Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E44] Kembali


__ADS_3

"Dia berkata untuk lebih jujur pada semuanya namun keadaan berkata lain. Memaksanya untuk tetap diam dan bisu.


*****************#####*****************


Senja berjalan menyusuri padang rumput yang tiada habisnya. Ia berjalan menuju bukit dimana ia tertidur sebelumnya. Tempat dimana ia merasakan rasa sakit yang lebih hebat dari pada kematian, tempat dimana ia pernah mati.


"Hah, akankah aku bertemu lagi dengannya?" gumam Senja dengan helaan napas panjang.


Jujur saja ia takut untuk kembali lagi ke tempat ini. Bahkan sebelumnya ia sudah bersumpah untuk tidak lagi menginjakan kaki di tempat ini. Tapi sepertinya takdir berkata lain, ia harus datang ke tempat itu dan membongkar rahasia yang ada di dalamnya.


"Apa aku kembali saja," lanjut Senja putus asa. Ia kemudian teringat kembali tentang kejadian beberapa saat yang lalu.


"Kemana kau ingin membawa ku!?" teriak Kun saat mereka sudah berteleportasi ke ruang bawah tanah ini.


"Tempat apa in..." Kun terdiam saat Senja membiarkannya pergi dari pelukannya.


"Apa ini?" gumam Kun penuh rasa takjub.


Jujur saja ia belum pernah melihat tempat seindah dan sebersih ini. Bahkan mana yang mengalir di tempat ini sangat kuat, tidak hanya kuat namun itu juga banyak.


Tempat yang bahkan lebih cantik dari pada surga. Tempat dimana seluruh kehidupan yang ada di dalamnya bagaikan ilusi.


"Ini bukan milik manusia," lanjut Kun setelah melihat ke sekelilingnya.


"Tempat yang bahkan hewan seganas apa pun akan merasa nyaman. Tempat dimana para monster akan menjadi jinak. Tempat ini bahkan lebih indah dari pada sarang naga."


Kun terus saja mengatakan hal-hal indah mengenai tempat ini. Bahkan Senja yang mendengar ocehannya hanya bisa menghela napas dengan malas.


"Tempat yang bahkan lebih indah dari surga? Kebohongan macam apa itu?" batin Senja geli saat mendengar ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut Kun.


"Dari mana kau menemukan tempat ini?"


"Hah, apa?"


Senja terlihat acuh tak acuh, ia malas untuk menjawab pertanyaan Kun dan lebih memilih untuk berpisah dengannya.


"Mau kemana kau? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku, hah?"


Senja hanya melambaikan tangannya dengan santai. Ia bahkan tidak melirik ke arah Kun saat melakukan hal itu. Jujur saja menjelaskan semua ini pada Kun hanya akan membuat kepalanya pusing.


"Bahkan hewan yang hidup ratusan tahun saja tidak tahu mengenai tempat ini," lirih Senja penuh cemoohan.


"Manusia!" teriak Kun kesal.


"Apa yang coba ingin kau lakukan?" lanjut Kun penuh penekanan.


"Hah," dengan malas Senja berbalik. Ia melihat Kun yang saat ini sedang kesal. Wajahnya memerah dan bulunya terangkat dengan garang.


"Pergilah." seru Senja setelah diam beberapa saat.


"Apa? Kenapa?"

__ADS_1


"Bukannya kau sendiri yang bilang ingin pergi dari tempat ini."


"Kapan aku menga..."


Kun diam, ia berfikir sejenak tentang kejadian beberapa saat yang lalu. Setelah diam sesaat ia pun memerah. Kupingnya bergerak kesana-kemari dan ekornya berkibar dengan cepat.


"Itu..., itu..."


"Sudahlah," potong Senja malas sambil melemparkan gulungan portal kepada Kun.


Kun diam, ia menegang di tempatnya. Wajahnya bahkan tidak bisa melihat Senja dengan lantang seperti dulu. Ia malu, ia sangat-sangat malu. Pasalnya baru kali ini ada manusia yang berani bersikap kurang ajar seperti itu padanya.


"Kenapa diam?" tanya Senja acuh tak acuh.


"Kau bisa pergi sekarang ju... ga."


Senja sedikit menuruni frekuensi suaranya saat ia merasakan keberadaan Vanilla di sekitarnya. Ia melirik ke arah samping saat Vanilla yang entah dari mana muncul dengan mulut penuh coklat.


"Nona. Nona disini." lirih Vanilla penuh semangat.


"Oh, kakek Kun juga datang." lanjutnya saat melihat Kun yang berdiri tidak jauh dari Senja.


"Ada apa? Kenapa suasananya begitu tegang?" tanya Vanilla dengan polosnya.


"Tidak ada," Senja mengelus lembut kepala Vanilla. Ia kemudian kembali menatap Kun yang bahkan tidak bergerak satu inci pun dari tempatnya.


"Benarkah?"


Vanilla yang merasa bahwa ada yang aneh diantara keduanya hanya bisa menatap Senja dengan mata penuh rasa penasaran. Ia menatap Senja seolah-olah sedang mencari kebenaran lewat tatapan mata itu.


"Hah, sejujurnya Kun datang ke tempat ini untuk mengajari mu sesuatu."


Akhirnya Senja mengalah, ia tidak bisa dilihat seperti itu dalam waktu yang lama. Andai saja yang melakukan itu adalah Ristia ataupun Lily, mungkin ia akan memukul mereka dengan kejam.


"Benarkah itu?" Vanilla berjalan mendekati Kun yang masih membeku di tempatnya.


"Kakek Kun, apakah kau benar-benar akan mengajari ku sesuatu?" tanya Vanilla penuh semangat.


"..."


Kun masih diam, ia masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini di depannya.


"Kakek." panggil Vanilla pelan.


"Kun," seru Senja saat Kun masih belum merespon sama sekali.


"Apa yang kau pikirkan sampai tidak menjawab pertanyaan Vanilla?" lanjut Senja penuh penekanan.


Kun yang semula diam kini tersentak kaget. Ia bahkan tidak sadar jika Vanilla sudah berada tepat di hadapannya. Ia masih bingung dengan keadaannya saat ini.


"Ah iya, aku." jawab Kun refleks. Ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja ditanya padanya.

__ADS_1


"Benarkah itu, jika benar maka Vanilla akan sangat senang."


Vanilla tersenyum dengan hangat namun Kun sama sekali tidak mengerti.


"Kau, apa yang kau lakukan? Bukankah aku membawa mu kesini untuk mengajarinya? Kenapa kau diam seperti batu tadi?" tanya Senja melalui mind link mereka.


"..."


Kun diam, ia akhirnya tahu apa yang sejak tadi ia lewatkan. Ia sekarang mengerti mengapa Vanilla bisa tersenyum lebar seperti itu.


"Jika kalian sudah memutuskan mau melakukan apa, maka lakukanlah sesegera mungkin. Aku akan pergi untuk mengurus urusan ku."


Senja lalu pergi meninggalkan kedua. Ia pergi ketempat dimana ia terakhir kali tidur dan bertemu dengan monster itu.


"Memang benar tempat ini bukanlah tempat yang bisa dibuat oleh manusia biasa. Pasti ada alasan mengapa tempat ini bisa ada di bawah kediaman Permaisuri Mawar." gumam Senja yang kini kembali pada kenyataannya.


Ia mengingat seluruh omong kosong Kun mengenai tempat ini. Alasan mengapa Kun terlihat sangat senang sekaligus penasaran mengenai tempat ini.


"Hanya ada satu jawaban untuk itu," lirih Senja sambil merebahkan dirinya di atas rumput.


"Mari kita menemuinya lagi."


****


Wajah tegang Luna sama sekali tidak bisa ditutupi. Ia secara tidak sengaja mendengar rumor mengenai Senja sahabatnya itu.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" kegelisahan Luna membuat Muna tidak nyaman.


"Ini hanya rumor, kita tidak bisa mempercayainya begitu saja."


"Tapi semua siswa membicarakan tentangnya."


"Aku tahu, maka dari itu cepat selesaikan urusan kita di tempat ini dan setelahnya kita bisa bertemu dengannya lagi."


"Aku ingin segera bertemu dengannya tapi masalah ini tidak mungkin bisa selesai dengan cepat."


"Hah, kita tidak bisa pergi sebelum mengurusi mereka." Muna melirik sekilas pada Tasya dan Mari. Mereka berdua masih berjaga di sekitaran kamar Luna.


"Mereka seperti ngengat bahkan mereka tidak segan-segan menunjukan aura keberadaannya."


"Karena itu aku berfikir jika rumor itu benar adanya."


"Kebenaran dari rumor itu hanya akan diketahui jika kita melihatnya sendiri."


"Sial, lama-kelamaan aku bisa gila jika terus di kurung di tempat ini."


"Lepaskan saja semuanya, kita akan selesaikan ini semua sesegera mungkin.


Luna diam, ia mengerti maksud Muna seperti apa, hanya saja menahan diri di tempat ini bukanlah gayanya. Ia perlu menyelesaikan segala urusannya di tempat ini sebelum kembali ke akademi.


"Baiklah, aku mengerti." seru Luna sebelum memilih untuk memisahkan diri dari Muna.

__ADS_1


__ADS_2