
"Kekuatan akan membawa mu pada kemenangan dan rasa sakit."
********************#####*******************
Guild Moonlight
Alunan melodi bergema riang di seluruh ruang bawah tanah. Irama klasik yang indah membawa ketenangan bagi siapa saja mendengar.
Musik terus berlanjut dengan keceriaan yang datang dari setiap liriknya. Namun keceriaan itu berbanding terbalik dengan wajah para penikmat musik itu.
Mereka terlihat tegang, dengan wajah pucat dan keringat dingin yang menetes sekujur tubuhnya tubuh.
"Apa yang membuat nona semarah ini?" batin mereka semua penuh tanda tanya.
Pasalnya baru beberapa saat yang lalu nona mereka terlihat tenang. Tapi setelah surat itu datang, semuanya jadi kacau. Mereka tidak tahu apa isi dari surat itu namun yang pasti saat ini mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Apa sudah semua?" tanya Senja pada Dian yang sedari tadi berdiri disebelahnya.
"Belum Nona, kami tengah menunggu Nindia dan Agra."
"Hah, surut mereka cepat."
Dian hanya mengangguk sebagai tanggapan. Ia kemudian melirik sekilas pada Aslan yang dibalas anggukan pelan. Setelahnya Aslan pun menghilang dari ruang bawah tanah.
"Hah,"
Helaan napas panjang Senja sekali lagi berhasil membuat bawahannya bergidik ngeri. Semakin lama mereka disana, semakin tersiksa pula lah mereka.
"Rencana ini sangat berbahaya, pantas saja Lucas terlihat pusing. Jika ini terus berlanjut maka latihan ku akan terganggu nantinya."
Jujur saja Senja kesal setiap sesi latihan dilakukan, apalagi yang mengajar adalah Lucas. Namun Senja tidak bisa bohong jika Lucas memang memiliki kekuatan yang layak sebagai seorang guru.
"Ya, meski cara mengajarnya cukup unik tapi itu lumayan ampuh juga."
Setelah membaca surat itu Senja menjadi yakin bahwa kekuatan sangatlah penting dalam melawan pangeran kelima. Tidak hanya dirinya, bahkan bawahannya pun juga sama.
"Setidaknya mereka harus urutan sepuluh untuk bisa mengalahkan level elit. Meski berbeda tingkat jika ditutupi dengan senjata mana mungkin saja mereka akan menang."
Senja terus memperhatikan para bawahannya sambil memikirkan isi surat. Ia melihat mereka dengan pandangan dingin sebelum memilih untuk membakar surat itu.
"Bagaimana pun juga mereka harus maju." gumam Senja sambil memikirkan isi surat yang kini sudah menjadi abu.
Dalam surat itu Agra menjelaskan jika Helios sedang mempersiapkan pasukan penyerbuan. Pasukan itu terdiri dari tentara bayaran yang dulu berafiliasi dengan dengan pembunuhan Senja.
Assassin itu juga yang mereka kirimkan untuk melukai kelompok Luna saat ujian tingkat berlangsung. Senja tidak tahu apa yang diinginkan Helios di akademi.
Senja tahu jika Selir Jina sangat terobsesi dengan tahta tapi istana dan akademi adalah dua hal yang berbeda. Semakin dipikirkan semakin Senja tidak habis pikir dengan metode busuk mereka.
__ADS_1
"Helios baji**an. Apalagi ulahnya kali ini."
Senja semakin mual setiap kali mengingat wajah Helios. Ia merasa bahwa wajah tampan Helios sangat cocok bersanding dengan sampah. Sungguh memuakkan hingga membuat lambung Senja merinding.
"Nona!" bisik Dian pelan.
"Nona," lanjutnya kembali saat tidak mendapati respon dari Senja.
"Nona, anda sedang apa?" tanya Dian sambil memukul ruangan pundak Senja.
"Ah, astaga." Senja sedikit terkejut sebelum sepenuhnya pulih dari rasa mualnya.
"Dian, sudah?"
"Sudah nona, anda bisa memulainya sekarang."
Segera Senja berdiri dari duduknya dan mulai memperhatikan bawahannya itu dengan tajam. Satu-persatu dari mereka ditatap lekat oleh Senja. Ia merasa tingkatan mereka terlalu rendah hingga ingin menangis melihatnya.
"Dian, berapa level mereka semua?"
"Aslan, Sean dan Hana sudah berada dilevel enam Nona. Sedangkan Wira, Olaf dan Hazel berada di level lima."
"..."
"Agra dan Rima berada di level enam, sedangkan Moretti dan Dennis berada di level tujuh. Serta para alchemist seluruhnya berada di level lima."
"Kau?"
"Hah."
Wajah Dian terlihat pucat, siapa pun yang melihatnya merasa kasihan. Mereka tahu betul betapa sibuknya Dian dalam mengatur seluruh jadwal nona. Itulah mengapa tidak ada yang berani pada Dian meskipun ia hanyalah wanita.
"Nindia?"
"Saya, tujuh Nona."
Senja diam sesaat, ia merasa bingung harus menyerahkan bawahannya pada siapa untuk dilatih. Awalnya Senja ingin menyerahkan mereka pada Kun tapi Kun ahli sihir bukan kstaria jadi dia sedikit sulit untuk melatih mereka.
Suasana semakin tegang saat Senja hanya diam setelah menanyakan level masing-masing dari mereka. Tidak ada yang tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh nona mereka tapi yang pasti perasaanya sangat tidak bagus.
"Satu tahun, aku beri kalian waktu satu tahun untuk bisa naik ke tingkat 10."
Perkataan Senja yang tiba-tiba sontak membuat bawahannya melongo kaget. Mereka tidak menyangka jika Senja akan mengatakan hal konyol seperti itu.
Pasalnya sangat sulit untuk naik level meskipun hanya satu tingkat. Setidaknya mereka butuh dua hingga tiga bulan untuk naik ke tingkat berikutnya.
Seperti yang diketahui semakin tinggi tingkat yang ingin diraih maka semakin sulit pula hal itu didapatkan. Biasanya butuh waktu lima hingga tujuh bulan untuk bisa naik ke tingkat tujuh dan ini mereka harus naik ke tingkat sepuluh dalam waktu satu tahun.
__ADS_1
"Nona sudah gila," batin mereka yang terpampang jelas dan wajah masing-masing.
"Apa kalian sedang mengatai ku gila?"
"Tidak nona, tidak!" teriak mereka semua secara bersamaan.
Senja hanya memegangi telinganya yang sakit karena mendengar teriakan bawahannya itu. Terlebih lagi ruang bawah tanah terisolasi dari luar jadi semakin bergema pula suara mereka di tempat itu.
"Meski sakit aku harus tetap terlihat kuat," gumam Senja dengan ekspresi wajah acuh tak acuh.
"DIAM."
Bentak Eza yang mulai tidak senang dengan mereka.
"Betapa tidak sopannya kalian!" lanjutnya dengan tatapan mata dingin sedingin kutub es.
"Wow, semuanya langsung diam, bahkan Dian sampai kaget mendengar teriakan Eza. Luar biasa."
Senja memberikan dia jempolnya pada Eza dengan senang hati. Menurutnya hanya Eza yang bisa tenang dalam kondisi seperti ini.
"Aku punya solusi agar kalian dapat naik dalam waktu singkat, tapi sebelum itu apa sudah siap?" tanya Senja dengan senyum dinginnya.
Tanpa sadar seluruh tubuh mereka menggigil ketakutan. Mereka seperti berada di persimpangan antara jurang dan hewan buas. jika mundur mereka akan masuk jurang dan jika maju mereka akan dimakan hewan buas.
"Glup,"
Dennis dengan canggung menelan saliva yang mengering. Ia tidak bisa berbuat apa pun pada tekanan ekstrim seperti ini.
"Nona, saya siap." seru Dian yang kini mendapatkan tatapan aneh dari rekannya.
"Memang Dian sangat dekat dengan Nona tapi untuk bisa menjawab dalam tekanan seperti ini, dia memang layak dipuji." batin rekan Dian yang masih sulit mengendalikan tubuh mereka.
"Nona, saya juga bersedia." seru Nindia yang tidak mau kalah dengan Dian.
Nindia sadar jika saat ini ia masih kurang dalam menjaga nona nya. Namun jika ada kesempatan untuk berubah maka ia siap melakukannya meski harus membayar mahal.
"Aku tidak menyadarinya sejak tadi karena merasa mual setelah mengingat baji**an itu. Tapi sekarang aku sadar mengapa Kun sangat membenci Nindia."
Senja sedikit memegang perutnya agar tidak mulas. Ia merasa aroma Nindia yang samar cukup membuatnya mual. Meski jarak antara keduanya sangat jauh tapi aroma mana mati yang menguar dari tubuh Nindia cukup membuat Senja merasa ingin muntah.
"Meski pun aku tahu jika batu mana tidak berfungsi pada peri kegelapan. Pasti ada cara lain yang bisa membuat Nindia semakin hebat. Aku harus bertanya ini pada Basel nanti nya."
Setelah keduanya memutuskan untuk setuju, akhirnya satu persatu dari bawahan Senja menyetujui usulannya. Mereka akan mendengar detailnya lebih lanjut dari Lily yang baru saja tiba.
Senja sengaja memanggil Lily untuk menjelaskan segalanya karena ia terlalu mual berada lama di ruangan yang sama dengan Nindia.
Senja sedikit merasa bersalah tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa jika perasaan mual ini terus muncul padanya.
__ADS_1
Untung saja Lily mau diajak kompromi jadi Senja bisa sedikit tenang sebelum melanjutkan teleportasi nya menuju ruang bawah tanah permaisuri Mawar.
"Aku harus segera bertemu Sera."