Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Tertarik


__ADS_3

"Rasa aneh yang timbul dari melihat mu bukanlah rasa suka melainkan curiga."


*****************#####*****************


"Mengapa mereka begitu lama?" tanya Luna khawatir ketika waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Apa mereka mengalami masalah?"


Luna menjadi bingung apalagi setelah kejadian saat itu, kini seluruh mata tertuju pada mereka. Luna takut jika Dira melakukan hal aneh lagi dibelakangnya.


"Tenangkan diri mu, Luna," seru Zakila lelah dengan sikap aneh Luna yang setiap menitnya selalu mondar mandir tidak jelas.


"Aku, tidak bisa..."


Perkataan Luna terhenti saat ia melihat ke arah luar jendela.


"Itu mereka." sambung Luna sambil melangkah pergi menuju pintu utama Kastil.


"Hah, astaga," lirih Zakila ketika Luna dengan semangatnya berlari menuju pintu utama.


Di dalam kereta kuda Dian yang kini menyamar menjadi Senja menjadi semakin gelisah, ia takut jika salah satu dari sahabat nona nya itu sampai mengetahui plot mereka.


Dian menatap sendu pada Senja yang sejak awal keberangkatan hanya melihat keluar jendela saja.


"Nona, kumohon selamatkanlah aku," batin Dian pasrah namun Senja tetap saja tidak peduli.


Setelah kereta kuda memasuki gerbang utama, mansion kediaman Winter sudah terlihat di depan mata. Mansion itu sangat besar dengan background warna abu-abu dan corak merah bata di setiap dindingnya.


"Matilah aku. Jika sampai Nona Luna tahu jika aku ini palsu maka...," gumam Diani terhenti ketika Muna yang berada disampingnya memegang pelan kedua tangannya.


"Senja, ada apa? Wajah mu terlihat pucat sejak tadi."


Muna bertanya dengan ekspresi wajah khawatir.


"Aku, aku baik-baik saja," lirih Dian gugup sebelum melirik sekilas pada Senja.


"Kau yakin?" tanya Muna tegas untuk memastikan kondisi sahabatnya itu. Dian hanya mengangguk pasrah sambil memasang senyum seadanya saja.


Awalnya Muna merasa khawatir dengan sikap Senja yang berubah setelah keluar dari penjara bawah tanah. Muna merasa jika ada hal penting yang terjadi disana namun ia sengaja tidak bertanya karena itu privasi Senja dan Muna adalah orang yang sangat menjaga privasi orang lain.


"Aku tidak ingin ikut campur jika kau tidak mengizinkannya namun jika itu membuat mu menjadi seperti ini maka aku terpaksa untuk terjun kedalamnya."


"Kalau begitu, mari kita turun," seru Muna sebelum melangkah turun dari gerbong kereta.


Dian yang di tinggal berduaan saja dengan Senja lantas mendesah lega setelah Muna keluar dari gerbong.


"Hah, damainya," lirih Dian yang kini mendapat tatapan aneh dari nona nya itu.


"Nona, ada apa?"


Senja hanya diam menatap Dian tanpa berkata apa pun.


"Kau terlihat sangat cantik," lirih Senja sebelum ia meninggalkan kereta kuda tersebut.


"Hah, apa?" tanya Dian dengan ekspresi wajah yang tidak bisa didefinisikan.


"Apa aku sudah berbuat salah?" batin Dian khawatir.


Dian merasa aneh dengan komentar dari nona nya tadi. Ia merasa lebih baik mendapatkan tatapan tajam dari Muna dari pada harus mendapatkan pujian aneh dari nona nya.


"Aku harus segera meminta maaf," seru Dian sambil melangkah keluar dari gerbong kereta.


Sejujurnya saja Senja hanya memuji penampilannya sendiri saat Dian sedang menyamar sebagai dirinya. Aneh rasanya jika melihat diri sendiri pada tubuh orang lain pikir Senja saat itu.


Sayangnya Dian menganggap hal tersebut sebagai kesalahannya sehingga tanpa sadar ia berlari menuju Senja yang masih menjadi dirinya.


"Nona," teriak Dian ketika ia hendak mendekati Senja.


Semua orang yang berada di area tersebut sontak melihat Dian yang masih menjadi Senja. Mereka merasa aneh dengan kondisi Senja yang tiba-tiba berlari menuju Dian sambil berteriak kata 'Nona'.


Senja yang mendapati teriakkan dari belakang punggungnya lantas berbalik dan melihat dirinya alias Dian yang tengah berlari ke arahnya.


"Ada apa ini? Apa dia sudah tidak waras," gerutu Senja ketika Dian terus berlari mendekatinya.


"Lily, hentikan Dian," seru Senja melalui link batin yang direspon dengan senyum nakal Lily.


"Hehehe, baiklah Nona," lirih Lily bahagia tetapi sebelum hendak meluncurkan aksinya, ia dihentikan sejenak oleh Senja.


"Tunggu, jangan sampai kau membuat wajah ku terluka."


"Hah?"


"Ingat itu baik-baik."

__ADS_1


Lily sangat tidak percaya dengan perilaku nona nya saat ini namun ia juga tidak bisa membantahnya.


"Mau bagaimana lagi," gumam Lily kesal sambil membuat ilusi cahaya pada mereka yang tengah berada di area tersebut.


Ketika ilusi cahaya itu diaktifkan, Dian merasa bahwa tubuhnya kini kaku dengan langkah kaki yang semakin melambat. Senja lantas menyuruh agar Lily melepaskan manipulasi tubuh pada dirinya dan juga Dian. Beberapa saat kemudian, Senja sudah menjadi dirinya sendiri begitu pun dengan Dian.


"Lepaskan."


Perintah Senja singkat yang membuat Lily melepaskan ilusi cahayanya sehingga yang kini di lihat oleh mereka semua hanyalah Dian yang tengah berlari menuju Senja sambil berteriak kata 'Nona'.


"Apa aku salah lihat atau pendengaran ku saja yang mulai memburuk?" tanya salah satu tukang kebun yang sedang memotong rumput di taman.


"Apa cuman aku tadinya yang melihat jika pelayan itu adalah Nona Senja?" tanya pelayan lain yang masih tidak percaya dengan apa yang sebelumnya mereka lihat dan dengar.


Hal yang sama juga terjadi pada Muna dan Luna yang kebetulan berada di area tersebut.


"Apa aku salah lihat?" tanya Luna sambil menggelengkan kepalanya untuk mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Luna?" panggil Muna yang juga merasakan efek yang sama dengannya.


"Apa kau juga merasakannya?" tanya Muna setelah melihat reaksi aneh Luna sama sepertinya.


"Ya kurasa begitu," jawab Luna masih kurang yakin dengan apa yang baru saja ia lihat.


Disisi lain, Senja yang sudah menjadi dirinya sendiri kini sedang menatap tajam ke arah Dian yang tengah membeku di tempatnya.


"Dian. Kau sadar apa salah mu bukan?" tanya Senja yang membuat bulu kuduk Dian berdiri seketika.


Jujur saja Dian sadar jika perbuatannya tersebut adalah tindakan yang sangat fatal bagi mereka berdua, ia tahu bahwa sangatlah tidak etis bagi seorang wanita bangsawan untuk berlari sambil berteriak seperti itu.


"Maafkan aku, Nona," lirih Dian pasrah sambil menundukkan kepalanya.


"Angkat wajah mu."


"Ah ba, baik Nona," seru Dian kaku ketika mendengar suara dingin Senja.


"Jangan ulangi lagi," lirih Senja datar sambil meninggalkan Dian sendirian ditempatnya.


"Kalian sedang apa disini?" tanya Senja ketika ia melihat ekspresi aneh di wajah Muna dan Luna.


" ... "


Keduanya hanya diam, mereka masih memikirkan apa yang sudah terjadi disini sesaat sebelumnya.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Senja kembali ketika ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari kedua temannya.


"Aku juga tidak tahu."


"Aneh, sebelumnya Luna terlihat senang ketika melihat mu kembali tapi kini ia malah terlihat seperti orang gila," seru Zakila tidak habis pikir dengan perilaku aneh Luna sedari tadi.


"Ah iya. Maya sudah menjawab surat dari ku dan ia berkata bahwa dirinya sangat senang jika kalian mau ikut di dalam acara tersebut."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Apa kau ingin melihat apa saja yang Maya tulis di suratnya?"


"Apakah boleh?"


"Tentu saja boleh," jawab Zakila senang sambil menarik pergelangan tangan Senja untuk segera masuk ke dalam mansion.


Muna dan Luna yang ditinggalkan ditempat itu akhirnya sadar kembali. Mereka kemudian melirik ke kanan dan kiri untuk melihat area sekitar namun anehnya tempat itu sudah kosong.


"Dimana mereka?" tanya Luna kaget ketika tidak menemukan siapa pun disana.


"Kemana yang lain?" lanjutnya dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.


Muna yang melihat area yang sudah kosong hanya bisa menatap tempat tersebut dengan pandangan penuh tanda tanya sama halnya seperti Luna.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang pelayan yang datang menghampiri mereka. Pelayan itu datang setelah melihat raut wajah penuh tanda tanya dari nona nya.


"Dimana semua orang?" tanya Luna tanpa basa-basi ketika pelayan itu sudah selesai berbicara.


"Mereka semua sudah masuk ke dalam mansion putri. Mereka sudah selesai bekerja sehingga kini saatnya untuk menyiapkan makan malam."


"Begitu rupanya," seru Luna ketika ia baru saja sadar jika hari sudah petang.


"Kalau begitu dimana Senja dan Zakila saat ini?"


"Nona Zakila dan Nona Senja sekarang sedang berada di halaman belakang mansion, Nona."


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang."


"Terima kasih, Nona."

__ADS_1


Setelah mendengar dimana Senja dan Zakila berada. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk datang ke tempat tersebut. Di sana mereka bisa melihat Senja yang tengah mengobrol ria dengan Zakila sambil memegang beberapa lembar surat.


"Seru sekali kelihatannya," seru Luna ketika berjalan mendekati keduanya.


"Luna," lirih Zakila ketika ia melihat sumber suara yang berasal dari belakang punggungnya.


"Kenapa kau tadi pergi meninggalkan kami?" tanya Luna dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Itu karena kau terlihat seperti orang bodoh disana," jawab Zakila jujur dengan apa yang ia lihat saat itu.


"Oho, berani sekali kau dengan putri Kerajaan ini!"


"Ya ampun, bagaimana ini? Aku kan juga seorang putri," balas Zakila tidak mau kalah.


"Tapi pangkat ku lebih besar dari mu."


"Oh, maksudnya kau lebih gendut dari ku ya?" ejek Zakila sambil melirik tubuh Luna yang tinggi besar.


Pada akhirnya mereka berdua saling mengejek satu sama lain, baik Luna mau pun Zakila tidak ada dari mereka yang mau mengalah.


"Senja, kau sedang baca apa?" tanya Muna disela-sela pertarungan mulut Luna dan Zakila yang sedang panas - panasnya.


"Ah, ini surat dari Maya. Mau membacanya?" tawar Senja sambil menyodori kertas surat tersebut.


"Apa yang Maya katakan dalam suratnya?" tanya Muna yang mendapatkan tawa lucu dari Senja. Sejujurnya Senja tahu jika Muna bukan tipikal yang suka membaca sehingga sejak awal itu mustahil baginya untuk melihat.


"Maya menuliskan jika ia sangat senang mendengar bahwa kita akan datang dalam acara tersebut. Maya juga berpesan untuk datang sehari lebih awal untuk bisa menyiapkan segalanya bagi kita nantinya di pesta itu."


"Hmm, baiklah," lirih Muna acuh sambil melihat pertarungan kedua sahabatnya itu.


Pada malam harinya disaat makan malam, Cavil terus saja menatap tajam pada Senja yang sedang menikmati makanannya.


"Nona, apa aku buat saja dia sakit perut?" tanya Ristia tidak suka ketika nona nya terus dipelototi seperti itu.


"Biarkan saja," jawab Senja acuh tak acuh yang membuat Ristia semakin kesal.


"Tapi Nona..."


"Jika kau melakukannya maka kita dalam masalah besar nantinya, jadi tenanglah," seru Senja dingin ketika Ristia tetap kekeh dalam niatnya.


"Baik Nona," lirih Ristia tabah dengan reaksi tidak pedulinya Senja.


Setelah makan malam yang tegang, akhirnya masing-masing dari mereka memutuskan untuk berpisah. Luna dan Zakila akan pergi ke istana untuk memberikan surat undangan resmi kepada Raja perihal pesta kedewasaan di Kerajaan Aruna, sedangkan Muna harus mengikuti ayahnya ke ruang kerja Marques untuk membicarakan hal yang penting.


"Akhirnya, aku bebas," seru Senja ketika ia sedang menikmati suasana taman di belakang kamar tidurnya.


"Nona, saya akan bawakan teh hijau kesukaan anda," lirih Dian sambil berjalan pergi meninggalkan Senja sendirian di taman.


"Bulan yang indah," gumam Senja sambil melihat-lihat pemandangan langit di atasnya.


Dari jauh seorang pria dewasa tengah mengamati sikap Senja yang setelah makan malam langsung pergi menuju taman. Pria itu terus saja menatap Senja dari balik pohon yang letaknya tidak jauh dari taman.


"Kau terlihat sangat aneh," batin Cavil yang kembali teringat kejadian tadi sore yang menimpa hampir sebagian besar pelayan disana.


"Lihatlah itu, mereka terlihat seperti semut yang sedang mengerubungi kue ," lirih Cavil sambil terus menatap gerbong kereta kuda yang memasuki mansion winter.


"Wajahnya sangat dingin bahkan setelah keluar begitu lama dari persembunyiannya," lanjutnya masih dengan menatap sosok Senja yang tengah keluar dari gerbong kereta.


Anehnya setelah Senja keluar gerbong, ia terlihat sedang meneriaki pelayannya yang pergi terlebih dahulu. Pelayan itu terlihat kesal dengan sikap Senja yang berlari menghampirinya.


"Pemandangan ini sungguh lucu," ejek Cavil sambil terus menatap Senja yang kini terlihat kaku di tempatnya.


"Ada apa ini? Mengapa semuanya diam?" tanya Cavil ketika semua orang yang ada di area tersebut mengalami penghentian waktu namun anehnya hanya pelayan Senja saja yang bisa bergerak.


"Ini aneh, sihir macam apa yang ia gunakan sekarang," seru Cavil ketika ia sama sekali tidak bisa menyentuh sihir dari pelayan yang sedang menatap tajam pada sang majikan.


"Siapa pelayan itu..."


Perkataan Cavil terhenti ketika tubuh si pelayan berubah menjadi Senja begitu pula sebaliknya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


Cavil terus bertanya tanpa henti, wajahnya terlihat bingung sambil terus mengamati Dian yang kini berubah menjadi Senja.


"Sihir apa yang wanita itu gunakan saat ini?" tanya Cavil ketika Senja sudah ditarik paksa oleh temannya untuk memasuki mansion.


"Sekarang aku yakin jika itu adalah diri mu yang sesungguhnya, tapi mengapa? Ada alasan apa sehingga kau bertukar peran dengan pelayan mu?"


Cavil bertanya tanpa henti ketika sosok Senja mulai hilang dari balik pintu masuk ruang utama.


"Siapa kau sebenarnya," lirih Cavil sebelum Senja benar-benar menghilang dari pandangan matanya.


Ingatan demi ingatan terus mengalir di dalam kepala Cavil. Ia terlihat cukup kacau ketika mengingat setiap memori kejadian yang terjadi saat itu. Memori itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak dengan bunyi yang menyiksa telinga.

__ADS_1


"Aku bisa gila jika terus seperti ini," gumam Cavil sambil mencengkeram erat cabang pohon di hadapannya.


"Aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya,"


__ADS_2