noime kesal.


Setelah mendengar konfirmasi Noime, Evan tanpa sadar melihat ke arah Senja secara terang-terangan. Ia dengan sinis menatap Senja dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Menurut Evan Senja adalah sosok gadis aneh yang hanya pernah ia dengar dari mulut ke mulut. Jujur saja meski Evan seorang bangsawan ia bahkan belum pernah melihat sosok Senja sama sekali.


"Aku baru kali ini melihatnya dan yah seperti yang dirumorkan dia memang cantik." gumam Evan yang terdengar jelas di telinga Noime.


"Dasar idiot, melihat gadis cantik saja mata mu terbuka lebar." gerutu Noime seraya memukul keras kepala Evan dengan tinju kosongnya.


"Aduh sakit." erang Evan sambil mengelus pelan benjolan di kepalanya itu.


"Kasar sekali, pantas saja...."


PLAK PLAK PLAK


Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya ia sudah mendapati hujaman pukulan dari Noime. Tentu saja Evan hanya bisa pasrah seraya melindungi kepalanya dari pukulan keras Noime.


"Dasar idiot, aku sudah kasih tahu padamu bahwa wajah cantiknya sangat berbanding terbalik dengan sifatnya itu." seru Noime disela-sela pukulannya.

__ADS_1


"Dia itu definisi sesungguhnya dari iblis berwajah malaikat." lanjut Noime yang hanya dijawab seruan datar oleh Evan.


"Hah sial, entah mengapa aku sudah menduga ini sejak awal." batin Noime sebelum menghentikan pukulannya.


Jujur saja Noime sudah bosan mengingatkan Evan tentang orang-orang disekitarnya. Jadi mau Evan percaya padanya atau tidak, Noime sudah tidak peduli lagi.


"Yah setidaknya selama Senja tidak melewati batas maka itu akan baik-baik saja." gumam Noime pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


"Evan, dengarkan aku baik-baik. Aku akan menjelaskan hasil negosiasi antara aku dan dia." seru Noime sambil melirik sekilas pada Senja yang masih memperhatikan hutan di hadapannya.


"Ugh, baiklah." balas Evan seraya membenarkan pakaiannya.


Noime kemudian melanjutkan kembali ceritanya. Ia yang sadar akan posisinya mulai melakukan negosiasi. Pastinya negosiasi itu akan ia buat sangat menguntungkan bagi sisinya.


Tentunya Senja juga berniat melakukan hal yang sama. Masing-masing dari mereka memiliki tujuan tersendiri. Senja ingin point untuk bisa menaikkan kelasnya dan Noime membutuhkan point untuk bisa lulus dari akademi.


Jalan tengah yang diambil adalah Senja bersedia membantu Noime dalam misinya dan Noime akan dengan sukarela memberikan penilaiannya pada Senja tanpa ada misi tambahan lainnya.


"Syarat lain dari kondisi ini adalah gadis itu tidak boleh menggangu misi kita." seru Noime yang dijawab anggukan kepala oleh Evan.


"Aku memintanya untuk menandatangi surat perjanjian bahwa jika dia mengalami kecelakaan dalam misi ini maka itu akan menjadi tanggung jawabnya sendiri." lanjut Noime seraya menunjukkan surat tersebut.


"Noime, kau gila." seru Evan setelah selesai membaca seluruh syarat yang ditawarkan oleh Noime pada Senja.


"Hei tenanglah, itu aku lakukan demi kepentingan kita berdua." balas Noime tidak senang.


"Aku sudah menjelaskan padanya bahwa misi kali ini berbahaya tapi dia tidak peduli." lanjut Noime sambil mengingat momen dimana Senja dengan mudahnya menyetujui persyaratan tersebut.


"Hmm, ini tidak beres Noime, ada yang salah dengan otaknya." lirih Evan cemas.


"Kau baru menyadarinya sekarang." ejek Noime sarkas.


Evan yang menerima ejekan itu hanya bisa menghela napas panjang tanpa bisa membalasnya. Ia tidak ingin membuat keadaan semakin kacau sehingga Evan memutuskan untuk diam saja.


"Noime, dia melakukan sesuatu." bisik Evan ketika hendak menyerahkan kembali surat perjanjian tersebut pada Noime.


"Apa maksud mu?" tanya Noime bingung seraya membalikkan badannya untuk melihat Senja.


Disana Noime melihat Senja sedang mengikatkan pita merah di kaki burung camar. Tidak lama setelahnya burung itu pun terbang menjauh dari Senja menuju arah selatan.


"Itu surat," gumam Noime pelan.


"Dia sedang mengirim surat pada seseorang, jadi jangan terlalu heboh." seru Noime sambil berteriak keras di depan wajah Evan.


"Ugh, telinga ku." erang Evan kesakitan.


"Aku kan sudah bilang untuk fokus mendengarkan penjelasan ku, Evan." seru Noime kesal.


Evan yang dimarahi Noime hanya bisa diam dan pasrah. Setelahnya Noime pun menjelaskan kembali isi dari surat perjanjian tersebut.


Noime mengatakan bahwa surat itu legal dan jika salah satu pihak melanggar perjanjian maka hukumannya akan berat. Maka dari itu Evan tidak perlu takut lagi bahwa mereka akan ditangkap karena telah membawa seorang junior dalam misi berbahaya.


Selain itu Noime juga menjelaskan jika Senja memiliki keterampilan yang baik sebagai seorang penyihir. Tentunya mereka juga membutuhkan sosok penyihir sebagai pelengkap misi.


"Keahliannya sebagai petarung jarak jauh akan sangat menguntungkan bagi kita." jelas Noime.


"Dia akan menjaga punggung kita dari musuh selama pertarungan. Bukankah itu sangat bagus?" lanjut Noime kemudian.


"Hmm, kau benar. Meski kita adalah ksatria tapi tetap saja bertarung tanpa tank dan support sangat tidak nyaman." jawab Evan setelah diam beberapa saat.


"Tapi Noime resikonya masih...."


"Tidak, resikonya sangat minim. Lagi pula apa kau pikir aku sejahat itu pada junior hah? Aku juga memikirkan kondisinya jadi aku sudah putuskan bahwa menjadi support adalah tanggung jawabnya untuk misi ini."


Evan diam, ia tahu jika Noime sudah memikirkan kondisi terburuk dari misi ini. Andai kata jika mereka gagal dan harus terluka parah setidaknya junior mereka masih bisa selamat karena dia dapat kabur sebelum musuh sampai ke posisinya.


"Noime apa kau berencana membuat kita menjadi tameng dan membiarkannya melarikan diri jika kondisi memburuk?"


"Yah aku harap kondisi itu tidak akan pernah terjadi. Lagi pula sejak awal misi kita memang sulit, mau bagaimana pun kita memang akan menjadi tameng untuk orang lain."


"Hmm..., kau benar. Aku rasa itu bukan ide yang buruk."


Setelahnya Noime dan Evan pun terus melanjutkan diskusi mereka hingga memakan waktu satu jam lamanya. Dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk menjadikan Senja sebagai sniper yang akan mensupport pertarungan dari jarak jauh.

__ADS_1


Senja yang mendengar putusan akhir dari diskusi itu tentu saja menerimanya tanpa bantahan. Ia tidak masalah mau diposisikan sebagai apa, toh menurutnya apa pun itu asal bukan melawan iblis akan baik-baik saja.


"Baiklah jika semuanya sudah setuju, mari kita pergi menuju desa."


__ADS_2