Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E74] Target Manipulasi


__ADS_3

"Tidak semua rencana akan berhasil dan tidak semua keberhasilan telah direncanakan."


******************#####****************


Ujian pertahanan sesi kedua memiliki peraturan yang unik. Dimana peserta harus membuktikan jika perisai yang telah mereka buat sebelumnya dapat berfungsi dengan baik.


Tujuan teknik pertahanan adalah melindungi dan mempertahankan kondisi fisik agar senantiasa tidak terluka dari serangan musuh. Hal ini akan sangat berdampak dalam pertarungan langsung dimana sering kali bertahan adalah pilihan terbaik dari pada menyerang.


Meski begitu masih banyak siswa yang merasa jika menyerang lebih baik dari pada bertahan, itulah alasan mengapa banyak anak muda mati lebih cepat dari pada orang tua.


Mereka cenderung memilih ego dari pada pemikiran terbuka. Pertarungan tidak hanya tentang menyerang melainkan bertahan juga termasuk ke dalamnya. Dalam keadaan terdesak dan mana yang dimiliki sudah habis, maka bertahan untuk hidup adalah pilihan yang tepat.


"Untung saja aku sudah mempersiapkan itu sebelumnya," lirih Senja pelan.


Jujur saja Senja tahu jika Prof Deru tidak akan memberikan penyelesaian begitu mudah. Jika mereka berhasil di sesi pertama, itu belum tentu di sesi kedua mereka akan berhasil juga.


Prof Deru sengaja tidak menjelaskan jenis perisai seperti apa yang harus digunakan dalam melindungi telur tersebut maka dari itu banyak siswa yang hanya fokus pada perisai luar dan mengabaikan bagian dalamnya.


"Jika sesi kedua memprioritaskan kekuatan maka aku sudah tahu hasilnya," lirih Senja saat melihat wajah nakal Prof Deru.


Beberapa menit kemudian sesi kedua pun dimulai. Dimana Senja dan sembilan siswa lainnya diminta untuk mengambil nomor antrian untuk dapat memulai ujian.


"Kami akan mengundi siapa dari kalian yang akan memulainya terlebih dahulu. Jika nomor kalian disebut, maka kalian harus segera menaiki podium dan menaruh telur kalian diatas sana." seru salah satu staff penjaga sembari menunjuk kearah cawan kecil yang berada di tengah podium.


"Apa kalian sudah mengerti? Jika belum, maka kalian bisa melihat detailnya di papan pengumuman selagi menunggu giliran untuk di panggil." lanjutnya tegas.


"Sudah," teriak salah satu siswa yang dibarengi dengan anggukan kepala dari siswa lainnya.


"Baiklah, mari kita mulai." seru Staff tersebut sebelum memasukan tangannya ke dalam kotak undian.


Satu menit kemudian satu lembar nomor ujian sudah berada di tangan staff tersebut. Dengan lantang staff tersebut meneriaki pemilik nomor. Sedetik kemudian salah satu siswa laki-laki langsung berdiri dari kursi tunggu dan melangkah maju menuju podium.


Sesampainya siswa itu di podium, ia segera menaruh telur miliknya diatas cawan. Anehnya belum ada satu menit telur itu diatas cawan, ia sudah pecah berhamburan. Baik siswa laki-laki itu maupun staff penjaga terlihat kaget.


Bahkan siswa lain yang sedang menunggu giliran terlihat bingung dan penasaran. Namun anehnya wajah nakal Prof Deru semakin tebal, ia dengan santai mengatakan jika siswa itu gagal dan menyuruhnya untuk kembali pulang.


"Kejam sekali," lirih siswa perempuan yang berada tepat di samping Senja.


"Aku tahu jika Prof Deru dendam pada kita tapi perlakuannya ini sungguh keterlaluan." timpal yang lain tidak senang.


"Hush, kau harus hati-hati dengan omongan mu itu. Dia sangat sensitif, kau bisa saja dikeluarkan karena telah menghinanya." balas siswa lain seraya meniru gerakan memutuskan leher.


"Astaga," lirih siswa yang berada tepat di samping siswa perempuan tersebut.


Senja yang melihat adegan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bahkan setelah siswa lain tampil, hasilnya pun saja.


"Hah, mereka masih sempat-sempatnya bercanda disaat seperti ini," erang Senja frustasi.


"Sudah tiga siswa gagal dalam sesi ini, apakah memang begitu sulit. Lagi pula cawan macam apa itu yang bisa memberikan tekanan kuat hingga mampu menghancurkan telur yang sudah diberi perisai."


Senja terus berpikir keras mengenai cawan tersebut dan tanpa ia sadari kini adalah gilirannya untuk tampil.


"Hah,"


Dengan helaan napas panjang Senja segera menaiki podium. Diatas podium Senja dapat melihat dengan jelas bentuk cawan yang selama ini ia amati.


Cawan itu tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Cawan itu begitu sesuai dengan bentuk telur yang dimiliki oleh setiap peserta.


"Silahkan," seru staff penjaga yang membuat Senja segera menaruh telur miliknya ke dalam cawan tersebut.


Sedetik kemudian setelah telur itu mendarat di cawan, Senja bisa melihat dengan jelas bahwa cawan itu dengan paksa menekan perisai pada telur.


"Oh jadi begitu," batin Senja setelah tahu apa yang terjadi pada telur-telur milik siswa lainnya.


Tidak butuh waktu lama saat berselang satu menit kemudian Senja dapat melihat bahwa cangkang telurnya sudah mulai retak. Senja merasa sedikit tidak senang, ia marah sekaligus bingung.


"Permisi pak, saya ingin bertanya." seru Senja pada staff yang ada di sampingnya.


"Silahkan,"


"Pak, saya hanya ingin tahu berapa lama pengujian ini dilakukan?"


"Apa nona tidak melihat peraturannya?"


"Tidak pak, saya melihatnya."


"Lalu?"


"Di lembar peraturan tidak menyebutkan seberapa lama pengujian ini berlangsung. Itu hanya tertulis syarat dan aturan dalam ujian saja."


Staff tersebut diam, ia kemudian melirik sekilas pada Prof Deru yang dijawab dengan anggukan kepala. Dengan helaan napas panjang staff tersebut kembali menatap Senja.


"Lima menit," seru Staff pelan.

__ADS_1


"Lama sekali, ini tidak adil." cibir Senja kesal.


"Itu sudah peraturannya."


Senja tidak bisa membantah, ia tidak ingin keras kepalanya membuat ujian ini kacau. Senja hanya dapat menunggu hingga waktu berakhir.


"Yah lagi pula aku sudah memasang perisai di cangkang dalam, jadi kurasa itu akan baik-baik saja." batin Senja sembari memfokuskan kembali visi nya pada cawan.


Saat Senja kembali fokus, ia dapat melihat jika retakan pada cangkangnya semakin membesar seiring bertambahnya waktu namun Senja juga senang karena sesi kedua akan berakhir satu menit lagi.


"Bagaimana?" tanya Senja pada staff yang masih diam.


"Ah itu..., kau lulus."


Dengan penuh senyum kemenangan Senja mengambil telur miliknya. Ia kemudian turun dari podium sembari menunjukkan telur miliknya kearah Prof Deru.


"Lihat ini, aku menang," cicit Senja pelan dengan bibir yang terbuka lebar.


Prof Deru yang melihat perilaku Senja kemudian memberikan senyum mengejek. Ia melirik Senja dengan tatapan nakal sebelum menunjuk ke arah catatan nilai yang sedang ia pegang.


"Sial, apa dia ingin memanipulasi nilai?" gerutu Senja tidak senang.


Senja kemudian pergi menuju kursi tunggu dengan wajah merah. Ia sangat kesal sehingga tidak mendengar panggilan Amir yang menyapanya.


Disisi lain Prof Deru dengan nakal menggelengkan kepalanya. Ia sedikit senang sekaligus kagum dengan apa yang dilakukan Senja.


"Aku tidak menyangka jika dia sampai memasang tiga perisai pada telur itu. Meski perisai pertama rusak, tapi yang kedua dan ketiga berhasil menahannya dengan sempurna." lirih Prof Deru sebelum menyuruh staff penjaga untuk mengundi nomor peserta selanjutnya.


****


Butuh waktu dua jam hingga ujian sesi kedua berakhir dan kini siswa yang tersisa hanya lima orang saja. Diantara kelima siswa itu ada Senja dan Ronald, serta Amir yang berhasil lulus ketahap selanjutnya.


Ketiganya kini berada di kursi tunggu yang sama dengan dua siswa lainnya. Meski keadaan lapangan dipenuhi dengan siswa lain yang menonton tapi entah mengapa Senja merasakan perasaan aneh di kedua sisinya.


Senja merasa jika Ronald yang berada disisi kirinya tengah menatap tajam padanya. Sedangkan disisi kanan Senja bisa merasakan tatapan sendu Amir yang tengah melihatnya.


"Sial, kapan coba ujian sesi ketiga dimulai?"


Senja yang merasa frustasi akhirnya merasa senang saat Prof Deru mengumumkan jadwal sesi ketiga. Dimana sesi tersebut akan diadakan saat ini juga mengingat bahwa siswa yang tersisa hanya tinggal lima.


"Hahaha, kali ini ujian sesi ketiga akan dilakukan secara serentak," seru siswa laki-laki yang berada tepat di samping Ronald.


"Aku jadi tidak sabar, benarkan Ronald."


"Ah iya, kau benar." balas Ronald pelan.


Senja yang melihat adegan itu hanya bisa menghela napas panjang sebelum mengikuti keduanya menuju tengah lapangan. Hal yang sama juga dilakukan Amir dan siswa laki-laki disampingnya.


Sesampainya di tengah lapangan Staff penjaga segera memberitahu mereka aturan yang berlaku. Dimana Senja dan keempat siswa lainnya harus memberikan sihir rune penyempurnaan pada telur mereka.


Jika rune yang dibentuk membuat telur tersebut pecah maka mereka akan gagal. Selain itu rune yang harus digambar juga tidak boleh sama. Intinya harus terdapat setidaknya dua sihir rune berbeda pada telur tersebut.


"Aku tahu sihir rune dapat membuat objek menjadi lebih kuat tapi untuk apa memperkuat telur yang sebelumnya dirusak?" tanya Senja kesal.


"Tidak ada alasan pasti." balas Prof Deru disela-sela pembicaraan mereka.


"Sihir rune hanyalah pendukung, jika kau ingin mengetahuinya lebih, maka kau bisa merasakan hal itu di pertarungan sesungguhnya." lanjut Prof Deru.


"Profesor," teriak kelimanya kaget.


Mereka tidak tahu jika Prof Deru akan mendatangi mereka ditengah lapangan. Pasalnya sejak sesi pertama dan kedua Prof Deru selalu duduk di kursi yang telah khususkan untuk para profesor.


"Apa yang kalian tunggu, segera mulai itu," seru Prof Deru yang mengabaikan tatapan tanya dari kelima siswanya.


"Baik prof," teriak kelima siswa tersebut.


Mereka kemudian berdiri sesuai dengan posisi yang telah ditetapkan. Posisi setiap siswa memiliki jarak aman dimana mereka tidak akan saling terganggu satu sama lain.


Senja yang sadar akan niat aneh Prof Deru segera mengambil tempat yang jauh darinya. Senja entah mengapa sadar bahwa akan terjadi hal buruk pada sesi ujian ketiga ini.


Dan tidak butuh waktu lama firasat buruk Senja akhirnya terbukti juga. Senja yang belum sempat memuntahkan seluruh isi pikirannya itu telah dikagetkan dengan terbangnya salah satu siswa laki-laki sebelum ledakan hebat meledak di bawah kaki siswa tersebut.


"Kyaa....!!!"


Teriak siswa itu dengan nada suara panik, tapi beruntungnya tubuh siswa itu segera di tangkap oleh salah satu staff penjaga yang sudah standby di lokasi jatuhnya.


"Apa yang kalian lihat, lanjutkan!" teriak Prof Deru yang tidak memberikan mereka kesempatan untuk mencerna situasi tersebut.


"Kyaaa...."


Kini giliran siswa laki-laki disamping Ronald yang dikirim terbang menjauh dari posisinya. Dan sama seperti siswa sebelumnya, siswa laki-laki itu pun segera ditangkap dan dikirim menuju ruang UKS terdekat.


"Sial, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini. Aku bah...."

__ADS_1


DUAR....!


DUAR...."


Belum sempat Senja menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dikagetkan dengan ledakan hebat yang terjadi disisi kanannya. Disana Senja melihat Amir yang tengah dikirim terbang menjauh dari posisinya.


"Sial, apa selanjutnya adalah aku?" gerutu Senja panik.


Senja tidak dapat fokus dengan apa yang ia lakukan. Hal itu dikarenakan seluruh kejadian di depannya terjadi begitu cepat dan Senja bahkan tidak memiliki waktu untuk mencernanya.


"Aku harus fokus," batin Senja setelah satu pola rune terukir di telurnya.


Saat Senja sedang fokus ia mendengar perkataan aneh dari Prof Deru. Dimana Prof Deru mengatakan bahwa ketiga siswa yang gagal tersebut telah melakukan kesalahan Fatal.


Mereka dengan kasarnya membuat pola rune secara sembarangan sehingga memicu kontak langsung dengan sihir di dalam perisai. Hal itulah yang menyebabkan perisai menjadi tidak seimbang dan akhirnya meledak dengan kekuatan yang hebat.


"Sial, jadi begitu rupanya. Entah mengapa aku rasa kelas ini lebih cocok menjadi kelas rakit senjata dari pada kelas pertahanan." gerutu Senja yang masih menahan rasa kesalnya.


Dua menit telah berlalu dan kini Senja hanya tinggal membuat satu ukiran abstrak untuk dapat menyelesaikan pola rune nya.


"Selesai!" teriak Senja senang.


"Aku juga selesai," balas siswa lain yang membuat Senja terkejut.


"Ronald, aku bahkan tidak sadar jika dia masih ada disini."


Sangking fokusnya Senja sampai lupa jika dirinya tidak sendirinya. Akhirnya ujian kelas pertahanan selesai dengan hanya dimenangkan oleh dua siswa saja.


****


Senja yang lega dengan hasil ujian tersebut segera memilih kembali ke kamar asramanya. Ia tidak ingin tinggal lebih lama dan membuang seluruh energinya untuk hal yang tidak berguna.


Sayangnya harapan Senja tinggal kenangan saat ia melihat Amir yang tengah berdiri di depan pintu masuk gedung asramanya.


"Sedang apa dia disini? Bukannya Amir mengalami kecelakaan dan seharusnya dia masih di UKS bukan." gumam Senja bingung.


"Apa dia ingin melanjutkan pembahasan tadi?" batin Senja tidak senang.


Pasalnya Senja masih juga belum mencerna apa yang dikatakan Amir saat itu. Hal yang dapat ditangkap Senja saat ini hanya beberapa informasi penting saja.


Pasalnya entah mengapa Senja selalu bisa memfilter informasi yang masuk padanya seperti perangkat pemindai. Ia hanya akan menyerap informasi penting dan membunga sisanya yang tidak berguna.


"Uhm, Alisa menyukai Amir sedangkan Amir dan Ronald adalah sahabat. Selain itu Ronald dan Alisa memiliki hubungan pertunangan yang telah dijanjikan."


"Sungguh kisah cinta yang klise," lirih Senja pelan.


"Aku tidak suka ikut campur tapi bukankah ada yang aneh," gumam Senja sembari berjalan pelan mendekati pintu masuk.


Jika di pikir-pikir Senja sama sekali belum melihat Alisa sejak ujian hari pertama. Alisa seakan menghilang setelah mengatakan peringatannya mengenai Amir.


"Selain itu, Amir yang sebelumnya menolak bercerita tapi entah karena alasan apa beberapa menit setelahnya ia langsung memborbardir diri ku dengan berbagai macam informasi berat."


"Aku masih bingung..."


"Bingung kenapa?" potong sebuah suara yang membuat Senja terkejut.


Dengan refleks Senja menatap kearah asal suara tersebut. Disana Senja melihat sosok pria tampan dengan raut wajah sedih. Pria itu tidak lain adalah Amir yang sedari tadi menunggu kepulangan Senja.


"Uhm..., kau baik-baik saja?" tanya Senja mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku baik, lagi pula apa yang kau pikirkan sejak tadi?"


Amir kembali bertanya ia seakan tahu jika Senja sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Bukan hal yang khusus." balas Senja pelan.


"Senja, aku..."


"Hentikan," potong Senja tegas. jujur saja Senja masih bingung harus bereaksi seperti apa tapi ia juga tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.


"Amir, saat ini aku hanya ingin fokus pada ujian. Bisakah kita membahasnya nanti?" lanjut Senja setelah diam beberapa saat.


"Lagi pula aku butuh waktu untuk memproses itu semua. Beri aku waktu sebelum bisa mencerna apa yang sedang terjadi diantara kalian." jelas Senja sekali lagi.


"Selain itu, informasi yang kau berikan belum tentu benar adanya. Aku harus waspada karena kau sedikit aneh sebelumnya." batin Senja kemudian.


Senja lalu mencoba menjelaskan situasinya pada Amir dan entah mengapa Amir menerima hal tersebut dengan baik. Jujur saja Senja tidak pernah mengharapkan hasil seperti itu sebelumnya.


"Baiklah, aku pergi dulu." seru Senja sebelum meninggalkan Amir sendirian di pintu masuk.


Amir yang ditinggal sendirian pun memutuskan untuk segera pergi menuju gedung asramanya. Ia terlihat begitu kesal dengan cahaya merah terang di kedua iris matanya.


"Hah, Apa kali ini aku telah salah langkah?" gerutu Amir tidak senang.

__ADS_1


Disisi lain Ronald yang saat itu kembali ke gedung asrama nya secara tidak sengaja melihat Senja dan Amir. Seketika itu juga mata Ronald menajam dan amarah muncul di lubuk hatinya.


"Aku harus mengabari Alisa mengenai ini." gumam Ronald pelan sebelum pergi menuju kamar asramanya.


__ADS_2