
"Perasaan takut dan terintimidasi terkadang membuat seseorang lupa betapa kuatnya dia."
*****************#####******************
"Senja!" panggil sebuah suara saat Senja hendak memasuki kelas.
"Sedang apa disini?" lanjut suara itu yang berhasil membuat bulu kuduk Senja berdiri.
"Apa kau tidak lihat pengumumannya?" lanjut suara itu yang membuat Senja secara reflek membalikan tubuhnya.
"Itu, itu..."
"Sudahlah, ikut sekarang dengan ku." potong pemilik suara dengan tegas.
"Baik Miss," balas Senja pelan.
Keduanya kemudian pergi meninggalkan kelas dan menuju luar gedung sihir. Selama perjalanan Miss Aila sama sekali tidak berbicara. Ia hanya diam dan fokus pada buku catatan yang sedari awal dibacanya.
"Miss, kita mau kemana?" tanya Senja setelah mereka sudah berjalan cukup lama.
"..."
Miss Alia hanya diam, ia bahkan tidak melirik Senja sama sekali. Terlihat jelas jika Miss Aila sedang sibuk dan tidak ingin diganggu.
"Sial, apa aku akan dikeluarkan? Tapi kan aku tidak melakukan kesalahan apa pun." batin Senja gelisah.
Senja yakin jika teleportasinya belum diketahui oleh siapa pun. Jadi aneh saja jika Miss Aila bersikap seperti ini padanya. Selain itu Senja juga tidak melakukan kesalahan apa pun yang menyebabkannya harus diinterogasi.
"Uhm..., ada yang aneh. Apa jangan-jangan Alisa dan Ronald yang melaporkan aku?" gumam Senja saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
Senja yakin jika saat itu tangannya digenggam oleh seseorang dan orang itu pasti tidak lain adalah Alisa karena ukuran tangan yang kecil dan lembut.
Tapi untuk alasan apa Alisa melaporkannya, Senja sama sekali tidak tahu. Jika apa yang dikatakan Amir benar adanya maka Senja harus mewaspadai Alisa dan Ronald mulai sekarang.
"Senja." panggil Miss Aila saat mereka hendak sampai di tempat tujuan.
"Senja!" panggil Miss Aila sekali lagi saat tidak mendapati respon dari siswa nya itu.
"SENJA..!"
Miss Aila terlihat kesal dan ia pun dengan malas menurunkan buku ditangannya seraya menatap tajam Senja. Saat itu Senja masih fokus pada pikirannya sehingga ia tidak sadar jika Miss Aila sudah memanggilnya sedari tadi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Miss Aila sembari mengguncang bahu Senja.
"Ah, astaga." teriak Senja yang panik saat dirinya baru saja tersadar ke dunia nyata.
"Maaf Miss, aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini sehingga aku kurang fokus pada sekitar." lanjut Senja sembari membungkuk sebagai ucapan maaf.
"Hah, astaga Senja." keluh Miss Aila dengan helaan napas panjangnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu membebani pikiran mu, kau masih muda."
"Baik Miss, terima kasih."
"Tidak perlu, lagi pula kita sudah sampai."
Miss Aila lalu menunjukkan hutan lebat yang ada di hadapannya. Hutan itu sama seperti hutan buatan untuk ujian akhir semester di tahun pertama.
"Miss apa ini?" tanya Senja bingung.
"Hmm, Senja apa kau belum membaca peraturannya? Aku juga melihat mu tadi di depan kelas, apa kau terlambat?"
"Uhm..., itu, itu..."
"Sepertinya aku benar."
Senja terdiam kaku, ia sudah menyadari situasi ini akan terjadi cepat atau lambat tapi ia tidak tahu betapa susahnya untuk berbohong di situasi seperti ini.
Senja begitu pintar, ia sangat licik dan manipulatif tapi meski begitu ia sama sekali tidak handal dalam menipu orang lain, tidak dalam keadaan kondisinya yang sedang kacau seperti saat ini.
Pasalnya Senja tidak tahu apakah Miss Aila sudah mengetahui kebenaranya dari Alisa dan Ronald. Ia takut jika kebenaran itu terungkap maka kondisinya akan semakin buruk.
"Jika saja aku bisa menyeleyapkan saksi, maka kondisi seperti ini tidak akan pernah terjadi." batin Senja kesal.
Miss Aila yang melihat kekacauan di wajah Senja segera menepuk lembut bahunya. Ia kemudian mengelus pelan rambut Senja seraya tersenyum hangat.
"Miss, terima kasih." balas Senja dengan mata yang berbinar terang.
"Astaga anak ini, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Sejak awal aku melihatnya, dia tidak pernah lepas dari kesulitan. Aku berharap suatu saat nanti dia bisa hidup dengan damai."
Miss Aila kemudian menjelaskan peraturan ujian di kelasnya. Peraturannya sangat sederhana dimana setiap siswa harus memanipulasi elemen mereka sesuai dengan bentuk dasarnya.
Meski terlihat gampang tapi prosesnya sangat berbeda. Tidak semua siswa dapat memanipulasi elemen dengan gampang, terkadang mereka sampai kehabisan Mana sebelum perubahan elemen terjadi.
"Senja, ujian ini tidak memiliki sesi atau pun metode dalam prosesnya. Oleh karena itu banyak siswa yang gagal karena mereka sering menganggap remeh kelas ini." seru Miss Aila saat mereka sudah memasuki hutan.
"Sayangnya mereka lupa bahwa elemen sihir tidak akan berguna jika mereka tidak tahu bagaimana cara memanipulasinya." lanjut Miss Aila.
"Miss, saya sangat paham itu tapi kenapa Miss mengatakan ini pada saya."
"Kenapa ya? Miss juga tidak tahu itu."
Miss Aila tersenyum nakal, ia juga menyampaikan bahwa setiap siswa akan menjalani sesi yang berbeda tergantung dengan kemampuan mereka.
Jadi bisa dipastikan bahwa tidak ada seorang siswa pun yang dapat mencontek elemen manipulasi dari siswa lain. Hal itu dilakukan karena mereka harus menciptakan bentuk elemen masing-masing sesuai dengan instruksi yang diberikan.
"Saya menyukainya Miss. Peraturan yang Miss buat dapat menciptakan kreativitas dan inovasi yang bagus bagi semua siswa." seru Senja senang.
"Benar, Miss senang jika kamu menyukainya." balas Miss Aila dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
"Oh iya Miss, berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam ujian ini?"
"Setiap siswa diberikan waktu 20 menit untuk menyelesaikan ujian."
"Lalu Miss, bagaimana dengan siswa yang menunggu?"
"Uhm..., benar juga bagaimana dengan mereka. Apa kau memiliki saran?"
"Saya?"
Senja menunjuk dirinya bingung, ia bahkan tidak tahu jika saat ini Miss Aila sedang mempermainkannya.
"Iya, apa saran mu untuk ujian ini?"
"Jika saya boleh berpendapat, maka akan lebih baik jika membiarkan para siswa untuk mereview seluruh proses ujian tersebut."
"Kenapa harus begitu?"
"Saya rasa itu lebih baik dari pada mereka hanya duduk diam dan mengamati. Lagi pula hal itu akan menguntungkan siswa tersebut untuk mengetahui prospek perkembangan mereka dalam kelas ini."
"Tepat sekali, kenapa aku tidak kepikiran hal itu." batin Miss Aila dengan senyum sumringah nya.
Miss Aila kemudian menyuruh Senja untuk segera bergabung dengan teman sekelasnya. Setelahnya Miss Aila segera berjalan menuju sisi lain hutan seraya membuka-buka kembali buku catatannya.
Beberapa menit setelahnya staff penjaga mendekati kerumuman siswa. Staff tersebut kemudian menyerahkan selembaran kertas pada mereka.
"Terdapat peraturan tambahan di ujian ini." seru Staff tersebut setelah semua siswa menerima kertas yang dibagikan.
"Miss Aila meminta kalian untuk mereview apa saja yang dilakukan masing-masing peserta saat ujian." lanjut staff tersebut yang membuat heboh seluruh siswa.
"Permisi pak, kami belum pernah mendengar hal ini sebelumnya."
"Benar pak, kami tidak tahu harus mereview apa."
Banyak siswa yang protes namun staff tersebut dengan sabar menjelaskan. Dimana para siswa harus mencatat apa saja kesalahan dan keunggulan dari siswa yang telah tampil.
"Seluruh kesimpulan akan menjadi motivasi pendukung bagi siswa yang telah tampil untuk memperbaiki kekurangan mereka dalam ujian." seru staff sebelum pergi meninggalkan para siswa.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya siswa yang merasa aneh dengan peraturan baru tersebut.
"Benar, tidak biasanya Miss Aila melakukan ini." timpal yang lain bingung.
"Aneh, apa Miss Aila baru saja mendapatkan Ilham?" tanya yang lain sama bingungnya.
Senja yang mendengar pembicaraan teman sekelasnya merasa sedikit bersalah. Ia tidak tahu jika Miss Aila akan mengikuti sarannya. Jujur saja Senja merasa senang tapi ia juga malu.
"Hah, astaga."
Dengan helaan napas panjang Senja hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan kertas putih. Ia terlalu malu untuk memperlihatkan wajahnya yang merah seperti tomat masak.
__ADS_1