Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Akhir dari Pengkhianatan


__ADS_3

"Penyesalan kadang datang terlambat namun pilihan tetaplah pilihan."


*****************#####*****************


"Sudah lama," seru Senja saat melihat Morreti berdiri tegak di depannya.


"Bagaimana kabar anda, Nona?"


"Seperti yang kau lihat."


Morreti dengan sopan menatap Senja yang berjalan mendekatinya. Kini mereka berdua sedang berada ruang bawah tanah Guild Moonlight. Morreti sudah mengetahui maksud panggilan nona nya dari info yang diberikan Eza.


"Ceritakan dengan detail infomasinya." seru Senja ketika ia sudah duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu.


"Baik Nona."


Morreti kemudian mulai menceritakan segalanya, dimulai dari hari ketika nona nya menghilang dari ujian Akademik hingga kabar burung mengenai dalang di balik penyusupan itu.


Satu minggu yang lalu saat seisi podium menjadi ricuh karena hilangnya Senja dan ketidakadilan yang terjadi padanya. Semua pihak terus mempertanyakan tentang sistem keamanan akademik.


Mereka merasa kasihan dan marah pada pihak yang dengan sengaja ingin menyakiti wanita muda yang tidak bersalah itu. Mereka mulai membandingkan antara rumor yang menyebar tentang dirinya dan kebenaran di balik rumor-rumor itu.


"Malang sekali nasibnya, ia sudah ditinggal oleh permaisuri dan kini ia hidup sebagai wanita buangan keluarganya." seru salah satu penonton sambil melirik kearah dimana Senja dan bawahannya menghilang.


"Benar, sial sekali nasibnya." lanjut yang lain dengan suara prihatin.


Mereka saling berbisik satu sama lain untuk tidak membangkitkan emosi Duke Ari. Meski pun seluruh kerajaan sudah tahu bagaimana Duke Ari memperlakukan Senja tapi mengatakannya secara langsung sama saja dengan mencari mati.


"Bagaimana bisa keamanan akademi seburuk ini." gerutu salah satu bangsawan saat menuruni tangga podium untuk menuju


lapangan.


"Bisa-bisanya ini terjadi saat putra dan putri ku baru saja masuk akademi. Sungguh keteledoran yang tidak bisa dimaafkan." lanjut yang lain sebelum memilih untuk meninggalkan podium bersama bawahannya.


"Aku akan berpikir dua kali untuk memasukkan anak ku ke tempat ini." lirih bangsawan lain yang kemudian di jawab anggukan kepala oleh teman-temannya.


"Maaf Tuan dan Nyonya, kami akan berusaha segera menindaklanjuti hal ini. Kami tidak akan tinggal diam jika ini berkaitan langsung dengan keamanan siswa dan..."


"Kami tidak butuh kata-kata mu, yang kami butuhkan sekarang adalah bukti dari tindakan itu." seru Marques Winter memotong perkataan profesor itu.


"Teman putri ku diracuni dan kini kondisinya sedang sekarat, bahkan kita juga tidak tahu dimana keberadaanya." lanjut Marques sambik menunjuk ke arah dimana Senja dan bawahannya menghilang.


"Itu benar, hukum penjahatnya sekarang juga." teriak para penonton yang sejak tadi menahan kegelisahan mereka.


Profesor itu terlihat gugup ia menatap kesekeliling untuk mencari bantuan. Ketika diam beberapa saat ia berhasil kontak mata dengan Profesor Edward. Disna prof Edward menganggukkan kepalanya lalu pergi menjauh dari podium.


"Kami sudah mendapatkan tersangkanya, kini ia tengah di introgasi jadi tungguluah hingga itu selesai."


Profesor itu menjelaskan dengan detail apa yang baru ditemui mereka disalah satu kamar siswa yang terlibat dalam peristiwa ini. Ia berjanji akan menghukum berat pelaku tersebut.


"Baiklah, kami tidak sabar menunggu keputusan akhirnya." lanjut Marques Winter sebelum pergi menuju Muna yang tengah berada di pelukan Cavil.


"Aku rasa tidak semudah itu untuk menghukum para menjahatnya." lirih Count Servan yang sejak tadi memperhatikan keributan. Ia sengaja menggiring opini publik untuk berpikir lebih jauh tentang masalah ini.


"Pikirkanlah, siapa yang bisa memasukkan para penyusup ke dalam akademik jika bukan salah satu dari mereka yang memiliki kedudukan di kerajaan ini." lanjutnya setelah diam beberapa saat.


"Itu benar, jika aku berpikir lebih jauh sangat sulit bagi seorang pelayan untuk melakukan itu. Tentunya dalang dibalik peristiwa ini bukan orang biasa." sahut pria tinggi yang berada di tengah-tengah kumpulan penonton.


"Mungkin saja pemberian racun adalah alibi mereka untuk menutupi ini semua." seru wanita muda dengan gestur tubuh yang bergetar karena takut.


Baik penonton mau pun bangsawan yang mendengar penuturan itu merasa curiga pada Selir Jina yang merupakan ibu dari Dira yang notabenenya sangat bermusuhan dengan permaisuri.


Bangsawan itu menjeda kalimatnya sambil mengenang kejadian yang baru saja ia lihat.


"Pembunuh bayaran itu tidak hanya mengincar Senja tapi juga Luna dan temannya. Jika dipikir kembali, dikelompok putri Luna terdapat banyak anak bangsawan kelas atas seperti Nona Muna dan Putri kembar kerajaan Aruna."


Bangsawan berpangkat Baron itu mulai berspekulasi sehingga membuat kerumunan semakin gila tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Dalang dibalik peristiwa ini bukankah orang biasa. Mereka dengan sengaja mengincar putri bangsawan tinggi untuk mengacaukan kerajaan kita."


"Aku sempat mendengar bahwa Nona Ari mengatakan bahwa putri Dira juga terlibat dalam hal ini."


"Bukankah ini lebih seperti konspirasi?"


"Kau benar, ini adalah konspirasi."


Setelah mendengar berbagai cerita mengenai kejadian tersebut. Aslan dan Sean segera pergi menuju Akademik untuk membantu Morreti dan Hana menggiring opini publik. Sedangkan Dennis dan Hazel masih bertugas mengumpulkan informasi di sekitar bar dan plaza ibu kota.


Sesampainya di akademik, Aslan dan Sean melihat Sarah dan Dira serta kelompoknya digiring paksa oleh ksatria istana keluar dari akademik.


Keadaan cukup gempar pada saat itu, dimana Raja sama sekali tidak membantah apa yang dikatakan kepala sekolah. Hal ini juga membuat para siswa dan orang tua murid memilih untuk segera keluar dari akademik untuk pemulihan diri.


Para profesir yang keluar dari hutan buatan membawa para mereka pembunuh bayaran yang sudah tidak sadarkan diri.


Beberapa hari setelahnya Morreti mendapati kabar jika pelayan pribadi Senja yaitu Amel berhasil tertangkap. Amel dikatakan sempat melarikan diri menuju hutan namun berhasil ditemukan oleh ksatria istana.


Rumor mengenai Dira dan Sarah yang telah mencoba untuk membunuh Senja dan Luna berhasil di limpahkan pada Amel. Kini Amel harus mendekam di penjara untuk menunggu waktu eksekusinya.


****


Morreti menceritakan segala informasi yang ia ketahui sejak awal kejadian hingga saat ini.


"Pada akhirnya mereka memutuskan untuk melimpahkan semua kasus ini pada Amel seorang."


"Sayang sekali Nona, kita hanya berhasil memotong ekor mereka saja. Kenapa tidak ada penyelidikan lebih lanjut tentang kasus ini?"

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Selir Jina dan bangsawan pendukungnya terlalu licik untuk mengungkapkan kepala mereka."


"Tapi nona dengan bukti yang kita kumpulkan ini kemungkinan besar Dira dan bawahannya akan terseret juga."


"Tidak perlu, kita hanya akan membuang waktu untuk itu."


"Tapi Nona...."


"Jangan membahasnya lagi. Apa kau tahu alasan mengapa Amel menyetujui tuduhan itu?"


"Saya berhasil mendapatkan kabar dari Dennis jika keluarga Amel disandera oleh Count Difani dan saya yakin karena hal itulah ia akhirnya memutuskan untuk setuju."


"Count Difani?"


"Iya Nona."


"Hmm, Difani. Kira Difani. Ah, iya aku ingat sekarang."


"Count Difani adalah salah satu bawahan Selir Jina dan salah satu anak perempuannya adalah teman baik Sarah."


"Apa maksudmu Kira?"


"Benar Nona, Kira Difani adalah putri keempat Count Difani. Ia memiliki saudara kembar bernama Lira Difani namun sayangnya Lira sudah tewas dibunuh tanpa alasan yang jelas." jelas Morreti sebelum jeda beberapa saat.


"Selain itu, Lira Difani juga dikabarkan sempat menduduki posisi sebagai penerus Count dimasa depan." lanjut Morreti menjelaskan.


"Count masa depan?"


"Nona Lira sedikit berbeda dengan kakaknya, meski mereka kembar namun kekuatan keduanya sangat jauh berbeda."


"Mengapa begitu?"


"Ketika saya menjadi seorang ksatria bayaran, saya sempat mendengar rumor yang mengatakan bahwa keturunan asli Count Difani memiliki simbol bunga mawar di dadanya namun yang anehnya simbol itu hanya dimiliki oleh salah satu putri kembar mereka."


Senja hanya diam mendengar penuturan dari Morreti yang terlihat sangat bersemangat.


"Anak itu dikabarkan akan menjadi pewaris sah di kediaman Count Difani sampai pada suatu ketika ia ditemukan mati tenggelam di sungai. Ada yang mengatakan jika ia dibunuh dan ada juga yang mengatakan jika saudara kembarnya yang melakukan hal tersebut karena cemburu."


"Hahaha, lucu sekali."


"Ya Nona?"


"Kau tahu, Kira adalah sahabat baik Sarah sedangkan Count Difani adalah anak buah selir utama. Tujuannya terlihat jelas bukan."


Senja tampak senang dengan informasi baru yang ia dapatkan ini.


"Dengan ini semuanya menjadi jelas mengapa Sarah yang dulunya benci dengan Dira kini mau bekerja sama dengannya selain karena tujuan mereka yang sama, Sarah ternyata juga dijebak oleh Dira."


Senja kini mengerti mengapa pada saat itu Amel terlihat dekat dengan Dira.


"Nona, saya hampir saja lupa menyampaikan informasi tentang Sarah. Setelah kejadian hari itu, ia dikeluarkan dari akademik karena telah ditemukan sebotol racun di dalam kamarnya."


" ... "


"Sarah terlihat tidak terima namun bukti sudah menunjukkan jika ia bersalah."


"Apa Sarah juga akan di hukum mati?"


"Sayangnya tidak Nona, seperti yang saya katakan barusan jika Sarah membatah seluruh tuduhannya meski begitu karena bukti yang sudah valid maka Sarah hanya akan dikelurkan dari akademik tanpa hukuman yang berarti."


"Sayang sekali, lalu apa yang terjadi setelahnya?"


"Saya dengar jika Duke membantu Sarah untuk masuk ke dalam akademi Lumine yang ada di negara tetangga yang merupakan saingan terberat akademik Adeline."


"Ya, kurasa Duke juga tidak ingin putrinya mengalami kesulitan."


"Selain itu Nona, saya juga mendapatkan kabar dari Askan jika dalam tiga hari lagi Amel akan segera dieksekusi mati."


"Baiklah, kerja bagus."


"Terima kasih Nona."


"Satu hal lagi, kau harus mendapatkan informasi lebih mengenai dimana keluarga Amel di tahan."


"Baik Nona."


"Kalau begitu keluarlah."


Morreti segera keluar dari ruang bawah tanah setelah ia memberi salam perpisahan pada Senja.


Setelah perbincangan panjang dengan Morreti, akhirnya Senja menemukan beberapa fakta baru. Ia sama sekali tidak akan membuang kesempatan ini secara percuma.


"Kira Difani. Aku tidak pernah menyangka jika kau akan masuk ke dalam salah satu bangsawan yang harus aku waspadai," lirih Senja tajam ketika ia memasuki kamarnya.


"Dian, pergi dan bawakan aku secangkir teh hijau serta beberapa cemilan lezat."


"Baik Nona."


Dian segera keluar dari kamar meninggalkan Senja sendirian di dalam.


"Ternyata yang dikatakan olehnya memang benar adanya," lirih Senja mengingat kembali teringat surat yang ia terima sebelum menuju ke ruang bawah tanah.


"Nona, ada surat dari Klein ," lirih Dian pelan sambil memberikan sepucuk surat yang ia simpan dibalik sakunya.


"Tumben sekali," seru Senja sambil membuka surat tersebut. Di dalam surat itu tertulis jika seluruh keluarga Amel tengah ditahan oleh Count Difani serta alamat tempat dimana mereka tengah berada.

__ADS_1


"Sepertinya Selir utama sedang menyusun rencana licik,"


Satu hal yang membuatnya Senja senang adalah bawah salah satu bawahnya telah berhasil menyusup ke dalam salah satu prajurit terbaik pangeran kelima.


"Dian, katakan pada Rima untuk lebih sering mengunjungi kekasihnya."


"Baik Nona."


Setelah mendapatkan konfirmasi Senja segera membakar habis surat tersebut sebelum pergi menemui Morreti di ruang bawah tanah.


"Nona, ini teh mu."


Dian masuk ke dalam kamar bersamaan dengan secangkir teh hijau dan cemilan.


"Dian, berikan aku kertas dan pena."


"Baik Nona."


Segera Senja menulis sebuah surat untuk dikirimkan kepada Muna setelah apa yang baru saja ia dengar dari Hana jika Muna Winter mencoba untuk mencarinya.


"Segera kirimkan surat ini kepada Muna dan ingat jangan sampai ada yang tahu."


Dian hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sebelum menghilang dari kamar Senja.


Satu jam kemudian Dian datang kembali menemui Senja. Terlihat raut wajah Dian yang kesal.


"Ada apa dengan mu?"


"Nona, mereka mengatakan jika pengkhianatan yang dilakukan Amel karena perlakukan anda yang terlalu bias kepada saya dan anda terus saja mengabaikannya."


"Omong kosong macam apa itu?"


"Benarkan Nona, mereka sangat tidak tahu diri mengatakan hal-hal buruk seperti itu."


"Hah, sudahlah. Kita tidak perlu memikirkannya. Sekarang siapkan saja kereta kuda karena kita akan segera menemui seseorang."


Dian terlihat kesal dengan sikap acuh tak acuhnya Senja, ia kemudian bergegas keluar dari gedung untuk membawakan kereta kuda untuk nona nya.


Dalam perjalanan Senja sengaja meminta Eza untuk menemuinya di sisi barat ibu kota sebelum pergi ke tempat tujuan.


"Nona, kita mau kemana?" tanya Dian penasaran setelah nona nya tidak mengatakan apa pun ketika meninggalkan Guild Moonlight.


"Kediaman Winter," seru Senja sambil mengelus lembut tubuh Kun.


"Mengapa?"


Dian tampak kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Mengapa Nona ingin menemui Nona Muna ditengah malam begini."


"Aku ada urusan penting dengannya."


Dian terlihat bingung dengan cara berpikir nona nya itu.


Disisi lain Muna yang mendapatkan surat dari Senja terlihat sangat panik. Ia sangat bingung kenapa tiba-tiba datang sebuah surat ke kamarnya dengan informasi tulisan yang aneh.


"Surat apa ini? Mengapa bisa ada di dalam kamar ku?"


Muna yang kebingungan memutuskan untuk membaca surat itu.


"Apa ini benar dari Senja?"


Muna lagi - lagi terlihat resah, sudah seminggu ia mencari tahu kabar mengenai sahabatnya itu namun tiba-tiba saja datang sebuah surat misterius yang mengatakan bahwa pengirimnya adalah Senja.


"Aku harus menyelidiki surat ini," lirih Muna sambil mengenakan jubah hitam lalu keluar dari kamarnya melalui jendela.


Di persimpangan jalan, Senja melihat Eza yang sudah siap dengan setelan baju ksatrianya.


"Masuklah," seru Senja sambil melirik salah satu kursi di dalam kereta kuda. Eza kemudian masuk dan duduk di kursi tersebut.


Eza lalu menatap lama ke arah Senja sambil mengeluarkan sebuah koran yang ia beli dari rakyat biasa.


"Sesuai perintah," lirih Eza tenang sambil memberikan koran tersebut pada Senja.


"Kerja bagus."


Senja dengan santai membuka koran tersebut dan membacanya. Banyak sekali berita tentang gagalnya akademik dalam melindungi salah satu siswanya.


"Apa kau sudah menyuruh Hazel untuk menyebarkan rumor tersebut?"


"Sudah Nona."


"Kerja bagus."


Senja tampak puas dengan jawaban yang diberikan ksatrianya. Senja sengaja menyuruh Dennis untuk menyebarkan rumor mengenai dirinya yang sering terluka akibat perlakuan kasar dari keluarga tirinya serta betapa buruknya para bangsawan kelas atas yang sering menghina Senja setelah ibunya wafat.


Kereta kuda kemudian melaju dengan kecepatan tinggi setelah masuknya Eza. Kini mereka sudah berada di dalam wilayah Marques Winter.


"Mulai dari sini kita akan berjalan kaki," seru Senja saat ia turun dari gerbong kereta sambil melihat kearah hutan besar yang ada di hadapannya itu.


"Baik Nona," jawab mereka bersamaan.


Dari jauh Senja dapat melihat sebuah cahaya terang yang menerangi jalan menuju hutan tersebut.


"Mulai sekarang, kita akan memasuki babak baru dari pertarungan," seru Senja sambil melangkah pergi menuju arah cahaya tersebut

__ADS_1


__ADS_2