
"Informasi yang paling berharga adalah saat kau tidak mengetahuinya."
******************#####****************
Setelah kepergiannya dari kafe tersebut, Senja memutuskan untuk berjalan santai dengan Kaira mengelilingi ibu kota El-Aufi. Awalnya mereka hanya pergi ke tempat umum saja, sampai pada akhirnya Senja memutuskan untuk berhenti disebuah tugu batu raksasa yang berada di pinggiran kota tersebut.
"Tempat apa ini, Nona?"
"Tuan Muda tidak tahu? Ini adalah tugu monumen untuk memperingati hari keberhasilan Raja pertama dalam membangun kerajaan ini,"
"Benarkah? Hebat sekali beliau bisa membuat kerajaan ini terus hidup dengan makmur."
"Tentu saja, itu karena ia telah menemukan batu mana yang berada di bawah tanah kerajaan ini."
"Batu mana, dimana tanah ini?"
"Benar tuan muda, batu mana tersebut berada dibawah kaki kita sekarang," lirih Kaira sambil melihat pasir yang ia pijaki.
"Pria ini sangat polos, pantas saja ksatria itu sangat menjaganya," batin Kaira sambil mengingat wajah Eza yang menghitam karena kesal.
"Nona, sepertinya anda tahu banyak tentang kota ini. Saya jadi ingin lebih mengenal anda sekarang,"
"Ah, hahaha. Aku tidak terlalu mengenal kota ini karena aku bukanlah penduduk tetap. Aku hanya seorang pengembara yang sering berpergian ke kota ini untuk menikmati makanan dan keindahannya." seru Kaira sambil melihat ke sekeliling area tugu.
"Tapi tuan muda tenang saja, aku akan tetap memberitahu anda apa saja yang aku ketahui tentang kota ini," lanjut Kaira anggun sambil memperlihatkan senyum sopannya.
"Aku tidak ingin pria seperti mu terluka karena tersesat di kota ini," bisik Kaira sebelum membawa Senja menuju salah satu kafe yang ada di sekitar mereka.
Sesampainya di kafe itu, Kaira langsung membawa Senja menuju sebuah ruangan pribadinya.
"Petualang ya? Hahaha tidak heran kau begitu akrab dengan tempat ini," batin Senja sarkastik dengan sudut bibir yang tersungging lemah.
"Nona Kaira, kita hendak pergi kemana?" tanya Senja saat mereka sudah berada di lantai tiga kafe tersebut.
"Tuan muda akan tahu jika melihatnya nanti,"
"Begitukah? Saya harap tempat itu indah,"
"Tentu saja,"
"Nona, saat ini kita menuju area luar gedung," seru Ristia saat mereka sudah berada di lantai kelima kafe tersebut.
"Sial, bukannya kafe ini hanya ada dua lantai saja," lirih Senja panik namun masih memperlihatkan wajah tenangnya.
"Apa yang sebenarnya ingin Kaira lakukan."
Lanjut Senja gelisah dengan kondisinya saat ini.
"Nona, tempat ini adalah rute rahasia. Rute ini hanya akan muncul jika kita menemukan pintunya. Jadi wajar saja jika kita hanya bisa melihat kafe ini dengan dua lantai sedangkan sisa lantainya termasuk dalam rute rahasia yang hanya bisa di akses melalui pintu tadi" jelas Ristia disela - sela kegelisahan Senja.
"Apa pun itu, tindakan Kaira yang membawa ku kesini sangat mencurigakan," seru Senja sebelum mereka sampai di lantai terakhir kafe tersebut.
Kaira sama sekali tidak mengetahui jika Senja sedang mengintrogasi tempat ini, ia terlalu larut dalam pikirannya jika Zain yang notabenenya adalah Senja akan senang dengan apa yang akan di perlihatkannya.
"Mari masuk," seru Kaira masih menggenggam lembut tangan Senja.
"Baik,"
Pada saat memasuki ruangan tersebut, Senja sedikit kaget. Ia bisa melihat seluruh isi kota dengan jelas dari tempat tersebut.
"Ini berbeda dari kamar hotel ku," gumam Senja takjub dengan apa yang baru ia lihat.
"Tempat ini luar biasa," lirih Senja sambil memegang dinding kaca ruangan tersebut.
"Ruangan ini di desain khusus oleh Raja Ali. Ia adalah mantan Raja sebelumnya. Raja Ali sengaja menciptakan tempat ini agar para keluarganya bisa menikmati indahnya ibu kota El-Aufi dengan baik," seru Kaira dengan pandangan samar kearah istana kerajaan El-Aufi.
"Aku tidak yakin dengan tujuan utama Raja Ali membangun tempat ini. Tapi yang jelas aku bisa dengan mudah memantau setiap pergerakan warga kota melalui tempat ini."
"Tempat ini sangat indah,"
"Tuan muda benar, tempat ini memang sangat indah. Saya sendiri sangat menyukai tempat ini karena keindahannya," lirih Kaira sambil berjalan mendekati kaca jendela ruangan tersebut.
"Tidak ada yang bisa melihat kita disini, meski pun kita bisa melihat mereka dengan jelas dari sini." lanjut Kaira saat memperhatikan ribuan warga yang tengah berlalu lalang dibawahnya.
"Tempat ini lebih mirip menara pengawas dari pada ruang santai."
__ADS_1
"Nona Kaira, bagaimana jika kita duduk dan menikmati keindahan ini dengan tenang," seru Senja yang dijawab senyum manis dari Kaira.
"Hahaha, ini aneh. Aku tahu dia polos tapi diam nya dia saat ini terlihat sangat aneh," batin Kaira sebelum mengikuti Senja duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Nona Kaira."
Senja memanggil lembut Kaira, seolah ada suatu hal yang sedang ia sembunyikan.
"Iya Tuan Muda Zain. Apa ada yang ingin kau sampaikan,"
"Begini Nona, saya tahu tempat ini sangat spesial tapi mengapa anda membawa saya kesini?"
"Bukankah sebelumnya anda menyuruh saya untuk memperlihatkan seluruh ibu kota kerajaan ini?"
"Iya itu benar, tapi saya tidak tahu anda akan membawa saya kesini. Saya pikir anda hanya akan membawa saya berkeliling saja."
"Ah, begitu rupanya. Saya melakukan ini agar memudahkan anda untuk melihat seluruh isi kota tanpa membuang waktu dan tentu saja tanpa kelelahan sedikit pun."
"Bukankah aku sudah mengatakan jika pria ini sangat polos. Kau seharusnya tidak berhubungan dengannya," seru Opi kesal saat Kaira mulai mempermainkan Senja.
"Aku hanya ingin melihat apakah ia seorang penipu atau bukan. Aku tahu jika banyak pria yang menyukai ku tapi sikapnya sangatlah aneh. Selain karena aku tidak mengetahui kekuatannya, aku juga tidak tahu siapa dia sebenarnya," jelas Kaira mulai menyelidiki siapa Senja sebenarnya.
"Nona Kaira, sepertinya anda sangat mengenal keluarga kerajaan. Mereka sampai membiarkan anda masuk ke tempat ini dengan mudah."
Senja mulai memancing Kaira untuk menceritakan tentang dirinya.
"Saya berteman dengan salah satu putri kerajaan ini. Ia dengan ramah mengizinkan saya yang seorang petualang ini untuk berkunjung ke tempat ini setiap kali saya datang ke kerajaan El-Aufi."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Saya ini adalah seorang pengembara dan ia pasti tertarik dengan pengalaman saya selama berpergian ke seluruh benua."
"Wah, anda hebat sekali,"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, sudah berapa banyak kerajaan yang anda singgahi selain kerajaan ini?"
"Tidak banyak, aku baru melakukan perjalanan sejak lulus dari akademik."
"Itu karena saya sangat menyukai alam dan saya ingin terus hidup sekitar mereka."
"Benarkah? Anda hebat sekali. Saya harap saya juga punya keberanian seperti anda."
"Hahahaha, meski tidak mudah namun menjadi petualang sangatlah seru."
Senja dan Kaira terus berbincang mengenai pengalaman Kaira dalam menjelajahi beberapa kerajaan di benua barat ini.
"Saya sangat terkesan dengan kerajaan Guira namun saya sedih karena mendapati kabar jika salah satu kotanya dihancurkan oleh *******," seru Kaira saat perbincangan sudah semakin jauh.
"Apa yang Kaira maksud itu adalah kota Ceko,"
"Kota itu sangat indah dan ramai tapi kasus ang terjadi kali ini sungguh menyedihkan." lanjut Kaira sambil mengingat berita yang ia baca dari koran.
"Memangnya apa yang terjadi di kota tersebut Nona?" tanya Senja seolah ia penasaran dengan kota tersebut.
"Kota itu hancur karena serangan ******* yang menyebabkan mana mati menyebar di seluruh hutan kota tersebut."
"Astaga, itu buruk sekali."
"Anda benar Tuan muda, itu sangat buruk. Selain itu, warga yang berada disana juga harus mengungsi karena mana mati bisa saja menyebar melalui udara dan membunuh mereka pada akhirnya."
"Jahat sekali orang yang telah melakukan itu pada kota tersebut," seru Senja sambil memasang ekspresi marah yang terlihat lucu bagi Kaira.
"Manis sekali pria ini,"
"Aku harap pelakunya bisa tertangkap."
"Saya harap juga begitu,"
"Aku sangat kesal karena mereka menghancurkan gua itu, namun siapa sangka jika mana mati akan menyebar disana," batin Senja kembali kesal karena rencananya harus hilang karena gua tersebut sudah hancur.
Kaira terus bercerita mengenai pengalamannya di kerajaan Guira namun satu hal yang membuat Senja merasa aneh adalah bahwa dari seluruh cerita Kaira, ia bisa mendeskripsikan jika rakyat kerajaan Guira sama sekali tidak bertindak selayaknya manusia normal. Mereka cenderung sangat patuh seperti sedang dikendalikan.
"Aku sudah curiga mengenai hal ini namun semakin aku mendengar ceritanya, semakin yakin pula diriku bahwa kerajaan Guira sedang menyiapkan suatu hal yang besar,"
__ADS_1
"Selain itu, aku juga berkunjung ke kerajaan Aruna. Kerajaan itu sangat indah dan menarik," seru Kaira penuh semangat.
"Yayaya, saya juga tahu mengenai hal itu," gumam Senja bosan dengan apa yang diceritakan Kaira, namun ia tetap mendengarnya dengan seksama seolah tertarik dengan detailnya.
"Aku pikir Kaira akan menceritakan tentang pengalaman aneh yang ia dapati di setiap kerajaan itu."
"Meski begitu, aku masih bisa mendapatkan informasi lebih mengenai beberapa kota yang sebelumnya tidak diketahui oleh Dian atau pun Dennis," gumam Senja yang selalu setia dalam mendengarkan ocehan Kaira.
Lama Senja mendengar cerita Kaira sampai akhirnya matahari mulai terbenam dari cakrawala dunia.
"Indahnya," gumam Senja sambil mengalihkan pandangannya kearah sunset di balik jendela kaca.
"Warnanya sangat indah," seru Senja tanpa sadar berdiri dari duduknya.
"Itulah Senja," bisik Kaira yang membuat jantung Senja berdetak dengan kencang.
"Astaga. Apa aku ketahuan,"
"Cahaya yang berwarna orange kemerahan itulah yang disebut dengan Senja." lanjut Kaira lembut yang masih melihat kearah asal cahaya tersebut.
"Hampir saja," batin Senja tenang setelah mengetahui maksud dari perkataan Kaira sebelumnya.
"Nona benar, cahaya itu sangat indah,"
"Apa aku boleh datang kembali ke tempat ini?"
"Tentu saja boleh. Tuan muda tinggal mengatakan nama ku maka mereka akan mengizinkannya."
"Terima kasih Nona Kaira,"
"Oh iya Nona, apa aku juga boleh bertukar surat dengan anda?"
"Bertukar surat?"
"Iya Nona, saya tidak tahu dimana lagi saya bisa bertemu dengan seorang petualang seperti anda."
"Hahaha, kau terlalu berlebihan."
"Apa ada yang salah dengan itu?"
"Tentu saja tidak," balas Kaira sambil mengeluarkan sebuah perkamen kertas hitam dari kantong bajunya.
"Ambilah ini, anda bisa mengirim surat sesuai dengan arah yang selalu ditunjukkan oleh perkamen ini."
"Baiklah, terima kasih,"
Setelah menikmati indahnya Senja, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke gedung teater setelah selesai menyantap makan malam di kafe tersebut.
Film yang hendak mereka nonton kali ini pun hanya film biasa dengan genre yang sama seperti sebelumnya.
"Tuan, film ini sangat menyenangkan,"
"Kurasa Nona benar. Saya menyukai film dengan genre seperti ini,"
Setelah film berakhir, Senja dan Kaira memutuskan untuk berpisah disana. Mereka berdua berpisah setelah Eza mendatangi Senja dengan tatapan membunuhnya.
"Hahaha, ksatria malang ini masih saja sama,"
"Tuan Zain, sepertinya kita harus berpisah disini,"
"Sayang sekali padahal saya ingin terus bersama anda," balas Senja dengan raut wajah sedihnya.
"Hahaha.., tidak masalah. Masih ada hari esok untuk kita bertemu kembali," bisik Kaira lembut ditelinga Senja yang membuat Eza terlihat lebih terprovokasi lagi.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok,"
"Pria yang lucu,"
Eza yang menyaksikan hal tersebut terlihat semakin ganas. Ia kemudian menatap Senja dengan pandangan dingin.
"Anak ini perlu di pulangkan," batin Senja saat merasakan suhu dingin di punggung belakangnya.
"Apa Nona akan bertemu lagi dengannya?"
"Aku tidak tahu,"
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus mengistirahatkan Eza kali ini,"