
"Kadang daerah tandus lebih subur dari pada Padang rumput."
******************#####***************
Setelah mendengar banyak hal dari kedua pria paruh baya tersebut. Akhirnya Senja memutuskan untuk segera kembali ke ibu kota kerajaan Guira.
"Persiapkan kereta kuda, segera," seru Senja pada salah seorang penjaga yang berdiri tidak jauh darinya.
"Baik Nona," jawab Penjaga tersebut sebelum membungkuk dengan hormat kemudian keluar.
"Nona, apakah anda akan pergi sekarang?" tanya Aslan saat penjaga tersebut baru saja keluar.
"Iya,"
"Nona, ini sudah malam beristirahat saja disini dan anda bisa pergi keesokan paginya,"
"Tidak masalah, aku harus segera pergi ke ibu kota untuk menemui seseorang," seru Senja saat meletakkan cangkir tehnya.
"Aslan setelah ini, kurung mereka dan jangan melakukan apa pun sampai aku perintahkan," lanjut Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Aslan.
"Selain itu ketika mereka sadar, berilah mutiara hitam ini pada salah satu diantara keduanya. Rekam dan kirim kepada ku dan satu hal lagi, interogasi sisanya sampai ia mengatakan kebenaran."
"Saya mengerti," balas Aslan dengan senyum nakal diwajahnya.
"Nona, kereta kudanya sudah siap," seru penjaga saat Senja baru saja keluar dari ruangan.
"Terima kasih,"
Penjaga itu hanya tersenyum malu dengan pujian yang diberikan oleh Senja padanya. Beberapa saat kemudian, Senja sudah berada di dalam kereta kuda bersama dengan Eza sebagai penjaganya.
"Lily, apa kau sudah mendapatkan informasi dari kedua bangsawan itu?"
"Sudah Nona, tapi ini sedikit sulit karena kepergian mereka tidak diketahui oleh pihak mana pun. Sehingga sulit bagi...."
Perkataan Lily terputus ketika ia mendengar suara tawa Senja yang terdengar jahat.
"Hahaha."
"Nona, apa anda sakit? Kita bahkan tidak mengetahui dalang dibalik mereka, lantas mengapa anda tertawa gila seperti itu?"
"Ini sangat menguntungkan bagi kita," seru Senja senang sambil melemparkan beberapa mutiara hitam yang sebelumnya ia genggam.
" ... "
Eza yang melihat perilaku aneh nona nya hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak paham.
"Ternyata mereka bertindak secara rahasia tanpa diketahui pihak mana pun." lanjut Senja masih dengan senyum aneh di wajahnya.
"Mereka serakah dengan kekuasaan, karena itulah mereka bertindak secara diam-diam agar setelah ini mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,"
"Lily, kembalilah ke hotel dan hentikan pencarian mu. Segera."
"Kenapa Nona, apa anda sudah benar-benar gila?"
"Hahahaha....," tawa Senja nakal membalas pertanyaan Lily.
"Dia benar-benar sudah tidak waras,"
"Segeralah kembali," lirih Senja sekali lagi sebelum memutuskan link diantara mereka.
"Sepertinya aku harus konsultasi dengan Dian untuk masalah Nona kali ini," batin Lily resah saat meninggalkan kediaman salah satu bangsawan incarannya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Eza yang bingung karena nona nya tertawa begitu saja.
"Aku baik,"
"Anda terlihat seperti penjahat dengan wajah polos jika tersenyum seperti itu Nona,"
"Ehem,"
****
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang redup. Luna dan ketiga temannya sedang duduk melingkar disebuah meja bundar dengan beberapa lilin diatasnya.
"Bagaimana? Apa kita langsung bergerak saja?" tanya Maya yang sepertinya sudah bosan dengan tumpukkan buku dihadapannya.
"Kita tidak bisa pergi tanpa persetujuan dari pemiliknya, karena itu terlihat tidak sopan," balas Luna yang sedari tadi menatap lembaran surat yang ada di atas meja.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zakila yang juga menatap tajam kearah surat tersebut.
"Aku dengar disana akan ada pembangunan untuk para pedagang yang akan melintasi wilayah tersebut," lirih Muna tajam sambil mengingat informasi yang ia dapat dari kakaknya.
Keempat sahabat itu tampak sangat serius dalam membicarakan urusannya. Mereka sedang memandang kearah surat yang telah mereka terima seminggu yang lalu.
"Nona, mari kita hidupkan saja lampunya," seru Mia yang mendapatkan anggukan dari pelayan pribadi Luna dan Muna.
"Tidak, hentikan itu," gumam Zakila datar sambil mengangkat tangannya keatas.
Mia dan pelayan lainnya hanya bisa saling memandang satu sama lain. Mereka sudah bosan melihat sikap nona nya yang aneh setelah kepergian salah satu sahabat mereka secara mendadak.
"Entah mengapa tempat ini terlihat begitu suram setelah Nona Senja pergi," batin Mia sedih saat melihat Zakila dan ketiga sahabatnya yang terlihat murung.
__ADS_1
"Mereka seperti sudah gila meski hanya ditinggal sesaat," gumam Mia pelan namun masih bisa didengar oleh pelayan lainnya.
"Aku khawatir, jika saja Nona Senja mengalami hal buruk mungkin mereka sudah benar-benar menjadi gila," balas Xena yang sedang memikirkan nasib nona nya saat itu terjadi.
"Hus, jangan sampai," gerutu Mia kesal sambil menyikut lengan Xena.
Setelah kejadian dimana Senja menghilang secara tiba-tiba dan hanya menyisakan sebuah surat, membuat mereka tampak sangat khawatir.
Ketakutan terbesar mereka jatuh pada Dira dan kelompoknya yang akan menyerang Senja disaat mereka tidak ada namun setelah mendapatkan konfirmasi langsung dari Duke Ari jika Senja harus pergi mengurus wilayahnya membuat Luna dan yang lainnya menjadi lega.
"Aku bersyukur karena apa yang ia katakan dalam surat adalah kenyataan," seru Muna merasa lega setelah tahu jika wilayah timur kekuasan Duke Ari adalah milik Senja dan kini ia tengah berkutat pada wilayahnya tersebut.
"Kita akan segera pergi kesana, setelah urusan disini selesai," timpal Luna masih menatap tajam kearah surat.
"Kami akan ikut bersama kalian," balas si kembar semangat.
"Baiklah, aku akan menulis surat untuknya agar kedatangan kita tidak membuatnya sulit," lanjut Luna sebelum berjalan meninggalkan meja bundar tersebut.
Pada dasarnya ke empat sahabat itu ingin berlari pergi setelah mendapatkan surat dari Senja di pagi hari saat itu juga, namun keadaan membuat mereka tidak bisa pergi. Raja Aruna tidak mungkin membiarkan tamunya pergi tanpa alasan.
Namun jika keadaan Senja begitu mendesak itu bisa saja dibiarkan namun Luna dan Muna sama sekali tidak bisa. Selain keduanya adalah perwakilan kerajaan Green, mereka juga bukan berasal dari sembarang pihak.
Luna dan Muna adalah tokoh sentral dari keluarga hebat di kerajaan, sangat tidak mungkin bagi mereka pergi dari kerajaan Aruna dengan gegabah karena bisa saja artinya mereka tidak menghormati sang Raja. Akibatnya akan ada banyak hal buruk yang akan menanti mereka.
Hal yang sama juga terjadi pada Maya dan Zakila. Mereka tidak bisa kabur di acara kedewasaan yang sudah dibuat oleh ayahnya sendiri. Acara kedewasaan ini berlangsung kurang lebih satu minggu oleh karena itu kehadiran keduanya sangatlah penting.
"Aku akan mengabari ayah ku tentang ini."
Lirih Maya kemudian berdiri dari duduknya dan pergi.
"Aku akan mempersiapkan kereta kuda untuk keberangkatan kita," timpal Zakila kemudian ikut keluar bersama Maya.
"Aku..."
Muna diam sesaat sebelum teringat kembali dengan pria yang ia temui beberapa hari terakhir ini.
"Aku akan menyelesaikan urusan ku dengannya," gumam Muna sebelum melangkah pergi dari duduknya.
****
Setelah tiga jam berlalu, akhirnya Senja sudah memasuki area ibu kota kerajaan Guira. Tampak begitu banyak rakyat dan bangsawan yang sedang berlalu lalang untuk menghadiri pemilihan ujian masuk akademik Lumine.
"Nona, apa kita pergi ke..."
Pertanyaan Eza terputus ketika Senja mulai mengangkat tangannya.
"Tidak, kita tidak akan pergi," potong Senja setelah diam beberapa saat.
"Baik Nona,"
Setelah kembali ke dalam kamar hotel, Senja bisa melihat Kun yang sedang tertidur pulas di atas kasur.
"Dasar kucing sialan, dia tidak tahu jika aku tidak tidur hanya untuk menyelamatkannya,"
"Hei, kucing sialan. Bangun kau," teriak Senja sambil mendorong tubuh Kun dari atas kasur.
"Ini sudah pagi tapi kau masih saja tetap tidur pulas disini, dasar kucing sialan," bentak Senja sambil menarik selimut yang ada tepat di bawah tubuh Kun sehingga tubuhnya melayang jatuh ke lantai.
"Dasar manusia sialan," teriak Kun kesal saat tidurnya terganggu.
"Apa? Kenapa dengan wajah mu itu, hah?"
"Ini sudah pagi tapi kau masih saja tidur, cepat bersihkan air liur mu itu karena kita akan segera pergi,"
"Lily, segera lakukan," seru Senja yang dijawab anggukan kepala oleh Lily.
Seketika tubuh Kun mulai diterpa angin dan air sebelum dikeringkan kembali oleh sihir hangat.
"Sialan kalian,"
"Jangan banyak protes karena waktu kita sudah tidak banyak," seru Senja yang teringan dengan pesan Dian bahwa Luna dan ketiga sahabatnya yang lain akan segera datang mengunjungi wilayah timur.
"Cih," gerutu Kun dengan raut wajah kesalnya.
Senja tahu jika jarak tempuh antara kerajaan Guira dengan wilayah timur miliknya memakan waktu setidaknya tiga hari namun siapa tahu, jika Luna dan yang lainnya mungkin saja akan pergi dengan teleportasi.
"Kita harus cepat," batin Senja kemudian menyerahkan keranjang Kun kepada Eza.
"Segera kita temui dia," lirih Senja sambil melangkah keluar menuju gedung yang ada di depan hotel Fexu.
Pada saat hendak menyeberangi jalan, Senja tidak sengaja melihat sosok Sarah yang tengah berjalan bersama Ira menuju sebuah lorong gelap tidak jauh darinya.
"Sarah?" gumam Senja pelan dengan alis yang saling bertaut.
"Ini kejutan besar bagi ku," lirih Senja dengan senyum licik diwajahnya.
"Hahaha, tidak aku sangka ternyata Sarah benar-benar ada disini pada hari ujian masuk akademik Lumine"
"Saatnya bekerja," lanjut Senja sambil melirik kearah Terry Cloe dan keluarganya.
"Nona Senja!" panggil sebuah suara saat Senja hendak berjalan masuk ke dalam gedung restoran didepannya.
__ADS_1
"Nona Senja, anda disini," panggil suara itu lagi yang kini semakin dekat.
Senja dengan malas membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pria paruh baya dengan pakaian mewahnya.
"Ada apa, Count?" tanya Senja acuh tak acuh.
"Saya tidak menyangka jika anda ada disini," jawab Count Servan senang dengan senyum lebar di bibirnya.
"Lalu?"
"Seperti yang Nona lihat, tapi sebelum itu. Ada apa dengan penampilan Nona saat ini?" tanya Count Servan yang merasa aneh dengan penampilan kacau Senja.
"Kenapa? Apa kau punya masalah?" tanya Senja kesal sambil melirik kearah penampilannya.
"Ah tidak, tidak sama sekali,"
"Bagus," gumam Senja pelan dengan raut wajah dinginnya. Ia kemudian memasuki restoran keluarga Cloe bersama Count Servan di sampingnya.
Beberapa saat kemudian setelah Senja sudah selesai sarapan pagi. Ia memutuskan untuk segera pergi dari restoran sebelum meninggalkan sebuah memo dibalik uang tipnya.
"Memo itu sudah cukup untuk memberitahukan mereka jika Sarah tengah berada disini," gumam Senja sebelum benar-benar meninggalkan toko restoran tersebut.
"Nona Senja, apa ini sudah cukup?" tanya Count Servan saat mereka sedang menuju portal sihir yang dimiliki oleh salah satu pedagang kenalannya Count.
"Itu cukup,"
"Kenapa Nona tidak berteleportasi secara diam-diam?" bisik Count saat mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Apa kau sudah gila?"
"Sial, aku keceplosan," batin Count gelisah.
"Ah, begitu Nona. Saya mengerti," lanjutnya dengan kaku sebelum memperkenankan Senja kepada temannya.
"Kenalkan, namanya Snap dan dia adalah pedagang yang sering membantu saya dulu," lirih Count senang sebelum menyambut salam hangat dari temannya tersebut.
"Senang bertemu dengan mu lagi, kawan," seru Snap ketika mereka sudah selesai berpelukan.
"Aku juga senang melihat mu," balas Count dengan jujur.
"Kenalkan ini Nona..."
"Nama ku, Rosset."
"Ah iya, Nona Rosset," balas Count singkat setelah Senja mengatakan nama palsunya.
"Sekarang Nona Rosset ingin pergi menuju kota Venus namun ia tidak bisa menaiki kereta kuda karena beberapa hari ini jalanan akan menjadi cukup padat," lanjut Count menjelaskan tentang kondisi Senja dan juga keadaan ibu kota yang akan penuh sesak saat hari ujian.
"Saya melihat," balas Snap mengerti maksud temannya tersebut.
"Baiklah, kalau begitu anda bisa ikut dengan saya," lanjutnya kemudian mempersilahkan Senja untuk mengikuti dirinya.
Beberapa saat kemudian, portal sihir sudah dipersiapkan untuk teleportasi mereka.
"Kebetulan sekali, bahwa kami juga akan pergi ke kota Venus untuk mengantarkan barang sehingga kalian bisa ikut bersama kami," seru Snap saat anggotanya tengah menaruh barang ke dalam portal sihir.
"Terima kasih untuk itu," balas Senja sopan.
"Tidak perlu sungkan, karena Servan adalah teman ku maka kita disini juga teman," lirih Snap santai dengan senyum ramah diwajahnya.
"Baiklah," gumam Senja pelan namun masih bisa didengar oleh Snap.
"Gadis yang lucu, entah dari mana Servan mendapatkannya tapi yang pasti ia sangat beruntung bertemu dengan gadis baik seperti Rosset," batin Snap senang dengan nasib temannya tersebut.
"Aku akan menyuruh anak buah ku untuk menjaganya, meski Rosset sudah memiliki pengawal tapi karena gadis itu begitu polos, aku takut dia akan tertipu saat sampai di kita Venus nantinya," lanjut Snap kemudian pergi menuju pelayannya yang tengah berbicara dengan Eza.
"Jagalah Nona Rosset dengan baik, jangan biarkan orang jahat menyakiti gadis baik sepertinya," seru Snap yang dijawab anggukan kepala oleh pelayannya tersebut.
"Aku harap kau tidak merasa sakit hati karena aku tidak mempercayai mu untuk menjaga gadis baik sepertinya," lanjut Snap pada Eza.
"Tidak masalah, Nona saya memang sangat baik. Nona bahkan selalu memaafkan orang yang sudah menyakitinya. Saya juga merasa takut jika Nona akan ditipu kembali," balas Eza jujur.
Mengingat Senja yang telah menolong keluarga Amel yang jelas-jelas sudah berbuat jahat padanya, bahkan Amel pun hendak membunuh Senja saat itu namun entah mengapa nona nya itu masih saja melindungi keluarga Amel.
"Aku akan melindungi Nona Senja. Ia sangat baik dan polos untuk manusia kejam seperti mereka," batin Eza sambil mengingat wajah Amel yang selalu berbohong pada nona nya.
"Kalau begitu, aku percayakan pada mu," seru Snap setelah semua muatan sudah dipindahkan.
Sekarang adalah giliran Senja dan Eza yang akan berteleportasi, namun sebelum pergi Snap sempat memberikan gelang sihir untuknya.
"Lucu sekali, mereka terlihat khawatir dengan ku," batin Senja mengingat perkataan Snap untuk tidak tertipu oleh siapa pun yang ada di kota Venus.
"Padahal aku ke kota itu untuk menyamarkan indentitas sebelum pergi ke wilayah timur," lanjut Senja dengan senyum licik diwajahnya.
Kota Venus adalah kota terdekat dengan wilayah timur miliknya, oleh karena itu ia pergi kesana untuk melakukan teleportasi namun Snap menganggap Senja yang lemah pantas dilindungi dengan gelang sihir miliknya.
"Gelang ini kuat juga," gumam Senja pelan kemudian tersenyum hangat kearah Snap.
"Ini mungkin akan berguna nantinya," batin Senja sambil mengelus pelan gelang tersebut.
"Terima kasih dan sampai ketemu lagi,"
__ADS_1
Senja kemudian melambaikan tangan kanannya sebagai salam perpisahan lada snap sebelum portal sihir membuatnya hilang dari tempat itu.