
"Setiap koin punya dua sisi begitu pun dengan manusia."
*****************#####*****************
"Nona," panggil Dennis ketika Senja hendak menaiki gerbong kereta kuda.
"Bagaimana dengan surat itu?" lanjutnya setelah tepat berada di hadapan Senja.
"Hmm, aku akan mengabari mu setelah sampai disana," seru Senja datar sebelum masuk ke dalam gerbong kereta.
"Informasikan pada mereka jika dalam waktu 4 hari kalian akan mengirimkan barangnya."
"Tapi Nona, itu berarti anda harus..."
"Aku memang harus menemui mereka dan membereskannya," lirih Senja dingin sambil menyuruh Dian untuk segera masuk ke dalam gerbong.
"Saya mengerti," jawab Dennis sebelum pintu gerbong tertutup rapat.
Perjalanan menuju kerajaan Guira setidaknya membutuhkan waktu selama 3 hari namun hal itu tidak berlaku bagi Senja dan kelompoknya saat ini.
"Dian, apa Eza sudah siap?" tanya Senja ketika kereta kuda sudah keluar dari ibu kota kerajaan Green.
"Saat ini Eza tengah mempersiapkan rasio portal Nona," jawab Dian sambil mengelus lembut bulu Kun yang sedang tidur di dalam keranjang.
"Berapa lama kita akan sampai di desa?"
"Sekitaran dua jam lagi dari sini Nona," jawab Dian yang malah mendapatkan helaan napas panjang dari nona nya.
"Hah, ini akan sangat membosankan," gumam Senja pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh Dian.
"Nona, mengapa kita tidak teleportasi dari Guild saja?"
"Itu tidak mungkin karena mereka bisa saja mengetahuinya. Hal ini terjadi karena insiden akademik sehingga seluruh bagian ibu Kota kerajaan Green saat ini sedang ditingkatkan keamanannya," seru Senja mengingat kembali apa yang sebelumnya diceritakan Luna ketika dirinya tidak sadarkan diri.
"Dian," panggil Senja datar yang disambut tatapan menyelidik dari Dian.
"Perasaan ku tidak enak," batin Dian sambil melepaskan tangannya dari tubuh Kun.
"Tenang saja aku tidak akan bertanya hal yang aneh kali ini," lirih Senja ketika melihat ekspresi kecurigaan Dian.
"Aku hanya penasaran apakah benar bahwa penyihir hitam itu ada?" tanya Senja masih kepikiran tentang apa yang sebelumnya dikatakan Count Servan.
"Hah, Nona tahu dari mana?" tanya Dian balik dengan raut wajah kaget yang malah membuat Senja merasa kesal.
"Sebenarnya kau tahu atau tidak?"
"Saya tahu Nona tapi itu sangat aneh karena penyihir hitam biasanya selalu bersembunyi."
"Jadi maksud mu mereka benar ada."
__ADS_1
"Tentu saja mereka ada tapi sebelumnya Nona mendengarnya hal ini dari siapa?"
"Aku mendengarnya dari Count Servan saat ia menceritakan kerajaan Guira pada ku."
"Ah begitu, memang benar kerajaan Guira sangat bebas bagi orang-orang seperti mereka."
"Sepertinya kau sangat ahli dalam hal itu."
"Tentu saja, akan saya ceritakan secara detail mengenainya," seru Dian yang dijawab senyum nakal Senja.
"Penyihir hitam seperti yang Anda dengar dari Count Servan, mereka adalah penyihir yang spesialis dalam ilmu hitam. Mereka juga menggunakan mana mati untuk menambah ilmu hitamnya dan karena hal itulah mereka sering dicekal."
" ... "
"Mereka juga tidak segan-segan dalam membunuh untuk bisa mendapatkan mana mati dan terkadang mereka juga menginsulin korban-korbannya dalam tabung sehingga mana mati yang dihasilkan lebih kuat," lirih Dian yang membuat mata Senja bergetar karena marah.
"Itu tindakan yang sangat kejam, bukankah mereka bisa saja mendapatkannya dari kuburan atau peninggalan perang lainnya?" tanya Senja sama sekali tidak suka dengan cara penyihir hitam mendapatkan mana mati tersebut.
"Itu bisa saja Nona namun kekuatan yang dihasilkan oleh mana mati tersebut tidak sebanding dengan mana mati dari mereka yang putus asa. Mana mati keputusasaan memiliki potensi lebih kuat dari mana mati yang lainnya. Oleh karena itu rakyat biasa sangat rentan menjadi budak dan dijual pada mereka untuk diekstrak tubuhnya," seru Dian dingin ketika membicarakan tentang kondisi rakyat biasa tersebut.
"Aku mengerti," gumam Senja saat ia melihat wajah penuh emosi dari Dian.
"Tapi untunglah Nona, mereka sudah dimusnahkan," lirih Dian kembali tersenyum seperti biasanya.
"Ya aku harap mereka benar-benar sudah dimusnahkan," gumam Senja pelan sambil melihat keluar jendela gerbong.
Dua jam telah berlalu dan kini Senja sudah berada di desa Jiran tempat dimana ia dan kelompoknya akan berteleportasi nantinya. Desa Jiran adalah desa kecil yang dihuni oleh para petani yang mendistribusikan hasil panennya ke ibu kota.
"Tempat ini sangat bagus untuk bersantai," gumam Senja ketika kusir membawanya menuju salah satu rumah warga.
"Nona, kita sudah sampai," seru Dian sambil mengangkat Kun dan Vanilla yang masih tidur di dalam keranjang.
"Selamat datang Nona," sapa Eza ketika pintu gerbong kereta terbuka.
"Apa sudah selesai?" tanya Senja acuh tak acuh.
"Sudah Nona dan sekarang kita bisa mulai," jawab Eza tegas sambil membimbing Senja masuk ke dalam rumah.
"Salam Nona Senja," seru pria tua yang sedang menyambut kedatangan Senja di dalam rumah.
"Salam," balas Senja sopan.
"Nona, kami akan membuat area sekitar tidak mengetahui teleportasi ini jadi anda bisa berpindah dengan nyaman," lanjut pria tua tersebut sebelum melangkah pergi meninggalkan Senja dan kelompoknya.
"Dia adalah kepala desa di desa ini Nona dan namanya adalah Sera," seru Eza menjawab pertanyaan yang ada pada raut wajah Senja.
"Ah begitu," balas Senja kembali dengan raut wajah acuh tak acuhnya.
"Mari kita mulai," lanjutnya sambil melangkah masuk ke dalam portal yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Nona, kita akan berteleportasi di salah satu kota terdekat dengan ibu kota kerajaan Guira sehingga kehadiran kita nantinya bisa ditutupi," bisik Eza tepat di telinga Senja.
"Aku mengerti," gumam Senja yang hanya bisa didengar oleh Eza seorang.
"Lily, segera tekan kekuatan Kun dan Vanilla serta Ristia sekarang juga," seru Senja dalam linknya.
"Baik Nona," balas Lily sebelum portal sihir bersinar terang untuk memindahkan mereka.
"Selain itu kau juga harus membuat Vanilla tidak tampak nantinya disana."
"Baik Nona dimengerti."
"Satu hal lagi jangan sampai kau hilang kendali setelah melihat apa yang ada disana."
"Maksud Nona?"
"Kau akan mengerti apa yang aku maksud nantinya dan tentu saja ini juga berlaku untuk kalian bertiga," lirih Senja memperingati hewan sucinya.
"Baiklah Nona," jawab Ristia dan Lily bersamaan.
Beberapa saat kemudian Senja sudah membuka matanya di dalam sebuah kamar sederhana dengan hanya satu tempat tidur saja.
"Maaf Nona, hanya ini yang bisa saya dapat," seru Eza merasa menyesal dengan apa yang ia berikan kepada nona nya.
"Tidak masalah, ini sudah cukup bagi ku," lirih Senja acuh sambil melangkah pergi menuju salah satu kursi yang ada di depannya.
"Kalau begitu, mari kita istirahat sejenak karena besok pagi kita akan segera berangkat ke ibu kota," lanjut Senja kemudian membuka penutup wajahnya.
"Nona, saya akan siapkan makan malam untuk kita semua," seru Eza kemudian keluar dari kamar tersebut.
"Nona, saya akan pergi menyiapkan teh dan cemilan hangat untuk anda sebelum makan malam," lirih Dian sambil menaruh keranjang Kun dan Vanilla keatas kasur.
"Siapkan teh mawar untuk ku kali ini."
"Baik Nona," balas Dian kemudian keluar dari kamar meninggalkan Senja sendirian.
"Tempat ini sangat berbeda dari apa yang aku bayangkan," seru Senja sambil melangkah keluar menuju balkon kamarnya.
"Lily, periksalah area sekitar dan apabila kau menemukan hal yang aneh segera kabari aku," lanjut Senja ketika ia melihat ke bawah tempat dimana pedagang tengah sibuk dalam dagangannya.
"Baik Nona," balas Lily sebelum terbang mengelilingi pasar tersebut.
"Tempat ini lebih mirip pasar swalayan di tempat asal ku dulu," gumam Senja pelan saat masih menatap pedagang dan pembeli yang saling tawar-menawar.
"Aku jadi rindu dengan mereka," lirih Senja dengan raut wajah sedih.
"Aku harap mereka baik - baik saja tanpa aku disana," lanjut Senja sambil mengingat seluruh wajah keluarga besarnya di bumi.
Senja sekarang berada di kota Ceko yang merupakan kota kedua paling dekat dari ibu kota kerajaan Guira. Jarak dari kota Ceko dengan ibu kota kerajaan sekitar 2 jam naik kereta kuda sehingga kota ini dipilih Eza sebagai penghubung antara kerajaan Green dan kerajaan Guira.
__ADS_1
"Mari kita beristirahat sejenak sebelum sibuk di besok paginya,"
"Aku sangat menantikan apa yang akan diberikan ibu kota kerajaan Guira pada ku," seru Senja nakal sambil melompat keatas kasur.