Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
[S2E53] Sahabat


__ADS_3

"Apa pun yang terjadi jangan pernah lepaskan tali persahabatan ini. Kita tetap teman meskipun jarak sudah memisahkan."


******************#####*********************


Suasana sore begitu tenang dengan alunan musik klasik yang membuat kamar Senja terasa seperti abad pertengahan. Dekorasi klasik dengan hiasan lampu mewah yang terpajang rapi serta lukisan indah dari pelukis ternama membuat suasana kamar terasa beda.


"Hah, ini baru hidup."


Senja baru saja selesai mandi, ia ingin bersiap menuju kafetaria untuk makan malam sekaligus ingin bertemu dengan para sahabatnya.


Sudah seminggu lamanya mereka tidak bersua dan inilah saat yang tepat bagi Senja untuk pergi menemui mereka. Sebelumnya selalu saja mereka yang menjemput Senja namun kini ia sendiri yang berinisiatif untuk menjemput mereka.


"Tentu saja aku akan pergi menemui Maya dan Zakila terlebih dahulu." gumam Senja saat memikirkan wajah Dira dan Tasya di lantai kamar mereka.


Setelah mematikan alat musiknya, Senja bergegas keluar menuju lantai dua. Suasana lorong tampak sunyi dan hanya ada beberapa siswa saja yang berlalu lalang.


Beberapa saat kemudian Senja sudah berada tepat di depan mintu kamar Maya. Saat hendak mengetuknya Senja Tania sadar melihat Kira yang tengah turun dari lantai tiga di persimpangan tangga.


"Sial, kebetulan macam apa ini?"


Senja yang malas bertemu sapa dengan Kira memutuskan untuk menggunakan sihir kamuflase untuk tidak terdeteksi olehnya.


Kira terus saja berjalan mendekati kamar Maya, ia terlihat senang dengan senyum lebar di bibirnya. Sesekali Senja dapat mendengar senandung ria yang lolos dari bibir Kira.


"Senang sekali dia,"


"Nanana...., hahaha..."


Wajah kira memerah karena senang, ia terlihat begitu bahagia dengan menggoyangkan ujung roknya dan memutarnya secara perlahan.


"Akhirnya posisi itu akan menjadi milik ku, tinggal menunggu kematiannya saja." lirih Kira saat melewati pintu kamar Maya.


Senja hanya diam, ia yang awalnya ingin menjenguk sahabatnya itu memutuskan untuk mengikuti Kira ke kamarnya.


Pada saat Senja melihat pintu kamar Kira yang terbuka bertapa kagetnya dia saat melihat puluhan bola mana hitam yang mengambang hampir di setiap sudut ruangan.


Bola mana hitam berputar ria di sekeliling Kira seolah ia adalah majikannya. Melihat pemandangan ini membuat Senja ingin muntah. Bahkan aroma busuk tercium dari bola mana hitam itu.


"Apa yang sebenarnya dilakukan Kira? Mengapa begitu banyak bola mana hitam di kamarnya."


Senja sudah menduga jika mana milik Kira tidak murni. Itu ditandai dengan aura gelap yang membungkusnya. Namun aura itu tidak segelap bola mana hitam di ruangan ini.


"Menurut penuturan Kun, jika seorang manusia memiliki mana hitam ditubuhnya itu artinya dia telah melakukan kesalahan gatal seperti pembunuhan."


Senja yang tidak tahan dengan aroma busuk di kamar Kira memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia lebih menyayangi lambungnya dari pada informasi penting yang akan dibocorkan Kira padanya.


"Kesehatan mental lebih baik dari pada informasi itu sendiri."


Senja kemudian pergi menuju kamar Maya dan mengetuknya. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka dan memperlihatkan Mia yang tengah memegang kemoceng.

__ADS_1


"Astaga nona Senja, maaf."


Mia menunduk pelan sambil menyembunyikan kemoceng di balik punggungnya.


"Silahkan masuk, Nona Maya ada di dalam." lanjutnya setelah menyapa Senja dengan benar.


Berbeda dengan kamar Kira yang dipenuhi mana hitam. Kamar Maya sedikit lebih berwarna. Senja bisa melihat warna coklat cantik dan hijau tua di sekeliling sudut ruangan tersebut.


Senja melihat tubuh Mia yang memancarkan mana biru muda yang cerah. Sangat indah sesuai dengan kepribadiannya. Selain itu Senja juga melihat warna mana hijau tua dari tubuh Maya.


"Senja," seru Maya saat melihat tamu yang masuk ke kamarnya.


"Hai, sudah lama sekali." balas Senja dengan senyum hangatnya.


"Entah mengapa lambung ku terasa nyaman ditempat ini. Perasaan mual sebelumnya telah hilang entah kemana."


"Akhir-akhir ini kita jarang sekali bertemu. Apa kalian semua sibuk?"


"Tidak, kami hanya di ganggu saja."


Maya kemudian mengarahkan Senja menuju balkon kamarnya. Di balkon itu sudah ada kursi santai dan juga beberapa camilan lezat.


"Apa ada tamu sebelumnya?"


"Tidak, aku mempersiapkan ini untuk bersantai tapi kebetulan saja kau datang tepat waktu."


Senja lalu duduk disalah satu kursi yang menghadap langsung ke arah gedung perpustakaan. Pemandangan sore yang indah saat melihat para siswa keluar-masuk perpustakaan sambil membawa beberapa buku tebal.


"Siapa yang menggangu kalian?" tanya Senja penasaran dengan jawaban Maya sebelumnya.


"Hah, aku dan Muna tidak bisa keluar kelas tepat waktu dan kami harus mengerjakan banyak laporan essai karena bermasalah dengan beberapa guru sihir."


"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya."


Maya mulai menceritakan kisah panjang perjuangannya saat tidak sengaja membuat guru magang terluka saat latihan. Maya menjelaskan jika guru magang sangat lemah dengan fisiknya. Sehingga perkelahian pun terjadi.


"Usut punya usut ternyata guru magang itu bukanlah ksatria melainkan penyihir. Ia mengajar ilmu pedang karena jadwal kosong yang harus diisi."


"Lalu apa yang terjadi? Bagaimana Muna bisa ikut terseret juga?"


"Entahlah, semuanya terjadi begitu saja. Kami harus menyelesaikan hukuman menulis essai yang sangat panjang dan melelahkan sehingga tidak memiliki waktu bertemu dengan yang lain."


"Zakila? Luna?"


"Mereka juga senasib dengan kami."


Maya terlihat kesal dan juga sedih. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan nasib siap mereka. Anehnya hal itu hanya terjadi pada mereka saja sedangkan siswa lain tidak mengalami apa pun.


"Ada yang aneh,"

__ADS_1


"Sebaiknya kita jumpai Luna dan Maya untuk hal ini."


"Mengapa?"


"Aku tidak yakin, tapi masalah yang timbul pada kalian sepertinya tidak biasa."


"Hah, sejujurnya kami sudah tahu siapa yang membuat rencana ini hanya saja ini sudah terlanjur terjadi."


"Maksud mu?"


"Jelas sekali ini adalah perbuatan Dira dan komplotannya. Mereka mencoba memisahkan kamu dengan mu agar Kira dapat dengan mudah menjerat mu seorang."


"Hahaha"


Senja hanya tertawa masam saat mendengar jawaban langsung Maya. Siapa juga yang tidak tahu jika kondisi mereka sudah dimanipulasi sebelumnya.


Saat keduanya tengah asik mengobrol tiba-tiba saja pintu kamar Maya terbuka dan memperlihatkan tamu lainnya. Tamu itu dengan santainya berlari menuju keduanya dengan senyum aneh di ujung bibirnya.


"Zakila," seru Senja saat Zakila dengan lembut memeluk tubuhnya.


"Aku kangen," lirih Zakila saat melepaskan pelukannya.


"Sejak kapan kalian disini?"


Zakila terlihat cemberut saat mengetahui Senja hanya berduaan saja dengan Maya.


"Kenapa tidak mengundang ku juga?" lanjutnya sambil memelototi Maya yang sedang menyesap teh miliknya.


"Jika bukan karena Mia, aku...Huh."


Zakila dengan kasar meraih kursi di samping Maya. Ia lalu duduk menghadap Senja sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Karena sudah begini, kenapa kita tidak mengajak Luna dan Muna sekalian."


"Boleh juga."


****


Gedung Asrama Lantai Tiga


Setelah mengobrol ria dengan keempat temannya, akhirnya Senja mendapati kesimpulan dari kejadian selama seminggu ini. Ia mulai memahami pola musuh yang mencoba untuk menjebak temannya.


"Untung saja Luna punya rencana jitu untuk membalas mereka. Aku jadi tidak sabar melihatnya."


Senja kembali teringat obrolan mereka beberapa saat yang lalu sebelum ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Saat itu Luna dan Maya sudah menyiapkan hal besar untuk Dira dan komplotannya sehingga selama dua minggu ke depan mereka akan sibuk mempersiapkan rencana itu.


"4 bulan lagi sebelum ujian tengah semester, aku jadi tidak sabar."

__ADS_1


__ADS_2