Moonlight After Sunset

Moonlight After Sunset
Investasi


__ADS_3

"Uang dapat membeli segalanya, baik cinta, sahabat, keluarga, bahkan harga diri. Namun ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh uang, itu adalah kematian."


******************#####****************


Author Points Of View


Gedung asrama lantai 3 dengan nomor kamar 07 terbuka pelan membawa langkah ringan Senja menuju kasurnya. Ia baru saja tiba setelah perjalanan panjang dari wilayah Duke ke ibu kota.


"Untung saja selama perjalanan, baik Maya maupun Luna tetap tenang. Jika mereka terus mengoceh, mungkin saja Aku akan melompat turun lewat jendela."


Senja teringat akan wajah masam Luna dan Maya selama makan siang. Mereka dengan sengaja mengacaukan makan siang tersebut dengan berbagi cara, sehingga membuat Senja dan Muna hampir tersedak makanan karena tidak dapat menahan tawa.


"Nona, lepaskan dulu sepatu anda sebelum tidur." seru Dian setelah selesai merapikan barang bawaan Senja.


"Selain itu, anda harus mandi dan bersiap untuk makan malam." lanjut Dian sembari membuka sepatu nona nya itu.


"Baiklah," lirih Senja pelan.


Selesai mandi Senja sengaja menyuruh Dian untuk membawa makan malamnya ke dalam kamar. Ia terlalu malas untuk menuju ruang makan asrama ini.


"Nona, teh yang anda pesan sebelumnya sudah tiba. Apakah anda ingin mencobanya?"


Dian membuka sebuah toples yang di dalamnya terdapat tumpukan daun teh hitam yang sudah mengering. Melihat dauh teh tersebut membuat Senja teringat akan dirinya yang memakan tanaman obat selama berada di Hutan Teratai.


"Tidak, berikan saja aku kopi."


Senja merasa mual hanya dengan melihat daun teh tersebut. Ia tidak ingin minum teh untuk beberapa hari ke depannya.


"Nona, anda bisa terjaga sepanjang malam jika minum kopi di jam segini."


"Tak apa, itu tidak akan mempengaruhi ku."


Senja terlihat cukup percaya diri sehingga membuat Dian mau tidak mau harus menuruti permintaan nona nya itu.


"Meski aku minum seember kopi malam ini, aku sama sekali tidak terpengaruh. Entah kenapa kafein dalam kopi seperti air putih bagi ku."


Ingatan Senja kembali saat pertama kali ia memasuki dunia misterius ini. Saat itu ia yang mencoba untuk bergadang bahkan sama sekali tidak bisa menahan rasa kantuknya setelah minum tiga gelas kopi.


Biasanya ia akan tertidur hanya dengan minum satu gelas saja. Tapi entah mengapa di dunia ini, kopi baginya sama seperti air biasa.


Beberapa saat kemudian kopi susu datang bersamaan dengan cemilan lainnya. Senja yang melihat itu merasa puas dengan pelayanan Dian.


"Sudah malam, kau bisa kembali ke kamar mu dan biarkan sisanya di urus Amel."


"Tidak Nona, biar saya saja."


"Kau yakin? Kita baru saja tiba satu jam yang lalu di asrama dan kau belum istirahat setelah melalui perjalanan panjang."


"Tidak masalah Nona, saya yakin itu anda tidak perlu khawatir."


"Baiklah, aku akan memanggil mu setelah ini selesai."


Dian lalu kembali ke ruangan sebelah, tempat dimana para pelayan biasanya tinggal di asrama ini.


"Nona, apa yang akan anda lakukan dengan tanah itu?" tanya Ristia setelah Dian sudah benar-benar pergi dari tempat itu.


"Entahlah, aku belum memikirkannya."


"Tidak perlu khawatir, anda bisa memikirkannya perlahan."


Lily yang sejak kemarin diam kini mulai berbicara lagi dengan Senja. Sejujurnya ia masih kesal dengan perilaku Senja yang gegabah di Hutan Teratai. Jika saja Senja mau bersabar mungkin saja mereka tidak akan mengalami hal seperti itu.


30 menit kemudian Dian datang ke kamar ke jam setelah bel kamarnya berbunyi. Saat itu Dian baru saja teringat akan surat yang ia terima beberapa menit yang lalu dari Eza.


"Nona, ada surat dari Eza untuk anda."


Dian yang baru saja selesai membereskan meja makan segera memberikan sepucuk surat untuk Senja. Surat itu masih tersegel dengan rapi meski bentuknya sudah kusut.


"Maaf nona, aku tidak sengaja melipatnya saat tengah membereskan meja tadi." lanjut Dian saat melihat wajah penuh tanda tanya dari nona nya.


"Tidak masalah, bawakan aku pisau."


Senja kemudian membuka surat tersebut dan baru saja membaca beberapa baris, senyum lebar sudah merekah di bibirnya.


"Sungguh, aku sangat beruntung." gumam Senja sambil melirik ke arah Kun.


"Ternyata selain malas kau juga cukup berguna."


Senja menatap Kun dengan pandangan yang berbeda kali ini. Biasanya ia melihat Kun dengan tatapan kesalnya tapi kini ia melihatnya sebagai harta Karun nasional.


"Dian, segera siapkan pakaian. Kita akan pergi ke pasar gelap malam ini juga."


****


Gedung asrama akademik lantai 3 kamar nomor 07. Senja yang masih setengah sadar tiba-tiba saja mendengar hal aneh dari mulut Kun.


"Apa kau bilang?" teriak Senja kaget setelah mendengar penuturan Kun.


"Aku tidak tahu kau dan keluarga mu itu pura-pura bodoh atau memang bodoh sejak awal." seru Kun kesal karena ikutan kaget mendengar teriakan Senja.

__ADS_1


"Apa maksud mu? Bagaimana bisa?"


Senja tidak peduli dengan omelan Kun karena biasanya ia memang seperti itu. Kun berbeda dari hewan suci lain milik Senja. Ia sama sekali tidak mau memanggil Senja sebagai nona nya. Ia merasa jika kedudukannya bahkan terlalu mewah untuk manusia biasa seperti Senja.


"Kun jangan diam." seru Senja setelah Kun tidak mengatakan apa pun dan malah lanjut tidur kembali.


"Kun...?"


Senja yang kesal lalu menarik gorden jendela agar cahaya matahari tidak bisa masuk ke kamar itu. Kun yang tadinya tidur kini melirik Senja kesal.


"Akan aku jelaskan sekali lagi tapi buka dulu gordennya." lirih Kun sambil menunjuk ke arah jendela kamar.


Segera setelah Senja membuka gorden, Kun dengan santai lompat ke atas tempat tidurnya Senja dan berputar ringan diatasnya.


"Daerah timur wilayah Duke, memiliki tambang berlian besar. Namun tambang itu berada di bawah tepat di bawah kota mati. Artinya tidak mudah untuk mengambil berlian disana namun juga tidak sulit."


"Kota mati?" tanya Senja bingung.


"Kota mati adalah kota dimana para penghuninya adalah elf kegelapan. Mereka biasanya memakan mana hitam untuk bertahan hidup." jelas Lily sebelum Kun siap mengatakannya.


"Begitu, lalu?"


"Kau tenang saja, meski daerah itu memiliki mana mati, mereka hanya aka keluar dimalam hari saja. Tentunya kau perlu segel pembatasan agar mana mati tidak keluar kapan saja."


"Pasalnya mana mati bisa saja keluar saat siang hari apabila kondisi disana sudah mencapai batasnya, dan hal itu biasanya terjadi sebulan sekali setiap tahunnya."


Kun mulai menjelaskan situasi aktual dari kota mati dan daerah sekitarnya. Ia seperti seorang guru yang sedang menceritakan kisah sejarah kepada para muridnya.


"Selain itu, wilayah kota mati yang dimiliki Duke hanyalah setengahnya saja dari keseluruhan kota tersebut."


Penjelasan Kun pun selesai, namun itu tidak membuat Senja merasa puas. Ia semakin penasaran akan kebenaran kota mati tersebut.


"Jika begitu, apakah aku perlu membagi berlian itu pada mereka?"


"Tidak, meski mereka elf kegelapan dan hidup dengan mana mati, tapi prinsip sebagai elf tetap ada. Mereka sama sekali tidak tertarik dengan uang dan segala jenis material seperti itu."


"Lalu apa yang mereka mau?" tanya Senja sekali lagi.


"Entahlah aku tidak tahu. Kau bisa mencari tahunya sendiri."


Kun lalu menutup matanya dan tidur siang dengan nyaman. Senja yang ingin bertanya lagi dihentikan oleh Lily


"Nona, lebih baik anda biarkan tuan Kun untuk tidur siang." bisik Lily pelan. Ia tahu jika Kun amarah Kun bahkan lebih gila dari kegilaan nona mereka.


Senja yang mengerti maksud Lily hanya bisa diam sambil melihat ke arah luar jendela. Beberapa saat kemudian Dian datang dengan sepucuk surat dari Eza.


Dalam surat itu, ia mengabari jika pertumbuhan para ksatria bayaran itu telah meningkat dan mereka bisa kembali ke sisi Senja secepatnya.


Senja punya ide bagus tentang kelima ksatria bayaran itu. Ini akan sangat membantu Senja dalam mengukur kekuatan mereka sekaligus membuktikan bahwa ditempat itu memang terdapat tambang berlian.


"Siapkan pena dan kertas untuk ku."


"Baik Nona."


****


Mansion Duke Ari pukul 11 siang, setelah Senja menerima perintah untuk menemui Duke di ruang kerjanya. Segera ia menyelesaikan pembicaraan dengan ketiga temannya itu sebelum pergi menuju kediaman utama.


Sesampainya di depan pintu ruang kerja Duke, Senja sekali lagi bertemu dengan ksatria penjaga disana.


"Apa Duke ada di dalam?" tanya Senja pada pelayan pribadi Duke yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala.


"Katakan pada Duke jika aku sudah datang."


Pelayan itu dengan enggan masuk ke dalam ruang kerja dan beberapa saat kemudian pintu ruang kerja terbuka dan memperlihatkan Duke yang masih sibuk dengan segala berkas di atas meja nya.


"Silahkan masuk Nona," seru pelayan itu dengan sopan.


"Di depan Duke saja dia sopan, aih."


Senja sedikit kesal dengan perlakuan pelayan itu terhadap dirinya. Dan jika ia mengeluh tentang hal ini pada Duke, palingan Duke hanya menghukum mereka dan setelahnya kejadian sama pun akan terulang kembali.


"Ada apa?" tanya Duke masih tetap fokus pada dokumen di tangannya.


"Ada apa? Bukankah anda yang memanggil saya kesini wajah Duke yang mulia."


Ingin Senja mengungkapkan isi hatinya dengan lantang, namun ia berhasil menahannya dengan membuat senyum palsu di wajah cantiknya itu.


"Ayah, maafkan aku. Aku lupa memberitahu mu jika teman ku berkunjung ke tempat ini."


Senja masih tersenyum palsu, ia menahan segala ocehan dan makian untuk Duke di dalam hatinya.


"Begitu," lirih Duke tanpa melirik sama sekali pada Senja.


"Siapa mereka?" tanah Duke kemudian.


"Apa dia sedang menguji ku? Menguji kesabaran mu telatnya." gerutu Senja pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


Ketika Senja lama menjawabnya, Duke dengan lemah meletakkan dokumennya dan mulai menatap Senja.

__ADS_1


"Ay..."


"Mereka adalah orang penting di kerajaan ini. Salah satu diantara mereka bahkan merupakan putri kerajaan lain. Jika ia terluka atau mengalami hal buruk lain di tempat ini maka kitalah yang akan disalahkan untuk itu.


Belum sempat Senja menjelaskan tenang sahabatnya itu, ia sudah diceramahi oleh duke mengenai resiko dari kecerobohannya ini.


"Maaf Ayah, aku bersalah."


Duke hanya diam, ia lalu mengangguk tanda setuju sebelum menyuruh Senja untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


Ketika Senja tahu bahwa Duke akan segera mengusirnya dengan cepat Senja langsung membicarakan tentang hak kepemilikan tanah atas dirinya.


Duke yang mendengar kata 'Hak kepemilikan tanah' langsung kembali fokus pada Senja. Ia terlihat bingung sekaligus aneh dengan sosok Senja di depannya ini.


"Apa maksud dan tujuan mu mengatakan hal itu?"


"Duke, ternyata kau peka juga."


"Aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya aku miliki," seru Senja yang membuat Duke semakin bingung.


"Bukankah aku sudah memberimu semua hak itu."


"Apa kau bercanda? Hak apa yang telah kau berikan untuk ku? Aku bahkan tidak bisa melihatnya dari depan mata ini."


"Ayah, aku hanya ingin hak atas tanah milik ku. Bukankah kau sudah berjanji pada ibu sebelumnya?"


Sebelum permaisuri Mawar meninggal, ia sempat berpesan pada Senja asli bahwa akan ada tanah miliknya yang akan membuat Senja tetap terpenuhi tanpa adanya rasa lapar.


" ... "


Duke diam mendengar penuturan Senja yang membahas tentang perjanjian ia dengan istrinya itu.


"Jika aku tidak memutuskan hak itu sekarang maka setelah hari kedewasaan aku akan kehilangan muka."


" ... "


"Bagaimana bisa seorang putri utama Duke tidak mendapatkan wilayah kekuasaannya di saat usianya sudah memenuhi tanggung jawab dalam keluarga."


" ... "


Lagi-lagi Duke hanya diam memperhatikan Senja, terlihat dari raut wajahnya jika ia terlihat pusing.


"Ada benarnya, tapi bukan itu masalahnya saat ini." batin Duke saat memikirkan semua tanggung jawab yang ia pikul.


Senja yang melihat wajah pucat Duke mulai tersenyum sinis. Ia sangat bahagia apabila Duke terus memasang ekspresi wajah seperti itu setiap harinya.


"Aku tidak akan meminta hal yang berlebihan. Aku tidak akan meminta kekuasaan keluarga juga, Aku hanya ingin sebuah wilayah untuk diriku sendiri." seru Senja saat Duke sedang bimbang memutuskannya.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"


Wajah Duke sudah mulai melemah entah karena lelah bekerja atau pusing memikirkan hasil kedepannya.


"Berikan aku wilayah timur, itu sudah cukup bagiku."


"Wilayah timur? Apa kau yakin?"


"Tentu saja."


Duke terlihat sedang menimbang keputusan Senja. Wilayah timur adalah wilayah yang tandus dan gersang tidak ada kehidupan sama sekali disana, dan tidak hanya itu wilayah timur begitu dekat dengan wilayah musuh.


"Wilayah timur itu berbahaya dan tidak ada keuntungan yang bisa kau dapatkan disana," jawab Duke lebih frustasi.


Mana mungkin ia membiarkan seorang putri utama memiliki wilayah yang tandus seperti itu. Hal tersebut malah akan memperburuk situasinya.


"Lalu ayah, apakah kau akan memberikan wilayah selatan padaku?"


" ... "


Duke terkesiap kaget, ia tidak siap mendengar pertanyaan Senja tentang hal ini. Wilayah Selatan merupakan wilayah yang cukup makmur dari keseluruhan wilayah yang dimiliki olehnya.


"Aku sudah berjanji pada selir kedua jika wilayah itu akan ku berikan kepada anaknya kelak."


Duke semakin pusing dengan untuk memutuskan wilayah yang cocok diberikan untuk Senja tanpa melibatkan pihak lainnya.


"Tidak bisakah selain wilayah itu?"


"Aku sudah katakan ayah jika aku menginginkan wilayah timur, itu sudah cukup untuk ku." Keputusan Senja yang keras kepala membuat Duke semakin gila.


"Tapi wilayah itu..."


"Aku tahu ayah, tapi aku tetap akan memilihnya. Apa ayah pikir saudari ku yang lain akan terima jika aku memilih wilayah selain itu? Ayah tenang saja, aku ini seorang penyihir dan mungkin saja aku memiliki solusi untuk wilayah itu kedepannya."


Mendengar penjelasan Senja membuat Duke geleng-geleng kepala sebab sudah cukup banyak penyihir yang datang ke tempat itu dan hasilnya tetap sama.


"Baiklah jika itu keputusan mu."


"Ayah, aku ingin surat tanah wilayah timur segera ada ditangan ku. Baru saat itulah aku akan merasa tenang."


Pada akhirnya Duke memutuskan untuk memberikan wilayah timur pada Senja. Aneh bukannya sedih Senja malah terlihat senang.

__ADS_1


"Kau bisa mendapatkan seluruh suratnya seminggu lagi. Aku akan menyuruh notaris untuk mencatatnya."


"Baik ayah, terima kasih,"


__ADS_2