
"Ketika rasa penasaran semakin besar dan tidak terpenuhi maka kekosongan yang akan menggantikannya ."
******************#####*****************
Suasana akademi tampak sangat tentram terlebih lagi setelah nilai penuh yang diberikan oleh Miss Aila membuat para siswa menjadi lebih bersemangat untuk ujian hari berikutnya.
Namun sayangnya hal itu tidak berpengaruh pada Senja. Ia masih saja memikirkan Miss Aila yang kelewat baik terhadap semua siswa. Senja merasa bahwa inilah alasan mengapa Miss Aila hanya bisa menjadi guru magang dan tidak pernah diangkat menjadi guru tetap.
"Sayang sekali padahal Miss Aila memiliki potensi besar untuk menjadi guru tetap." gumam Senja sembari memasuki area taman asramanya.
Senja memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman asrama. Ia merasa membutuhkan udara segar dan taman adalah solusi terbaik dari segala pilihan yang ada.
"Selain itu aku sudah beberapa hari tidak bertemu dengan mereka," lirih Senja seraya menatap kamar para sahabatnya.
Senja tidak tahu apa yang sedang dilakukan sahabatnya, apa mereka berhasil lolos dari jebakan Dira atau tidak. Senja juga tidak tahu apakah ujian Zakila berjalan dengan lancar atau tidak.
Senja benar-benar tidak tahu tentang kondisi sahabatnya, sama sekali tidak tahu. Senja sempat berpikir jika ia terlalu cuek terhadap mereka tapi ia juga bingung bagaimana harus menunjukkan perhatiannya.
"Rasanya aneh saat kamu menunjukkan seluruh isi hati mu pada seseorang," batin Senja dengan ekspresi yang tidak bisa didefinisikan.
Senja kemudian memilih untuk berbaring di rumput, ia tidak ingin duduk di kursi karena sangat menggangu jika ada siswa lain yang melihatnya.
"Lebih baik seperti ini," gumam Senja saat dirinya sudah terbaring diatas rumput.
Senja lalu melihat pemandangan di hadapannya, disana terdapat hamparan luas langit biru dengan awan putih yang bergerak mengitari garisnya.
"Sungguh pemandangan yang indah dan hal itu akan semakin indah jika mereka ada disini," lirih Senja sembari membayangkan wajah keempat sahabatnya itu.
Senja kemudian menutup matanya, ia ingin menikmati keharuman bunga dan suasana tenang di taman. Rasanya sangat menyenangkan dan perasaan itu membuat Senja tanpa sadar tertidur lelap.
Lama Senja tertidur di taman hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dengan malas Senja membuka matanya dan melihat sekeliling dengan pandangan kesal.
"Ugh sial, aku lupa makan malam." gerutu Senja saat merasakan nyanyian merdu cacing di perutnya.
Segera Senja duduk dari tidurnya, ia kemudian berdiri dan berencana untuk pergi ke kafetaria dan makan malam disana. Meski makanan yang disajikan tidak banyak tapi itu sudah cukup untuk mengurangi rasa laparnya.
"Ugh, lezatnya." seru Senja sambil membayangkan steak lezat beraroma asam manis.
Senja yang sudah tidak tahan kemudian menyeka air liur yang mengalir di bibirnya. Senja dengan pasti mulai melangkah pergi dari taman.
Sayangnya baru beberapa langkah Senja sudah dikagetkan dengan suara bentakan keras. Dengan panik Senja segera kembali ke posisi awalnya dan duduk diam disana.
"Kau seharusnya tidak begitu," teriak sosok itu yang suaranya terdengar seperti seorang gadis muda.
"Aku, aku tidak melakukannya!" balas suara bariton yang terdengar gugup.
__ADS_1
Dari kedua suara itu Senja bisa mengetahui bahwa sosok yang sedang bertengkar di dekatnya adalah sosok pria muda dan gadis muda yang usianya tidak jauh berbeda dari Senja.
"Aku lapar sekali, tidak bisakah kalian pergi." gerutu Senja kesal.
Jujur saja Senja tidak suka dengan kondisinya saat ini. Ia seakan seperti seorang penguping yang sedang mengumpulkan informasi untuk digosipkan.
Selain itu Senja dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang didebatkan keduanya. Dari obrolan mereka Senja dapat menyimpulkan bahwa pria dan wanita itu sedang kecolongan sesuatu.
"Sudah aku katakan berapa kali bahwa dia sangat berbahaya, seharusnya kau mendengarkan aku."
"Maaf, aku sudah berusaha."
"Apanya yang berusaha hah? Apa kau tidak lihat itu?"
Wanita itu terus berteriak sehingga membuat si pria merasa begitu terintimidasi. Senja yang sudah malas mendengarkan perdebatan mereka, kemudian memutuskan untuk merangkak pergi dari tempat itu.
"Aku harus bersusah payah seperti pencuri agar mereka tidak mengetahui bahwa aku ada disini." keluh Senja kesal.
Senja marah karena dirinya terlihat seperti sedang menghindari sesuatu yang bahkan tidak ia lakukan. Namun Senja sadar jika tidak secara terang-terangan muncul dihadapan keduanya maka masalah besar pun akan terjadi.
"Nama baik ku memang susah buruk tapi akan bertambah buruk lagi jika aku ketahuan menguping seseorang."
Secara perlahan Senja berhasil merangkak jauh dari posisi awalnya. Namun ketika Senja sudah hampir berhasil lolos dari tempat itu ia tidak sengaja mendengar sang pria meneriaki nama 'Alisa'.
Dengan perasaan tegang sekaligus penasaran Senja dengan refleks membalikan wajahnya. Ia kembali melihat kearah sumber keributan tersebut dengan pikiran penuh tanda tanya.
Ketika Senja berusaha untuk memastikan pendengarannya, ia sekali lagi mendengar pria itu meneriaki nama Alisa.
Senja yang rasa penasarannya sudah sampai ubun-ubun segera merangkak kembali ke posisi awalnya. Kali ini Senja berniat untuk melihat kedua wajah sejoli itu.
Perlahan namun pasti Senja berhasil mendapatkan posisi strategis untuk mengamati lokasi kejadian. Ia kemudian menggunakan kedua tangannya yang bebas untuk menyingkirkan beberapa helai tangkai bunga agar dapat melihat lebih jelas.
Ketika tangkai bunga berhasil disingkirkan, benar saja dugaan Senja. Disana ia melihat sosok Alisa dan Ronald yang sedang berdebat hebat. Terlihat juga bahwa Alisa sangat mendominasi pertikaian tersebut.
"Aku dengan baik hati menerima saran mu, tapi apa ini?" bentak Alisa sekali lagi.
"Aku, aku juga tidak tahu. Aku tidak menyangka hal itu akan terjadi." balas Ronald dengan mulut yang bergetar.
"Sialan kau Ronald, karena mu aku harus bersusah payah." maki Alisa tidak senang.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Dia gadis yang baik, apa kau tidak kasihan padanya?"
"Kasihan? Hahahaha apa yang harus aku kasihani dari dia?" tanya Alisa dengan ekspresi wajah mengejek.
"Dia memiliki pengawal yang hebat, apa kau tidak bisa melihat itu?" lanjut Alisa kembali.
__ADS_1
"..."
Ronald hanya diam, ia seakan enggan untuk membalas perkataan Alisa.
"Ronald, yang perlu dikasihani itu kita bukan dia. Apa kau tahu betapa sulitnya aku untuk bisa sampai di posisi ini."
"..."
Ronald tetap diam, Alisa yang kesal mulai mengguncang tubuh Ronald dengan kasar. Terlihat jelas jika dirinya sangat marah dengan apa yang telah dilakukan Ronald.
"Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi jujur saja aku sangat khawatir dengan kondisi Ronald saat ini." batin Senja yang kasihan saat melihat ekspresi ketakutan dari Ronald.
"Jawab aku bre**sek...!"
"Alisa, aku bla bla..."
Senja sangat asik mendengar perdebatan keduanya sehingga ia tanpa sadar mengabaikan suara nyaring di perutnya. Menurut Senja apa yang sedang didebatkan Alisa dan Ronald adalah informasi penting mengenai sesuatu.
"Aku suka itu, lanjutkan." batin Senja dengan sudut bibir yang terangkat. Ia seakan menikmati drama di hadapannya itu.
"Alisa, aku mohon sekali ini saja."
Ronald meringis dengan sedih, ia tidak bisa melepaskan pergelangan tangan Alisa dan tetap menjaganya disisinya.
"Sialan, apa kau tidak tahu betapa berbahayanya Amir. Dia itu.... mmppm..."
Belum selesai Alisa berbicara mulutnya sudah ditutup paksa oleh Ronald. Dan hal itu tentu saja tidak luput dari pandangan Senja.
"Apa yang ingin Alisa katakan tentang Amir? Mengapa Ronald dengan paksa menghentikannya?" batin Senja bingung.
Jujur saja Senja ingin mendengar lebih banyak lagi tapi sayang Ronald dengan hati-hati memperhatikan sekelilingnya sebelum menarik paksa Alisa menjauh dari taman.
"Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Alisa." gumam Senja bingung.
"Amir berbahaya? Seberapa berbahayanya dia dan kenapa?"
Senja terus aja bertanya tapi ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Senja tidak tahu sama sekali mengenai mereka, baik itu Alisa, Ronald, bahkan Amir.
Yang Senja ketahui dari ketiganya adalah mereka merupakan sosok yang aneh dan pendiam. Ketiganya secara tidak langsung telah menampilkan sosok lemah dihadapan Senja.
"Aku bingung," gumam Senja sembari berjalan pelan menjauh dari taman.
Senja ingin segera kembali ke kamar asramanya namun entah mengapa suara nyanyian merdu perutnya mulai berdengung dengan kencang.
"Sial, aku lupa sesuatu." gerutu Senja sembari menyentuh perutnya.
__ADS_1
Senja kemudian memutuskan untuk pergi ke kafetaria dan menikmati makan malamnya. Sayangnya karena informasi yang berlebihan Senja jadi tidak tahu apa yang sedang ia makan.
Bagi Senja makanan itu terasa seperti kapas, ia bahkan lupa telah memesan apa. Ia hanya memakan makanan itu untuk meredakan nyeri di perutnya dan bukan untuk dinikmati.