
"Kembalinya keadaan seperti dulu tidak bisa menjamin segalanya, kamu bisa saja hidup namun belum tentu bebas."
*****************#####*****************
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu masuk ruangan bawah tanah terbuka. Segera setelahnya keluarga Amel bergegas untuk bangkit dari duduknya dan berdiri dengan kaku. Mereka merasa gelisah dengan siapa sebenarnya pemimpin dari orang - orang kuat tersebut.
Mereka semua memiliki pemikiran masing-masing mengenai pemimpin tempat ini. Sang ayah berpikir jika pemimpin dari Eza dan Hazel adalah sosok pria dewasa dengan tubuh besar yang berotot sedangkan putra tertuanya berpikir jika pemimpin tempat ini adalah sosok yang bengis dan kejam.
Ia berspekulasi seperti itu setelah menimbang mengenai arena pertarungan yang ada dihadapannya saat ini. Pikiran demi pikiran aneh selalu muncul setiap saatnya, sampai ketika pintu besar yang menghubungkan arena dengan bagian luarnya terbuka lebar dan perlahan mulai menampakkan sosok yang sedang berdiri dibelakangnya.
Mereka bisa melihat sosok wanita muda yang bertubuh mungil dengan sebuah topeng rubah merah diwajahnya, wanita itu berdiri tepat didepan seorang pria yang sebelumnya menyelamatkan mereka dari goa yang gelap.
"Siapa wanita itu" batin sang ayah ketika wanita muda tersebut mulai melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Apa mungkin dia adalah memimpin dari tempat ini?" lanjutnya sambil melirik kearah istri dan ketiga anaknya yang juga memiliki raut wajah penuh tanda tanya sama sepertinya.
"Ini aneh," gumam sang ayah pelan namun masih bisa di dengar oleh keluarganya.
Ketika mereka masih asik dalam pikiran masing-masing. Senja yang sudah berjalan masuk kini pergi menuju kearah sofa yang sama saat ia berbincang dengan putri Count Servan saat itu.
"Eza," seru Senja ketika ia sudah duduk di atas sofa.
"Bawa mereka kesini karena aku tidak punya banyak waktu sekarang."
"Baik Nona," lirih Eza sebelum melangkah pergi menuju keluarga Amel yang kini masih dalam keterbingungan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Eza dengan raut wajah sedingin es yang membuat keluarga tersebut menjadi panik.
"Tu, tuan maafkan kami," seru sang ayah kaku yang membuat Eza muak dengan sikap konyol mereka.
"Sudahlah, cepat ikuti aku!" bentak Eza geram kemudian berjalan menuju Senja yang sedang menatap kearah mereka dengan pandangan acuh tak acuh.
"Salam Nona, semoga anda...," salam sang ayah terhenti ketika Senja mengangkat tangannya untuk membuatnya diam.
"Cukup basa-basi nya," lirih Senja setelah menurunkan tangannya kembali.
"Aku tahu siapa kalian tapi kalian tidak perlu tahu siapa aku. Disini peraturan sesungguhnya adalah aku dan kalianlah yang harus mematuhi perintah ku," lanjut Senja datar sambil melipat kedua tangannya.
Mereka semua hanya diam setelah mendengar bahwa wanita muda ini sudah mengetahui siapa mereka sebenarnya dan hal itu semakin membuat tubuh mereka merinding ketakutan.
"Apakah kita akan mati sekarang?" batin sang ayah takut sambil menggenggam erat kedua buku tangannya.
"Ayah apakah kita akan...," gumam anak tertua terputus ketika Senja mengetukkan jarinya diatas kursi.
"Apa aku terlihat seperti seorang psikopat?" tanya Senja yang hanya mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari keluarga Amel.
"Eza, apa aku terlihat seperti seorang pembunuh dimata mu?"
"Tentu saja tidak Nona, anda sangat baik dan terhormat," jawab Eza tegas yang membuat wajah keluarga Amel menjadi merah karena malu.
"Apa menurut kalian, aku yang membebaskan kalian dari tempat kotor itu adalah seorang penjahat?" tanya Senja kembali dengan raut wajah dinginnya.
"Tidak, tidak sama sekali Nona," seru sang ibu kaku.
"Kami bahkan sangat bersyukur anda mau menyelamatkan orang rendahan seperti kami," timpal sang ayah gugup.
"Kalian tahu alasan mengapa mereka melakukan hal itu?" tanya Senja yang kini malah mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari mereka berlima.
"Ah, jadi begitu," lirih Senja setelah melihat diamnya keluarga Amel.
"Jadi mereka sama sekali tabu mengenai masalah ini,"
Senja mulai menyunggingkan senyum licik diwajahnya.
"Menarik," gumam Senja pelan sambil mengambil koran yang sebelumnya sudah disiapkan Eza.
"Lihat dan bacalah dengan baik," seru Senja saat melemparkan koran itu ke atas meja.
"Baik Nona," lirih sang ayah sebelum mengambil koran tersebut.
Perlahan mereka membaca isi dari koran tersebut. Awalnya mereka terlihat biasa saja namun lama-kelamaan kerutan terus tumbuh pada wajah mereka.
"Ini tidak mungkin," seru sang ibu sambil menitikkan air mata.
"Putri kami tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu," timpal sang ayah penuh emosi.
"Kakak kami sangat baik dan ramah mana mungkin ia bisa mengkhianati majikannya dengan kejam," gumam anak tertua tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
"Tapi itulah faktanya," seru Senja acuh tak acuh.
"Meski ini bukanlah kesalahan yang dia lakukan seorang tapi alasan mengapa dia setuju setelah disiksa lama adalah kalian."
__ADS_1
Mendengar kata 'kalian' Membuat seluruh keluarga itu diam terpaku. Tubuh mereka gemetar dan wajah mereka mulai mengeras.
"Inilah alasan mengapa kalian bisa berakhir ditempat seperti itu," lanjut Senja dingin kemudian menyuruh Eza untuk membawa sebuah dokumen dari ruang kerjanya.
Eza lalu mengangguk dan pergi meninggalkan Senja sendirian disana. Melihat Eza yang sudah keluar dari ruangan tersebut. Senja kemudian kembali menatap keluarga Amel yang tengah terpuruk.
"Aku tahu ini mungkin sulit bagi kalian tapi aku sangat setuju jika putri kalian dihukum mati," seru Senja ditengah badai yang membuat suasana ditempat itu semakin kacau.
Mereka yang awalnya sedih kini terlihat kesal ketika Senja sama sekali tidak menutupi niatnya.
"Kakak kami adalah orang yang baik dan..."
"Iya iya, terserah apa yang ingin kau katakan tapi pada kenyataannya dia tetaplah pengkhianat," lirih Senja menghentikan perkataan adik bungsu mereka.
"Dia telah berani mengkhianati majikannya dan tentu saja konspirasi ini dilakukan bersama dengan seseorang yang pasti sudah kalian kenal siapa dia." lanjut Senja mulai memprovokasi keluarga tersebut.
"Satu hal lagi, Amel berkata pada ku 'Aku memiliki adik laki-laki yang hebat, ia sangat ahli dalam penyusupan. Kami dulu pernah mencuri sesuatu dari rumah Count dengan cara menyelinap dan berhasil keluar dengan selamat tanpa diketahui'," seru Senja yang membuat anak tertua keluarga itu mulai kaku.
"Bagaimana ia bisa tahu? Tidak, mengapa kakak mengatakan hal itu padanya? Siapakah dia sebenarnya?"
"Tidak perlu memikirkan hal yang sudah jelas begitu," seru Senja yang membuat anak tertua menjadi kaget.
"Kau hanya perlu tahu jika aku adalah penyelamat kalian dan tentu saja itu tidak gratis," lanjut Senja yang kini membuat mata keluarga tersebut bergetar panik.
"Tenang saja aku tidak akan meminta nyawa kalian," gumam Senja yang masih bisa didengar oleh mereka.
"Lalu bagaimana cara kami membayarnya?" tanya sang ibu penasaran.
"Jadilah mata dan telinga ku," jawab Senja dingin sambil mengeluarkan aura dominasi yang kuat ditempat tersebut.
"Ugh...," erang sang ayah yang juga di ikuti oleh keluarganya yang lain.
"Dan jika kalian mengkhianati ku..." Senja sengaja menjeda perkataannya.
"Kalian akan terus hidup sampai memohon untuk mati."
"Maka aku akan memberikan neraka yang bahkan lebih gila dari apa yang kalian rasakan sebelumnya dan membuat kalian memohon kematian pada ku," bisik Senja dengan dinginnya sambil terus melayangkan aura dominasi yang kejam.
Mereka yang mendengar bisikan Senja seperti mendengar suara malaikat maut yang siap mengambil nyawa.
"Ugh, Nona. Kami mengerti," seru sang ayah yang tidak bisa menahan tekanan hebat yang keluar dari Senja.
"Kami semua akan mematuhi perintah mu Nona," timpal sang ibu yang masih memeluk putri kecilnya.
Senja yang melihat betapa susah payahnya keluarga Amel dalam menahan tekanannya hanya bisa tersenyum puas.
"Bagus jika begitu," seru Senja kemudian menurunkan tingkat aura dominasinya.
Beberapa saat setelahnya Eza kembali dengan sebuah dokumen ditangannya.
"Letakkan disana."
Perintah Senja sambil menatap meja yang kosong.
"Baik Nona," jawab Eza tegas kemudian menaruh dokumen tersebut di atas meja.
"Nona!" panggil Eza setelahnya sambil mendekati wajah Senja secara perlahan.
"Ada apa?"
"Nona..."
Eza berbisik pelan pada telinga Senja sehingga hanya dia yang bisa mendengarnya dengan baik sedangkan keluarga Amel yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa menelan saliva yang terasa kering.
"Baiklah, katakan padanya untuk menunggu," bisik Senja yang juga hanya bisa didengar Eza seorang.
"Baik Nona," seru Eza kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Senja ketika perhatian keluarga Amel teralihkan pada Eza yang baru saja keluar.
"Ah, bukan apa-apa Nona," seru sang ayah kaku yang juga mendapatkan anggukan kepala dari istrinya.
"Baiklah, dengarkan aku karena aku tidak akan mengulangi dua kali," seru Senja tajam sambil melirik sekilas pada dokumen yang ditinggalkan Eza.
"Mulai sekarang...,"
Senja menjeda perkataannya sambil menatap masing-masing dari individu yang ada dihadapannya tersebut.
"Mulai sekarang kalian adalah keluarga Cloe yang merupakan keluarga pedagang biasa yang hidupnya selalu berpindah-pindah tempat namun karena anak kedua kalian yaitu Ruda akan memasuki akademik Lumine sebagai seorang siswa menyebabkan kalian harus menetap di Kerajaan Guira," seru Senja setelah melirik sekilas kearah anak laki-laki kedua keluarga tersebut.
"Kau adalah seorang kepala keluarga yang baik meski hanya seorang Baron, kau selalu memberi sumbangan kepada pengemis yang membutuhkan sedangkan kau adalah istri yang taat sehingga mengikuti jejak suami mu untuk memberi pengobatan gratis kepada mereka yang membutuhkan," lanjut Senja yang kini membuat seluruh keluarga itu merasa aneh.
__ADS_1
Pasalnya memang benar putra kedua mereka akan memulai sekolahnya pada tahun ini dengan uang yang sudah susah payah dikumpulkan oleh kakak mereka, Amel.
Selain itu pada kenyataannya sang ibu juga seorang penyihir yang bisa menyembuhkan penyakit ringan namun karena ia lahir sebagai rakyat jelata sehingga ia hanya belajar secara otodidak bukannya disekolah.
"Nona ini..."
Perkataan sang ayah terhenti ketika Senja melemparkan sebuah dokumen yang ada di atas meja padanya.
"Itu adalah identitas kalian saat ini," lirih Senja acuh tak acuh.
"Kini nama mu adalah Terry Cloe dan istri mu adalah Cila Cloe dan kalian memiliki dua anak laki-laki bernama Josep Cloe dan Ruda Cloe serta satu anak perempuan bernama Ruri Cloe," lanjut Senja masih dengan wajah datarnya.
"Nona, bagaimana bisa kami..."
Protes sang ayah saat memegang dokumen hitam ditangannya.
"Ingat apa yang kalian janjikan pada ku sebelumnya." lirih Senja yang membuat sang ayah menjadi diam seribu bahasa.
"Mulai sekarang hidup kalian ada ditangan ku. Tentu saja aku bebas menentukan apa yang harus kalian lakukan dan tidak lakukan," lanjut Senja yang kini ekspresi mulai berubah menjadi sedingin es.
"Maafkan kami Nona," seru anak tertua dengan ekspresi tabah diwajahnya.
"Kalian harus tahu bahwa saat ini kalian aku tugaskan untuk mengawasi kerajaan Guira karena Sarah de Ari akan bersekolah disana," seru Senja yang membuat keluarga tersebut menjadi kaget tidak percaya.
"Aku memberikan kalian kesempatan untuk membalas dendam padanya namun jika kalian menolak maka aku akan menyuruh orang lain untuk mengawasinya dan kalian akan aku buang sekarang juga," gerutu Senja kesal saat melihat raut wajah penolakan dari keluarga Amel.
"Aku tidak butuh mereka yang tidak berguna dan mungkin saja saat ini Count Difani sedang mencari tikus yang hilang dari lubang lumpur nya," lanjut Senja acuh tak acuh kemudian bangkit dari duduknya.
Melihat Senja yang mulai melangkah pergi membuat keluarga Amel menjadi gelisah, mereka lantas segera menghentikan Senja yang kini sudah berada di seperempat jalan menuju pintu masuk ruang bawah tanah.
"Nona, tunggu sebentar!" teriak anak tertua mereka yang kini sedang berlari kearahnya.
"Nona, kami akan setuju dengan semua syarat yang kau berikan," lanjutnya yang kini membuat senyum lebar di wajah Senja.
"Berani sekali kau berteriak pada ku?" tanya Senja dingin.
"Ma, maafkan saya Nona. Saya tidak berpikir panjang."
Anak tertua terlihat bingung sekaligus gugup. Ia khawatir jika wanita muda di depannya ini akan pergi membuang mereka kapan saja. Ia lebih baik hidup dengan identitas palsu dari pada harus hidup seperti sampah seperti sebelumnya.
"Josep Cloe," seru Senja yang membuat anak tertua yang di panggil Josep itu terlihat senang dengan senyum lega di wajahnya.
"Saya Nona,"
Senja yang melihat senyum lega Josep sadar bahwa saat ini keluarga Amel mulai bergantung padanya. Ia tersenyum nakal sebelum melangkah lebih dekat pada Josep.
"Jangan pernah bermimpi untuk kabur dari ku, seperti yang telah kau lakukan dengan kakak mu itu."
Senja kemudian pergi menuju sofa dimana ia duduk sebelumnya. Sedangkan Josep masih berdiri kaku ditempatnya dengan wajah yang memerah seperti tomat masak.
"Disana ada dokumen lain selain dokumen identitas yang kau lihat." seru Senja ketika ia sudah kembali duduk diposisi semula.
"Kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan?" tanya Senja sambil menyerahkan belati kecil yang sebelumnya ia simpan disaku pakaiannya.
"Kami mengerti Nona," seru sang ayah kemudian mengambil belati tersebut dan membukanya.
Segera darah menetes dari telapak tangan sang ayah saat ia menggores belati pada telapak tangannya itu. Darah itu kemudian jatuh ke dalam botol kecil yang ada disamping dokumen hitam.
"Aku sudah bersumpah sekarang," lirih sang ayah sesudah darah ditangannya jatuh melingkar di atas dokumen yang bertuliskan namanya.
"Mulai sekarang aku adalah Terry Cloe," lanjutnya kemudian menaruh kembali belati tersebut ke dalam sarungnya.
Setelah sang ayah melakukan sumpahnya kini giliran sang ibu yang melakukannya, sama seperti sang ayah sebelumnya sang ibu juga melakukan hal yang sama dengan sumpahnya dan hal itu terus berlanjut sampai putri bungsu mereka.
"Hahaha, mereka tampak sangat bersemangat,"
"Mulai sekarang kalian telah resmi menjadi keluarga Baron Cloe dan untuk urusan lainnya akan diurus oleh bawahan ku," seru Senja kemudian mengambil dokumen sumpah tersebut berserta lima botol darah yang sudah terisi penuh.
"Selanjutnya kalian akan dibimbing olehnya," lanjut Senja ketika Hazel memasuki ruangan tersebut.
"Hazel, kuserahkan ini pada mu," lirih Senja ketika Hazel sudah berada tepat disampingnya.
"Baik Nona," seru Hazel sedikit membungkuk pada Senja sebelum melirik sekilas pada keluarga baru tersebut.
"Serahkan saja mereka pada ku dan sekarang Nona bisa pergi tanpa perlu khawatir," lanjut Hazel setelah ia bangun dari salamnya.
"Jaga mereka dengan baik," seru Senja sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
"Kini yang harus aku selesaikan terlebih dahulu adalah masalah Kun," batin Senja kesal ketika ia kembali teringat tentang pesan yang dikirim Guild Moonlight sebelumnya.
"Sangat jelas siapa yang sedang mereka incar sebenarnya," gerutu Senja sambil menyerahkan dokumen di tangannya pada Eza.
__ADS_1