
"Sosok yang sama belum tentu memiliki kekuatan yang sama pula, mereka terlihat mirip namun berbeda dalam satu waktu."
*****************#####*****************
Setelah perbincangannya dengan Uriq selesai, Senja memutuskan untuk sedikit bersantai di salah satu meja yang berada dekat dengan bartender.
Disana Senja dapat dengan jelas melihat wanita muda yang sejak awal ia waspadai. Wanita itu tampak begitu senang dengan tumpukkan cip di mejanya.
"Dia terlihat sangat bahagia," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Dian.
Dian mencoba untuk melihat arah pandang nona nya tersebut, semula ia terlihat bingung sampai akhirnya ia menyadari alasan mengapa nona nya menjadi kaku saat pertama kali memasuki bar.
"Ah, jadi begitu. Dia orangnya," batin Dian sambil mengingat cerita dari Eza mengenai wanita gila yang mendekati nona mereka.
"Dia cantik, tubuhnya juga sexy dan..."
Perkataan Dian terhenti ketika ia menatap kearah payudara besar milik wanita tersebut.
"Tidak ada yang kurang darinya." lanjut Dian sambil menelan saliva nya.
Senja hanya menatap tajam kearah wanita tersebut sambil sesekali memainkan Pow Kun yang lembut.
"Dia sangat pandai, tapi aku harus bisa menahan diri."
"Ristia, bagaimana pengamatannya?"
"Sama sekali tidak ada reaksi Nona, baik itu darinya atau pun hewan sucinya."
"Itu aneh..."
"Hah, maksud Nona?"
"Lupakan."
Senja kemudian memutuskan link antara dirinya dan Ristia.
Senja kembali berfikir tentang kejadian saat ia menekan Uriq pada saat perjanjian dimulai namun anehnya tekanan itu bahkan tidak dirasakan olehnya.
"Ini aneh," lirih Senja datar yang masih menatap tajam kearah wanita tersebut.
"Bagaimana bisa Kaira tidak menyadari keberadaan ku? Ini berbeda dari saat itu," batin Senja bingung ketika membayangkan pertemuan pertamanya dengan Kaira.
"Tidak mungkin dia menonaktifkan kekuatannya bukan?"
Senja kembali bertanya dalam hatinya mengenai keanehan yang saat ini sedang terjadi.
"Sial, apa aku harus mencobanya disini?"
Senja terlihat sangat kesal setiap kali ia melihat wajah kaira yang tersenyum lebar.
"Ada apa Nona?"
"Tidak ada."
"Apa anda yakin?"
"Tentu."
Senja yang merasa frustasi kemudian berdiri dari duduknya, lalu pergi menuju salah satu gim yang ada didepannya itu.
"Ini lebih baik," gumam Senja saat menduduki kursi gim tersebut. Ia kemudian menatap sekilas pada Dian dan mulai merogoh saku pakaiannya.
"Pergilah bermain."
Senja kemudian melemparkan sekantong koin perak dari sakunya untuk Dian.
"Nona, ini..."
Dian menjeda perkataannya sambil menimbang koin perak yang ada di dalam kantong tersebut.
"... Ini banyak sekali." lanjutnya saat melihat tumpukan uang koin ditangannya tersebut.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
Senja bertanya dengan datar saat permainan gimnya dimulai.
"..."
__ADS_1
"Aku menyuruh mu untuk bermain agar aku bisa mendapatkan keuntungan lebih. Lagi pula, kau harus mengembalikan uang ku ke kondisi semula. Jika tidak, maka uang saku mu yang akan jadi gantinya."
"..."
Dian yang kesal dengan sikap Senja hanya bisa menatap tajam kearahnya. Dian tidak mengira jika nona nya itu akan memanfaatkan dirinya untuk keuntungan lebih, selain itu jika Dian gagal maka seluruh uang sakunya akan menghilang.
"Sial," batin Dian kesal sambil menggenggam erat kantong koin ditangannya.
"Nona, anda sangat licik," bisik Dian tepat ditelinga Senja.
"Aku tahu," balas Senja acuh tak acuh sambil tetap fokus ke layar gim yang sedang menghitung mundur.
Dian yang kesal kemudian pergi meninggalkan Senja menuju meja kasino dimana banyak sekali para tamu yang sedang bermain. Dian tanpa ragu menukarkan seluruh isi kantong koin tersebut dengan cip, ia kemudian meletakan cip - cip itu di atas meja.
"Aku akan memenangkan mereka semua, dan tentu saja aku harus meminta gaji lebih untuk ini."
Dian lantas tersenyum nakal saat sambutan cipnya diterima oleh para pemain lain.
"Mari kita memanen,"
Disisi lain, Uriq yang kondisinya sudah cukup stabil mencoba untuk keluar dari bar tersebut. Saat dijalan ia sempat melirik sekilas pada Dian yang saat ini sudah mengumpulkan banyak cip di mejanya. Uriq lantas menghela nafas lega saat melihat betapa hebatnya Dian dalam bermain judi.
"Untuk saja kepekaan ku tinggi, jika tidak. Maka posisi mereka saat ini akan menjadi milik ku," batin Uriq kasihan melihat para pengunjung yang kehilangan uangnya.
"Ckckckc, malangnya,"
Para pengunjung merasakan rasa sial yang mendalam, pasalnya saat ini ada dua meja yang di isi oleh dua gadis muda yang tengah bermain judi dengan sangat alih.
"Yang satunya adalah si cantik yang sexy, sedangkan yang lain adalah si misterius yang licik," seru salah seorang tamu yang menyaksikan kedua meja tersebut.
"Mereka terlihat seperti sedang berburu uang disini. Beruntung aku tidak berada di meja yang sama dengan mereka." lanjutnya penuh dengan perasaan ngeri.
"Bodoh sekali mereka yang ingin menantang kedua gadis tersebut. Anehnya aku merasa jika kedua gadis itu memiliki kemampuan yang sama namun berbeda disaat yang bersamaan pula," batinnya saat melihat tumpukan cip di atas meja keduanya.
Senja sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi disana. Ia hanya fokus dalam permainan gimnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kun dan Ristia, mereka berdua hanya tertidur malas di pangkuan Senja tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
"Ini mudah sekali," seru Senja saat ia mendapatkan uang yang bahkan lebih banyak dari milik Dian atau pun Kaira.
"Kini, giliran mu sayang," lirih Senja pada mesin gim yang berada di sampingnya.
Jujur saja sudah hampir dari seluruh gim diarea itu berhasil ia taklukan namun anehnya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya sejak awal.
"Saatnya memburu," batin Senja senang dengan uang yang ia dapat.
Senja tidak peduli jika tidak ada yang melihatnya atau bersorak dengan apa yang sudah ia dapat. Ia malah bersyukur karena bisa bermain dengan bebas.
"Ini yang terakhir," lirih Senja sebelum duduk di kursi gim dihadapannya tersebut.
"Bagus Dian, aku suka kerja keras mu," gumam Senja saat melihat Dian mendapatkan banyak cip di mejanya.
"Hah, apa dia berniat untuk bertarung?" lanjut Senja ketika ia melihat tumpukan cip yang tidak kalah banyaknya dari Dian di atas meja Kaira.
"Apa pun itu aku tidak peduli," batinnya sambil memasukan koin ke dalam mesin gim tersebut.
"Aku akan mendapatkan mu lagi sayang," lirih Senja dengan senyum nakalnya.
Kaira yang sudah mendapatkan banyak cip dari permainannya mulai mengerutkan kening saat melihat meja yang berada tidak jauh darinya yang di penuhi oleh begitu banyaknya para pelanggan. Ia mencoba menyipitkan kedua matanya untuk bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi disana.
"Ada aoa itu?"
"Mereka sedang melihat apa?" lanjutnya penuh penasaran, ia kemudian memutuskan untuk melihat sumber dari kekacauan tersebut.
"Hah, dia lumayan juga," batin Kaira saat melihat cara bermain Dian dalam mengalahkan lawannya.
"Dia baru saja bermain, tapi cipnya sudah banyak sekali," seru seorang pria yang berdiri disamping Kaira.
"Kau benar, aku jadi takut untuk bermain dengannya," timpal temannya yang lain sebelum mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Menarik sekali," gumam Kaira pada dirinya sendiri. Jujur saja Kaira merasa tertantang untuk bermain dengan Dian.
"Gadis ini sangat misterius, ia menggunakan topeng untuk menutupi identitasnya. Meski begitu, melihat dari caranya bermain sepertinya ia sudah berpengalaman," batin Kaira sebelum ia duduk di salah satu kursi yang kosong di meja tersebut.
"Aku jadi penasaran, seperti apa wajah dibalik topeng itu." lanjut Kaira sambil melemparkan beberapa cip keatas meja.
Dian yang melihat kehadiran Kaira hanya bisa diam sambil menatap tajam kearah wanita muda tersebut.
"Ingin bermain rupanya,"
__ADS_1
"Baiklah, mari kita lihat siapa yang paling ahli disini," lirih Dian pelan pada dirinya sendiri sambil melemparkan sejumlah cip yang sama dengan yang dikeluarkan oleh Kaira sebelumnya.
Kaira sedikit tersentak kaget saat tanpa sengaja melihat senyum aneh dari balik topeng Dian. Senyum itu tampak sangat jahat sekaligus menggoda sehingga membuat wajah Kaira mengkerut secara perlahan.
"Apa dia sedang menertawakan aku?" batin Kaira mencoba menafsirkan maksud dari senyum lawannya tersebut.
Setelah kedua belah pihak sudah memberikan jumlah cipnya, maka permainan pun dimulai. Bandar kartu segera memberikan masing - masing dari mereka dua buah kartu yang nilainya tidak diketahui.
Melihat dari wajahnya Kaira sepertinya kartu yang ia dapat sangatlah bagus. Dian sendiri hanya diam menatap kartunya saat Kaira mencoba menaikan lagi jumlah cipnya.
"Aku tambah," seru Kaira sambil melemparkan beberapa cip keatas meja.
"Sepertinya kartu mu sangatlah bagus."
Kaira hanya tersenyum simpul saat mendengar perkataan Dian tentang kartunya.
"Apa anda lanjut?" tanya Bandar saat Dian diam menatap kearah Kaira yang tersenyum.
"Aku, lanjut," jawab Dian sambil melemparkan cipnya keatas meja.
Beberapa saat setelah Bandar memberikan kartu yang lain kepada keduanya, lagi - lagi Kaira menaikan jumlah cipnya dengan signifikan. Kali ini sepertinya Kaira sangat yakin dengan kartunya.
"Wanita gila yang bodoh," batin Dian saat melihat tumpukan cip yang diberikan oleh Kaira.
"Aku rasa Eza akan sangat berterima kasih dengan ku kali ini." lanjutnya sambil melemparkan jumlah cip yang jauh lebih besar dari milik Kaira.
Para tamu yang melihat hal tersebut hanya bisa menelan saliva mereka yang terasa pahit. Mereka tidak pernah melihat ada penjudi yang bermain begitu gila seperti ini.
"Siapa pun yang menang, mereka pasti akan kaya," bisik salah seorang tamu yang sedang menyaksikan hal tersebut.
"Kau benar, jumlah ini bahkan bisa membeli sebuah rumah dan sepetak tanah di ibu kota," timpal temannya yang mendapatkan anggukan kepala dari orang - orang sekitar.
Harga rumah dan tanah di ibu kota sangatlah mahal sehingga jika mereka bisa membelinya itu berarti mereka adalah orang kaya yang bisa dikatakan sangat kaya, bahkan untuk keluarga Baron saja mereka akan sangat kesulitan untuk bisa mendapatkan rumah mewah di ibu kota.
Saat semua mata masih tertuju dengan Dian dan Kaira, Senja sudah hampir menyelesaikan permainan gimnya. Senja terlihat sangat bahagia saat menyuruh Kun untuk menyimpan uangnya ke dalam ruangan rahasia. Ruangan rahasia adalah ruangan yang hanya dimiliki oleh hewan magic legendaris tingkat tinggi dan salah satunya adalah milik Kun dan Vanilla.
"Dengan ini aku akan mengakhirinya," seru Senja sebelum permainan berakhir.
"Hahaha"
Senja tertawa senang saat gim tersebut mengeluarkan koin yang banyak ketika permainan sudah diselesaikan.
"Aku untung banyak kali ini," batin Senja sambil mengambil koin tersebut dan memasukannya kedalam ruangan rahasia Kun.
Setelah dirasa cukup, Senja memutuskan untuk keluar dari bar, namun betapa kagetnya ia saat melihat Kaira dan Dian sedang bertaruh di atas meja kasino.
"Ada apa ini?" gumam Senja dalam hatinya ketika melihat sorakan penonton yang menyaksikan perjudian tersebut.
"Pantas saja tidak ada yang peduli dengan ku," lirih Senja sebelum menggendong Kun naik ke pundaknya.
"Kun, sampaikan pada Dian untuk segera mengakhiri ini kegiatannya," seru Senja saat melangkah pergi dari area gim judi.
"Biarkan saja dia,"
"Aku tidak masalah jika Dian bermain dengan uangnya namun itu adalah milik ku. Tentu saja Kaira tidak akan mudah dikalahkan atau pun mau mengalah."
"Hah, sialan."
Kun terlihat kesal sebelum melompat dari pundak Senja menuju kaki Dian.
"Hei, manusia. Nona mu menyuruh untuk berhenti," link Kun pada Dian yang membuat Dian sekilas melirik kearah area gim yang sudah kosong.
"Cepatnya,"
"Datanglah ke kafe dengan cepat karena tidak ada yang mau menunggu mu disini." lanjut Kun kemudian berlari pergi menuju Senja yang sudah berada di depan pintu bar.
Dian hanya diam menatap Senja yang sudah keluar bersama dengan Kun di pelukannya. Ia kemudian kembali menatap keatas meja dengan pandangan sedih.
"Sayang sekali," batin Dian pasrah sebelum memasukan cipnya ke dalam kantong ajaib.
"Aku pikir ini bisa berkahir lebih lama." lanjutnya sambil melihat tumpukan cip milik Kaira yang masih belum ia dapatkan.
"Yah, meski begitu. Ini sudah cukup," gumamnya saat memasukan cip Kaira yang baru saja ia dapat.
"Segera tukar ini," seru Dian pada salah seorang pelayan bar yang sejak tadi berdiri disampingnya.
"Baik, Nona,"
__ADS_1
Dian kemudian kembali duduk sambil melihat wajah merah padam Kaira. Wajah itu tampak siap meledak kapan saja.
"Gawat, sepertinya ini akan lama."